
Di sebuah lembah yang ditumbuhi berbagai macam tanaman herbal, terlihat sebuah buah yang berwarna merah dengan kulit seperti sisik buaya, aura berwarna abu-abu terlihat menyelimuti buah tersebut.
Trang!
Trang!
Bang!
Terlihat beberapa orang yang bertarung di sekitar buah tersebut, tampaknya mereka sedang memperebutkan buah tersebut yang tidak lain adalah buah jiwa naga.
"Tombak penghancur!" teriak seseorang yang memakai tombak menyerang seseorang yang menjadi lawannya.
Bang!
Tusukan tombak itu ditahan oleh orang tersebut, lalu membakarnya dan melancarkan tinju energi api yang membuat pengguna tombak terlempar akibat tinju energi api tersebut.
"Buah itu menjadi milikku." ucap orang itu segera berlari dan berniat mengambil buah jiwa naga tersebut, namun seseorang yang sedang bertarung segera menghentikan pertarungan dan menghadang orang itu, lalu menendangnya hingga terhempas.
"Buah ini milikku." ucapnya dengan rakus dan mengambil buah jiwa naga tersebut, namun dia terhempas jatuh akibat hempasan angin dari lawannya sebelumnya.
"Dasar bodoh membiarkan punggung terbuka." ucapnya dan menangkap buah jiwa naga yang terlempar tersebut.
"Aku ambil ini." ucapnya kembali dan berlari ke arah barat dengan kecepatan tinggi, tiga orang lainnya mengejarnya dan melupakan persaingan mereka sebelumnya.
Bang!
Orang yang memiliki buah jiwa naga itu terkejar dan dihantam telapak tangan yang diselimuti api, beruntung dia berhasil menahan pukulan itu dengan perisai angin dan berbalik memukul hingga membuat lawannya terhempas.
"Matilah kalian semua!" teriaknya dengan mengayunkan tangan dan menciptakan angin tajam yang langsung menghantam tiga orang itu hingga jatuh.
"Haha, dasar lemah!" ucapnya dengan tertawa dan berlari menjauh dari ketiga orang itu.
Cl3p!
Orang itu yang berlari membawa buah jiwa naga tiba-tiba terhenti dan jatuh ke bawah akibat gagal menggapai dahan pohon yang dituju, matanya melotot seakan mengatakan bahwa dia tidak percaya dan tidak terima.
"Buah itu milikku, bukan milik kalian apalagi kau." ucap Derrick dingin sambil membidik tiga orang lainnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? kenapa orang itu tiba-tiba jatuh dan mengeluarkan banyak darah dari kepalanya?" tanya Ramdani dengan bibir bergetar melihat adegan itu.
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sama yang dipikirkan oleh tiga orang lainnya, namun sebelum mereka mengetahui apa yang terjadi satu persatu dari mereka tertembak.
Ting!
Pengguna tombak yang menjadi orang terakhir hidup dengan reflek menangkis peluru yang Derrick lepaskan dengan tombaknya, dia langsung waspada. "Keluar pengecut! jangan sembunyi, sialan!" teriaknya sambil waspada.
"Hee, reflek yang bagus, bagaimana dengan ini?" ucap Derrick dengan tersenyum psikopat dan mengalirkan tenaga dalamnya ke snipernya dan menembak.
Dor!
Suara tembakan teredam kembali di hasilkan sniper dengan memuntahkan sebutir peluru yang diselimuti aura hijau, peluru itu langsung ditangkis oleh pengguna tombak, namun tombaknya terlihat ada retakan.
"Keluar sialan!" teriaknya kembali dengan cemas dan marah, namun sebuah peluru kembali ditembakkan dan peluru ketiga membuat tombaknya patah.
"Sial!" teriaknya menciptakan perisai tanah, namun tembus dan mengenai dadanya, orang itu berlari sejauh mungkin, namun sebuah peluru bersarang di kepalanya.
"Tidak ada yang bisa lari dari Ran si penembak jitu, hehe." gumam Derrick dengan tertawa kecil dan mengubah snipernya menjadi pedang dewa terkutuk kembali, karena sebelumnya dia mengubah pedang dewa terkutuk menjadi sniper menggunakan teknik perubah bentuk dan sifat ciptaan Faisal.
"Apa itu, benda apa yang kamu pakai tadi?" tanya Ramdani dengan mulut menganga menyaksikan kematian orang-orang yang tadinya berebut mengambil buah jiwa naga.
Ramdani hanya terdiam mengikuti dari belakang, dia tersenyum kecil dan menusuk Derrick dari belakang dengan belati yang selalu dia bawa di cincin penyimpanannya.
"Apa?" Ramdani terkejut Derrick menghindar dari tusukannya, sambil menunjukkan senyum percaya diri seakan dia sudah mengetahui segalanya.
"Dari awal aku tidak mempercayaimu sama sekali, ternyata memang benar kamu adalah orang yang tidak boleh dipercaya." ucap Derrick dengan menunjukkan senyum mengejek kepada Ramdani.
"Dari awal kamu tidak percaya kepadaku? lalu kenapa kamu membiarkanku mengikutimu?" tanya Ramdani dengan senyum mengejek dan tidak percaya.
"Haha, tentu saja karena kemampuanmu yang sangat kuperlukan, jadi aku tidak bisa membunuhmu saat itu." ujar Derrick sambil mengarahkan tangan ke depan Ramdani.
"Sama sepertimu yang butuh pengawal, sementara aku butuh orang yang paham tanaman herbal, Banteng api!" ujar Derrick dan menyerang dengan teknik yang terinspirasi dari banteng merah yang memberikannya inti rohnya hingga membuat Derrick mampu mengendalikan api akibat menyerap inti roh tersebut.
Bush!
Ramdani menahan serangan banteng api tersebut dengan dinding tanah, namun tembus dan menghantam Ramdani hingga terhempas terluka parah dan memuntahkan seteguk darah, lalu Ramdani berlari menjauh dari Derrick.
__ADS_1
"Urusan kita belum selesai, Derrick!" teriak suara Ramdani menggema di langit-langit hutan, Derrick hanya tersenyum kecil mendengarnya.
Boom!
Beberapa detik kemudian terdengar ledakan dari arah timur dimana Ramdani lari sebelumnya, Derrick tertawa terbahak-bahak mendengar ledakan itu karena sebelumnya Derrick mengubah batu menjadi bom yang bisa meledak kapan saja selama Derrick menekan dominatornya dan menaruh bom itu ditubuh Ramdani ketika sedang tertidur dan menyamarkan bom itu sedemikian rupa agar tidak ketahuan.
"Dasar bodoh, aku tidak sebaik itu membiarkanmu pergi dan membalas dendam di masa depan, haha." ujar Derrick dengan tertawa terbahak-bahak dan pergi ke arah barat untuk keluar taman herbal tersebut.
Disisi Ramdani sendiri dia terluka parah disekujur tubuhnya akibat ledakan bom tersebut, Ramdani rupanya masih selamat karena tubuhnya memang terlatih menjadi keras sekeras batu, meskipun begitu Ramdani tetap terluka parah dan sekarat.
"Sialan..., dia... pria yang berbahaya... uhuk, uhuk." ucap Ramdani dengan terbatuk-batuk darah.
Ramdani mengeluarkan sebuah token misterius yang berbentuk dua pedang emas, itu adalah lambang sekte Pedang langit. Ternyata Ramdani menipu Derrick mengenai identitasnya yang ternyata murid pribadi Zilong ketua sekte pedang langit, sekaligus tuan muda ketiga sekte pedang langit.
Setelah token itu di hancurkan sesosok manusia yang terlihat sangat muda muncul di depan Ramdani, pria muda itu terlihat seperti roh karena tidak ada kakinya.
"Apa yang terjadi kepadamu?" tanya pria muda itu yang ternyata Zilong ketua sekte pedang langit.
"Guru... aku di serang oleh seseorang hingga seperti ini, dan dia juga sepertinya orang yang sama membunuh saudara keempat." ucap Ramdani dengan lirih.
Mendengar hal itu membuat wajah Zilong berubah marah dengan gigi yang terkatup menahan kemarahannya, "Ram kembalilah ke sekte sekarang juga, kamu harus tetap hidup."
"Guru... waktuku tidak banyak, uhuk, ini wajah pembunuh itu... balasan... dendam kami..., guru." sela Ramdani yang memiliki nama asli Ram tersebut dengan susah payah hingga menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ram!!!" teriak Zilong dengan sedih, dia kembali kehilangan murid pribadinya yang dibunuh oleh orang yang sama.
Zilong yang marah dan sedih disaat yang sama itu menatap benci foto Derrick yang dikirim oleh Ram kepadanya, dia terkejut sedikit melihat Derrick, "Ternyata kamu..., seharusnya aku membunuhmu saat itu, Faisal!" ujar Zilong dengan geram dan rahang yang mengeras karena marah, dia terlihat begitu marah kepada Derrick.
Derrick sendiri terlihat semakin menjauhi area tengah taman herbal dan menuju pinggiran hutan, dia sebenarnya bisa lebih cepat kembali ke kota perbatasan menggunakan Portal yang sama saat masuk, namun dia memilih keluar secara manual karena merasakan bahwa hutan di mana taman herbal itu berada begitu familiar.
"Ternyata memang benar, ini hutan bagian Utara kota batu." gumam Derrick dengan senyum senang ketika keluar dari area taman herbal, dia saat ini berada di hutan bagian Utara kota batu.
"Area taman herbal tersebut dilindungi pelindung ilusi, pantas saja orang-orang kota batu tidak dapat menemukan taman herbal tersebut." ucap Derrick kepada dirinya sendiri sambil melihat kebelakang dimana taman herbal itu berada.
Derrick hanya melihat jalan setapak yang disisi kanan dan kiri hanya hutan, "Jika tidak salah hutan kanan kiri jalan itu adalah hutan angker yang katanya membuat orang hilang." gumam Derrick.
Derrick akhirnya menyadari hutan angker yang dimaksud adalah taman herbal yang penuh dengan tanaman herbal dan tentunya monster. Derrick menganalisa bahwa siapapun yang masuk ke hutan akan kesulitan mencari jalan pulang dan tersesat di hutan taman herbal, dan diperkirakan mereka menjadi santapan monster penghuni taman herbal.
__ADS_1
"Benar-benar ilusi yang menipu." gumam Derrick dengan tersenyum kecil mengetahui fakta tentang hutan angker, sekaligus analisanya tersebut.