
Satu tahun kemudian.
Hoek, hoek, hoek ...
Terdengar di pagi hari oleh Attar. Attar mengerejapkan-ngerjapkan kedua matanya, lalu bangun dari tidurnya. Ia melihat ke sisi samping di mana istrinya tertidur, namun ia tak melihatnya. Hanya Axel yang masih tertidur di sana. Axel tidur menghabiskan tempat, balita itu tidur seperti gangsing.
Hoek, hoek.
Attar kembali mendengar suara itu, tersadar karena terdengarnya dari arah kamar mandi. Ia langsung saja bergegas ke sana.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Attar setibanya di sana.
Syiera tak menjawab, ia hanya memberikan benda kecil berbentuk persegi panjang kepada suaminya. Dan Attar pun langsung mengambil benda itu dari tangan istrinya.
Attar melihat itu tak percaya, ia tersenyum sumringah ketika tahu istrinya kembali hamil.
"Bener kamu hamil?" Attar langsung memeluk istrinya, Syiera menganggukkan kepalanya dalam pelukkan itu.
Attar melepaskan pelukan itu, ia memegang kedua pundak istrinya sambil menatapnya dengan senyum bahagia. Kehamilan kedua, ia bisa menemani sang istri. Hamil kali ini ia tak akan pergi kemana pun, khusu menjaga istrinya dan Axel serta calon anak keduanya.
"Aku bahagia sayang, Axel akan punya adik," kata Attar. "Aku janji, akan menjadi suami siaga. Tidak seperti kemarin yang hanya terbaring di rumah sakit," jelasnya kembali.
"Tidak ada yang menginginkan hal seperti itu, itukan kecelakaan," sahut Syiera.
Tak lama, mereka mendengar Axel menangis. Syiera pun bergegas menghampiri anaknya.
"Ya, Tuhan," ucap Syiera. Hampir saja Axel jatuh dari ranjang, untung Syiera dengan cepat meraih tubuh mungil itu. "Cepat besar ya, sebentar lagi Axel jadi Kakak." Syiera mencoba menenangkan anaknya itu. Axel langsung berhenti menangis, seakan mengerti apa yang diucapkan oleh ibunya.
"Kamu siap-siap saja. Biar Axel aku yang urus," kata Attar. Attar mengambil alih Axel dari pangkuan Syiera. "Kita ke rumah sakit, aku ingin tahu usia kandunganmu."
Syiera langsung ke kamar mandi setelah memberikan Axel pada suaminya. Ia akan membersihkan tubuhnya sebelum berangkat. Sementara Attar, ia langsung memandikan Axel di kamar mandi lain.
Selesai memandikan Axel, baru ia yang mandi. Dan kini, semuanya sudah siap. Mereka akan sarapan terlebih dulu.
***
"Bi, Bibi suapin Axel dulu ya. Aku dan Syiera akan ke rumah sakit setelah ini," ucap Attar. Ia meletakan Axel ke tempat duduknya yang ada di ruang makan.
"Iya, Tuan. Siapa yang sakit?" tanya bi Ani.
"Tidak ada yang sakit, Bi. Syiera hamil," jawab Attar.
Bi Ani tersenyum mendengar itu, ia ikut bahagia mendengarnya. Rumah ini akan tambah ramai jika anak kedua majikannya lahir, nanti.
__ADS_1
"Aku titip Axel ya ,Bi," kata Syiera.
"Iya, kalian tenang saja, Axel akan baik-baik saja di sini bersama Bibi."
Syiera dan Attar pun pergi, mereka menciumi Axel terlebih dulu. Axel menangis saat ia tahu orang tuanya pergi, karena ini pertama kali Syiera meninggalkan Axel.
Di kantor.
"Dam, selesai meeting kita langsung pulang saja," kata Darren sang ayah.
"Kenapa langsung pulang, bukan kah ini masih jam kantor?" jawab Dam.
Dam kini menggantikan Syiera. Setelah Syiera punya anak ia langsung berhenti. Dam kuliah sambil bekerja, dan selama ini, Dam sudah bisa diajak bisnis oleh ayahnya. Dam cukup cekatan, ia langsung bisa menggantikan Syiera.
"Ada apa, Dad? Kenapa buru-buru pulang?" Dam kembali bertanya, karena tak biasanya ayahnya mengajak pulang.
"Kita ke London sekarang juga," jawab Darren sambil memakai jasnya kembali. Pria itu sudah siap untuk pulang.
Sementara Dam, pria itu mematung sejenak. Kenapa ke London secara mendadak? Terjadi sesuatu 'kah di sana? Pikir Dam.
"Ayo?" ajak Darren. Dam pun ikut bersama ayahnya, ia tak banyak bertanya mengenai kepergiannya yang akan ke London. Ia harap tidak terjadi sesuatu di sana.
Hubungan Dam bersama Alea masih sama seperti dulu. Pacaran dengan jarak jauh. Lalu apa kabarnya hubungan Dam dengan Aleta? Apa mereka juga berhubungan setelah berpisah? Hanya Dam yang tahu hubungannya dengan Aleta.
"Mom?" panggil Dam setibanya di sana. "Momy bisa jelaskan kenapa kita ke London mendadak begini?" tanya Dam. Sepertinya Dam tidak bisa pergi sebelum ia tahu tujuannya ke sana.
"Papy-nya Alea sakit, sayang. Sudah parah, kita harus segera ke sana sebelum terlambat," jelas Dania.
Setelah Dam tahu, pria itu tak lagi banyak bertanya. Kini mereka akan terbang ke London sekarang juga. Setelah menempuh beberapa jam, sekarang mereka sudah sampai di London.
Setibanya di Bandara, Khai sudah menjemput kedatang mereka. Khai adalah kakaknya Alea, saudara kembarnya.
"Selamat datang, Aunty, Uncle," sapa Khai kepada mereka.
"Apa kabar, Dam?" Tak lupa Khai menyapa calon adik iparnya.
"Kabarku baik, Khai," jawab Dam.
Kerana sudah bertemu, Khai langsung saja mengajak mereka ke rumahnya.
Kini mereka sampai di kediaman Alea.
Dania dan Darren langsung menuju di mana Leo berada, mereka tak percaya apa yang dilihatnya. Leo sudah terkapar lemas di atas kasur. Pria itu terlihat kurus.
__ADS_1
"Lisa," panggil Dania. Dania langsung memeluk sahabatnya itu, sudah beberapa tahun tidak bertemu membuatnya sangat rindu. Lisa menangis di pelukan Dania.
"Kenapa tidak bilang kalau Leo sudah separah ini?" kata Darren. Darren mendekat ke arah Leo, melihat dengan nanar. Leo masih tertidur, pria itu belum tahu kalau sahabatnya sudah datang.
"Mana, Dam?" tanya Lisa.
"Masih di luar," jawab Dania. "Alea, mana?" tanyanya kemudian.
"Sepertinya dia di kamar. Sebaiknya kita ke kamar Alea saja, dia pasti seneng kalian sudah datang. Biarkan Leo istirahat, karena di baru tertidur." Lisa mengajak Dania dan Darren menemui Alea.
Tok, tok, tok.
Lisa mengetuk pintu kamar Alea terlebih dulu sebelum masuk.
"Masuk," kata Alea dari dalam kamar.
"Alea?" panggil Dania.
Alea langsung menoleh ke arah sumber suara, karena tadi Alea sedang menyisir rambutnya. Gadis itu sedang dandan, tahu akan kehadiran mereka. Gadis itu merias wajahnya karena akan menyambut kekasihnya.
Alea langsung memeluk Dania. "Aunty apa kabar?" tanya Alea.
Lalu, ia pun memeluk Darren. "Uncle juga apa kabar?"
"Kabar kami baik, Al," jawab Darren.
Alea celingak celinguk ke arah belakang Dania dan Darren. Mungkin gadis itu mencari Dam.
Tak lama dari situ, muncul Khai bersama Dam. Alea langsung tersenyum ketika Dam muncul dari balik pintu. Begitu pun dengan Dam, ia tersenyum ke arah Alea.
Sepertinya tidak ada yang berubah, cintanya masih sama seperti dulu. Dam mendekat, lalu memeluk gadis yang selama ini ia rindukan.
Dania dan Darren saling lempar pandang, mereka tersenyum melihat anaknya memeluk kekasihnya. Cinta keduanya masih seperti dulu. Jadi tak ada alasan untuk mereka menunda pernikahannya.
bersambung.
Lalu Aleta bagaimana kalau Dam menikah dengan Alea?
Oh iya, mungkin cerita Attar dan Syiera sudah selesai karena mereka sudah bahagia. Tapi cerita mereka masih akan hadir di sini. Melengkapi cerita Dam dan Alea serta Aleta.
Terus saksikan cerita keharuan mereka di seasen dua ya?
Masih di lapak ini.
__ADS_1