Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
54


__ADS_3

Ketika sedang bercumbu, Attar dan Syiera terperanjat kaget. Tiba-tiba ada yang masuk tanpa permisi terlebih dulu. Sedangkan orang yang baru saja masuk itu menjadi kikuk sendiri. Kedatangannya tidak pas, sudah terlanjur masuk orang itu pun berjalan dan mendekat.


"Momy." Syiera mendorong tubuh suaminya secara halus. Syiera jadi merasa canggung, takut ibunya berpikir yang tidak-tidak. Karena mereka dekat begitu intim.


"Maaf ya, Momy ganggu kangen-kangenan kalian," sesal Dania.


"Kita gak lagi kangen-kangenan, kok," elak Syiera. Sementara Attar, pria itu malu sendiri karena sudah terciduk oleh mertuanya.


Lalu, yang lain pun datang menghampiri mereka. Semua kumpul kembali di ruangan itu. Suster pun datang sambil mendorong kereta bayi. Dania langsung saja menggendong cucunya.


"Cucu, Oma. Tampan sekali sih, Oma gemes." Dania menciumi cucu pertamanya. Belum beberapa jam hadir di dunia ini, bayi itu begitu sangat menggemaskan.


Darren pun melihat ke arah cucunya. Ternyata ia sudah tua, sudah menjadi kakek.


"Lucu sekali cucu Opa." Darren pun mencium bayi itu.


"Momy, bawa sini. Aku ingin menggendongnya," pinta Syiera.


Dania pun menyerahkan bayi itu pada ibunya.


"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Darren.


"Belum, aku menunggu suamiku sadar lebih dulu. Jadi belum sempat memikirkan nama untuknya," jawab Syiera.


"Boleh aku yang memberi nama?" kata Dam. "Namanya Axel saja, Kak. Bagaimana?" tanyanya kemudian.


"Axel?" Syiera nampak menimbang-nimbang. Ia tidak bisa memutuskannya sendiri, harus ada persetujuan dari suaminya terlebih dulu.


"Axel nama yang bagus, Kak," timpal Aleta. Nama dari Dam memang bagus, bukan semata-mata Aleta mendukung Dam. Aleta pun tersenyum ka arah Dam setelah mengatakan itu.


Dan bayi itu akhirnya diberi nama Axel Austin. Syiera dan Attar sudah sepakat dengan nama itu.


Sementara Malik, ia mencuri pandang pada Aleta. Rasa sukanya malah bertambah pada gadis itu. Bi Ani melihat Malik yang terus memperhatikan Aleta. Tentu yang lain tidak tahu apa yang terjadi di ruangan itu. Karena mereka terlalu fokus pada bayi mungil itu.


"Malik?" panggil Attar.


Malik yang merasa dipanggil pun mendekatkan diri pada bosnya.

__ADS_1


"Iya, Tuan."


"Terimakasih sudah menjaga Aleta dan Syiera selama saya di rumah sakit." Attar sangat percaya pada Malik. Dan terbukti pria itu menjaga keluarganya.


"Itu sudah tugas saya, Tuan," ucap Malik sembari menundukkan wajahnya sedikit.


"Kak, Kakak 'kan sudah sadar. Berarti sudah tidak butuh dia lagi 'kan." Aleta berharap Malik tidak lagi menjaganya.


"Malik akan tetap bekerja dengan Kakak. Kakak gak bisa menjaga kalian dua puluh empat jam," kata Attar.


Sementara yang lain hanya menjadi pendengar pembicaraan adik kakak itu. Apa lagi Syiera tak akan ikut campur mengenai Malik. Syiera tahu, selama ini Aleta kurang suka dengan Malik. Aleta tak suka diatur, apa lagi Malik sering memaksa Aleta untuk menuruti perintahnya. Malik lakukan itu demi kebaikan Aleta.


Aleta mendengus kesal ketika mendengar keputusan kakaknya.


"Kamu kenapa, Al?" tanya Attar. "Apa selama ini, Malik bersikap kurang ajar padamu? Sepertinya, kamu tidak menyukainya," duganya.


Malik langsung menoleh ke arah Attar, pria itu juga sempat membantah atas dugaannya.


"Maaf, Tuan. Selama ini saya cukup baik dengan pekerjaan saya. Saya tidak pernah berbuat macam-macam," jelas Malik.


Attar pun tersenyum mendengar akan hal itu. Attar hanya mengetes Malik saja, ia tak pernah berpikir sejauh itu pada Malik. Malik sangat jujur selama ini.


"Syiera, apa asimu belum keluar?" tanya Dania.


"Entahlah, Mom. Aku tidak tahu," jawab Syiera.


"Untuk yang lainnya, bisa keluar dulu?" pinta Dania. "Biar Syiera bisa memberikan asinya pada putranya," sambungnya lagi.


"Iya, kalian pulang saja. Terutama buat bi Ani. Bibi pulang saja, ya?" ujar Syiera. Syiera tidak ingin bi Ani sakit jika harus ikut menjaganya di sini.


Bi Ani pun pulang diantar oleh Malik.


Dania, Darren dan yang lain keluar dari ruangan itu. Kini hanya ada Syiera dan Attar serta bayinya. Syiera mencoba memberikan asinya pada putranya itu. Attar setia menemaninya.


Bayi itu mulai mencari ****** ibunya, ada rasa bahagia didiri Syiera ketika bisa menyusui anaknya. Attar mengusap lembut kepala anaknya yang sangat kecil itu.


Waktu begitu cepat berlalu. Kini sudah tiba saatnya, Attar pulang. Pria itu sudah benar-benar sembuh. Dan Syiera pun ikut pulang, mereka tengah bersiap-siap kembali ke rumah idaman mereka.

__ADS_1


Malik yang kini menjadi supir sekaligus tangan kanan Attar sudah siap, mengantar sang majikan untuk pulang.


Syiera dan Attar saling menggenggam tangan. Sementara tangan yang satunya lagi, Attar mendorong kereta bayi. Akhirnya mereka hidup dengan bahagia. Kebahagiaannya lengkap adanya Axel di tengah-tengah mereka.


Mereka pun tiba di rumah. Disambut oleh bi Ani, Aleta juga keluarga Syiera yang lain. Syiera langsung masuk ke kamar dengan Attar, mereka langsung istirahat.


Sementara sang bayi, Axel tengah digerumut oleh keluraga yang menyambut kedatangannya. Apa lagi dengan Dania, ibu paruh baya itu sangat antusias sekali.


"Dam ... Momy tinggal menunggu cucu darimu," ucapnya pada putranya yang bernama Dam. Dam langsung mendelik ke arah ibunya. Kuliah saja belum lulus, sudah minta cucu.


"Lulus kuliah nanti, Momy tidak akan menundanya lagi, Dam. Kamu harus menikah dengan Alea," ucapnya sembari menggendong Axel.


Dam tidak percaya, kalau ternyata apa yang diinginkan oleh ibunya bukan cuma di bibir. Dam mengira kalau ibunya itu hanya bergurau dengan ucapannya. Ternyata ibunya benar menagihnya, apa lagi ia memang sudah berjanji akan menikahi Alea.


Wanita yang kini ada di tengah-tengah mereka, yaitu Aleta. Aleta hanya diam, ia tak mampu berucap selain menjadi pendengar saja. Memang tak ada harapan baginya untuk bersama Dam.


Akhirnya, Aleta putuskan untuk kembali ke Amerika. Kehidupan Aleta memang di sana.


Aleta pergi melipir dari ruang tamu, gadis itu pergi ke kamarnya. Setibanya di kamar, Aleta langsung mengemas baju-bajunya ke dalam koper. Mungkin rencananya besok ia pulang ke negri asalnya. Apa lagi kuliahnya yang sempat tertunda.


Sementara Dam, pria itu melihat kepergian Aleta. Mau mengejar, tapi gak bisa. Karena ada Dania bersamanya. Akhirnya, pria itu menemani ibunya yang tengah menggendong Axel.


***


Di kamar.


Attar yang sedari tadi mengintil istrinya. Syiera menjadi risih.


"Ish ... Kamu kenapa? Aku gak bisa gerak jika kamu seperti ini terus." Syiera tengah membereskan bajunya dari kepor ke lemari. Tapi pria itu seakan tak ingin lepas dari istrinya. Attar menahan rasa inginnya selagi masih di rumah sakit.


Attar terus saja menggesek-gesekan sesuatu di bawah sana. Syiera langsung menatap tajam ke arah suaminya.


"Sabar, kenapa sih! Baru juga seminggu," cibir sang istri.


Attar mendenges kesal. Syiera melihat suaminya mengerucutkan bibirnya.


"Dari pada di sini, mending kamu keluar, lihat Axel. Aku takut dia rewel," titah Syiera. Akhirnya Attar pun keluar dari kamar dengan sejuta keinginan yang tak tercapai. Dengan langkah gontai, ia berjalan menemui mertua dan anaknya.

__ADS_1


Berasambung


__ADS_2