
Derrick dan Tiara saat ini sedang berada di belakang rumah Tiara yang memang berbatasan dengan hutan, mereka baru saja selesai memakamkan ibu Tiara yang meninggal dunia.
"Hiks, hiks, hiks." Tiara hanya bisa menangis di depan makam ibunya sambil mengelap air matanya dengan lengan tangan.
"Hiks, ini semua karena banteng itu.., karena banteng itu, aku membencinya, aku akan membunuhnya, hiks!" Ucap Tiara dengan tangis penuh kemarahan, lalu memasuki hutan dengan emosi.
"Tiara kamu mau kemana..," Derrick segera mengejar Tiara yang berlari masuk kedalam hutan.
Raki yang baru keluar hutan heran melihat Derrick mengejar Tiara yang menangis sembari berlari memasuki hutan.
"Teman, apa yang kamu lakukan kepada gadis kecil itu, kenapa..," Raki yang bertanya itu hanya diacuhkan oleh Derrick yang fokus mengejar Tiara.
Raki bingung, namun dia langsung memutuskan untuk mengejar Derrick dan Tiara yang masuk kedalam hutan, bahkan Raki berpikir negatif tentang Derrick temannya itu.
"Itu tidak mungkin, kan?" Batin Raki membuang pikirannya bahwa Derrick adalah seorang pedofil dan Tiara adalah korbannya.
Tiara yang berlari itu meneriakkan nama seseorang yang dia panggil 'Bull' ketika berhenti di suatu tempat terbuka di tengah hutan, setelah panggilan ketiga hutan rimbun di samping Tiara bergetar seperti ada monster besar yang akan datang menghampiri Tiara.
"Apa itu." Tanya Derrick yang langsung berada dihadapan Tiara dengan mengacungkan keris, Derrick bersikap seperti melindungi Tiara yang menatap kebencian arah monster besar yang akan datang.
"Ada apa Derrick?" Tanya Raki yang baru datang, dia terkejut ketika melihat seekor banteng yang berwarna merah mendekati mereka bertiga, dengan mata merah dan tanduk hitam legam yang terlihat sangat keras dan ujung tanduk yang terlihat tajam meruncing menantang langit.
"Monster Banteng merah, tidak... Roh banteng merah." gumam Derrick mendongak melihat monster yang datang.
Dia tidak pernah mengira monster Banteng merah yang dia buru, ternyata sudah berevolusi menjadi binatang roh. Hal itu dapat dilihat dengan aura kemerahan yang menyelimuti banteng tersebut dan sebuah awan merah mengelilingi banteng tersebut (bentuknya seperti selendang yang melayang) yang menandakan banteng itu sudah berumur lebih dari 100 ribu tahun.
Perbedaan antara binatang ajaib (monster) dengan binatang roh itu terletak di segi penampilan, dimana binatang roh yang sudah berumur lebih dari 100 ribu tahun terlihat lebih gagah, binatang roh memiliki kekuatan istimewa yaitu mampu mengubah diri mereka menjadi bentuk manusia beberapa saat lamanya, keistimewaan kedua binatang roh dapat berbicara, makanya orang-orang menyebut mereka binatang roh.
"Tiara apakah kamu memaafkan ku?" Tanya banteng itu sambil melihat Tiara dengan tatapan bersalah dan harapan.
"Tidak! kamu jahat, karena kamu ibu pergi meninggalkan Tiara." Teriak Tiara marah dan mengejutkan sang Banteng, Raki, dan Derrick yang baru tahu penyebab ibu Tiara meninggal dunia.
__ADS_1
"Ternyata luka memar di beberapa bagian tubuh ibu Tiara itu ternyata ulah banteng ini, tapi kenapa dia seperti sangat peduli dengan Tiara." Batin Derrick yang memang tahu penyebab ibu Tiara meninggal dunia, dimana sebelum memakamkan ibu Tiara dia sudah melihat luka memar seperti pukulan benda tumpul di kepala.
"Tiara aku..,"
"Kamu jahat, kamu jahat, kamu jahat, aku benci kamu, aku akan membunuhmu." Teriak Tiara marah dan berlari sambil menyerang banteng itu, lebih tepatnya menyerang kaki banteng itu dengan sekuat tenaga.
Tentu pukulan Tiara itu tidak berasa bagi banteng itu, Tiara terus memukul banteng itu hingga pingsan karena kehabisan energi dan juga emosi yang meledak-ledak, btw Tiara berumur 10 tahun.
"Tiara..," Derrick langsung menangkap tubuh Tiara yang jatuh pingsan.
Banteng itu berubah menjadi bentuk manusia dan mencoba menangkap tubuh Tiara, namun kalah cepat dengan Derrick yang lebih dulu, tentu saja banteng itu kesal.
"Manusia lepaskan Tiara!!!"
"Kamu tidak berhak mengatakan itu!" Balas Derrick dingin.
"Jangan lupa bahwa kamu yang membuatnya seperti ini." Ujar Derrick kemudian membawa Tiara pergi.
Banteng itu terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, karena dia menyadari bahwa memang benar dia yang menyebabkan Tiara bersedih hingga harus jatuh pingsan karena kesedihan itu.
"Apakah kamu akan melindunginya?" Tanya Bull meminta kepastian dari Derrick yang membawa Tiara pergi.
"Tentu saja, aku akan menjaganya dan tidak akan membuatnya sedih seperti yang kamu lakukan." Jawab Derrick dan segera pergi meninggalkan tempat itu dan diikuti Raki dari belakang.
Dua jam kemudian Derrick dan Raki datang kembali ketempat itu untuk menyelesaikan misi mereka, meskipun mereka tahu misi ini mustahil karena musuh sudah berevolusi menjadi Roh, namun mereka tidak akan mempermalukan skuad Kegelapan terutama mempermalukan guru mereka.
"Aku tahu kalian akan datang kembali." Ujar Bull yang kini sudah kembali kebentuk normalnya, yaitu sebuah banteng besar berwarna merah.
"Aku tidak tahu hubungan apa yang kalian berdua miliki, tapi misi tetaplah misi." Ujar Derrick sambil menodong Bull dengan kerisnya, sementara Raki sudah bersiap dengan pedangnya.
"Tunggu dulu." Pinta Bull dengan nada berat.
__ADS_1
"Jika kalian ingin membunuhku, maka aku siap mati, asalkan kalian merawat Tiara dan membawanya pergi dari desa terkutuk ini." Pinta Bull mengagetkan Derrick dan Raki.
Derrick dan Raki saling pandang, mereka tidak mengerti maksud perkataan Bull yang mengatakan desa Puan adalah desa terkutuk secara tidak langsung.
Bull segera menceritakan kisah awal mula dia bertemu dengan Tiara, saat itu Bull terluka parah akibat bertarung melawan binatang buas landak yang memiliki atribut es. Disaat dia putus asa dan pasrah akan hidupnya Tiara datang dan menyelamatkannya, semenjak saat itu mereka berdua semakin dekat.
Namun dua bulan lalu seseorang misterius datang ketempat persembunyiannya, dan memberinya bubuk misterius yang menyebabkannya mengamuk dan melakukan keonaran di desa, semenjak pria misterius memberinya bubuk itu dia akan selalu mengamuk setiap satu Minggu sekali.
"Aku akan menyerahkan nyawaku kepada kalian, asalkan kalian merawat Tiara dengan baik." Ujar Bull menyelesaikan cerita masa lalunya dengan Tiara dan kenapa dia mengamuk di desa.
"Aku sudah tidak ingin lagi membunuh banyak manusia, aku tidak ingin Tiara semakin membenciku, jadi tolong aku untuk merawatnya, manusia." Pinta Bull sembari memberikan inti monster miliknya secara sukarela, setelah inti monster itu keluar dari tubuhnya, Bull memuntahkan darah dan berusaha tetap tenang.
"Kalian berjanji akan merawat Tiara untukku?" Tanya Bull yang sudah hampir mati.
"Kami berjanji akan merawat Tiara." Derrick berjanji.
Bull tersenyum dan menutup matanya, lalu mati dan tubuhnya perlahan demi perlahan menghilang menjadi bola cahaya kecil yang menyatu dengan inti monsternya. Fenomena itu disebut pengorbanan roh, dimana binatang roh memberi inti monsternya secara sukarela dan mengakibatkan tubuhnya akan menjadi cahaya dan menyatu dengan inti monsternya.
"Terimakasih manusia, tolong jaga Tiara untukku." Ujar Bull sebelum benar-benar menghilang menjadi bola cahaya dan menyatu dengan inti monsternya.
"Siapa yang mengira binatang roh dengan sukarela memberikan inti monsternya demi mencegah dirinya membunuh lebih banyak orang lagi." Ucap Derrick kagum dengan pendirian Bull si banteng merah.
Keesokan harinya Derrick dan Raki berniat pergi dari desa Puan dengan membawa Tiara ikut serta menuju sekte Naga langit sesuai dengan permintaan Bull si banteng merah.
"Kamu tidak ikut?" Tanya Raki kepada Derrick yang lebih memilih tinggal untuk melakukan sesuatu.
"Kalian berdua pergilah terlebih dulu, aku ingin berpamitan dengan kepala desa dan melaporkan bahwa tugas kita sudah selesai, serta para warga bisa kembali beraktivitas seperti biasanya" Ujar Derrick memberitahu alasannya tetap tinggal.
"Tiara, kamu tidak boleh nakal ya, dan turuti apa kata kak Raki." Ingat Derrick kepada Tiara yang menunjukkan senyum sedih.
Gadis itu mengangguk kecil, "Iya kak Derik, Tiara tidak akan nakal." ucap Tiara mencoba tersenyum kepada Derrick, Dy segera terbang menuju sekte Naga langit membawa Raki dan Tiara.
__ADS_1
"Baiklah, saatnya..," Derrick menoleh melihat desa Puan yang masih sepi dan tidak ada orang yang beraktivitas, Derrick tersenyum sinis dan dingin, lalu pergi menuju rumah kepala desa yang berada ditengah-tengah desa Puan.
Bersambung.