
Di pagi hari yang begitu cerah Derrick dan beberapa petinggi pasukannya dibuat terkejut dengan ribuan pasukan yang mengepung tenda mereka. Sementara ratusan prajurit yang bertugas menjaga juga berada diantara barisan pasukan tersebut, sampai-sampai Derrick menduga mereka berkhianat.
"Siapa kalian?" Tanya Derrick dengan dingin, aura ranah surgawi langsung keluar dan mengintimidasi ribuan pasukan tersebut.
"Haha, santai jenderal Derrick... santai, jangan gegabah, haha." Seseorang tertawa dan berujar, orang itu melangkah untuk menghadap Derrick yang terlihat waspada dan siap bertarung kapan saja.
"Salam hormat Jenderal Derrick, aku jenderal Agus dari pasukan aliansi datang membantumu untuk menaklukkan sekte Naga Awan atas perintah para petinggi aliansi." Ujar jenderal Agus dengan penuh hormat kepada Derrick.
Derrick cukup terkejut mendengar bahwa orang yang didepannya ini adalah seorang jenderal yang dikirim aliansi untuk membantu dirinya dalam penaklukan sekte Naga Awan, kewaspadaan Derrick mengendur dan auranya ditarik kembali.
"Sepertinya aliansi tidak sabaran." Ucap Derrick dengan tersenyum kecut, dia merasa diremehkan.
"Bukan begitu jenderal Derrick, kami sebelumnya ditugaskan untuk menumpas kelompok pembunuh bayaran yang memiliki markas di perbatasan antara kerajaan Xenium dengan kerajaan Kano."
"Kami sudah menyelesaikan tugas kami tersebut, namun beberapa pembunuh bayaran sepertinya bergabung dengan sekte naga Awan, jadi kami meminta izin untuk memburu mereka sekaligus membantumu." Jelas jenderal Agus yang sedikit cemas dengan mood Derrick yang terlihat buruk dan begitu mengerikan ketika Derrick mengatakan 'Sepertinya aliansi tidak sabaran'.
##
Pasukan Derrick yang dibantu jenderal Agus sedang berhadap-hadapan dengan pasukan naga putih dan ribuan murid sekte yang sudah siap berperang, kedua pasukan terlihat siap kapan saja untuk menyerang, mereka hanya menunggu perintah.
Situasi prajurit.
Pasukan Derrick terlihat begitu kokoh dan kuat dengan tubuh yang dilindungi zirah lengkap perisainya, sebagian dari mereka ada yang memakai tombak, panah, dan ada juga yang hanya bermodalkan tangan kosong.
Sementara pasukan sekte naga Awan sebagian besar memakai baju biasa (murid sekte) dan sebagian yang lainnya memakai perisai lengkap sama seperti pasukan Derrick (Pasukan naga putih, pembunuh bayaran, dan pasukan penjaga milik tiga sekte yang membantu).
"Itukah jenderal yang merupakan pendekar level 91 yang kamu katakan ketua pembunuh bayaran?" Tanya tetua agung sambil menunjuk jenderal Agus yang berdiri disamping Derrick, dibelakang mereka terlihat beberapa pengawal yang salah satunya kapten Taico dan kapten Hendri yang merupakan bawahan langsung jenderal Agus.
"Benar tetua yang agung, dia adalah orang yang bertanggung jawab atas terbunuhnya 3000 lebih bawahanku." Balas ketua pembunuh dengan penuh kebencian dan dendam sembari menatap lekat-lekat jenderal Agus yang sibuk memperhatikan pasukannya dan pasukan sekte.
"Tidak terlalu buruk." Tetua yang agung berujar dengan acuh, namun dia begitu serius menatap Derrick yang juga menatapnya dengan tatapan tajam setajam silet.
"Lalu siapa orang disampingnya?" Tanya tetua yang agung serius, semua orang hanya diam karena mereka juga tidak tahu.
"Kakek, dia adalah jenderal yang memimpin pasukan aliansi untuk menyerang kita, pengawalnya yang membunuh ayah." Ucap Adhikari dengan ragu-ragu menjelaskan, dia sebenarnya tidak ingin melanjutkan perang tapi bagaimanapun dia bagian dari sekte dan harus ikut berperang.
"Kakek, sebaiknya kita...," Adhikari ingin meminta agar menyerah, namun langsung dihentikan oleh tetua yang agung dengan kode tangan.
Adhikari hanya bisa menunduk dan mengikuti keinginan kakeknya itu, pasalnya dia hampir mati malam tadi hanya karena berdebat dengan kakeknya tersebut, kini dia tidak ingin berdebat dan membuat kakeknya marah lagi kepadanya.
"Sepertinya hari ini kembali perang terbuka, mereka sungguh percaya diri." Ucap Derrick tiba-tiba menanggapi formasi pasukan sekte naga Awan yang diluar benteng.
__ADS_1
##
"Jenderal apakah bisa dimulai?" Tanya jenderal Agus kepada Derrick yang terus menatap tajam tetua yang agung dan dua orang tetua lainnya, sementara ketua pembunuh dan Adhikari dia abaikan begitu saja.
Derrick mengangguk mendengar pertanyaan jenderal Agus, melihat itu jenderal Agus segera mengobarkan perang dan ditanggapi pasukan ketapel dan sihir dengan melancarkan serangan mereka yang begitu mematikan menghantam pasukan sekte naga Awan, begitu juga sebaliknya.
"Serang!!!" Teriak prajurit yang langsung berlari dengan cepat menyerang sekte naga Awan, begitu juga sebaliknya.
Lemparan bola api, anak panah, tombak, sihir api, air, tanah, dan udara langsung menghiasi langit-langit dimana perang terbuka itu terjadi, teriakan kesakitan dan keputusasaan menggema menjadi lagu latar pertempuran tersebut.
Boom!
Boom!
Duar!
Boom!
Ledakan dan suara hantaman menjadi latar suara yang mengiringi pertempuran tersebut, Adhikari, ketua pembunuh, dan ratusan guru juga terlihat ikut terjun dalam medan perang membantu para murid sekte, begitu juga jenderal Agus dan beberapa kapten pasukan aliansi yang turun membantu.
"Kita ketemu lagi jenderal." Ucap ketua pembunuh dengan dingin dan tersenyum kecil kepada jenderal Agus.
Beberapa prajurit yang mencoba menyerangnya langsung meregang nyawa begitu saja terkena sabetan pedangnya, begitu juga jenderal Agus yang dengan sekejap membunuh beberapa murid sekte yang tidak tahu diri menyerangnya.
Bush! Ketua pembunuh melancarkan semburan bola api.
Semburan bola api tersebut langsung membakar apapun yang dilewatinya, jenderal Agus menebasnya menjadi dua dan langsung melancarkan serangan tebasan energi yang mematikan kepada ketua pembunuh.
"Teknik sihir api: hujan peluru." Ketua pembunuh melancarkan semburan bola api kecil-kecil kepada jenderal Agus yang meliuk-liuk menghindari semuanya, lalu dalam sekejap berada di depan ketua pembunuh tersebut.
Trang!
Dua pedang mereka beradu dan terlibat dalam pertarungan pedang yang begitu cepat dan mematikan sembari terus bergerak kesana-kemari untuk menghindari serangan lawan, baik mereka diposisi menyerang atau sebaliknya.
Trang!
Trang!
"Sihir petir: Tusukan pembunuh!" Ketua pembunuh kembali menyerang dengan teknik sihirnya, namun lagi-lagi ditangkis dengan mudah oleh jenderal Agus hanya dengan bermodalkan tenaga dalamnya saja.
Trang!
__ADS_1
Jenderal Agus menebas dengan niat memotong kepala, namun ditangkis oleh ketua pembunuh dengan pedangnya, jenderal Agus langsung menghantam rusuk kiri ketua pembunuh dengan tinju.
"Arg!" Ketua pembunuh kesakitan, namun dalam sekejap dia melancarkan serangan balik dengan tebasan.
Whus!
Jenderal Agus menunduk, lalu melancarkan tebasan dari bawah keatas dan membuat ketua pembunuh mundur kebelakang menjaga jarak.
Sling! Sling!
Tebasan energi silang dari jendral Agus langsung menyambut ketua pembunuh tersebut, sampai-sampai ketua pembunuh melepaskan pedangnya karena menahan tebasan energi silang tersebut.
Trang!
Jenderal Agus berlari dan menusuk dengan cepat, namun entah darimana ketua pembunuh mendapatkan perisai untuk menangkis tusukan tersebut.
"Teknik sihir: Sambaran petir!" Ketua pembunuh kembali menggunakan teknik sihirnya.
Jedarrr!!!
Jenderal Agus langsung disambar petir hingga menciptakan kawah dimana dia berdiri sebelumnya, namun untungnya jenderal Agus juga melancarkan tebasan energi sesaat ketika ketua pembunuh melancarkan teknik sihirnya.
Slash!
Hasilnya ketua pembunuh tertebas di dadanya dengan meninggalkan luka tebasan yang cukup mengerikan, jenderal Agus keluar dari asap sambaran petir dengan baju compang-camping.
"Kamu masih bertahan dari sambaran itu? uhuk." Ketua pembunuh terkejut jenderal Agus mampu bertahan, sementara dirinya harus terluka parah dan bahkan batuk darah sesaat setelah berucap.
Whush! Jenderal Agus mengambil tombak yang berada dekat dengannya menggunakan daya hisap tenaga dalamnya, lalu melempar tombak itu untuk membunuh ketua pembunuh yang sudah terluka parah tersebut.
"Sial, apakah aku akan mati ditangan pendekar yang lebih rendah dariku." Umpat ketua pembunuh tak rela, pasalnya dia memiliki tenaga dalam level 100 sementara jenderal Agus hanya level 91.
Bang!
Dentuman keras menghantam tombak itu hingga patah dan membuat terkejut jenderal Agus, jenderal Agus semakin terkejut merasakan aura ranah surgawi yang dipancarkan oleh orang yang menghancurkan tombak yang dia lempar.
"Haha, kamu sungguh lemah pembunuh, melawan orang lemah sepertinya saja kamu hampir terbunuh, padahal level tenaga dalammu lebih besar darinya dan kamu berstatus pembunuh bayaran."
"Sungguh mengecewakan!" Ucap pria tua tersebut dengan menggeleng kecewa.
Derrick yang bersantai di depan tendanya dengan mata tertutup langsung membuka matanya, ada senyum kecil di bibirnya dan Derrick terlihat begitu semangat.
__ADS_1
"Akhirnya ada lawan yang sepadan." Ucap Derrick dengan senyum kecil dan begitu mengerikan.
Bersambung.