
Gerbang Utara.
Baam!!!
Ledakan besar akibat sihir api terjadi dan membunuh belasan prajurit yang tidak sempat menggunakan tenaga dalam atau sihir pertahanan, ledakan sihir api itu membuat pasukan pimpinan Xiao Lieun terbagi menjadi dua. Pasukan utama dan pasukan pendukung itu harus berjuang sendiri untuk melanjutkan perang, Xiao Lieun sebagai jenderal tentunya berada di pasukan pendukung.
"Ternyata benar mereka menjebak kita." Ucap Xiao Lieun dengan senyum percaya diri, dia sangat bersyukur tidak terburu-buru menyerang benteng ketika pasukan sekte naga Awan mulai mundur secara perlahan memasuki benteng.
Situasinya sama persis seperti apa yang terjadi di gerbang barat, namun bedanya Xiao Lieun tidak terjebak dan dapat berlari mundur kebelakang.
"Mundur!!!" Teriak Xiao Lieun.
Xiao Lieun segera memerintahkan pasukannya mundur dan meninggalkan pasukan utama yang menyerang benteng, sontak pasukan sekte naga Awan langsung menyergap pasukan utama dari tiga arah.
"Serang!!!" Xiao Lieun kembali memerintahkan menyerang ketika sekte naga Awan termakan strateginya, hal itu membuat sekte naga Awan diserang dari dua arah.
"Kamu jendral yang cakap rupanya." Puji seorang pria tua yang tiba-tiba berada disamping kanan Xiao Lieun, sontak saja dia langsung ditodong oleh prajurit yang menjaga Xiao Lieun.
"Minggir!" Bentak kakek tua itu sambil mengibaskan tangan, belasan prajurit itu terhempas menjauh.
"Menjauh, kita tidak cukup banyak prajurit untuk menghentikan seorang ranah surgawi." Xiao Lieun segera memerintahkan prajuritnya untuk menjauh.
"Haha, perkenalkan aku adalah tetua Mera dari sekte," Kakek tua itu berniat memperkenalkan diri, namun Xiao Lieun langsung menghantam wajah sang kakek dengan tombak.
"Hehe, tombakmu tidak dapat melukai," Kakek tua yang bernama Mera itu meremehkan Xiao Lieun, namun tiba-tiba jantungnya tertusuk tombak hingga tembus.
"Meremehkan lawan adalah kesalahan terbodoh yang kamu lakukan hari ini." Ucap Xiao Lieun dingin, lalu mencabut tombak itu dengan kasar hingga tetua Merah termuntah darah dengan mata tidak percaya dia dikalahkan dalam sekejap.
"Kenapa kamu ada dua?" Tanya tetua Mera terkejut Xiao Lieun menjadi dua, dimana satu menusuk kepalanya dan gagal, sementara yang lainnya berhasil menusuk jantungnya.
"Pertahanan tenaga dalammu memang kuat, itu wajar karena bagaimanapun kamu seorang pendekar ranah surgawi, tapi sayangnya setiap kali bertahan di area tertentu, maka area lainnya lemah dan mudah ditembus." Ucap Xiao Lieun, lalu memenggal kepala tetua Mera.
Crash!
Tombak itu tidak mampu memenggal kepala tetua Mera, namun tetua Mera tetap terpenggal karena berusaha melindungi tubuhnya dari tusukan susulan yang menyasar jantungnya dari Xiao Lieun yang lainnya, tetua Mera lupa sebelum melindungi jantung dia terlebih dulu harus memastikan kepalanya aman.
"Apa yang kalian lihat, cepat hancurkan benteng sialan ini dan raih kemenangan." Teriak Xiao Lieun kepada pasukannya yang tercengang melihat dia membunuh seorang ranah surgawi dengan begitu cepat.
Mendengar perintah Xiao Lieun semua pasukan kembali menyerang sekte naga Awan, kali ini mereka lebih semangat karena memiliki jendral yang cukup hebat meskipun bukan ranah surgawi.
"Satu lawan satu mungkin kamu memiliki 80% kemenangan, tapi kamu akan memiliki 95% kekalahan jika meremehkan lawan, Cuih!!!dasar bodoh." Ujar Xiao Lieun meludah, lalu mulai bergabung dalam perang karena menurutnya tidak ada lagi yang kuat selain tetua Mera.
__ADS_1
Bang!
Crash!
Trang!
Duar!
Xiao Lieun dengan brutal membantai sekte naga Awan, dia tidak memiliki counter karena tidak ada yang setara dengannya dalam hal level tenaga dalam dan keahlian, selain itu pasukan miliknya juga unggul dibandingkan pasukan sekte naga awan yang sudah banyak terbunuh.
Bang!
Xiao Lieun yang terus membantai pasukan sekte naga Awan selama hampir 4 jam akhirnya mulai lelah, dia sudah membunuh hampir 1000 prajurit sekte naga Awan, namun tiba-tiba kapten pasukan naga putih berhasil menendangnya hingga terhempas dan termuntah darah.
"Sial, aku kelelahan." Umpat Xiao Lieun, lalu menciptakan perisai energi untuk menangkis lemparan tombak yang kapten pasukan naga putih itu lemparkan kepada.
"Tombak tiga sutra naga!!!" Xiao Lieun melancarkan tekniknya yang berupa tiga naga yang melingkar dan menghancurkan apapun dan membunuh belasan prajurit naga putih yang menyerang mengikuti lemparan tombak kapten mereka.
"Teknik," Xiao Lieun kembali mengeluarkan teknik, namun sayang dia terlalu lelah dan tidak sanggup menggunakan tekniknya meskipun tenaga dalamnya masih banyak, yaitu sekitar 47%.
"Hosh, hosh, sial!!!" Xiao Lieun lelah dan pasrah ketika belasan tebasan energi menyerangnya dan membuatnya terluka parah dan sekarat.
Trang!!!
"Jenderal jangan jauh-jauh dari kami." Ucap seorang prajurit aliansi yang tiba-tiba datang menolong Xiao Lieun yang terlihat memprihatinkan.
"Lindungi jenderal!!!" Teriaknya sembari mendorong kapten pasukan naga putih yang mencoba membunuh Xiao Lieun.
"Kalian tidak habis-habisnya, mati satu muncul ratusan membantu, sungguh tekad yang kuat untuk tetap bertahan." Ucapnya memuji sekte naga Awan yang baru saja mendapatkan bantuan.
"Terimakasih atas pujiannya, tapi mulai saat ini kalian semua akan mati di depan benteng ini dan kami akan meraih kemenangan." Ucap Vera kapten pasukan naga putih tersebut menyakinkan, meskipun dia tahu mereka sudah kalah telak dari pasukan aliansi pimpinan Xiao Lieun, itu dimulai dari kematian tetua Mera.
"Memerintahkan mereka mundur, itukah yang kamu maksud meraih kemenangan?" Tanya prajurit itu, dia menyadari sedikit demi sedikit pasukan sekte naga awan mundur ke benteng, sepertinya mereka memilih bertahan total dan tidak lagi melakukan perang terbuka.
"Jangan banyak bicara, mari kita selesaikan disini." Teriak kapten Vera berlari menyerang dan diikuti ratusan prajurit naga putih lainnya, pasukan aliansi juga berlari menyerang menyambut mereka.
Trang!!!
Trang!!!
Bunyi senjata beradu bergema di Medan perang, darah berceceran membasahi tanah dan membuat tanah menjadi amis karena bau darah yang sudah mengering ataupun masih basah.
__ADS_1
Slash!!!
Clup!!!
Clup!!!
Tebasan energi dan anak panah paling banyak memberikan luka dan membunuh semua orang yang ada di medan perang, baik pasukan sekte naga Awan maupun pasukan aliansi.
"Tutup Gerbang!!!" Teriak kapten Vera kepada prajurit sekte naga Awan yang menjaga gerbang, sementara dirinya dan ratusan pasukan naga putih lainnya memilih mengorbankan diri untuk menghalangi pasukan aliansi.
"Serang!!!" Teriaknya kepada pasukan naga putih yang ikut dengannya untuk mengorbankan diri agar benteng tetap bertahan.
Dalam kurun waktu 30 menit saja mereka semua sudah terbunuh dan menyisakan kapten Vera saja yang terluka parah dengan belasan anak panah atau luka tebasan menghiasi tubuh cantiknya.
"Lepaskan aku atau bunuh saja aku brengsek!!!" Teriaknya marah kepada pasukan aliansi yang menahannya, namun dibalas dengan pukulan dikening dan membuatnya pingsan.
"Bawa dia pergi." Perintah kapten pasukan itu kepada prajurit aliansi, kapten Vera dijadikan sebagai tawanan perang.
Mereka terus dihujani anak panah dan energi sihir dari atas benteng, namun mereka mampu bertahan karena anak panah hanya berjumlah ratusan saja dan dapat dihindari jika tidak yakin dapat ditahan dengan tenaga dalam atau perisai, sementara sihir dapat ditahan dengan energi tenaga dalam saja dan juga dihindari jika tidak yakin.
Duar!!!
Gerbang benteng akhirnya hancur ketika Xiao Lieun turun dan menggunakan tebasan energi berskala besar dengan menggunakan 30% tenaga dalamnya yang tersisa untuk menghancurkan benteng, sontak saja pasukan aliansi segera menyerang ke dalam benteng.
"Jenderal kamu baik-baik saja?" Tanya prajurit pengawal kepada Xiao Lieun yang termuntah darah karena memaksakan diri menggunakan tenaga dalam padahal dia sudah terlalu lelah dan dehidrasi.
"Aku ingin benteng ini kita kuasai ketika aku sadar." Ucap Xiao Lieun dengan nada lirih sebelum akhirnya pingsan juga, sontak saja pasukan aliansi kelabakan dan fokus mereka terpecah menjadi dua.
"Jenderal!!!"
"Jenderal!!!"
"Jenderal!!!"
Teriakkan kecemasan pasukan aliansi ketika jenderal Xiao Lieun pingsan tak sadarkan diri dan membuat pasukan sekte naga Awan dapat melakukan serangan balik karena banyak pasukan aliansi yang kehilangan fokus.
"Serang!!!"
"Bunuh mereka semua!!!" Teriak seorang murid menyemangati pasukan sekte naga Awan, hal itu membuat perang kembali berkecamuk di dalam benteng.
Bersambung.
__ADS_1