
Malik melihat, istrinya nampak bengong.
"Apa yang kamu pikirkan?" Malik mendekat dan duduk di samping Aleta.
"Jangan pergi." Aleta memeluk suaminya, Aleta tak ingin di tinggal. Apa lagi suaminya sudah terlihat sangat tampan. Hamilnya Aleta, ia menjadi fosesif terhadap suaminya.
"Aku janji, aku gak akan lama." Malik menarik Aleta agar terlepas. Ia sudah terlambat, dan Malik tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sebisa mungkin, ia merayu istrinya agar Aleta bisa melepaskannya hari ini.
Senang, Aleta sudah kaya perangko padanya. Tapi kalau terlalu begini, ja jadi susah ke mana-mana.
Malik menangkup kedua pipi istrinya, memcoba meminta pengertiannya. "Ini demi masa depan kita, demi calon anak kita juga." Malik menyampaikannya dengan penuh perasaan. Pagi-pagi sudah diajak derama oleh sang istri.
Malik mengerti sekali dengan keadaan Aleta yang seperti ini. Ini pasti hormon janinnya, karena setahunya, Aleta tak semanja ini. Apa lagi ia tahu dari pengalaman Attar. Waktu Syiera ngidam anak yang kedua juga sama seperti ini Ia tahu karena kesehariannya tak luput dari Attar yang dulu bosnya dan sekarang menjadi kakak iparnya.
"Ya, aku pergi, ya?" Malik memasang wajah melasnya, agar mendapat izin.
Dan Aleta pun akhirnya memberi izin, namun dengan syarat. Ia harus melapor setiap jam, sudah melewati batasan RT yang menyuruhnya lapor 2 kali dalam waktu 24 jam.
Tapi ya sudahlah, Malik tak keberatan. Yang penting ia bisa keluar dari apartemen.
"Maaf ya? Aku kesiangan, jadi gak sempet membuat sarapan. Tapi di meja sudah ada roti, tinggal dikasih selai saja." Dalam keadaan seperti ini, Malik masih sempat ingat akan perut istrinya
"Iya, nanti aku buat sendiri."
***
Malik mencium kening istrinya sebelum pergi.
Ketika Malik akan melangkah, Aleta memanggilnya
"Apa?" Malik sudah dikejar waktu. Ia tak bisa diajak derama lagi.
"Tunggu sebentar." Aleta masuk ke dalam apartemennya, tak lama, ia pun kembali.
"Pakai ini, biar gak telat." Aleta memberikan kunci mobil miliknya pada Malik.
"Tapi ..."
"Sudah, pakai saja. Aku bisa naik taxi." Aleta pun tersenyum. "Aku berangkat agak siang. Nanti kamu jemput aku saja di kantor."
"Hmm, baiklah." Malik menerima kuncinya.
Setelah kepetgian Malik, Aleta pun segera bersiap-siap ke persidangan. Ia sedang menangani kasus perceraian.
__ADS_1
***
"Maaf, Uncle. Aku telat," kata Malik setibanya di ruangan Jonas.
"Duduklah." Jonas mempersilahkan Malik duduk. Kalau bukan karena anak sahabat dan permintaan Felisia. Jonas tidak ingin memiliki karyawan seperti ini, belum apa-apa sudah tidak disiplin.
"Kamu bisa bekerja di sini mulai hari ini."
Malik nampak sumringah mendengarnya.
"Terima kasih, Uncle. Saya akan bersungguh-sungguh bekerja di sini." Malik mayakinkan Jonas, padahal dalam hati ia merasa tak enak.
"Jangan terlambat lagi," cibir Jonas.
Malik mengangguk. Dan Jonas pun menghubungi seseorang, ia meminta sekretarisnya mengantar Malik ke ruangannya. Tak lama sekretaris Jonas pun muncul dari balik pintu. Sekretaris cantik dan terlihat sedikit centil.
"Mari, Tuan," ajak sekretaris itu yang bernama Angel. Angel melihat Malik dengan tatapan beda. Dan Malik pun menyadarinya.
Malik hanya mengelus dada ketika tahu Angel sedikit genit padanya. Ia tidak mungkin terpikat padanya. Aleta jauh lebih cantik dari Angel.
"Terima kasih sudah mengantar saya ke sini," ucap Malik.
"Sama-sama," jawab Angel dengan sedikit menjulurkan lidahnya, niatnya manggoda Malik. Tapi sayang, Malik tidak mungkin tergoda dengan wanita model Angel.
Saat Angel seperti itu, seseorang melihatnya. Sontak membuat orang itu tidak suka pada Angel. Orang itu langsung saja menghampiri mereka.
Mendengar nama Feli, Angel buru-buru pergi dari sana. Ia tak ingin berurusan dengan Felisia, cukup sekali ia mendapat jambakan dari Feli, karena kasus dengan ayahnya. Waktu itu Angel mencoba merayu ayah Feli, tapi keburu ketahuan oleh Feli. Dan itu membuat Angel takut.
"Apa dia mengganggumu?" tanya Feli setibanya di sana.
Malik menggelengkan kepalanya, karena Angel memang tidak menganggunya, lebih tepatnya mungkin belum.
"Kamu kerja di sini juga?" tebak Malik.
"Tidak ... Aku hanya main saja ke sini, sambil memastikan apa kamu benar niat bekerja di sini."
Malik menyatukan kedua alisnya, bingung. Untuk apa Feli memastikan dirinya bekerja di sini atau tidak? Bukankah ini tidak ada urusan dengannya. Ketika sedang berbincang denga. Feli. ponsel Malik berdering, dan ia pun mengangkatnya.
"Kamu sudah janji akan lapor setiap jam! Kenapa ini belum?" Aleta benar-benar dengan ucapannya. Ia kira wanita itu akan lupa, tapi ternyata tidak.
Malik pun menggeserkan tubuhnya sedikit jauh dari Feli, tidak enak jika didengar oleh wanita itu, pikir Malik.
"Maaf, sayang. Aku baru masuk ke ruanganku," jawab Malik apa adanya, niatnya ia akan menghubungi Aleta nanti setelah sudah selesai dengan urusannya.
__ADS_1
"ALASAN!" kata Aleta penuh penekanan. Dan tiba-tiba, sambungan pun terputus begitu saja.
Malik menghela napas dengan berat, punya istri hamil ternyata begini ya, membuatnya repot dan selalu dicurigai.
Sementara Felisia, gadis itu terus memperhatikan Malik.
"Dengan siapa dia bicara? Sepertinya serius sekali!" Feli melihat dari mimik wajah Malik.
Takut mengganggu, akhirnya Feli pun pergi tanpa pamit. Dan Malik kira Feli masih di tempatnya, namun sudah tidak ada. Padahal, ia ingin mempersilahkan Feli masuk.
Malik mulai mempelajari pekerjaannya yang di kirim lewat e**mail dari Jonas. Untung Malik sempat bergelut dengan pekerjaan seperti ini waktu bersama ayahnya. Jadi pekerjaan ini tidak terlalu membuatnya pusing, malah dengan mudah dan cepat ia bisa menyelesaikannya.
Di ruangan lain.
Jonas melihat hasil laporan dari Malik, dan semuanya benar.
"Kalau dia bekerja di sini, perusahaanku bisa lebih maju," kata Jonas bicara sendiri.
Karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Jonas langsung saja mengajak Malik makan siang bersama. Tentu dengan anaknya juga Felisia, karena Feli ada di ruang kerjanya. Hanya saja Feli sedang berada di toilet, jadi Feli tidak tahu akan ucapan Jonas barusan mengenai Malik yang cara kerjanya cukup bagus dan memuaskan.
Karena sudah mendapat telepon dari Jonas, Malik langsung datang ke ruangannya Jonas, dan di sana Malik melihat keberadan Felisia. Gadis itu langsung tersenyum manis ke arah Malik, tanpa rasa curiga apa pun, Malik membalas senyuman Feli. Tapi sayang, Feli menganggap senyuman itu beda.
Karena sudah ada Malik, Jonas pun langsung mengajaknya keluar untuk makan siang. Dan itu membuat Feli semakin senang.
Di resto.
Malik sudah duduk di meja yang di pesan secara online oleh sekretaris Jonas, yaitu Angel. Angel pun ikut serta, karena Jonas tak hanya sekedar mengajak makan siang bersama. Jonas sedikit berbincang mengenai perusahaan. Ketika sedang membahas perusahaan, lagi-lagi ponsel Malik berdering.
Aleta selalu menghubungi Malik, karena Malik tak kunjung menghubunginya.
"Maaf, saya terima telepon dulu gak apa-apa 'kan?" ucapnya pada Jonas, sekalian minta izin pada atasannya itu. Setelah mendapat anggukkan dari Jonas, Malik langsung mengagkatnya dari jauh.
Felisia semakin penasaran, siapa orang yang selalu menghubunginya? Tidak mungkin istrinya, satahu Feli Malik belum menikah. Walau pun sudah menikah, ayahnya pasti tahu. Feli sibuk memikirkan kehidupan Malik.
Selesai membujuk istrinya agar mengerti akan keadaanya, dan akhirnya berhasil walau sedikit ada perdebatan di sana. Semoga saja pas pulang nanti, Aleta tidak marah padanya. Malik pun kembali ke meja dan melanjutkan makan siangnya.
bersambung
Mohon dukungannya, agar author bisa lebih semangat dalam menulis.
Like dan vote kalian sangat berarti. Terus berkomenlah dalam bijak.
Terima gajih ... Eh, maksudnya terima kasih. 😂😂
__ADS_1
penasaran visual Aleta dan Malik, tengok di IG, yang punya IG bisa langsung cus ke sana.
IG- Febianty01, jangan lupa follow.🙏🙏🙏