
Eira yang penasaran dengan cincin warisan yang dianggapnya palsu itu memutuskan mencarinya, setelah mencari semalam suntuk Eira menemukan cincin tersebut di area tidak jauh dia melempar cincin tersebut.
"Akhirnya aku menemukanmu." Ucap Eira dengan senyum senang ketika melihat sebuah cincin yang tersembunyi di balik rerumputan.
Eira mengambil cincin itu, membersihkannya dengan hati-hati.
"Ah," Desah Eira ketika dia melukai jari telunjuknya dengan jarum, lalu mengalirkan darahnya ke cincin tersebut.
Darah Eira diserap oleh cincin itu dengan rakus sampai-sampai Eira merasa darahnya dihisap secara gila-gilaan, bahkan cincin itu terus menghisap darah Eira melalui jari telunjuk yang terluka walaupun sudah dibuang sejauh mungkin oleh Eira.
"Sial, kenapa jadi seperti ini?" Eira cemas dan perlahan jatuh pingsan karena kelelahan dan juga darahnya dihisap secara gila oleh sebuah cincin.
Dimensi buatan.
Disebuah dataran hijau terlihat sebuah pohon yang menjadi satu-satunya pohon yang ada di dataran hijau tersebut, Eira yang tertidur dibawah rindangnya pohon terbangun secara tiba-tiba dengan nafas yang tersengal-sengal seperti dikejar oleh hantu.
"Ini dimana?" Tanya Eira dengan heran setelah nafasnya mulai beraturan.
Eira mencari sesuatu disekitar, berharap menemukan petunjuk dia berada di mana, dia menuju kearah timur dengan terus memperhatikan sekelilingnya.
"Apa itu?" Tanya Eira ketika melihat sebuah kotak hitam yang melayang di udara, ketika dia mendekat tiba-tiba dataran hijau sejauh 50 langkah berubah menjadi danau dan membuatnya tidak dapat pergi lebih jauh.
Hasilnya kotak misterius tersebut terlihat melayang ditengah-tengah danau dan memancarkan aura yang menyejukkan hati, namun mengandung bahaya yang sangat besar.
Eira tiba-tiba melihat sesosok kakek-kakek sepuh yang hendak menghampiri kotak ditengah-tengah danau itu dengan langkah kaki yang sangat kesulitan dan seperti bisa roboh kapan saja.
Kakek itu terlihat membawa kotak yang sama dengan kotak misterius yang berada di tengah danau, anehnya kakek bisa berjalan diatas air agar bisa sampai ditengah danau, sementara kotak misterius yang tadi melayang ditengah danau secara misterius sudah menghilang.
"Siapapun yang menyentuh dan mampu menampung semua kekuatanku, kekuatan dewa air akan menjadi miliknya." Teriak kakek itu sambil menyalurkan semua energinya kedalam kotak tersebut hingga kotak itu melayang di udara.
"Kekuatan dewa air akan menjadi miliknya!" Teriaknya kembali sambil mengencangkan dorongan energinya.
Eira mau mendekati si kakek, namun baru saja satu langkah kakek itu sudah menghilang seakan tidak pernah ada sama sekali. Sementara kotak misterius itu kini terlihat melayang di tengah-tengah danau seperti pertama kali Eira lihat.
"Dimana kakek itu? bukankah tadi dia ada di dekat kotak misterius itu?" Tanya Eira pada dirinya sendiri.
Eira yang bertanya-tanya keberadaan kakek misterius itu menyadari bahwa ia sudah sampai di depan kotak, lebih tepatnya ia berdiri tepat dimana kakek misterius itu berdiri sebelumnya, dengan ragu Eira menyentuh kotak tersebut.
Tes!
Ketika Eira menyentuh kotak itu tiba-tiba terdengar suara air yang menetes, lalu ada ribuan memori dan ingatan aneh yang muncul di otaknya, hal itu membuat Eira harus menahan kesakitan yang hampir membuat kepalanya pecah.
Ok, skip.
__ADS_1
Eira terbangun dari pingsannya setelah dua hari berlalu, dia terbangun di sebuah kamar yang sangat familiar di ingatkannya, itu kamar yang sama ketika dia diselamatkan dari kotak segel empat penjuru elemen oleh Derrick.
"Kamar ini?"
"Bukankah kamar ini adalah kamar yang sama milik pria it, hmz, siapa ya namanya?"
"Iyaa, Derrick, namanya Derrick." Eira mengingat-ingat.
Eira mengingat kembali apa yang terjadi kepadanya, mulai dari saat dia memberitahu isi kotak yang dia lindungi kepada Derrick, hingga dia mengalami kejadian misterius di suatu tempat yang ternyata dimensi yang dibuat oleh leluhurnya.
"Siapa yang mengira warisan klan adalah kekuatan milik leluhur klan Ran yang disegel dalam sebuah kotak, siapa juga yang mengira leluhur klan Ran adalah dewa air di zaman kuno." Eira mengingat-ingat kembali apa yang masuk dalam ingatannya.
Eira mendapatkan warisan klan yang merupakan kekuatan dewa air beserta semua ingatan milik sang leluhur, secara resmi Eira sekarang menjadi penerus dewa air dengan mewarisi warisan klan Ran beserta ingatan leluhurnya yang merupakan dewa air.
"Dengan ini aku akan membalas kalian semua karena telah menghancurkan klan Ran dan memburu kami selama bertahun-tahun." Eira bertekad dengan mata yang menyala penuh kemarahan.
Eira yang sangat bersemangat dan bernafsu membalas dendam itu dikejutkan oleh sebuah suara langkah kaki yang mendekat secara perlahan-lahan.
Kriekk!
Ketika pintu kamar terbuka terlihat Derrick yang terkejut karena melihat Eira sudah sadar, ditangan Derrick terlihat sebuah kain berwarna putih (kain kafan).
"Akhirnya kamu sadar, padahal aku sudah menggali kuburan untukmu." Kata Derrick dengan datar.
Eira yang tadinya sangat senang karena mendapat warisan dewa air, kini terlihat marah dengan apa yang Derrick katakan sampai-sampai wajahnya yang tadi cerah menjadi suram.
"Hei Derrick,"
"Bagaimana jika kamu saja yang mengisi lubang kuburan itu?" Tanya Eira dengan senyum lembut.
"Itu tidak bisa, bukankah aku masih hidup?" Tanya Derrick sedikit takut, dia menyadari tidak seharusnya mengatakan apa yang dia pikirkan tadi.
"Sebentar lagi kamu akan mati," Ucap Eira sembari melambaikan tangannya.
Air dalam jumlah besar langsung menghantam Derrick yang saat itu melindungi tubuhnya dengan perisai angin, lalu air berukuran kepalan tangan secara terus menerus menyerangnya.
"Sialan! kamu ingin membunuhku?" Tanya Derrick tidak senang sambil terus menciptakan perisai angin.
"Menurutmu?" Tanya Eira sambil melambaikan tangannya yang membentuk pisau.
Air yang sangat tipis seperti pisau langsung menghantam Derrick yang masih menggunakan perisai angin, hasilnya perisai angin itu hancur tertebas.
"Ini," Derrick terkejut dan segera menangkis tebasan air susulan Eira dengan keris yang selalu standby di pinggangnya.
__ADS_1
Clash!
"Ah," Derrick tidak mengira tebasan air itu terbelah menjadi dua dan melukainya dengan tebasan yang lebih kecil.
Derrick langsung menjauh dari kamar tersebut dan sembunyi di balik pohon besar di depan rumah (penginapan).
"Sepertinya kamu serius!" ucap Derrick sedikit marah sambil memegang lukanya yang meneteskan darah.
"Haha, kamu akan menjadi orang pertama yang akan merasakan kekuatan dewa air." Ujar Eira tertawa psikopat.
Sebenarnya Eira tidak benar-benar serius membunuh Derrick hanya saja dia ingin tahu sejauh mana kekuatan dewa air yang dia dapatkan, ditambah Eira memang dasarnya memiliki kesombongan, hingga jadilah Eira yang saat ini Derrick hadapi.
"Tunjukkan kemampuanmu, Derrick." Tantang Eira dengan sombong dan memandang rendah Derrick yang sembunyi di balik pohon.
Dor! Sebuah peluru yang Derrick tembakkan melesat menuju paha Eira.
Clung!
Peluru itu menembus paha Eira, namun tidak melukainya karena tubuh Eira layaknya air dan membuat peluru itu hanya melewatinya saja tanpa melukai.
"Air? tubuhnya adalah air?" Derrick terkejut.
Dor! Dor! Dor!
Derrick kembali melepaskan tembakan demi tembakan hingga pelurunya habis, namun hasilnya tetap sama hanya menembus tubuh Eira dan tidak membuat luka.
"Haha, inilah kekuatan dewa air, serangan apapun darimu tidak ada efeknya sama sekali, karena aku adalah air itu sendiri, haha." ujar Eira dengan tawa sombong.
"Teknik sihir: penyegel sihir." Gumam Derrick pelan setelah selesai menyelesaikan mantra sihirnya, lalu mengarahkan pistol ke kepala Eira.
"Percuma saja, dasar bodoh! haha." Ucap Eira sombong dan membiarkan Derrick menembaknya.
Dor! Peluru melesat menuju paha Eira yang begitu sombong.
"Ah, sakit sekali!" Teriak Eira kesakitan sambil memegangi pahanya yang terlihat bolong akibat peluru dan mengeluarkan banyak darah.
Eira langsung terjatuh karena tidak dapat menahan tubuhnya, dia merasa tulang pahanya hancur akibat tembakan itu, dia meringis kesakitan.
"Ini sakit sekali!!! apa yang kamu lakukan, brengsek!" Teriak Eira menahan sakit dan mengumpat Derrick yang mendekati dengan pistol siap menembak.
"Apakah kamu ingin membunuhku?" Tanya Eira takut dengan moncong pistol Derrick yang telah melukainya.
Bersambung.
__ADS_1