Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
40


__ADS_3

Ketika Aleta akan turun dari branker, ia baru menyadari ada seseorang yang menjaganya. Tapi siapa? Aleta tidak bisa melihat wajahnya, karena orang itu memakai switer yang ada kupluknya, kepalanya tertutup sempurna.


Karena sudah tidak kuat ingin ke kamar mandi, ia pun langsung turun dari atas branker. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Aleta tak ingin mengganggu orang yang sudah menyelamatkannya, Aleta menduga bahwa orang itu yang telah menolongnya.


Setelah ke kamar mandi, Aleta langsung ke dapur, walau masih sedikit pusing di kepalanya. Ia memaksakan diri pergi kesana. Kini, Aleta sudah kembali. Ia membawa gelas yang terisi air minum, jika ia merasa haus, ia tak perlu jauh-jauh mengambilnya kembali, itu pikirnya.


Ketika Aleta sudah kembali ke ruangan tadi. Tiba-tiba ... Seseorang sudah mengejutkan dirinya, hampir saja gelas yan ia pegang terlepas saking kagetnya.


Untuk orang itu sudah membantunya untuk meraih gelas, tapi sayang, walau gelasnya tidak jatuh. Tapi isinya tumpah mengenai orang itu.


"ya ... Basah jadinya." Aleta menepis-nepis baju orang itu. "Maaf, aku tak sengaja," kata Aleta. Aleta masih belum tahu siapa orang itu, karena Aleta masih fokus pada bajunya yang basah.


Ketika Aleta mendongakkan wajahnya, ia terkejut bukan main. Apa ia mimpi? Kenapa wajah yang ingin ia lihat malah sekarang begitu terasa nyata dalam penglihatannya.


"Al ... Kamu gak apa-apa?" tanya Dam.


Bukannya menjawab, Aleta malah menepuk-nepuk pipinya sendiri, ia benar-benar takut kalau ini hanya mimpi. Dam langsung menyentuh punduk Aleta, dan dari situ, Aleta baru menyadari bahwa ini memang nyata. Ini bukan mimpi!


"Dam ... Kamu di sini? Makasih ya, Dam. Kamu sudah menolongku." Aleta benar-benar menyangka bahwa Dam 'lah yang menolongnya.


"Aleta, bu-," ucap Dam langsung terputus, kala Aleta memeluk dirinya.


"Maaf, sudah merepotkanmu," lirih Aleta dalam pelukan Dam. Dam pun membalas pelukan Aleta, entah kenapa Dam merasa ada magnet dalam diri Aleta. Ia tak menolak Aleta memeluknya, padahal Aleta masih terbilang asing baginya.


"Justru aku yang seharunya minta maaf, aku yang sudah membuatmu seperti ini," sesalnya kemudian.


"Gak apa-apa aku sakit, asal ada kamu, Dam!" Gadis itu sepertinya mengharapkan Dam. Tapi sayang, Aleta menyadari bahwa Dam sudah memiliki kekasih. Ia pun harus mengubur perasaannya dalam-dalam.


Kenapa disaat Aleta baru merasakan jatuh cinta pada seseorang, ia malah harus memendam perasaannya. Sepertinya Aleta sudah jatuh cinta pada orang yang salah.


"Al ... Sebaiknya kamu istirahat," kata Dam.


Aleta pun langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf, aku gak bermaksud-," ucap Aleta terputus ketika ada sesuatu yang menempel di keningnya. Apa yang sudah dilakukan pria itu? Aleta benar-benar tak menyangka, Dam mencium keningnya.

__ADS_1


Apa, Dam memiliki perasaan yang sama seperti gadis itu? Kalau memang iya. Bagaimana dengan Alea? Apa pria itu mencintai keduanya? Aleta masih terdiam, tubuhnya terasa kaku saat Dam melepaskan kecupan dari keningnya.


"Kenapa, Al?" Pria itu malah bertanya kenapa? Apa dia benar-benar tidak menyadari bahwa perlakuannya barusan membuat obor yang tak pernah menyala, kini nyala dengan sendirinya.


Aleta merasa, Dam membangkit perasaannya yang dulu pernah mati. Mati karena sempat dikecewakan oleh seorang pria sewaktu masih SMA.


"Al ... Kamu gak apa-apakan?" Dam merasa aneh pada gadis itu. Bukannya tinggal di Amerika, sebuah kecupan di kening harusnya sudah terbiasa. Pikirnya.


Tapi sayang, pemikiran Dam tidak berlaku bagi Aleta, Aleta gadis baik-baik. Bahkan ciuman pertamanya ia berikan padanya, walau tak senagaja. Tetap saja kedua bibir itu saling menempel, bahkan sampai beberapa detik.


"Kamu memang harus istirahat, Al." Dam merasa yakin kalau Aleta masih syock akan kejadian hari ini.


Aleta pun berjalan menuju branker, inginnya sih tidur di kamar. Tapi ia merasa kasihan pada Dam. Aleta putuskan akan tidur di sini.


Bukannya tidur, kini keduanya malah asyik mengobrol, sesekali Aleta tertawa karena kelucuan Dam. Dam melihat senyum yang tak biasa di diri Aleta, tertawa begitu lepas.


Dam langsung menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Ssshhhttt ... Jangan berisik, nanti mereka denger!" Dalam sekejap, Aleta langsung bungkam. Ia juga tak ingin membuat kakaknya terbangun karena ulahnya.


"Abisnya, kamu lucu, Dam." Aleta menatap wajah tampan Dam. Saudara ipar denganya membuat Aleta bahagia. Aleta menganggap lebih dari ipar, tapi sayang rasa itu terhalang oleh seseorang.


Semenjak kejadian malam lalu waktu bersama Aleta, Dam selalu teringat akan wajah Aleta. Namun ia selalu menepisnya, ia tak ingin ada hati yang terluka karena. Belum tentu juga Aleta merasakan hal yang sama dengannya, pikirnya.


Terlalu lama bercanda, Aleta pun mulai menguap.


"Tidurlah. Masih ada waktu untuk kita mengobrol." Dam meraih selimut, untuk menutupi tubuh Aleta. Aleta benar-benar bahagia dengan perlakuan manis dari Dam. Ia benar-benar tak menyangka, jika masih diingat bagaimana pertama kali mereka bertemu. Keduanya tidak akan menduga akan seperti ini, Tuhan begitu cepat membolak-balikkan hati seseorang.


"Dam ..." Aleta menangkap tangan Dam yang sedang menyelimuti tubuhnya.


"Iya, ada apa, Al?"


"Tidur di sini, ya? Temani aku!"


Dam pun mengangguk, lalu ia duduk di kursi yang tadi. Sayang, Aleta menggenggam tangan Dam hingga Dam tidak bisa berbuat apa-apa.


Dam menyadari bahwa gadis itu ada hati padanya. Respons tubuh Aleta tidak bisa berbohong.

__ADS_1


Dari mulai penyatuan bibir mereka waktu malam lalu, dan hari ini. Aleta memeluknya, ia juga mencium kening Aleta. Tak ada penolakan dari gadis itu.


Dan untuknya, bersama Aleta, ia melupakan Alea. Bagaimana bisa? Bukankah Alea cinta pertamanya? Kenapa kehadiran Aleta mengusik relung jiwanya. Ada apa dengan dirinya? Apa Dam sudah jatuh cinta pada gadis yang kini sedang menggenggam tangannya?


Walau pun memang iya, ia jatuh cinta pada Aleta. Apa Dam harus memendam rasa itu? Walau bagaimana pun, ia harus menjaga perasaan Alea. Hingga terlelapnya Aleta, gadis itu masih menggenggam tangan Dam. Perlakuan Aleta benar-benar menunjukkan bahwa gadis itu memiliki rasa.


Tak terasa, Dam pun ikut tertidur di samping Aleta.


Memang sudah mendekati pagi. Jadi mereka tidur hanya sebentar, suara ayam tetangga sudah terdengar di pendengaran mereka. Dam lebih dulu terjaga dari tidur, tak lama dari situ. Baru Aleta menyusulnya.


"Pagi, Al ...?"


Kata pertama yang di dengar oleh Aleta adalah sapaan dari Dam. "Manis sekali sih kamu, Dam."


"Kalau masih ngantuk, tidur lagi saja," titahnya pada Aleta.


Aleta menggelengkan kepalanya, ia sudah merasa cukup untuk tidur. Tubuhnya kembali sehat sedia kala, apa karena adanya Dam? Pria itu mampu menyembuhkan segela penyakit yang diderita gadis itu. Padahal semalam, ia tak sadarkan diri.


"Aku mau sarapan saja, aku laper." Sejak kejadian kemarin, Aleta memang belum makan. Aleta pun langsung menuju dapur, ia mencari sesuatu yang bisa ia makan, belum sampai ke dapur, Aleta sudah mencium aroma yang manggugah selera makannya.


"Waah ... Masak apa, Bi? Baunya enak sekali?" tanya Aleta setibanya di dapur.


"Nasi goreng, Non. Pinta Tuan," jawab bi Ani.


"Kakak sudah bangun memangnya?"


"Sudah, tapi masuk kamar lagi."


"Oh iya, Bi. Porsi nasi gorennya ditambah, ada Dam adiknya Kak Syiera. Dia akan sarapan di sini."


"Iya, Non."


"Ya udah, Bi. Aku tinggal dulu." Aleta pun langsung pergi dari dapur. Tapi, ia malah berpapasan dengan Dam, perasaan Aleta benar-benar tak bisa dipungkiri. Hatinya langsung meleleh melihat pria itu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2