
Syiera langsung beranjak dari tempatnya, dan kini ia terduduk di sandaran ranjang. Ia benar tak menyangka kalau suaminya itu mulai berani padanya.
Attar kembali menghampiri istrinya, dilihatnya sang istri sudah terbangun. Tanpa berkata ia ikut terduduk di tepi ranjang.
"Makan malam sudah siap, ayo kita makan?" ajak Attar
"Belum laper," jawab Syiera jutek. Ia kesal dengan perlakuan Attar, bisa-bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan. "Aku tahu loh, yang baru saja kamu lakukan!" Syiera menatap tak suka pada suaminya.
"Apa? Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Attar pura-pura tidak tahu.
"Menyebalkan, bisa-bisanya dia seperti itu. Awas saja nanti!" geram Syiera dalam hati.
Lama tak ada percakapan diantara mereka.
"Apa jangan-jangan Syiera tahu aku sudah menciumnya?" Tapi Attar malah seneng kalau Syiera tahu. Ia senang melihat istrinya marah dari pada diam seperti ini.
Syiera beranjak dari tempatnya.
"Aku mau mandi, keluar sanah! Jangan macam-macam." Setelah mengatakan itu pada Attar, Syiera langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Klek, pintu langsung di kunci dari dalam. Ia tak ingin kejadian tadi pagi terulang. Selesai mandi, Syiera langsung keluar dan dilihatnya, Attar masih tak beranjak. Ia masih setia di tempatnya.
Melihat Syiera yang hanya mengenakan handuk, Attar hanya bisa menelan salivanya. Ah ... Jiwa Attar meronta-ronta.
"Ngapain masih di sini. Cepat keluar!" bentak Syiera.
Seperti anak kecil yang penurut, Attar keluar begitu saja. Ia memendam hasratnya, padahal Syiera istri sahnya bukan? Tapi kenapa ia merasa tak enak meminta haknya, apa karena Syiera belum bisa menerimanya jadi suaminya. Mungkin itu alasan Attar tak berani terang-terangan menciumnya.
Attar sudah berada di meja makan, ia menunggu istrinya. Namun tak juga kunjung datang, ia berniat menyusul istrinya. Belum Attar beranjak, Syiera sudah sampai lebih dulu. Ia menarik kursi lalu ikut duduk bersama Attar. Mereka duduk saling berhadapan, Attar sedari tadi tak berkedip melihat istrinya itu.
Bagaimana tidak? Syiera mengenakan baju yang menggoda iman para lelaki. Mengenakan baju tidur tanpa lengan hanya seutas tali yang menggantung di pundaknya, panjangnya di atas paha. Jelas terlihat kemolekan tubuh mulus itu.
Yaitulah, Syiera. Selalu tampil cantik apa pun yang ia kenakan pasti terlihat mempesona.
"Lihat apa? Tak pernah lihat orang cantik, ya?" tanyanya sambil mengambil nasi.
__ADS_1
Attar hanya menggeleng, dalam hati ia merasa gemas akan kejutekan istrinya itu. Seperti ada rintangan tersendiri, benar wanita langka.
Banyak wanita yang menginginkan dirinya. Tapi tidak dengan Syiera, ia lebih dulu membencinya selagi menjadi OB. Momen yang tidak akan terlupakan baginya.
Bi Ani lari tergopoh menghampiri mereka yang sedang makan.
"Maaf, Tuan. Sepertinya saya harus pulang kampung," kata Ani dengan wajah panik.
"Kenapa, Bi?" tanya Attar. Tak biasanya bi Ani minta pulang.
"Anak Bibi di kampung sakit, Tuan. Jadi saya ijin pulang," jawab Ani.
"Berapa lama Bibi di kampung?" tanya Syiera ikut nimbrung pembicaraan mereka.
"Seminggu paling, Non."
"Ya sudah, kasih ijin saja Bibi pulang. Kasian dia," ujarnya sambil menatap ke arah Attar.
"Bibi diantar Pak Dirman saja, ya? Jangan naik angkutan umum, ini sudah malam."
"Iya, Tuan. Terimakasih." Bi Ani pun undur diri setelah dapat ijin dari majikannya.
"Yang belakangan berarti dia yang beresin," kata Syiera sambil mengelap bibirnya yang basah sehabis minum.
Lagi-lagi, Attar dibuat tak berdaya dengan pandangannya barusan. Bibir istrinya benar-benar membuatnya traveling. Entah sejak kapan, Attar menjadi pria mesum. Apa karena ia sudah melihat seluruh tubuh istrinya tadi pagi? Ditambah lagi dengan penampilan Syiera malam ini.
Attar hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam. Menahan diri dari godaan istrinya itu. Syiera berjalan berlenggok melewati Attar. Attar memejamkan matanya, tak ingin melihat tubuh yang terus terngiang dalam benaknya.
Selesai makan, Attar membereskan semuanya, karena bi Ani sudah pulang kampung. Terus, yang mengerjakan pekerjaan rumah siapa? Istrinya 'kan kerja. Mana iya dia mau, Syiera 'kan orang kantoran. Pikir Attar.
Mau tak mau ia sendiri yang membereskan semuanya, ia tak gampang percaya pada orang. Bi Ani yang selama ini ia percayai di rumah ini. Selesai dengan pekerjaannya yang membereskan bekas makannya, Attar kembali masuk ke kamarnya.
Attar terus memutar handle pintu, tapi tak bisa dibuka. Akhirnya ia memanggil-manggil nama istrinya.
"Syiera ... Buka pintunya." Attar terus menggedor-gedor pintu, namun tak kunjung dibuka oleh Syiera.
__ADS_1
Sementara yang di dalam kamar, malah asik membaca novel sambil mendengarkan musik. Pantas Syiera tak mendengar suaminya yang minta dibukakan pintu. Ternyata ...
"Sedang apa sih dia? Masa iya sudah tidur."
Attar tak tinggal diam, ia turun ke bawah, lalu keluar. Ia mencoba masuk ke dalam kamarnya lewat jendela, sayang seribu sayang. Pas lagi manjat, dan hampir sampai.
Tiba-tiba, lampu mati. Sontak membuat Syiera ketakutan di dalam sana. Dengan cepat, Attar masuk lewat jendela, itu malah membuat Syiera lebih takut.
"Siapa di sana," sentak Syiera. Lalu ia menyalakan batre yang tersedia di ponselnya.
"Kamu," pekik Syiera. "Ngapain ngendap-ngendap?" tanya Syiera dengan curiga. Jangan-jangan dia mau macam-macam. "Gak lucu! Cepat nyalakan lampunya," cetusnya, ia mengira lampu mati, itu disengaja oleh suaminya. Dasar pria modus. Pikirnya.
"Apa yang harus dinyalakan, lampunya memang mati. Apa aku kurang kerjaan bercanda seperti ini."
"Terus! Ngapain masuk lewat jendela?"
"Pintu kamu kunci, makanya aku lewat jendela."
Lalu mereka saling terdiam, menunggu lampu yang tak kunjung nyala. Akhirnya mereka saling mengobrol membicarakan nasib pernikahan mereka. Tanpa disadari oleh Syiera, Syiera malah cerita panjang lebar tentang Alex. Syiera mengira bahwa pernikahan ini, Attar pun sama sepertinya sama-sama tak menginginkannya.
"Kenapa kamu mau disuruh Daddy menggantikan Alex? Apa kamu tak memiliki kekasih?" tanya Syiera tanpa menoleh sedikit pun kepada Attar. Ia melihat lurus ke depan, duduk di balkon bersama suami yang tak pernah ada dalam benaknya.
"Mana ada pacar? Aku mencintaimu Syiera. Bahkan sejak dulu, apa kamu tak ingat padaku?"
"Hey ... Aku tanya padamu, kenapa malah bengong? Kamu sama terpaksanya 'kan dengan pernikahan ini?"
"Tidak! Aku biasa saja," jawab Attar.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Syiera.
"Ah, sudahlah lupakan." Attar melirik dari ujung mata ke arah istrinya. Dilihat dari mana pun Syiera tetap cantik.
"Attar?" Kali ini, Syiera memanggilnya dengan serius. Membuat Attar langsung menoleh ke arahnya.
"Kamu tahu 'kan, kalau aku tak menginginkan pernikahan ini. Sepertinya aku ada ide." Syiera mencoba menegoisasi dengan Attar.
__ADS_1
"Maksdunya?" tanya Attar tak mengerti
bersambung