
Bang!!! Ledakan terdengar di tempat Deka berdiri, ledakan itu berasal dari tiga orang yang menyerang Deka.
"Jangan kabur sialan!" teriak tiga orang itu kepada Deka yang berhasil menghindar dan melarikan diri, mereka bertiga adalah Xiao, Light, dan Hanza.
Xiao, Light, dan Hanza mengejar Deka yang melarikan diri setelah gagal menghajarnya secara tiba-tiba, sementara para bangsawan histeris melihat keadaan tersebut, bahkan tidak ada yang berani mendekat dan memeriksa pangeran Ranzi yang masih tertutup debu akibat tembok yang hancur berbenturan dengan pangeran Ranzi.
"Dia bukan pangeran, tapi orang lain." ucap seseorang yang menyadari bahwa orang yang terhempas akibat tendangan Deka tersebut ternyata bukan pangeran Ranzi melainkan orang lain.
"Adik?" Rema membersihkan bongkahan tembok yang menimbun Ranzi yang tidak bergerak, namun darahnya tetap masih mengalir deras.
"Kamu..., siapa?" tanya Rema kepada orang tersebut yang ternyata Raki.
Raki terlihat terluka parah dengan tangan yang hancur akibat tendangan keras Deka, bahkan Raki beberapa kali batuk darah karena terkena luka dalam, dia terlihat diambang kematian.
"Raki?" Derrick yang memang menyadari bahwa itu Raki dibuat terkejut dengan kondisi Raki yang memprihatinkan.
Kilas balik.
Raki yang sedang mengobrol dengan Derrick tiba-tiba merasakan ancaman dari seseorang yang berada tepat di depannya, Raki melihat orang itu tersenyum licik dan menatap sinis kearah pangeran Ranzi, lalu tiba-tiba menghilang.
Raki dengan cepat memutuskan menukar posisinya dengan pangeran Ranzi dengan teknik sihir perpindahan, benar saja ketika mereka bertukar tempat, orang itu sudah berada dan melancarkan tendangan kepada Raki (yang dikira pangeran Ranzi), beruntung Raki masih sempat menangkis dengan kedua tangannya.
Pangeran Ranzi sendiri jatuh pingsan karena dipaksa mengakhiri ritual belum waktunya karena perpindahan itu, pangeran Ranzi terkena luka dalam akibat serangan balik dari ritual yang belum selesai tersebut, Resi yang bingung sesaat langsung menyembuhkan pangeran Ranzi ketika mendengar perintah Derrick.
Kilas balik selesai.
"Pangeran Ranzi ada disini!" teriak seseorang sambil menunjuk Resi yang sibuk menyembuhkan Ranzi yang pingsan karena syok akibat dipaksa mengakhiri upacara belum pada waktunya.
"Dokter! dokter, selamat putraku, atau aku akan membunuhmu." teriak raja Hans memerintahkan dokter istana untuk mengobati pangeran Ranzi yang masih ditangani oleh Resi.
"Selain itu obati juga kesatria pemberani itu." perintah raja selanjutnya menunjuk Raki yang terlihat menyedihkan.
Saat semua orang gempar dan mulai sibuk karena pangeran Ranzi selamat akibat keberanian Raki, seorang pria bertopeng emas yang berada ditengah-tengah kerumunan terlihat geram, dia tidak lain adalah no 3. "Dasar bodoh, membunuh bocah itu saja sulit sekali, dasar bodoh!" geram no 3 dengan tatapan tajam melihat pangeran Ranzi yang mulai sembuh dari luka dalam.
"Kalau begitu sepertinya aku yg harus turun tangan." gumam no 3.
No 3 membuka buku sihirnya dan memanggil dua serigalanya yang ganas dan lebih besar dengan aura hitam seperti petir yang menyambar-yambar di tubuh dua serigala tersebut, "Bunuh bocah itu!" teriak no 3 memerintahkan agar dua serigala tersebut menyerang pangeran Ranzi.
Kejadian itu membuat suasana semakin mencekam dengan teriakan ketakutan dimana-mana, hal itu sangat dimaklumi karena hampir 80% bangsawan yang hadir adalah bangsawan yang tidak terlalu melatih beladiri atau bangsawan yang lemah dan tidak siap merespon serangan tiba-tiba tersebut, dapat dikatakan mereka adalah manusia biasa yang berstatus bangsawan.
Bahkan dua serigala itu sudah mencabik-cabik empat orang yang merasa hebat dan menghadang serangan dua serigala itu, "Orang-orang lemah ini memang menyusahkan." umpat Derrick dan menghadang dua serigala itu dengan perisai anginnya.
__ADS_1
Bang!
"Roar!" tiba-tiba serigala emas besar muncul dan menyerang pangeran Ranzi, namun beruntung dapat ditangani prajurit kerajaan yang baru sampai dari luar istana.
Disisi lain beruang besar menyemburkan api yang muncul bersamaan dengan singa itu juga ditangani oleh para prajurit, Derrick menyerahkan dua serigala itu pada prajurit dan langsung menyerang no 3 yang berniat kabur setelah 4 peliharaannya gagal membunuh pangeran Ranzi.
Booom!
Booom!
Booom!
Ledakan besar terjadi dimana-mana secara mengejutkan, hal itu tentu membuat kepanikan dalam istana dan bahkan istana hampir roboh akibat ledakan itu, beberapa orang yang terkena ledakan terlihat sekarat dan meminta tolong.
"Sialan dia kabur!" Derrick mau tidak mau harus membiarkan no 3 kabur dan menangani kerusuhan akibat kepanikan para bangsawan beban agar dapat keluar dengan selamat dari istana raja.
Disisi lain.
Kejar-kejaran antara tiga komandan kesatria sihir dan Deka begitu cepat dan tidak dapat diikuti mata, mereka saling serang hingga beberapa kali ada yang dikirim jatuh dan menghancurkan pepohonan di dalam hutan.
"Haha, kalian bertiga sangat lemah!" ucap Deka yang berada paling depan dan melancarkan tinju keras di pipi kepada Light yang tiba-tiba berada di depannya.
Shush!
Deka yang melancarkan tendangan kepada Xiao dibuat terkejut karena tertembus, namun Deka berhasil menghindar dan melakukan tendangan kepala kebawah kepada Hanza hingga membuat Hanza jatuh kebawah dengan posisi kepala membungkuk.
"Tebasan naga hitam!" Xiao melancarkan tebasan lurus dari atas kebawah, tebasan itu mengeluarkan aura naga hitam.
"Lemah!" Deka menahan tebasan itu dengan kedua tangannya, lalu menghilang dan menendang rusuk Xiao hingga terhempas jauh dan jatuh pingsan.
"Kalian bertiga terlalu lemah untukku." ucap Deka.
"Benarkah?" tanya Light dengan tebasan ke leher, namun Deka menunduk dan melakukan tinju dagu hingga membuat Light termuntah darah dan diakhiri tendangan lurus ke jantung hingga tembus.
"Ah! ugh...," Light termuntah darah dengan mata melotot tidak percaya dengan tendangan Deka yang menembus dada dan melukai jantungnya.
"Darah menjijikkan, cuih!" ucap Deka meludah kearah Light yang jatuh dengan tatapan tak percaya.
Deka lalu pergi dengan kecepatan penuh untuk melapor kepada 9 orang penjaga lainnya bahwa dia telah menyelesaikan misi membunuh pangeran Ranzi, dia terlihat tidak peduli sama sekali dengan keadaan tiga orang komandan yang menjadi lawannya tersebut.
Bush! Sebuah naga api hampir menghantamnya ketika ingin pergi, naga itu berasal dari komandan Hanza yang terkenal dengan sebutan Hanza si raja api.
__ADS_1
"Mau kemana? urusan kita belum selesai tailaso!" ujar Hanza dengan tubuh berselimut api membara dan siap menyerang siapapun musuhnya.
"Uhuk, uhuk, itu tadi sakit sekali." ucap Xiao dengan pedang tajam beraura kegelapan dan tekanan mana yang sangat besar dengan aura mengintimidasi yang menyesakkan dada siapapun yang berdekatan dengannya.
"Sihir api: seribu tinju api!" teriak Hanza dengan melakukan tinju berkali-kali, tinju itu menciptakan tinju api yang begitu banyak dan menghantam Deka yang menghindari semua tinju api tersebut.
Slush! Tebasan Xiao juga dapat dihindari dan bahkan Deka menyerang balik dengan meninju Hanza.
Deka menghindar kebelakang dan menarik tinjunya ketika hampir menggapai dan mendaratkan pukulan ke tubuh Hanza karena merasakan ancaman dari arah samping kanannya, benar saja ketika menghindar jalur itu terpotong menjadi dua yang memisahkan antara Deka dan Hanza.
"Serangan energi yang menakutkan, haha, menarik!" Deka tertawa dan mulai serius menghadapi komandan Xiao dan Hanza, sementara Light sudah tertidur.
"Limit kedua: lepas!" Deka menggunakan teknik bertarungnya.
Aura bening yang melapisi tubuhnya berubah menjadi aura kuning dan lebih terlihat jelas di mata, dalam sekejap Deka sudah ada di depan Xiao dan melancarkan tinju ke dada, Xiao dengan sigap menangkis dan melancarkan tendangan, Deka menghilang dan sudah mematahkan leher Hanza.
"Ini..., bukan apa-apa!" teriak Hanza dengan memuntahkan darah dan melancarkan tinju api ke Deka, namun Deka menghilang dan sudah muncul di hadapan Xiao yang langsung menebas.
Bang!
Percikan api yang tercipta akibat gesekan pedang dan tendangan Deka yang sekuat besi itu membuat dua orang itu mundur disaat yang bersamaan.
"Tebasan matahari malam!" teriak Xiao melancarkan serangan tebasan yang cukup mematikan, serangan itu berbentuk tebasan biasa namun mengandung tekanan mana yang begitu banyak dan mengerikan, bahkan tebasan itu menampilkan aura matahari yang setengahnya dilahap kegelapan malam.
"Sihir api: Semburan naga api!" teriak Hanza juga menyerang dengan bola api berukuran besar yang membara, bola api itu berasal dari siluet naga yang menyembuhkan bola api.
"Haha, limit ketiga: lepas!" Deka tertawa terbahak-bahak dan melepaskan teknik bertarung ketiganya, auranya kuningnya berubah menjadi merah menyala.
Deka melancarkan tendangan energi kearah tebasan Xiao, lalu melancarkan tinju energi bertubi-tubi ke arah bola api Hanza hingga membuat bola itu hancur dan Hanza dihantam puluhan tinju energi hingga tempat Hanza berada tercipta kawah karena berkali-kali dihantam tinju energi.
Hasil akhir pertarungan itu adalah kondisi Hanza yang babak belur dan tak dapat bergerak lagi, sementara Xiao sudah 23 kali mati oleh Deka namun karena kekuatan anehnya Xiao dapat bertahan atau hidup dari kematian beberapa kali.
"Dia masih hidup?" tanya Deka ngos-ngosan karena sudah kehabisan mana dan staminanya terkuras banyak akibat pertarungan tersebut.
"Sungguh monster!" Deka ketakutan dan kabur saat itu juga meninggalkan Xiao yang duduk di dahan pohon dengan nafas yang terputus-putus, sebelumnya Xiao terkena pukulan telak di leher hingga hampir putus karena tajamnya tangan Deka dan membunuhnya sebanyak 24x, lalu berubah menjadi fatamorgana dan tiba-tiba sudah berada di salah satu dahan pohon dengan nafas yang terputus-putus.
"Untungnya dia kabur, jika tidak aku akan mati, uhuk, uhuk." gumam Xiao senang karena Deka kabur, lalu pingsan dan jatuh dari atas pohon karena sudah kehabisan mana.
Kejadian hari itu ditutup dengan berita duka kematian hampir 30 orang bangsawan kerajaan, 40 lebih prajurit kerajaan, 9 kesatria sihir yang dua diantaranya komandan (Light dan Hanza), sisanya terluka ringan hingga berat termasuk Xiao yang sekarat karena kehabisan mana dan terluka dalam yang cukup parah akibat mana habis, lalu istana raja yang hancur akibat ledakan bom.
Kejadian itu dikenal dengan tragedi pangeran Ranzi, bahkan raja membuat monumen untuk mengenang tragedi tersebut, monumen itu berbentuk batu besar yang berada di tengah-tengah makam para korban tragedi tersebut.
__ADS_1