
Derrick menyuruh sang pelayan untuk memberitakan bahwa kepala desa terbunuh oleh banteng merah yang mengamuk, sementara Derrick sendiri pergi kembali ke sekte dengan merobek kertas jimat teleportasi yang tentunya pemberian gurunya.
Derrick terteleport ke ruang latihan pribadi Xiao yang saat itu sedang bermeditasi hanya untuk menenangkan pikirannya yang sepertinya sangat berat.
"Kamu kembali?" Tanya Xiao dengan lemah lembut tanpa membuka matanya, karena dia tahu siapa yang menggunakan jimatnya untuk hal sepele seperti ini.
"Salam guru, murid kembali." Derrick memberikan salam kepada gurunya yang sedang menulis jimat di sebuah batu.
Xiao langsung memberikan batu itu kepada Derrick lalu kembali bermeditasi menenangkan pikirannya, fungsi batu itu tentunya sama yaitu jimat teleportasi namun beda media saja.
"Terimakasih guru, murid mohon undur diri." Derrick berterimakasih dan hendak pergi dari ruang latihan gurunya.
"Apakah kamu tidak ingin melapor tentang misi yang kamu jalankan?" Tanya Xiao menghentikan Derrick yang hendak pergi.
"Hah? apakah Raki tidak melapor kepada guru?" Tanya Derrick bingung karena dia berpesan agar Raki memberitahu bahwa misinya sudah selesai, dan dia sendiri sedang ada urusan di desa.
"Ahhh, mengenai Raki... dia mengalami luka parah di jiwanya dan beberapa tubuhnya tertusuk pedang." Ujar Xiao dengan sedih dan terpukul.
"A-apa?" Derrick terkejut mendengar berita tentang Raki yang terluka parah baik fisik maupun jiwanya.
"Kenapa dia bisa terluka separah itu? guru jangan bercanda!" Derrick terlihat marah kepada gurunya yang dia anggap sedang bercanda.
"Raki memang terluka cukup parah akibat serangan tujuh orang assassin, kamu pasti tahu seberapa hebat tujuh assassin itu?" Ujar Xiao dengan menahan kemarahan.
Xiao sudah menganggap Raki sebagai anaknya sendiri mana mungkin dia bisa menerima kenyataan pahit tentang anaknya meskipun tidak ada hubungan darah.
"Tujuh assassin?" Derrick meraung geram tanpa bersuara, terlihat Derrick sangat marah dan ingin membunuh seseorang.
Derrick tanpa basa-basi dan pamit kepada gurunya langsung pergi ketempat Raki dirawat, tentunya Derrick pergi ke rumah sakit dimana dokter tinggal dan merawat pasiennya.
"Teman, tunjukkan identitas mu." Tanya salah satu penjaga rumah sakit menahan Derrick dengan memegang pundaknya.
"Lepaskan!" Teriak Derrick dingin.
__ADS_1
"Tunjukkan kartu identitasmu atau kami tidak akan sungkan lagi." Ujar penjaga itu yang tadinya dengan suara lemah lembut kini berubah menjadi dingin, penjaga lainnya sudah siap dengan pedang terhunus.
"Aku akan membunuh kalian berdua?" Teriak Derrick menyerang dengan melancarkan tendangan kepada penjaga yang menghentikannya.
Penjaga itu mundur dan menyerang balik, sementara penjaga yang lainnya juga menebaskan pedangnya.
Bang! Trang! Trang! Bang!
Pertarungan tiga orang itu menarik perhatian semua orang yang sedang istirahat setelah menyelesaikan misi atau yang sedang berlatih meskipun dalam perawatan.
Shush! Bang!
"Ah..," Derrick dibuat tersungkur ketanah dan kepala Derrick ditekan ke lantai.
"Aku tahu kamu marah, tapi apa susahnya mengkonfirmasi identitasmu bajing4an!" Teriak orang itu marah dan menekan kepala Derrick lebih keras lagi seakan dia ingin memecahkan kepala Derrick, terlihat Derrick susah payah melawan balik namun apa daya dia terlalu lemah.
"Master Albert." Dua penjaga yang melawan Derrick berlutut satu kaki dan memberi hormat kepada orang kurus namun berotot itu.
"Lain kali jaga sopan santunnya, si4alan!" Albert mengangkat Derrick dengan mencekiknya, lalu melempar Derrick hingga menembus lima bangunan kediaman murid skuad Kegelapan yang berada disekitar rumah sakit atau kediaman master Albert sang dokter skuad.
"Maaf karena tidak sopan, tapi aku ingin bertemu saudaraku." Kata Derrick sembari memasuki rumah sakit dengan susah payah dan tertatih-tatih.
Dua penjaga berniat menghentikan Derrick kembali, namun master Albert menyuruh agar mereka membiarkan Derrick masuk dan tidak menghentikannya.
"Aku tahu rekanmu sakit, tapi hormatilah orang lain, karena yang sakit bukan rekanmu saja." Nasehat Albert ketika Derrick melewatinya.
Ketika Derrick masuk kerumah master Albert yang lebih mirip rumah sakit dibuat terkejut dengan pemandangan dibeberapa ruangan dan bangsal, dimana Derrick melihat orang-orang yang terluka parah, beberapa bagian tubuhnya terpotong, hingga ada orang mati dengan mengenaskan.
"Hormatilah orang lain, yang sakit bukan rekanmu saja."
Kata-kata master Albert langsung terngiang di kepala Derrick yang membuat Derrick semakin terguncang, dia sangat malu karena ulahnya dan juga khawatir dengan keadaan Raki yang diserang tujuh assassin.
Derrick terus maju sambil menoleh kanan kiri mencari bangsal Raki dirawat, orang-orang menatap Derrick dengan tatapan tak bersahabat karena ulah Derrick sebelumnya.
__ADS_1
Derrick yang semakin masuk itu berhasil menemukan Raki yang dirawat dengan penuh perban, tubuhnya terlihat penuh dengan luka dan Raki sendiri tidak sadarkan diri.
Sementara di bangsal yang lainnya terlihat Dy yang juga hampir mati dengan beberapa luka tusukan dan tebasan di sekujur tubuhnya, Derrick bisa tahu kondisi kedua rekannya itu sangat parah dalam sekali lihat saja.
"Kak Derik.., kak Derik, huhu!" Tiara yang melihat kedatangan Derrick langsung berlari dan memeluknya sambil menangis sejadi-jadinya.
"Kak Derik.., kak Raki... dia ... dia... terluka parah karena Tiara, huhu." Ujar gadis itu menangis dalam pelukan Derrick yang mematung melihat Raki yang seperti itu.
"Sudahlah, ini bukan salah Tiara, tapi ini salah kakak karena tidak menemani kalian ketika kembali ke sekte." Kata Derrick menyalahkan dirinya sendiri.
"Kak Derik, hiks, hiks, itu terjadi karena Tiara, Tiara yang menyebabkan semua ini." Ujar Tiara yang masih menyalahkan dirinya sendiri, Derrick akhirnya bertanya bagaimana itu bisa salah Tiara.
"Itu, hiks... saat itu..," Tiara mulai bercerita tentang pertarungan yang terjadi antara Raki dan Dy melawan tujuh assassin yang menyergap mereka.
Dari cerita Tiara awalnya mereka ingin membunuh Derrick, karena Derrick tidak ada mereka berniat pergi, namun Tiara yang marah karena tujuh assassin yang ingin membunuh Derrick melempar buah apel yang dia makan kepada salah satu assassin.
Lemparan itu memancing emosi assassin yang dia lempari, ternyata assassin itu adalah pimpinan tujuh assassin tersebut.
"Anak kecil apakah kamu bosan hidup?" Tanya pemimpin assassin dingin sambil melempar sebuah belati kepada Tiara, namun Raki menangkis belati.
"Bagus Tiara, Dy lindungi Tiara aku akan mengatasi para assassin si4alan ini." Ujar Raki sambil terjun kebawah.
Tujuh assassin menyusul terjun kebawah dan diikuti Dy yang mengkhawatirkan Raki, beberapa detik setelah mereka mendarat Raki dan empat assassin sudah saling serang, sementara tiga lainnya menyerang Tiara atas perintah pemimpin assassin.
"Kamu mudah tersulut emosi rupanya, bahkan anak kecil saja ingin kamu bunuh hanya sebuah apel, benar-benar sampah masyarakat!" Ujar Raki kepada pemimpin assassin.
"Aku tidak peduli, siapapun yang menghinaku harus mati, meskipun anak-anak, atau bahkan wanita hamil sekalipun." Ujar pemimpin assassin dengan melancarkan tebasan demi tebasan.
Pertarungan itu berakhir dengan kemenangan Raki dan Dy yang berhasil membunuh tujuh assassin tersebut, namun kemenangan harus mereka bayar dengan biaya yang tidak sedikit, bahkan Dy sudah tak sadarkan diri dan Raki sendiri terkena teknik sihir kejam yang menyerang jiwanya sampai-sampai jiwa Raki terluka cukup parah.
"Sebelum kak Raki pingsan dia menyuruhku menghancurkan kalungnya, kalung itulah yang membawa Tiara.. hiks, membawa Tiara ke suatu tempat dimana ada paman Xiao yang sedang merem." Jelas Tiara mengingat Xiao yang saat itu bermeditasi.
Derrick hampir tertawa mendengar Tiara mendeskripsikan gurunya, namun dia tahan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Tiara, meskipun kamu tidak melempar para sampah itu, kak Raki sudah berniat melawan mereka, buktinya kak Raki memujimu karena melempari mereka apel, yakan?" Ujar Derrick agar Tiara tidak merasa bersalah lagi.
Bersambung.