
Syiera mengatur napasnya sebelum bicara. Ia akan mengajak suaminya itu bekerja sama dengannya. Syiera tetap berpikir kalau suaminya sama sepertinya. Tak merasakan ada cinta dalam pernikahan ini.
"Jika Alex kembali, apa aku masih bisa bersamanya?" Sontak Attar merasa terkejut mendengar perimntaan istrinya itu. Apa Syiera tak melihat cinta di mata Attar, suaminya?
"Apa kamu begitu mencintainya? Dia sudah meninggalkanmu di hari pernikahan kalian." Attar mengingatkan istrinya kalau Alex yang membuat kekacauan ini.
"Karena Alex kita menikah, apa kamu tak bisa menerima takdirmu sebagai istriku?"
Syiera mencoba mencerna apa yang dikatakan Attar. Apa ia memiliki rasa padanya? Ah, itu tidak mungkin. Ia melihat biasa saja, emang sih, Attar baik. Tetap saja kebaikannya karena ada niat terselubung. Pikirnya yang terus negatif pada Attar. Ia tak bisa percaya begitu saja pada suami dadakannya itu. Terlebih lagi ia belum mengenal Attar lebih jauh, bahkan ia tak tahu latar belakang suaminya. Kerjanya apa? Orang tuanya di mana? Masih banyak yang harus diketahui olehnya. Attar belum terbuka padanya.
"Kalau kamu mau, kita bisa berteman." Syiera lupa akan tujuannya pindah kesini. Bukannya ia akan membuat Attar kelimpungan karena keinginannya yang ingin hidup mewah. Tapi nyatanya, Attar mampu menyanggupi keinginannya itu. Dan itu, membuat Syiera malu sendiri setelah tahu bahwa Attar ternyata orang kaya.
"Teman." Attar mengulangi kata yang diucapkan Syiera. Apa ia harus berteman dulu? Apa salahnya mencobanya? Lagian, Syiera masih belum bisa membuka hatinya untuk orang lain, Attar akan mendekati istrinya secara perlahan tapi pasti.
"Baiklah, kalau itu maumu. Kita bisa berteman." Attar menerima negoisasi dari istrinya itu.
"Tapi ada syaratnya." Attar mengajukan syarat pada Syiera.
"Apa?"
"Boleh berteman dengan siapa saja, tapi kamu harus ijin terlebih dulu padaku. Karena Daddy memberikan tanggung jawabmu padaku, dan aku tak mau mengecewakan beliau," jelas Attar dengan keinginannya.
"Termasuk, Alex?" Syiera menatap suaminya, memohon agar Attar mengijinkannya.
"Apa kamu tidak sakit hati dengan pria itu, dia sudah pergi meninggalkanmu."
"Tapi aku belum tahu, kenapa dia pergi. Yang aku tahu dia mencintaiku, mana mungkin dia pergi begitu saja!" Syiera membela Alex. "Aku butuh penjelasan darinya," sambungnya lagi.
Attar menahan sesak di dadanya, tapi ia mencoba meneruti keinginan istrinya. Tak ingin terlalu memaksa, jodoh tak akan kemana? Attar akan memberikan kenyamanan pada Syiera, lambat laun, Syiera pasti merasakan bahwa Attar bukan hanya sekedar teman.
Dirasa sudah cukup dengan obrolan mereka, Attar memilih diam. Menunggu lampu menyala mereka jadi saling terbuka. Syiera yang lebih terbuka dengan isi hatinya, tapi tidak dengan Attar. Biar Attar yang mengalah. Mengalah untuk menang.
Attar memberi kebebasan pada Syiera, bukan berarti ia akan menerima hubungan istrinya dengan kekasihnya itu. Attar akan selalu mengawasi istrinya dari kejauhan.
__ADS_1
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur," ajak Attar, ia beranjak dari tempatnya. Karena masih gelap, Syiera langsung saja menarik baju suaminya, ia tak ingin ditinggal di balkon sendirian.
Attar lebih dulu membaringkan tubuhnya di kasur, sementara Syiera, ia merasa risih dengan baju yang ia kenakan. Tadinyakan niatnya hanya akan mengerjai suaminya, tapi sekarang? Ia seperti mengundang hasrat lelaki. "Ah, sial." Syiera merutuk dirinya sendiri. "Kenapa mesti pake acara mati lampu segala sih." Syiera komat-komit tidak jelas.
Attar yang mendengar samar-samar, akhirnya menegur istrinya itu.
"Ayo tidur," ajaknya sambil menepuk sisi ranjang.
Syiera malah tak beranjak dari tempatnya.
Lalu, Attar menghamipiri Syiera, sepertinya ia tahu kalau istrinya tak ingin tidur dalam satu ranjang.
"Tidurlah, aku akan tidur di sana." Sembari menunjuk sofa yang ada di sudut kamarnya. Merasa tak enak pada Attar, Syiera pun akhirnya mengajak tidur bersamanya, ia tak tega karena Attar selalu tidur di sofa, dan itu pasti membuat tubuh Attar merasa sakit.
Syiera memberi penghalang di tengah kasur, dan guling sebagai pembatasnya, bukan hanya guling, ia menumpuk beberapa bantal di sana. Dirasa sudah cukup aman, ia pun membaringkan tubuhnya di sana.
Attar hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya, segitunya dia? Sampai membuat dinding penghalang.
"Hmm."
"Apa kamu yakin ingin berteman denganku?" tanya Attar dalam posisi terbaring di kasur.
"Kenapa memangnya?" Syiera langsung merubahkan posisinya menghadap pembatas itu.
"Kalau aku cinta padamu bagaimana?"
Syiera malah diam tak menjawab. "Apa maksudnya?" tanya Syiera dalam hati.
Karena tak ada jawaban, Attar pun mengeluarkan suaranya lagi. "Aku becanda, kok. Jangan dipikirin, ya?"
"Gak lucu! Aku hanya ingin berteman denganmu. Cintaku hanya untuk Alex."
Jleb, Attar merasa jantungnya tertusuk dengan panah. Ternyata cinta Syiera begitu dalam pada Alex. Attar tersenyum getir, butuh jiwa yang kuat untuk menaklukkan hati istrinya itu. Tak lama mereka pun terpejam ke alam mimpi masing-masing.
__ADS_1
Pagi hari, pembatas yang dibuat oleh Syiera, itu enyah dari tempatnya. Kemana pembatas itu? Yang ada mereka sekarang tertidur saling berpelukan.
Untung Attar lebih dulu terbangun, Attar tersenyum dengan posisi mereka saat ini. "Cepat atau lambat pembatas yang kamu buat akan hancur dengan sedirinya."
Tahu kalau istrinya tidur begitu nyenyak, Attar mencoba merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya. Attar mengusap lembut pucuk rambutnya, beberapa kali ia menenggelamkan bibirnya di kepala Syiera. Perlahan ia beranjak dari tempatnya, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi dan berpakain, ia langsung terjun ke dapur. Bi Ani yang pulang kampung, membuat Attar menyiapkan sarapan untuk mereka. Sarapan sudah siap, tinggal membangunkan sang istri. Attar senang melakukannya, ia akan mengambil hati istrinya dari mulai makanan. Tunggu, bukannya ini tugas sang istri mengambil hati suaminya, tapi ini malah terbalik.
Tak apa demi cinta, Attar rela. Attar pergi ke kamar, niatnya ingin membangunkan Syiera. Tapi setibanya di sana, ternyata Syiera sudah siap sepertinya ia akan ke kantor hari ini.
Attar masuk menghampiri istrinya tepat di hadapannya sekarang.
"Istriku sudah cantik." Attar menggoda
Tapi tidak dengan Syiera, ia malah meletoti suaminya itu, tak suka dengan tatapan aneh yang membuatnya tak nyaman, karena sedari tadi, Attar memandangnya tanpa berkedip.
"Jangan coba-coba merayu, kamu bukan tipeku," cetus Syiera. Ia kembali bercermin sambil menyisir rambutanya.
Attar mengambil sisir yang di pegang oleh Syiera, lalu menyisirkannya pada rambut istrinya.
Syiera seperti terhiptonis akan perlakuan Attar, tak lama Syiera kembali tersadar. Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan! Syiera mengambil alih sisir itu.
"Aku bisa sendiri." Ia menyisir rambutnya. "Bisa gawat jika begini terus." Bisa-bisa runtuh benteng yang ia pasang pada hubungan mereka.
Attar hanya tersenyum. "Aku suka dengan rambut panjangmu," bisik Attar di telinga istrinya.
"Sarapan sudah siap," bisiknya lagi.
Syiera mencium aroma mint dari mulut suaminya, segar ...
"Ya Tuhan ... Perasaan apa ini?" Syiera menepis semua yang ada dipikirannya, ingat akan tujuannya pindah kesini! Sebisa mungkin Syiera bersikap biasa saja.
bersambung
__ADS_1