
Ketika hari sudah menjelang malam, waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Attar yang sedari tadi mondar-mandir di ruang tamu tepat di hadapan istrinya. Sesekali, ia melirik jam yang menempel di dinding. Hatinya mulai gusar, kenapa adiknya belum pulang juga?
"Kamu duduk, coba. Pusing aku liatnya," omel Syiera.
Attar langsung menoleh ke arah istrinya.
"Kamu bisa tenang karena adikmu laki-laki. Kalau ada apa-apa dengan Aleta bagaimana?" Sepertinya Attar dalam mode yang tidak baik hari ini, bahkan ia bercakap sambil melotot pada istrinya. Dan itu membuat Syiera tidak suka.
"Kamu pikir apa yang akan dilakukan Dam pada Aleta? Mereka 'kan pergi bertiga! Lagian, lebay banget sih ... Ini baru jam delapan," cetusnya, ia tak terima jika suaminya itu marah padanya.
Tak lama, terdengar suara deruman mobil di depan rumah mereka.
"Nah! Itu pasti mereka," kata Syiera.
Attar pun langsung mengintip dari jendela, ia tak melihat Aleta di sana. Yang ia lihat hanya Dam seorang. Alea juga tidak ada. Kemana dua gadis itu?
Karena penasaran, Attar langsung keluar menemui adik iparnya.
"Dam? Baru pulang? Aleta mana?" tanya Attar
Deg
Dam langsung terdiam. Ia kira gadis itu sudah pulang, bahkan ia ke rumah kakaknya hanya ingin mengembalikan ponsel Aleta yang tertinggal.
"Dam ... Kenapa diam saja. Aleta mana?" tanya Attar yang kedua kalinya.
Mendengar keributan di luar, membuat Syiera penasaran dan ia pun menghampiri suaminya. Dilihatnya, Dam masih diam di dekat mobil. Sepertinya pria itu tak berani melangkahkan kakinya.
"Dam, Aleta-nya mana? Kamu pulang bersamanya 'kan?" tanya Syiera.
__ADS_1
Dam melangkah, mendekati kakak iparnya. Tubuhnya mulai gemetar, kedua kakaknya pasti marah besar jika mereka tahu Aleta tidak pulang bersamanya.
"Kak, aku ke sini ingin mengembalikan handphone Aleta." Dam menyodorkan ponsel ke arah kakak iparnya.
Attar benar-benar dibuat bingun oleh pria yang dipercayai istrinya untuk menjaga Aleta. Pada kenyataannya Aleta tidak ada. Ditambah ... Dam memberikan ponsel adiknya, lalu di mana Aleta? Pikiran Attar mulai buruk, apa sudah terjadi sesuatu pada adkinya?
"Aku kira, Aleta sudah pulang," ucap Dam begitu pelan.
"Apa maksudmu sudah pulang? Bukankah dia pergi bersamamu? Kamu tinggalkan Aleta di mana?" Attar mulai marah, gadis yang di sayangnya diperlakukan seperti ini. Attar berpikir, kalau Dam tidak ingin ada yang menggangunya dengan kekasihnya.
"Katakan ... di mana terakhir kamu meninggalkannya?" Attar menyalak marah pada adik iparnya itu.
Suara petir menggelegar, seakan alam berpihak padanya. Marah seperti dirinya. Namun Dam hanya terdiam, ia pun tidak tahu di mana Aleta sekarang.
"Dam ... Jawab! Di mana terakhir kali kamu meninggalkannya?" Syiera pun merasa bersalah pada suaminya. Secara, ia yang mengijinkan Aleta pergi bersama Dam.
"Kak ... Aku tidak meninggalkannya, aku tidak tahu Aleta di mana! Bahkan aku sudah mencarinya tadi, kami pergi ke pusat kota. Kami tidak pergi jauh-jauh, Ka," jelas Dam.
Mungkin Attar kecewa pada mereka berdua. Ketakutan Attar tenyata terjadi. Bagaimana kondisi Aleta sekarang? pikirnya. Hujan yang tak kunjung reda, suara petir semakin menggelegar.
***
Di tengah hujan yang begitu deras, tak menampakan sama sekali bahwa hujan akan reda. Aleta masih setia di tempatnya. Ia tak tahu harus kemana. Malam semakin gelap, Aleta benar-benar ketakutan. Tubuhnya mulai menggigil pandangan mulai meredup ketika ada sorot lampu mobil tepat ke arahnya, tak lama, gadis itu merosot, tubuhnya terkulai lemas. Aleta pingsan di derasnya air hujan.
Sebuah mobil terpakir di dekat Aleta. Seorang pria langsung turun dari mobilnya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Malik, hanya mencari seorang gadis di tengah hujan, Malik mengira bahwa gadis itu pasti berteduh. Dan dugaannya benar, sayang ... Ia tak bisa menangkap tubuh Aleta yang akan jatuh pingsan.
Malik sudah melihat keberadaan Aleta dari kejauhan. Sinar lampu mobilnya mampu menerangi pandangannya. ketika sudah turun, Malik langsung mengangkat tubuh mungil yang tak seberapa beratnya, gadis itu sangat ringan bagi Malik.
Malik langsung memasukkan tubuh itu ke dalam mobil. Ia pun masuk, dan mulai menyalakan mesinnya. Ia menancap gas mobil itu, ia gunakan dengan kecepatan tinggi. Tak lama, mobilnya terparkir sempurana di rumah milik bosnya.
__ADS_1
Syiera dan Dam masih berada di luar, mereka menunggu kedatangan Aleta. Dam langsung berdiri ketika melihat seorang pria turun dari mobil, lalu pria itu membuka pintu mobil belakang. Dam terkejut setelah tahu siapa orang yang ada di kursi belakang.
Attar yang tadi di dalam, kini ia keluar. Ia tahu kedatangan Malik, karena Malik lebih dulu menghubungi bosnya.
Ketika Malik membopong tubuh Aleta, Dam mendekat, niat ingin membantu. Tapi Syiera melarangnya, ia hanya takut jika Attar kembali marah padanya. Syiera baru melihat kemarahan suaminya. Ia juga tak menyangka bahwa Attar akan semarah ini.
"Bawa Aleta ke ruanganku!" titah Attar pada Malik. Mereka berdua pun masuk. Setibanya di ruangan Attar. Aleta di baringkan di branker. Ruangan kerja Attar dilengkapi seperti rumah sakit, ada tempat tidur untuk pasien. Serta obat-obatan yang bisa dibilang mirip apotik.
Attar langsung memeriksa tubuh Aleta. Sepertinya gadis itu demam. Bajunya basah, Attar terpaksa meminta bantuan pada istrinya. Keran ia tak melihat bi Ani sejak tadi, mungkin ibu paruh baya itu sudah mengistirahatkan tubuhnya.
Attar menyuruh Malik untuk memanggil istrinya, tak lama Syiera pun tiba.
"Gantikan baju Aleta," titah Attar pada istrinya. Syiera pun bergegas pergi ke kamar Aleta, ia mengambil baju lengkap untuk adik iparnya itu.
Setelah memakaikan baju pada Aleta, Syiera menemui suaminya. Attar tengah duduk di kursi meja kerjanya, yang bersebelahan dengan ruangan Aleta berada.
"Kamu marah?" tanya Syiera setibanya di hadapan suaminya. Attar mendongakkan wajahnya, menatap wajah yang selalu meneduhkan dirinya.
Attah menghela napas panjang, lalu berkata. "Aku tidak marah, aku hanya kecewa."
"Tapi, Dam sudah menjelaskannya, bukan? Dia tak berniat meninggalkan Aleta." Sepertinya Syiera membela adiknya. Dan itu membuat Attar tidak suka.
Sudah jelas Dam yang salah. Masih dibela, pikir Attar.
"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur," ucap Attar. "Suruh Dam pulang. Jika ingin bertemu dengan Aleta, besok saja."
"Kamu mau kemana?" tanya Syiera ketika melihat suaminya beranjak dari tempatnya.
"Malam ini, aku menemani Aleta. Kasian jika dia sendirian." Tanpa diduga, Syiera pun mengekornya dari belakang.
__ADS_1
Ketika Attar akan masuk ke dalam ruangan Aleta, ia baru menyadari bahwa Syiera mengikutinya.
bersambung