Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
68


__ADS_3

Di aula gedung hotel berbintang lima. Acara resepsi pernikahan Dam digelar. Banyaknya para tamu yang hadir dari kalangan atas, para pembisnis kumpul ikut memeriahkan acara tersebut.


Pasutri itu nampak bahagia, akan tetapi kebahagiaannya di atas derita Aleta. Tidak dipungkiri kalau hatinya begitu terluka akan kebahagiaan mereka. Gadis itu menyimpan lukanya sendiri. Berpura-pura kuat, dan tegar.


Namun hari ini, ia begitu rapuh. Dari jauh ia tersenyum miris melihat ke arah penganting. Haruskah ia iri dengan kebahagiaan mereka? Bukan ... Aleta bukan wanita seperti itu.


Perlahan, ia menghampiri sang pengantin. Menaiki panggung , memberi selamat pada pasangan itu. Aleta memeluk pengantin wanita sambil berucap.


"Selamat ya, Al. Semoga kalian bahagia," ucapnya pada Alea. Namun matanya beralih pada wajah Dam. Tatapan keduanya terjadi namun hanya sekilas, karena Aleta langsung melepaskan pelukannya dari Alea.


Aleta menatap wajah Dam dengan nanar. Tak ada curiga dari Alea pada gadis yang menatap ke arah suaminya. Bahagia di diri Alea bisa menutupi itu.


Aleta pun turun dari panggung. Ia berjalan dengan tatapan kosong. Kini ia menghampiri meja minuman yang tersedia di sana. Tak di sangka, Aleta memilih minuman yang beralkohol.


Dari jauh, Attar melihat adiknya. Tak biasanya Aleta meminum minuman seperti itu, namun Attar mendiamkan aksi Aleta. Karena ia sudah mempunyai rencana, sedikit gila memang. Tapi ini rencana yang sudah ia pikirkan matang-matang.


Sang pengantin pria pun melihat Aleta, gadis itu mulai oleng. Karena tak biasa dengan minuman itu. Ingin mencegah, namun tak bisa. Alhasil ia hanya bisa terdiam. Banyaknya tamu yang memberi selamat padanya, Dam pun melepaskan pandangannya dari Aleta.


Ditempat lain. Attar mencari Malik, di mana pria itu? Harusnya dia ada di sini menemani Aleta. Tak lama, Malik menampakkan batang hidungnya. Pria itu terlihat sangat tampan, tidak seperti biasanya. Berpenampilan urak-urakan seperti preman. Rambut klimis, memakai jas. Pokoknya tampan.


Attar memanggil Malik, entah apa tujuan pria itu. Ia hanya memberikan gelas yang berisikan air pada Malik. Attar menyuruhnya memberikan minuman itu pada Aleta. Tanpa rasa curiga, Malik pun menerimanya. Lalu mulai mencari Aleta.


Akhirnya Malik menemukan gadis itu. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya, buru-buru Malik menghampiri Aleta.


Tidak lupa ia memberikan minuman yang diberikan Attar padanya.


Malik pikir, minuman ini sebagai penawar untuk menghilangkan pusing dari alkohol.


Setengah sadar, Aleta menerima minuman itu. Gadis itu sedikit meracau menyebut nama Dam. Tak ingin terdengar oleh para tamu yang hadir dan agar tidak membuat kekacauan. Malik dengan cepat membawa Aleta ke tempat yang lebih sepi.


Attar terus memperhatikan Malik yang sedang berasama Aleta. Adiknya itu benar-benar mabuk. Dan Attar pun menghampiri Malik.


"Tuan, Non Aleta mabuk berat," kata Malik pada majikannya.


"Bawa dia pulang, pastikan sampai Aleta benar-benar masuk kamar," titahnya pada Malik.

__ADS_1


Malik menuruti perintah Attar. Dan langsung membawa Aleta pergi dari sana. Hanya Attar yang tahu kalau Malik yang membawa Aleta. Syiera sang istri pun tidak tahu sama sekali akan rencana suaminya.


Setelah kepergian Malik, Attar kembali ke pesta. Ia menemui Syiera, perut yang mulai membuncit karena hamil anak kedua membuat Syiera cepat lelah.


"Pulang yuk?" ajak Syiera. Waktu pun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, acara pesta hanya digelar sampai jam sebelas. Hingga akhirnya Syiera minta pulang lebih dulu.


Tak ingin mengagalkan rencananya, Attar malah mengajak istrinya bermalam di hotel.


"Aku ingin pulang," rengek Syiera pada suaminya.


"Kita bermalam di sini saja. Cari suasana baru," kata Attar, padahal ini hanya akal-akalannya saja. Syiera menjadi heran, sejak kapan suaminya suka bermalam di hotel?


Karena Syiera tahu betul kalau suaminya suka tidak bisa tidur jika menginap di hotel.


"Apa ada sesuatu sampai ingin bermalam di sini?" tanya Syiera setibanya di kamar hotel. Attar benar-benar sudah merencanakan ini dengan matang.


Karena tak bisa berbohong pada istrinya. Attar pun mengatakan apa rencananya.


"Apa?" Syiera tak percaya kalau suaminya senekad itu. "Tapi kasian Aleta, kenapa kamu tega," ucapnya pada Attar.


Mendengar perkataan Attar yang menyebut nama adiknya. Syiera malah kembali penasaran.


"Apa maksudmu bawa-bawa nama Dam?"


"Aleta dan Dam memiliki hubungan di belakang Alea, dan aku gak mau kalau Aleta menjadi perusak rumah tangga Dam nanti," jelas Attar.


Syiera mulai kebingungan, tidak ingin stres. Syiera membiarkan rencana suaminya.


"Terserah kamu sajalah, kalau ada apa-apa dengan Aleta, aku gak mau ikut campur."


Karena Syiera tahu, pernikahan dengan terpaksa akan menimbulkan konplik yang berkepanjangan seperti kisah dirinya dengan suaminya.


"Tidurlah, jangan memikirkan Aleta. Biar ini menjadi urusanku," kata Attar. Di kamar hotel, Attar hanya berdua dengan Syiera. Anaknya ia titipkan dengan Lila asisten di rumah mertuanya.


***

__ADS_1


Di dalam mobil, Aleta terus meracau menyebut-nyebut nama Dam. Sesekali ia mencengkram tangan Malik, entah kenapa Aleta bisa seperti itu. Aleta seperti hilang kendali.


Malik mempercepat laju mobilnya, Aleta mulai mendekatkan wajahnya pada Malik. Tak lama mereka pun sampai dikediaman Attar.


Rumah itu begitu sepi karena penghuni sedang ada di hotel, termasuk bi Ani. Bi Ani berada di rumah Dam, ia menginap di sana sambil menjaga Axel dengan Lila.


Malik menggendong Aleta ala bridel style. Malik semakin bingung, Aleta mabuk atau apa? Kenapa Aleta seperti ini? Pikir Malik. Setibanya di kamar, Malik langsung merebahkan tubuh Aleta. Melepas sepatunya, lalu menyelimuti tubuh Aleta.


Disaat Malik menyelimuti Aleta, gadis itu menarik lengan Malik. Hingga Malik langsung melihat ke arah Aleta.


Aleta bangkit, Dan ....


Malik membelalakkan kedua matanya tak percaya.


"Aleta hentikan!" Malik menjauhkan tubuh Aleta darinya, tapi sayang Aleta malah memeluk erat tubuh Malik.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu." Racau Aleta tanpa sadar.


"Aku tahu, Aleta. Aku tahu kamu mencintai Dam," kata Malik. "Tapi tolong, jangan seperti ini."


Malik mencoba menghindari ciuman Aleta. Mungkin pikir Malik ini akibat mabuk.


Setelah dipikir kembali. Mabuk biasa tidak akan seperti ini, Aleta beringsut seperti cacing kepansan. Wanita itu tidak bisa diam.


"Panas, panas." Hanya itu yang Aleta ucapkan.


Aleta membuka bajunya sendiri di depan Malik. Malik hanya menelan salivanya. Pria mana yang tak tergoda melihat tubuh mulus itu?


Tubuh indah Aleta nampak jelas di mata Malik. Tanpa diduga, Aleta memeluk Malik sambil mendaratkan bibirnya di bibir Malik.


Aleta me*l*mat bibir Malik tanpa cela. Malik masih tersadar, dan langsung melepaskan tautan itu, ada yang tidak beres dengan Aleta. Malik menyelimuti tubuh Aleta yang hampir polos. Malik tidak ingin terjadi sesuatu diantara mereka.


Tapi sayang, aksi Aleta semakin brutal. Dan Malik mulai goyah.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2