
Dengkuran Deka yang tertidur pulas terdengar begitu jelas ditelinga Kiano yang berdiri mematung dengan tangan gemetar memegang pedang yang menodong ke arah Deka yang tertidur.
"Dia tidur?" Membatin. Tanya Kiano dengan keringat mengalir dari keningnya.
"Yang benar saja, apakah dia meremehkanku?" Membatin. Kiano terlihat kesal karena diremehkan oleh Deka, namun dia juga takut.
Sementara Derrick yang sudah membidik Deka dengan teropongnya sedikit terkejut karena mengenali wajah Deka.
"Ternyata dia, hm." Menyeringai. Derrick membidik kepala Deka dengan hati-hati, ketika sudah pas dia langsung menarik pelatuk snipernya.
Dor! Peluru berlapis mana itu langsung keluar dari moncong sniper dan menuju ke kepala Deka yang tertidur pulas.
"Apa?" Terkejut.
Derrick terkejut Deka tiba-tiba pindah posisi ketika peluru hampir sampai, hal itu membuat Deka selamat dari tajamnya peluru sniper Derrick. Disisi lain Kiano juga terkejut ketika mendengar suara tembakan dan mencari siapa yang menembak.
"Derrick?" Deka tak butuh waktu lama untuk menemukan Derrick yang sedang menembak di salah satu bangunan.
Dor!
Dor!
Dor!
Derrick melepaskan beberapa tembakan sniper kembali, namun Deka selalu berpindah posisi ketika peluru hampir sampai. Derrick akhirnya sadar bahwa dia dipermainkan oleh Deka sang penjaga 10 kelompok VAR.
"Si4alan! Dia mempermainkan aku, bajingan!" Derrick Memaki.
Derrick yang kesal itu dikejutkan dengan serangan tinju energi Deka yang mengenainya dan mendorongnya terhempas.
"Uhuk, uhuk...," Muntah darah. Derrick menatap tajam Deka yang bangun dari tidurnya, lalu melakukan peregangan otot setelah melepaskan tinju energi kepadanya.
"Jangan meremehkanku, sialan!" Berteriak. Derrick melepaskan beberapa tembakan sniper, namun semuanya dihindari dengan begitu santai oleh Deka.
Bush!
Bunyi Deka meninju udara terdengar di telinga Derrick, lalu sebuah gelombang kejut menghampirinya.
Bush.... bang!
Derrick bersembunyi di balik pohon dan memperkuat pohon itu dengan mana, hasilnya dia selamat dari gelombang kejut yang menghancurkan apapun disekitarnya.
"Kuat sekali." Berkeringat dingin.
Deka turun dari atap bangunan tempatnya tidur, lalu dengan santai mendekati Derrick yang bersembunyi di balik pohon, tekanan mana yang dia hasilnya sukses membuat Kiano berkeringat dingin, bahkan mengakibatkan tembok retak karena tekanan mana Deka yang terlalu kuat.
"Keluarlah, bukankah kamu sangat ingin membunuhku?" Tanya Deka dengan nada datar, sementara Derrick menciptakan senjata api laras panjang.
Dor! Dordordor!
Derrick memberondong Deka dengan ratusan tembakan, namun Deka mengatasi tembakan itu dengan memperkuat tubuhnya.
Whush!
Deka menyerang Derrick dengan tinju mengarah ke kepala dari atas, Derrick menghindar dengan mundur kebelakang.
Bumh! Tinju Deka itu menghancurkan tanah dan bahkan menciptakan retakan tanah hingga menciptakan kawah.
"Tinju api angin: 100 tinju!" Menyerang.Derrick melancarkan tinju energi yang diperkuat angin secara beruntun, Deka menghindar sambil mendekat.
Bang!
Deka berhasil mendekat dan melancarkan tinju ke perut kiri, namun Derrick menangkis tinju itu, lalu melancarkan tinju yang berselimut api dan diperkuat angin ke pipi.
__ADS_1
"Shock wind!" Deka menghindar, lalu melancarkan tinju ke perut Derrick secara telak.
Bang!
Derrick terhempas sambil memuntahkan darah, Deka kembali menyerang dengan muncul di belakang Derrick yang terhempas, lalu melancarkan tendangan terarah di kepala dan membuat Derrick terhempas ke sisi berlawanan.
Bang!
Derrick berhasil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya, lalu menciptakan perisai angin untuk menahan tinju Deka yang sudah berada di depannya.
"Badai angin!" Berteriak.
Derrick menciptakan badai angin yang langsung menyeret Deka ke dalam pusaran badai tersebut, namun Deka menjauh dan menunggu badai itu menghilang dengan sendirinya, Derrick yang menjauh menggunakan sihir kabut.
"Kabut?" Deka bingung, namun dia kembali menjauh ketika badai itu menghampiri dan menyeretnya.
Kiano yang menonton pertarungan itu tiba-tiba menebas badai ciptaan Derrick hingga hilang sebelum waktunya, hal itu dia lakukan untuk memastikan keamanan pasukan elang cahaya yang tak sadarkan diri.
"Persiapan sudah selesai." Bergumam. Derrick melempar beberapa belati ke Deka, namun Deka menghindari semua dan menyerang balik dengan tinju energi.
Boom!
Boom!
Boom!
Derrick melempar beberapa granat dan membuat Deka terkena ledakan bom granat tersebut.
"Sial!" Deka mundur menjauh dengan luka ledakan dibeberapa bagian tubuhnya.
"Keluarlah bajingan, jangan menjadi pengecut!" Teriaknya memprovokasi Derrick.
"Tidak ada pengecut atau pemberani dalam sebuah pertarungan hidup atau mati, yang ada adalah siapa yang mampu membunuh lawannya." Ujar Derrick sambil melempar beberapa bom granat lagi.
Deka langsung menggunakan teknik limit miliknya untuk menjauh, hasilnya dia memang mampu menjauh, namun sebuah tendangan berselimut api diperut membuat Deka termuntah darah.
Mereka berdua akhirnya bertarung dalam jarak dekat, Deka dengan kemampuan limitnya, Derrick dengan kemampuan senjata ajaib dikedua kakinya dan tinju yang dilapisi api dan diperkuat angin.
Bang!
Bang!
Bang!
Mereka terus bertarung hingga akhirnya Derrick mampu melayangkan tendangan ke perut Deka, lalu menyemburkan bola api dan membuat Deka terluka parah.
"Limit 4!" Deka membuka limit empat miliknya, lalu menangkis tendangan lurus Derrick dan meninju dada Derrick hingga terdorong beberapa langkah.
Bang!
Derrick menahan tinju itu dengan kedua tangannya, lalu menggunakan teknik sihir kesetaraan.
Bang!
Derrick yang dari awal dirugikan jika beradu pukul, kini seimbang karena kekuatannya setara dengan kekuatan Deka.
"Apa yang terjadi? kamu memiliki kekuatan yang sama sepertiku?" Deka heran, Derrick hanya tertawa kecil.
Derrick dalam sekejap berada di depan Deka, lalu meninju, Deka berhasil menghindar dan melancarkan tinju ke perut.
Dor!
Kepala Deka ditembak shotgun Derrick, hal itu membuat Deka terkejut dan merasakan kepalanya dihantam bom dan membuatnya mundur beberapa langkah, untungnya kepalanya hanya mengalami luka lebam saja karena limit Deka memperkuat seluruh tubuhnya termasuk kepala.
__ADS_1
Dor!
Deka yang mundur kembali ditembak shotgun di kepalanya.
"Ini sakit sekali, argh." Batin Deka memegang kepalanya yang mulai terluka akibat tembakan shotgun tersebut, Deka melangkah mundur beberapa kali karena kehilangan keseimbangannya.
"Limit 7!" Deka terkejut Derrick sudah ada dihadapannya dan bersiap menembak, hal itu membuat Deka membuka limit 7 miliknya.
Bang!
Dor!
Deka memukul Derrick dengan seluruh kekuatan miliknya dan membuat Derrick terhempas hingga menembus tembok markas elang cahaya dan berhenti ketika sudah terlempar 100 meter.
"Ugh... haha, dengan tembakan itu kamu sudah dipastikan mati, masalah waktu saja sebelum tubuhmu berhenti merespon." Ujar Derrick dengan tertawa kecil, dia terlihat senang karena membunuh Deka.
Tubuh Derrick terlihat penuh dengan darah, kedua tangannya hancur dan bahkan Derrick merasa semua tulang ditubuhnya hancur, hal itu terjadi karena serangan Deka terlalu kuat untuk ditahan atau ditangkis.
"Aku... akan... membunu...," Deka yang terluka parah dengan kepala hancur akibat tembakan shotgun itu jatuh setelah berusaha tetap sadar.
"Tidak, aku tidak mungkin mati..., ini tidak mungkin, sialan!" Ujar Deka yang perlahan kehilangan kesadaran.
Ingatan Deka.
Aku adalah seorang seniman bela diri tinju, aku sangat mengagumi ayahku yang seorang petualang, kehidupanku bersama ayah sangat tenang dan penuh kebahagiaan, hingga hari itu sampai.
"Ayah....," Aku yang sedang berlatih tinju langsung berlari dan memeluk ayah yang baru saja pulang sambil membawa ayam hutan.
"Ayah pulang, Deka." Ucap Ayah dengan mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang, senyum tulus selalu dia berikan kepadaku.
"Apa itu?" Tanyaku kepada ayah.
"Ini makan malam kita." Ujar ayah dengan senyum, lalu pergi ke dapur untuk memasak karena ibuku sudah lama meninggal.
Beberapa jam setelah memasak akhirnya ayam hutan opor buatan ayah telah jadi, kami siap menyantapnya.
"Selamat ma...,"
Bang!
Ketika kami ingin makan, tiba-tiba pintu rumah kami di tendang oleh seseorang hingga hancur.
"SANKA! Kamu dihukum mati oleh raja karena berusaha memberontak." Teriaknya dengan lantang.
"Deka, larilah!" Ujar ayahku yang melindungiku dan mendorongku agar pergi.
"Ayah apa yang terjadi?" Tanyaku, namun tiba-tiba seseorang dengan perisai prajurit kerajaan menyerang ayah.
"Larilah Deka." teriak Ayahku sambil menahan tebasan orang tersebut, namun aku takut dan tidak bisa lari.
****!
Ayahku tertusuk tombak ketika berusaha melindungi ku dari tombak yang dilemparkan oleh salah satu penyerang.
"Ayah...,"
"Larilah... Deka, uhuk!" Ucap ayahku menyela dengan mulut yang penuh darah.
Aku langsung berlari karena tidak ingin menyusahkan ayah lagi, orang-orang itu berusaha mengejar ku, namun ayah menghalangi mereka.
Sejak saat itu aku bertekad membalaskan dendam ayahku kepada kerajaan, karena telah membunuh ayahku, tapi sekarang aku malah terbunuh.
Ingatan selesai.
__ADS_1
"Yaa, setidaknya aku telah membantu tuan Vasya sebisaku." Gumam Deka sebelum menutup mata.
Deka akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyum bahagia, karena telah memenuhi tugas untuk menghentikan pasukan elang cahaya agar tidak menggangu pasukan utama menyerang istana.