Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Sekte Naga Awan 3


__ADS_3

Adhikari menatap nanar jasad ayahnya yang terbaring kaku di tumpukan kayu bakar, tubuh gagah dan perkasa sang ketua sekte tersebut masih terlihat mengagumkan meskipun sudah tak bernyawa.


"Ayah, bukankah sudah kukatakan kita harus membantu aliansi melawan iblis, tapi ayah tidak mau mendengarkan. Karena ayah pihak aliansi kini menyerang kita untuk memusnahkan kita." Ujar Adhikari dengan sedih, obor ditangannya terus memancarkan api dan redup secara bergantian mengikuti tiupan angin.


Ribuan murid sekte tertunduk sedih dan meratapi kematian sang ketua sekte beserta ribuan murid yang juga terbunuh dalam penyerangan yang dilakukan Derrick, ada yang dikubur dan ada juga yang dibakar sama seperti yang akan dilakukan kepada jasad ketua sekte.


"Karena ayah ribuan murid harus ikut terbunuh, padahal mereka semua ingin berjasa bagi ras manusia melawan ras iblis, tapi ayah memaksa mereka untuk mengangkat senjata terhadap sesama manusia." Ucap Adhikari kembali sambil melangkah mendekati sang ketua sekte, lalu membakarnya.


"Ayah, aku tidak akan mengikuti langkahmu, aku akan meminta pengampunan kepada aliansi dan ikut berperang melawan iblis demi manusia."


"Maafkan aku ayah." Ujar Adhikari akhirnya, dia berniat untuk berdamai dengan aliansi dan bergabung untuk melawan ras iblis.


"Paman, kirim surat kepada jenderal aliansi itu bahwa kita menyerah dan akan bergabung dalam pasukan aliansi untuk melawan ras iblis." Ucap Adhikari kepada seorang guru sekte yang memiliki pangkat lebih tinggi dari guru-guru lainnya.


Meskipun Adhikari sedih dan marah kepada aliansi karena membunuh ayah dan ribuan murid sekte, Adhikari tidak menyalahkan mereka karena dia sadar perang ini dimulai dari sikap arogan ayahnya sendiri yang tidak mau membantu aliansi meskipun hanya untuk menjaga beberapa desa atau hutan terlarang yang dekat dengan sekte mereka.


"Tuan muda ini," Guru itu terkejut mendengar ucapan Adhikari yang berniat berdamai, begitu juga ratusan guru sekte Naga Awan lainnya.


"Lakukan saja perintahku." Sela Adhikari dengan marah, dia masih kesal kepada para tetua sekte dan juga beberapa guru yang mendukung keputusan ayahnya untuk tidak membantu aliansi.


"Apakah kamu tidak lihat mereka?" Ucap Adhikari menunjuk ribuan murid sekte yang sedikit bahagia ketika mendengar Adhikari memutuskan untuk menyerah dan bergabung dalam aliansi.


"Paman harusnya tahu dan menyadari bahwa mereka semua berperang dengan setengah hati, karena mereka masih berharap kita untuk bergabung dalam aliansi untuk melawan iblis." Ujar Adhikari kembali dengan berapi-api.


Sang guru hanya bisa menunduk dan diam tak dapat berbicara, begitu juga dengan guru-guru lainnya. Sebenarnya mereka tidak berpikir akan memenangkan perang karena semua tetua sekte terbunuh ketika melakukan formasi naga awan, lalu disusul ketua sekte yang terbunuh oleh pengawal Derrick.


"Adhikari sudah terlambat bagi kita untuk bergabung dalam aliansi, mereka serius untuk memusnahkan kita." Tiba-tiba seseorang berbicara.


Adhikari segera menoleh ke sumber suara dan menemukan kapten pasukan naga putih bersama beberapa orang mendekat, mereka semua adalah orang-orang yang bertanggung jawab untuk mempertahankan gerbang barat dari gempuran Eira.


"Pasukan naga putih?" Adhikari bertanya-tanya kenapa mereka datang ke pusat sekte dimana ayahnya dikremasi, padahal mereka ditugaskan untuk mempertahankan benteng barat.

__ADS_1


Perlu diketahui pasukan naga putih adalah pasukan yang bertugas untuk melindungi sekte dari ancaman luar maupun dalam, mereka adalah garda terdepan untuk menumpas berbagai penyerang yang berniat mengacau atau menghancurkan sekte naga Awan.


"Apa maksudmu kapten Dengha?" Tanya Adhikari kepada kapten pasukan naga putih yang bernama Dengha tersebut.


"Maksud kapten Dengha adalah pihak aliansi akan memusnahkan sekte meskipun kita menyerah dan bergabung, artinya dimasa depan tidak ada lagi Sekte Naga Awan." Jawab seseorang dari sebelah kiri Adhikari dengan nada serius.


"Kapten Vera?" Adhikari dibuat tercengang dengan kapten Vera yang juga kapten pasukan naga putih yang bertugas menjaga benteng Utara kini datang dan meninggalkan benteng yang mereka jaga.


"Tuan muda Adhikari, kita tidak bisa mundur dan menyerah begitu saja kecuali kamu merelakan sekte naga Awan hancur." Ujar ketua sekte gunung Sika dengan serius, Adhikari terkejut dengan kehadiran ketua sekte gunung Sika, sekte yang, dan sekte Ge secara tiba-tiba.


Melihat kedatangan mereka membuat semua guru Sekte Naga Awan bersemangat dan kembali percaya diri memenangkan perang melawan aliansi, namun ada beberapa guru dan sebagian besar murid tidak senang karena mereka berharap sekte menyerah dan bergabung dalam aliansi.


"Jika itu masalahnya maka tak apa, meskipun sekte ini hancur tapi setidaknya murid-murid sekte dapat bertahan hidup." Ucap Adhikari yang siap jika harus merelakan sekte dihancurkan dan dihapus oleh aliansi.


Semua terdiam mendengar tekad Adhikari tersebut, mereka tidak menyangka Adhikari serius menyerah dan berniat bergabung dalam aliansi.


"Tuan muda Adhikari benar kita harus menyerah dan bergabung dalam aliansi!" Teriak salah satu murid sekte memecah keheningan.


"Kalian," Beberapa guru ingin mengatakan sesuatu, namun kalimat mereka tertahan.


Adhikari tersenyum senang mendapat dukungan ribuan murid sekte, sementara ratusan guru mulai melunak dan berniat mendukung keputusan Adhikari untuk menyerah dan bergabung dalam aliansi ketika melihat begitu banyak murid yang mendukung Adhikari.


Para guru mulai melunak selain karena semangat murid sekte untuk melawan ras iblis, juga didorong karena para guru mulai menyadari bahwa manusia saat ini diambang krisis karena dominasi ras iblis yang semakin kuat sampai-sampai aliansi bertindak tegas kepada sekte yang menolak membantu melawan ras iblis, dimana salah satunya adalah sekte naga Awan.


"Tuan muda Adhikari kamu yakin ingin menyerah?" Tanya ketua kelompok pembunuh secara tiba-tiba.


"Padahal kami datang membantu kalian, tapi kalian malah menyerah?" Tambahnya dengan kesal dan marah.


Pasalnya aliansi juga menyerang mereka bersamaan dengan sekte naga Awan, bedanya sekte naga Awan dapat bertahan, sementara mereka tidak.


Dia datang untuk membantu sekte naga Awan tidak lain hanya untuk balas dendam atas tindakan aliansi yang menyerang markasnya secara mendadak dan tiba-tiba hingga yang tersisa dari mereka hanya ratusan pembunuh saja.

__ADS_1


"Tuan muda Adhikari pikirkan lagi keputusanmu, apakah kamu benar-benar berniat menghancurkan apa yang dibangun oleh leluhur mu." Ujar ketua sekte Gunung Sika dengan serius.


"Jika leluhurmu masih hidup dia pasti akan membunuhmu karena berniat menyerah dan membiarkan sekte yang mereka bangun hancur begitu saja." Tambah ketua sekte Yang ikut menimpali.


Tiga ketua sekte itu datang membantu sekte naga Awan karena takut aliansi akan menghancurkan mereka setelah menghancurkan sekelompok pembunuh dan sekte naga Awan.


"Aku sudah memutuskan untuk menyerah, keputusanku tidak bisa diganggu gugat." Putus Adhikari dengan tegas, semua orang yang merupakan bagian sekte naga Awan hanya bisa setuju.


"Tuan muda, jika itu keputusanmu kami dari pasukan naga putih hanya bisa mengikuti." Ucap kapten Dengha dengan sedikit menunduk diikuti ribuan pasukan naga putih lainnya.


Tiga ketua sekte dan ketua pembunuh hanya bisa menggeleng tak berdaya, mereka tidak bisa melakukan apapun untuk merubah keputusan Adhikari.


"Pengecut!"


"Kamu sungguh pengecut, Adhikari!!!" Teriak seseorang dengan lantang, lalu sedetik kemudian seorang pria tua berpakaian serba putih muncul secara tiba-tiba dihadapan semua orang dengan kilatan petir yang masih terlihat menyelimuti tubuhnya.


"Kakek?" Adhikari yang reflek melindungi matanya dari Kilauan petir langsung terkejut ketika tahu siapa yang berbicara kepadanya dengan lantang.


"Salam hormat tetua yang agung." Ribuan murid sekte langsung memberikan salam hormat ketika sadar siapa orang yang muncul secara tiba-tiba tersebut.


"Hm," Pria tua itu hanya berdehem sambil melirik tajam tiga ketua sekte dari sekte lain dan juga ketua kelompok pembunuh.


"Salam tetua yang agung!" Mereka berempat langsung memberi hormat dengan nada terbata-bata, diikuti orang-orang yang mereka bawa.


Bush!


Bang!


Bang!


Sedetik kemudian muncul empat orang secara tiba-tiba dengan momentum yang kuat dengan versi masing-masing, semua orang terkejut dan berkeringat dingin merasakan aura empat orang tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2