Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
76


__ADS_3

"Uncle Jonas." Malik mengenali ayah Feli.


Mendengar Malik menyebut nama ayahnya, Feli pun membalikkan tubuhnya. Kini ia menatap ke arah Malik.


"Daddy juga kenal dengannya?" tanya Feli.


Bukannya menjawab, ayah Feli langsung mendekat ke arah Malik. Dan langsung memeluk tubuh Malik.


"Kemana saja kamu selama ini?" tanya Jonas yang masih memeluk Malik. "Apa kamu tidak rindu dengan orang tuamu?" Jonas melepaskan pelukkannya.


Sementara Feli, gadis itu tak percaya kalau ayahnya mengenal Malik. Pasalnya Feli belum pernah bertemu dengan Malik. Ayah Feli selalu mengenalkan pria padanya, alih-alih niat menjodoh Feli dengan kenalan sang ayah. Namun kenapa ayah Feli tidak mengenalkannya pada Malik? Itu pertanyaan yang ingin Feli lontarkan pada sang ayah.


Kini, Malik serasa ada penyelamat dalam hidupnya. Ia akan meminta bantuan pada Jonas, semoga Jonas mau membantunya.


"Apa kamu tidak merindukan mereka?" tanya Jonas untuk yang kedua kalinya.


"Rindu, tapi aku kecewa pada keluargaku, Uncle. Mereka sudah memisahkanku dengan cara paksa." Malik jadi teringat akan kekasihnya yang terdahulu. Niat menyelamatkan sang kekasih dari orang tuanya, ia malah kena sasaran amukan anak buah yang diperintahkan orang tuanya untuk mengusir Sonia. Hingga Sonia berlari untuk mencoba kabur, namun yang terjadi malah Sonia tertabrak dan meninggal di tempat kejadian.


Sonia langsung dibawa ke rumah sakit, sementara Malik, pria itu terkapar babak belur. Untung ada Attar yang menyelamatkan dirinya, dan sekarang ia kembali membuka hatinya yang bertahun-tahun terluka ditinggalkan sang kekasih.


"Itu masa lalu, Malik. Kejadiannya sudah beberapa tahun yang lalu," ujar Jonas.


Waktu kejadian itu, Feli masih berumur lima belas tahun. Dan Jonas belum sempat mengenalkan Feli pada Malik. Itu sebabnya Feli tidak kenal dengan Malik.


"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Malik mengenai kedua orang tuanya.


"Ya, mereka baik-baik saja. Hanya Mama mu yang sering sakit-sakitan," jawab Jonas.


Ketika mereka masih bercakap, Feli datang menghampiri.


"Uncle, aku sampai tidak mengenali Felisia. Aku tidak menyangka kalau Feli tumbuh jadi gadis yang cantik," puji Malik. "Dulu dia gendut."


Feli tidak terima dengan ejekan Malik. Gadis itu memukul tangan Malik.


"Ish ... Jangan begitu. Mungkin kamu lupa dengan Malik, dia pernah mengantarmu sekolah waktu dulu." Jonas mencoba mengingatkan Felisia, bahwa ia juga sempat bertemu waktu dulu.


Feli mengamati wajah Malik. Masa sih ia pernah bertemu dengannya? Feli benar-benar lupa pada wajah Malik. Karena mereka tidak sering bertemu, Feli cenderung cuek.


"Kalian kenal di mana?" tanya Jonas.


"Ituloh, Dad. Yang kemarin aku ceritakan, orang yang menolongku dari copet," jelas Feli. "Oh iya, aku mengajak Malik kesini untuk meminta bantuan pada Daddy. Daddy maukan membantunya? Beri dia pekerjaan," pinta Feli.

__ADS_1


"Dia cukup kaya, Feli. Daddy tidak perlu memberinya pekerjaan," jawab Jonas


Namun kali ini, Malik butuh bantuan Jonas. Walau Malik orang kaya, ia tidak mungkin meminta uang pada orang tuanya. Ia tak akan kembali pulang sebelum ia sukses dan berdiri di kakinya sendiri.


"Ayolah, Dad. Bantu Malik, Daddy bisa memberinya pekerjaan. Dia butuh kerjaan sekarang." Feli mendesak sang ayah untuk membatu Malik.


"Iya, Daddy akan membantunya." Jonas perhatikan ada sesuatu yang beda dari Feli, anaknya itu begitu memaksa. Tapi biarlah, itu lebih baik Feli dekat dengan Malik.


Setelah selesai dengan tujuannya, Feli yang mengajak Malik untuk bertemu dengan ayahnya, kini gadis itu mengajak Malik makan siang bersama. Tentu Jonas pun sangat setuju.


Dan sekarang, mereka sudah berada di meja makan. Feli masih ingin tahu sedekat apa Malik dengan ayahnya.


"Daddy sudah kenal lama dengan Malik?" tanya Feli disela-sela makannya.


"Lama, Papinya Malik sahabat Daddy."


"Kok aku gak tahu ya?" Feli semakin penasaran.


"Karena Daddy sudah lama tidak bertemu, Daddy hanya menyapa lewat telepon. Kamu tahu 'kan Daddy sibuk! Sudahlah ... Kita makan, lain kali saja kita bicarakan ini."


Mereka pun makan dengan khidmat. Selesai makan Jonas langsung meminta Malik datang ke perusahaanya besok. Dengan senang hati Malik akan datang.


"Kalau begitu aku pulang, Uncle," pamit Malik pada Jonas.


"Terima kasih sudah membantuku, kalau bukan karenamu aku tidak akan mendapatkan pekerjaan secepat ini," kata Malik.


"Itu karena kamu kenal dengan Daddy, jadi bukan karena aku," sahut Feli.


Setelah itu, tak ada percakapan lain diantar mereka. Hanya suara deruman mobil yang terdengar.


"Cukup sampai di sini saja, Feli." Malik meminta Feli untuk berhenti.


"Yang mana rumahmu?" tanya Feli, ia tak melihat ada rumah di sini. Hanya ada gedung-gedung besar yang nampak.


"Rumahku bukan di sini, aku ada urusan saja," jawab Malik. "Terima kasih ya, Feli," ucap Malim setelah turun dari mobil Feli.


Dan Feli pun kembali melajukan mobilnya. Sementara Malik, sebelum ia pulang, ia mampir ke toko bunga. Ia akan memberi kejutan pada istrinya, semoga mood istrinya sedang baik seperti kemarin.


Setelah mendapatkan bunganya, Malik segera pulang. Sesekali, Malik mencium aroma dari bunga mawar tersebut. Semoga saja Aleta suka dengan bunganya.


Tak perlu lama-lama ia tiba di apartemen milik istrinya. Karena jarak dari toko bunga tidak terlalu jauh. Setibanya di apartemen, ia melihat istrinya sedang mengobrol lewat telepon. Malik tidak curiga mungkin itu dari klien Aleta.

__ADS_1


Dan Aleta pun langsung mematikan ponselnya setelah ia tahu suaminya sudah pulang.


"Dari mana saja jam segini baru pulang?" tanya Aleta sedikit ketus. Hormon kehamilannya tidak stabil.


Malik terdiam, sepertinya mood Aleta tidak seperti kemarin. Menjawab pun percuma yang ada Aleta malah tambah marah, Malik serba salah jadi bingung harus ngadepin Aleta dengan cara apa.


Aleta melihat setangkai mawar di tangan Malik.


"Apa itu untukku?" tanya Aleta.


Malik melirik mawar tersebut, lalu mengangguk sedikit ragu. Tapi diluar dugaan, Aleta langsung mengambilnya dan mencium mawar itu. Aleta suka dengan mawarnya


"Terima kasih," ucap Aleta yang masih menciumi bunganya.


"Al ... Boleh aku tanya sesuatu?"


Aleta pun menatap wajah Malik, apa yang ingin pria itu tanyakan padanya.


"Apa?"


"Tadi pagi, aku melihatmu keluar dari klinik kandungan, apa kamu sedang memeriksan dirimu ke sana?"


Aleta mati kutu, ia tak bisa menjawab. Kalau Malik sudah tau begini, mau disembunyikan pun percuma. Akhirnya Aleta jujur pada Malik. Aleta mengbil hasil USG tadi, dan langsung memberikannya pada Malik.


"Apa ini?" tanya Malik sebelum membukanya.


Setelah membukanya, Malik langsung tersenyum dan tiba-tiba ia langsung memeluk Aleta sambil memutarkan tubuhnya. Malik sangat bahagia, mungkin dengan kehamilan Aleta bakal merubah hubungannya yang terasa dingin.


"Jaga anak kita, aku mencintaimu, Aleta. Sangat mencintaimu." Malik melepaskan pelukannya.


Baru kali ini Aleta mendengar pernyataan cinta Malik terhadapnya. Pasalnya setahu Aleta, sebelum menikah, Malik sempat mengungkapkan persaannya pada seseorang padanya.


"Bukannya kamu mencintai gadis lain?" Pertanyaan Aleta membuat Malik terdiam. Dan berikutnya, Malik langsung bersuara.


"Siapa yang bilang kalau aku mencintai wanita lain?"


"Bukannya dulu kamu pernah mengatakannya padaku."


Malik berusaha mengingatnya. "Iya, yang aku ceritakan padamu itu kamu, Al. Aku mencintaimu pertama kali aku melihatmu, di mana aku membawamu pulang sewaktu kamu pingsan."


Penjelasa Malik membuat Aleta teringat akan seseorang.

__ADS_1


Malik pun mengajak Aleta masuk ke dalam kamar, ka ingin istrinya cukup istirahat.


Bersambung


__ADS_2