Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
95


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Dam seketika berlutut setelah membaca surat yang telah ditulis oleh Alea.


"Alea ..." Dunia Dam hancur, ketika ia tahu bahwa istrinya telah pergi. Sudah beberapa kali Alea meminta Dam menikah dengan wanita lain agar suaminya itu memiliki keturunan. Bahkan kedua orang tua Dam bisa menerima keadaan Alea. Karena Dania juga tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya.


Pria itu meremas kertas yang bertulisan kepergian Alea. Tak bisa terus menangis begini, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Dam pun pergi berniat mencari istrinya, tapi kemana ia harus mencarinya? Setahu Dam, selama dua bulan terakhir, Alea sering mengunjungi Aleta. Bahkan Aleta sempat bertanya pada Dam, kenapa istrinya meminta bantuannya untuk menggugat Dam. Alea meminta Aleta untuk menangani kasus percerainnya.


Tapi Aleta menolak keras, ia tak mungkin membantu Alea berpisah dengan Dam. Hingga pada akhirnya, Dam mencari istrinya dimulai dari rumah Aleta. Mungkin saja Aleta tahu keberadaan Alea sekarang.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Dam ragu untuk masuk ke dalam rumah Malik. Tentu ini akan mengganggu penghuni rumah itu, pada akhirnya, Dam mengurungkan niatnya.


Mobil Dam kembali melaju, hanya ingin menghilangkam stres, mobil yang dikendarai Dam berhenti tepat di depan club, ia langsung masuk ke dalam sana, dan memesan segelas wine. Ketika pelayan sudah menyuguhkan minuman beralkohol itu, Dam meneguknya hingga tandas. Masih kurang, Dam memesan kembali minuman itu. Dam hampir oleng, namum ia masih bisa menahannya.


Hingga akhirnya, Dam keluar sambil kelimpungan setengah sadar. Ketika akan menuju mobil, Dam melihat seorang wanita. Ia langsung menghampiri wanita tersebut.


"Kemana saja? Aku merindukanmu, sayang." Tanpa aba-aba, Dam menarik tangan gadis itu. Membuat si gadis ketakutan, Dam tidak memberi cela pada gadis itu, hingga Dam menyeretnya masuk ke dalam mobil.


Gadis itu terus meronta, sesekali wanita itu menendang tubuh Dam. Tapi sayang, tenaga Dam cukup kuat, walau ia sedang mabuk Dam bisa menahan kepergian wanitanya yang ia kira adalah istrinya. Di dalam mobil di bagian kursi belakang, Dam menindih tubuh mungil itu, bahkan dengan buasnya, Dam merampas bibir ranum gadis tersebut.


Baju yang dikenakan gadis itu sudah robek akibat kegilaan Dam. Wanita itu menangis ketika Dam berhasil menguasai tubuh gadis itu. Beberapa menit kemudian, wanitu itu berhasil keluar dari mobil milik Dam. Karena Dam sudah tidak sadarkan diri, pria itu mabuk berat.


Dalam keadaan sempoyongan gadis itu terus berjalan menelusuri jalan. Hingga pada akhirnya gadis itu jatuh pingsan, baju yang dikenakannya berlumur darah dibagian bawahnya. Sudah di pastikan kesuciannya telah terenggut.


***


Khai yang tahu kepergian Alea, ia pun mencari adiknya. Karena Dam memberitahukan pada Khai bahwa Alea telah pergi. Ketika dalam perjalanan, Khai melihat seorang gadis berjalan terliuk-liuk. Mobil Khai langsung berhenti, ia melihat gadis itu pingsan di pinggir jalan.


Betapa terkejutnya ia melihat siapa gadis itu, Khai langsung membawanya ke dalam mobil. Dan membawanya langsung ke rumah sakit.

__ADS_1


Khai mondar-mandir tak karuan. Ia tak menyangka gadis yang ia sukai dalam keadaan seperti ini. Tak lama dokter keluar.


"Bagaimana keadaanya, Dok?" tanya Khai.


"Kondisinya baik-baik saja, dia akan sadar tunggu saja sampai satu jam ke depan. Apa Anda keluarganya, saya pacarnya, Dok." Khai mengaku sebagai pacar gadis itu agar dokter tidak melibatkan polisi.


"Bagian intinya robek, sepertinya pacar Anda korban pemerkosaan," jelas dokter itu lagi. Setelah mengatakan itu, dokter pun pergi.


Khai begitu shock mendengar kabar itu.


"Felisia," lirih Khai. Ya, perempuan itu adalah Feli. Khai tidak tahu saja kalau itu perbuatan Dam yang sedang mabuk. Bahkan Dam masih tak sadarkan diri di dalam mobilnya. Khai dengan setia menunggu Feli sadar, sampai ia tertidur di kursi.


Keesokan harinya.


Dam mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, ia masih dalam keadaan pusing. Dam terkejut mendapati, tubuhnya yang setengah polos. Ia mencoba mengingat kejadian semalam.


"Sial." Ketika Dam mengingat kejadian semalam, ia juga melihat bercak darah yang menempel di kursi mobilnya. Dam merasa bersalah, gadis mana yang telah ia renggut kesuciannya? Dam prustrasi.


"Feli." Khai beranjak melihat keadaan gadis itu. Feli ketakutan, gadis itu mengalami trauma yang cukup berat. "Tenang, Feli. Ini aku, Khai." Khai mengusap lembut kepala Felisia.


"K-khai," lirih Feli.


"Tenang, ada aku di sini."


"Aku takut." Feli menangis tersedu-sedu. Hingga beberapa saat, Feli pun tenang karena Khai terus menenangkannya.


***


"Al, apa keputusanmu sudah bulat?" tanya Aleta pada Alea. Ya, Alea tengah berada bersama Aleta. Karena di sini cuma Aleta yang dekat dengannya. "Sebaiknya kamu pulang saja, Al. Dam mencintaimu, bukankah selama ini dia tidak mempermasalahkan keadaanmu."

__ADS_1


"Aleta ... Kamu tidak mengerti perasaanku. Aku selalu dihantui merasa bersalah pada suamiku."


"Tidak, Al. Kalian tidak boleh berpisah, aku akan mengantarmu pulang! Kasian suamimu. Apa jadinya kalau Dam kehilanganmu, kalian sudah bertahun-tahun bersama. Harusnya kamu hapal betul bagaimana suamimu."


Alea mencerna omongan dari Aleta. Memang, selama ini dan dari dulu Dam tidak pernah menuntut anak darinya, apa lagi sekarang, Dam tahu kalau istrinya tidak bisa memberikan keturunan untuknya. Mungkin Dam sama sekali tidak akan menyinggung masalah keturunan.


Pada akhirnya, Aleta berhasil membujuk Alea untuk pulang.


"Aku akan menyuruh Dam untuk menjemputmu," kata Aleta. "Ayo, sebaiknya kita sarapan. Mamaku jago masak loh," ajak Aleta lagi.


Aelta dan Alea menuruni anak tangga, mereka menuju ruang makan. Di sana sudah ada suami dan kedua mertuanya Aleta.


"Jangan malu-malu, kita 'kan saudara," sahut Aleta lagi.


Aleta mendudukkan tubuhnya di samping suaminya, sesekali Malik melihat ke arah Alea. Ia juga merasa kasihan akan rumah tangga Dam, yang kini jadi partnernya kerjanya. Dam dan Malik jadi sahabat karena saking seringnya bertemu.


"Sudah berhasil bujuk Alea?" bisik Malik pada istrinya.


"Hmm," jawab Aleta singkat. "Kamu ajak Dam ke sini, biar Dam sendiri yang menjemput Alea." Aleta dan Malik saling berbisik, karena tak ingin kedua orang tuanya tahu akan hal ini. Mertua Aleta tahunya, Alea hanya menginap, bukan pergi dari rumah.


Beberapa menit kemudian, mereka selesai sarapan. Malik dan Moreno pergi ke kantor. Sementara para istri, mereka bersendau gurau di rumah. Harusnya Aleta jadwal cek kandungan, namun karena ada Alea, ia mengundurkan jadwalnya menjadi besok.


Di kantor.


Harusnya Malik dan Dam bertemu, namun Dam belum memunculkan batang hidungnya.


"Tidak biasanya dia terlambat," ucap Malik sendiri. Malik pun merogoh ponselnya menghubungi Dam. "Angkat, Dam ..." Sambungan itu terhubung namun Dam tak kunjung mengangkatnya.


Malik terus menghubungi Dam hingga berkali-kali, detik berikutnya, Dam mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Cepat ke kantor, apa kau tak ingin bertemu dengan istrimu?" kata Malik.


Bersambung.


__ADS_2