Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
92


__ADS_3

Tak lama, mereka mendengar suara mobil dari arah luar. Mungkin Moreno yang pulang, dan ternyata memang benar. Moreno muncul dari arah ruang tamu, ia melihat keluarganya tengah berkumpul di ruang makan.


Frita berdiri dan langsung menghampiri suaminya, ibu paruh baya itu mengambil alih tas dan jas yang di pegang oleh suaminya. Aleta melihat itu, itu jadi pelajaran baru baginya. Melihat kemesraan yang nampak di depan matanya, Aleta pun menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


"Pengen ya?" tanya Malik, karena Aleta terus memperhatikan kedua orang tuanya.


"Apaan, sih! Dikit-dikit curiga. Aku seneng aja melihat mereka, mereka masih saling menyayangi dan romantis, umur tidak jadi masalah," kata Aleta.


"Terus, hubungan kita gak romantis gitu?"


"Gak! Yang ada kamu itu mesum."


"Ish ... Masa mesum sih. Tandanya aku menyayangimu." Malik semakin merapatkan tubuhnya dengan Aleta.


"Nah nah ... Kalau bukan mesum, ini apa namanya?"


"Gak ada mesum sama istri sendiri. Itu hukumnya wajib!" Malik tak terima dikatain mesum. "Ke kamar yuk? Aku ngantuk. Mama juga udah ngilang, noh." Tunjuk Malik menggunakan wajahnya.


"Modus ini, bukan ngantuk!" Aleta sudah tahu akal bulus suaminya. Walau pun begitu, ia tetap menuruti keinginan suaminya. "Besok jadikan kita periksa?" tanya Aleta dalam perjalanan menuju kamar, mereka saling menggandeng tangan. Malik mengangguk sebagai jawaban.


Lampu langsung dimatikan setibanya di kamar. Malik menarik tangan istrinya menuntun ke arah ranjang. Ia begitu lelah seharian di kantor, Malik berniat langsung tidur. Hari ini libur dulu menjenguk anaknya.


Namun, Malik malah menceritakan kejadian hari ini di kantor. "Yang, kamu mau denger cerita aku gak?" ujar Malik yang kini sudah terbaring di atas kasur bersama istrinya.


"Cerita apa?" tanya Aleta sambil memeluk suaminya dari samping. "Katanya mau tidur, kok malah bercerita sih," cibir Aleta.


"Tapi kamu harus tahu ini. Tadi aku bertemu Dam, sepertinya dia sangat terkejut melihatku."


Karena penasaran, Aleta merubahkan posisinya menjadi duduk. "Bertemu di mana kamu dengan Dam?"


"Seneng pasti denger nama Dam! Gak jadi deh kalau begitu." Malik mengurungkan niatnya untuk bercerita, padahal ia sendiri yang menyuruh istrinya mendengarkan ceritanya.


Aleta memukul dada bidang suaminya. "Kalau gak jadi kenapa menyuruhku mendengarkan ceritamu! Kamu masih cemburu pada Dam? Masih kurang bukti kalau aku sudah melupakannya? Gak percaya sama aku gitu?"


Malik pun mendudukkan tubuhnya, ia mensejajarkannya dengan Aleta. "Bukan cemburu sayang, aku takut kamu masih mencintainya. Itu saja!"


"Lihat aku!" Aleta menangkup kedua pipi Malik. "Aku sudah bahagia denganmu, jadi stop curiga kalau aku masih menyimpan rasa pada Dam. Dam juga sudah bahagia dengan Alea. Kita sama-sama sudah bahagia!" Aleta meyakinkan suaminya.

__ADS_1


"Maafkan aku ya, sayang." Ucap Malik seraya memeluk istrinya. Setelah itu, ia melepaskan pelukkannya dan melanjutkan ceritanya. Dengan setia, Aleta mendengarkan ceritanya.


"Bukan cuma Dam yang gak percaya, aku juga sempat gak percaya. Aku tahunya kamu itu penguntit." Aleta langsung tergelak jika ia teringat di mana suaminya disuruh kakaknya memata-matai kakak iparnya.


"Iya, dari dulu aku memang penguntit, tapi sekarang aku penguntit setiamu," ujar Malik.


"Hmm, mulai ngegombalnya."


"Bukan gombal sayang ... Ini fakta." Karena terbawa suasana, Malik jadi lupa dengan niatnya yang ingin langsung tidur. Ia malah mencumbu istrinya.


Karena Aleta tak bisa menolaknya, ia pun membiarkan itu terjadi, hingga malam sudah larut mereka masih bergelut dengan hasrat yang begitu menggelora.


***


Di rumah sakit.


"Sayang, besok aku mau pulang aja. Gak betah lama-lama di sini. Kita rawat Raisya di rumah saja ya?"


"Kamu serius?" tanya Attar. Dan Syiera mengangguk. "Ya sudah kalau begitu. Kamu tidur sekarang, aku akan mempersiapkan alat untuk Raisya dulu." Attar mencium kening Syiera sebelum pergi meninggalkannya.


***


Hingga keesokan harinya. Ketika Attar sudah bersiap akan pulang ke rumah, ia melihat adik iparnya.


"Malik, Aleta. Sedang apa kalian di sini?" tanya Attar.


Bukannya menjawab, Malik dan Aleta malah bertanya balik.


"Kakak mau kemana? Apa Kak Syiera sudah dibolehkan pulang?" tanya Aleta.


"Iya, Kak. Bukankah Raisya butuh penanganan khusus?" tanya Malik.


"Kakakmu mau pulang, dan Kakak tidak mau Syiera kecewa pada Kakak." Karena Syiera selalu melibatkan propesi Attar sebagai dokter. Dan Syiera ingin di rawat di rumah oleh suaminya.


"Iya sih, Kak. Lebih baik di rumah saja, di sini rawan penyakit," timpal Aleta. "Ya udah, Kak. Aku mau periksa kandungan dulu." Aleta pamit pada Attar dan langsung menuju ruang kandungan.


Setibanya di sana, Malik dan Aleta langsung masuk karena Malik sudah membuat janji terlebih dulu.

__ADS_1


Malik melihat ke arah layar monitor, meski tak mengerti dengan gambarnya, namun karena dokter menjelaskan, mereka hanya membayangkan saja.


Dua gumbalan terlihat di layar monitor, dokter menjelaskan bahwa Aleta mengandung bayi kembar. Pasutri itu nampak bahagia, apa yang dikatakan Frita itu benar. Bahwa gen Malik turun pada kandungan istrinya.


"Dok, apa mereka sehat?" tanya Malik. Karena ia merasa terlalu sering menjenguknya.


"Sehat, sangat sehat. Kalau Nyonya Aleta selalu happy maka kandungannya akan baik-baik saja," jelas dokter.


"Kalau sering melakukan itu, boleh tidak, Dok?" tanya Malik tanpa ragu. Sedangkan Aleta, ia langsung mendelik. Aleta tahu pertanyaan suaminya, buat malu saja. Pikir Aleta.


"Boleh, selagi istri Anda nyaman tidak apa-apa. Cari gaya yang tidak membahayakan buat si janin."


"Yes yes." Hati Malik langsung gembira wajahnya terpancar keceriaan.


Mereka berdua pun undur diri karena sudah selesai dengan pemeriksaan kandungannya. "Mau kemana lagi? Mumpung aku lagi libur dari kantor," tawar Malik pada istrinya.


"Bener, kamu mau mengabulkannya?" Aleta tidak yakin kalau suaminya itu akan mengabulkan permintaanya. Pasalnya, Malik tak terlalu suka dengan bioskop. Di ajak nonton TV saja, Malik sering tertidur.


"Mau kemana memang?"


"Nonton, mau ya? Sebelum mereka lahir," ucap Aleta seraya mengusap perutnya. Bagi Aleta setelah melahirkan nanti, waktunya ia akan berikan untuk mengurus anak-anaknya. Aleta pun memasang wajah melasnya agar Malik mau menuruti keinginannya.


"Iya, aku temenin kamana pun kamu mau. Bahkan sampai ke ujung dunia sekali pun, aku akan mendampingimu."


Mereka langsung menuju mal setelah berada di dalam mobil. Dan mereka pun sampai di tempat tujuan. Aleta nampak bersemangat, karena ia sudah lama tidak menonton bioskop, apa lagi setelah menikah. Ia sudah tidak lagi jalan-jalan dan menghabiskan waktunya di luar.


Ketika sedang membeli tiket, ada seorang wanita yang datang menghampiri Malik dan Aleta. Wanita itu nampak begitu dekat dengan Malik, sampai Aleta menunjukkan kecemburuannya. Aleta langsung bergelayut di tangan suaminya, seolah Malik adalah miliknya.


Malik merasakan kecemburuan istrinya. Ia pun langsung mengenalkan Aleta pada wanita itu.


"Sayang, kenalin. Ini Felisia, anak dari sahabat Papi," terang Malik.


Aleta dan Felisia pun berjabat tangan. Menyebutkan nama masing-masing. Sesudah berkenalan, Aleta langsung mengajak suaminya masuk ke dalam bioskop.


Sedangkan Feli, ia melihat kepergian Aleta dan Malik dengan tatapan nanar.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2