
Attar membalikkan tubuhnya menghadap Syiera, sepertinya bumil itu memang tidak bisa jauh darinya. Padahal tempat ini tidak baik untuk kesehatannya, walau sudah disterilkan. Ada Aleta di dalam yang sedang demam, ia tak ingin Syiera ada di ruangan ini. Terpaksa ia mengantar istrinya ke kamar.
"Ayo?" ajak Attar.
"Katanya mau menemani Aleta, kok gak jadi."
"Kesehatanmu lebih penting." Attar memang kecewa pada istrinya, tapi ia tak boleh egois. Ada janin di dalam rahim istrinya, buah cintanya.
Attar menuntun istrinya ke kamar. Disaat itu pula ia melihat Dam. Kenapa bocah itu masih ada di sini? Bukankah tadi ia sudah menyuruhnya pulang.
Karena malam sudah semakin larut. Attar pun membiarkan adiknya menginap di rumahnya.
"Tidur, ya? Kamu harus istirahat," titahnya pada Syiera setibanya di kamar.
"Kamu temani aku di sini, ya? Biar Dam yang menunggu Aleta." Syiera memberikan senyum termanisnya pada sang suami. Membuat Attar tak bisa menolak, kalau sudah begini, mau bagaimana? Attar pun ikut tidur bersama sang istri.
Attar tak menyangka kalau istrinya itu mulai menunjukkan jati dirinya. Attar semakin tak bisa menahan hasratnya ketika Syiera mulai menggambar secara asal di dada bidangnya. Haruskah ia melakukannya sekarang? Sementara sang adik tengah sakit di ruangan lain.
Attar semakin terbuai ketika ia mendapat serangan dari istrinya, entah kenapa istrinya itu sedikit brutal malam ini. Kalau tadi terasa dingin karena cuaca di luar sedang hujan. Kenapa sekarang terasa begitu panas, seakan membakar relung jiwa yang semakin terkoyak.
"Syiera ...," lirih Attar ketika istrinya melepaskan tautan bibirnya. "Aku harus menemani Aleta."
Syiera turun dari pangkuan suaminya, sepertinya ia tak bisa membuat Attar melepukan kemarahannya pada Dam. Syiera sengaja membuat Attar terbuai, alih-alih untuk melupakan permasalahan yang ada.
Attar melihat ekspresi istrinya, Syiera langsung cemberut. Seperti ada sesuatu yang tak tersalurkan, Attar pun kembali meraih tubuh istrinya, ia mendekapnya.
"Honey ... Kau marah padaku?" tanya Attar sambil meraih dagu istrinya. Mereka pun saling memandang.
Syiera menggeleng sebagai jawaban. Tentu Attar tahu kenapa istrinya begitu, karena ia pun pernah merasakannya. Disaat tubuh sedang membungbung tinggi dalam puncak hasrat, ia malah menghempasakan rasa itu.
"Tunggulah di sini." Attar pun pergi meninggalkan Syiera.
Syiera langsung saja merebahkan tubuhnya dengan rasa kesal dan sesak di dadanya. Tak lama dari situ, Attar pun kembali. Tak lupa ia menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.
__ADS_1
Dilihatnya sang istri tengah meringkuk membelakangi dari arahnya. Tidak mungkin kalau Syiera sudah tidur, Attar pergi hanya sebentar. Tidak lebih dari sepuluh menit.
"Honey ... Kamu sudah tidur, ya?" Attar masih berdiri di belakang dirinya belum naik ke ranjang. Tapi sayang, tak ada respon dari istrinya. Attar menghela napas, sepertinya Syiera memang sudah tidur.
"Cepat sekali tidurnya, padahalkan aku pergi menemui Dam, biar Dam yang menunggu Aleta," ucapnya sendiri. Anggap ini hukuman buat bocah itu, pikirnya
Mendengar Attar mengerutu sendiri, Syiera tersenyum, ternyata bumil ini belum tidur, ia hanya mengerjai suaminya.
Attar pun merebahkan tubuhnya di samping Syiera, ia menghadap ke arah istrinya. Attar hanya menatap punggungnya saja, padahal ia ingin melanjutkan yang tadi sempat terhenti.
Tak bisa begini terus, Attar menyentuh punggung Syiera dengan jari telunjuknya. Sedikit menekannya agar Syiera tahu kalau dirinya sudah kembali.
Syiera menggeliat, ia pura-pura terjaga dari tidurnya. Lalu merubahkan posisinya menjadi menghadap ke arah suaminya. Attar langsung menyentuh pipi Syiera, begitu licin tanpa hambatan.
"Kamu membohongiku," cetus Attar ketika melihat Syiera sedang menahan senyumnya. "Nyebelin banget, sih." Attar langsung mencubit hidung mancung milik istrinya.
Syiera langsung terbahak ketika ia ketahuan sedang berbohong padanya. Syiera pun langsung membuka matanya, tatapan mereka saling beradu. Tatapn penuh gejolak seperti menagih sesuatu.
"Kenapa aku yang disalahin!" Attar tak terima dengan itu, sepertinya istrinya itu harus dihukum. Attar langsung melanjutkan aksi Syiera yang tadi sempat tertunda.
"Kamu diam saja, cukup terima sentuhan dariku!" Syiera menghentikan tangan suaminya yang mulai meraba-raba.
Sepertinya bumil itu akan menyerpis suaminya malam ini. Dengan senang hati, ia akan menerima apa yang akan dilakukan istrinya padanya.
Tubuh Attar seketika terasa panas, sesuatu sudah menjalar dalam dirinya. Tak bisa dibiarkan, kini Attar yang memegang kendali. Kasian pada istrinya jika harus ia yang bekerja.
"Syiera, aku saja yang bermain."
Syiera menggeleng, bukankah ia sudah berjanji bahwa ia akan memuaskan suaminya malam ini. Syiera langsung saja menindih suaminya.
"Syiera ... Pelan-pelan saja," kata Attar, ia takut terjadi sesuatu pada janinnya.
"Selama aku tidak kenapa-kenapa dan merasa nyaman, kata Dokter juga tidak apa-apa." Syiera mempercepat gerakannya sampai Attar langsung mengerang, ia benar-benar merasa di atas awang.
__ADS_1
"Kamu benar-benar nikmat." Attar langsung memejamkan kedua matanya, masih menetralkan deru napasnya yang masih tersengal.
"Cuma segitu kemampuanmu? Ah ... Payah!" keluh Syiera, padahal ia masih ingin.
Attar langsung membuka matanya kembali, sepertinya sang istri tengah menantangnya.
"Kamu menantangku!" Attar langsung bangkit, ia tak terima jika istrinya menyepelekan dirinya. Ia akan membalas memuaskan sang istri.
"Tunggu lima belas menit! Aku akan kembali." Attar beranjak dari tempat tidurnya, entah apa yang akan dilakukan olehnya.
Lima belas menit kemudian.
Attar kembali dengan wajah segar, seperti habis di charger dayanya kembali kuat.
"Honey ... Aku sudah kembali, persiapkan dirimu!" Attar langsung menindih istrinya, namun masih ada sedikit jarak diantara mereka, Attar harus hati-hati dengan calon anaknya.
Syiera langsung saja mengalungkan tangannya di pundak suaminya. Sudah mendapat lampu hijau dari istrinya, Attar tak menyia-nyiakan waktu. Karena waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Syiera sudah salah menduga, ternyata suaminya begitu perkasa. Secepat kilat, Syiera langsung menggetarkan seluruh tubuhnya, sepertinya gunungnya sudah meletus, napasnya mulai tak beraturan, hidung yang kembang kempis seperti habis maraton, merasakan lelah, sangat lelah.
Akhirnya mereka pun tumbang, keduanya masih polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Seprai yang semula rapih, kini acak-acakan. Malam sejarah bagi mereka berdua, malam terpanjang yang mereka lalui selama menikah.
Sementara di ruangan lain, ketika Dam sudah mendapat ijin dari kakak iparnya, ia langsung menemui Aleta. Gadis itu masih terlelap.
Dam menyentuh keningnya, memang sedikit hangat. Mungkin karena kakaknya sudah mengobatinya.
Dam menarik kursi untuk ia duduki, tepat di samping branker, di mana ada Aleta di sana. Rasa kasihan pada gadis itu mencuat dari hati Dam, ia benar-benar menyesal. Kenapa waktu itu ia tidak mengantar Aleta? Mungkin ini tidak akan terjadi, pikirnya.
Dam pun merasa kantuk sudah menyerang dirinya, ia langsung menyandarkan kepalanya di sisi branker, dengan kedua tangan menjadi tumpuannya.
Beberapa menit kemudian, Dam sudah terlelap. Kini Aleta yang terjaga, ia merasa haus dan ingin ke kamar mandi. Aleta mengerejapkan kedua matanya, ia masih bingung kenapa ia sudah ada di sini. Siapa yang menolongnya?
bersambung
__ADS_1