
Tak terasa, mereka sudah dua minggu berada di Amerika. Namun, tak ada tanda-tanda dari mereka untuk kembali ke Indonesia.
Pagi hari.
Aleta nampak lesu tak bertenaga, padahal hari ini ia harus bergelut dengan aktivitasnya. Sedangkan Malik, pagi-pagi ia sudah pergi. Ia mulai mencari pekerjaan di sana, karena ia mulai jenuh dengan kesehariannya.
Ketika sedang berjalan di padatnya keramaian. Malik melihat seseorang, dan orang itu sedikit mencurigakan. Dan benar saja, orang itu sedang menelusupkan tangannya pada sebuah tas yang menggantung di tubuh seseorang.
Dengan cepat Malik datang, ingin menyelamatkan pemilik tas tersebut. Sontak membuat orang itu terkejut dengan aksi Malik. Dan si copet sudah diringkus oleh Malik.
Merasa bersyukur sudah selamat dari si copet, membuat si pemilik tas itu berterima kasih pada Malik. Dan orang yang diselamatkan Malik adalah seorang perempuan. Gadis cantik yang kira umurnya tidak jauh dengan Aleta.
Gadis itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan niat memberikannya pada Malik, Malik pun menolak. Ia tulus menyelamatkan si perempuan. Lantas dari situ, Malik langsung pergi. Dan perempuan itu belum sempat berterima kasih pada Malik.
"Hey ... Tunggu," teriak gadis itu pada Malik. Gadis itu bernama Felisia.
Malik mulai menghilang dari pandangan Felisia. Karena di sana cukup ramai dengan orang yang berlalu lalang, membuat Felisia kesusahan untuk mengejar.
Felisia menghembuskan napasnya, ia gagal mengejar Malik.
"Padahal, aku ingin berterima kasih padanya," ucap Felisia. Felisia melirik jam yang melingkar ditangannya. Bisa terlambat jika ia mengejar Malik.
Felisia kembali ke tempat tadi, waktu itu ia sedang menunggu sang supir untuk menjemputnya.
***
Malik merasa sedikit lelah, ia pun berhenti sejenak. Ia mampir di sebuah cafe yang berada di pinggir jalan. Melepas penatnya di sana, ia pun memesan minuman.
Tak lama pesananya pun datang, Malik langsung meminumnya. Ia sangat haus sekali. Sepertinya, ini bukan hari keberuntungannya. Ia akan melanjutkan mencari pekerjaanya besok.
Setelah menghabiskan minumannya, Malik berniat langsung membayarnya. Tapi, Malik merasa dompetnya tidak ada. Malik terus mereba-raba isi kantongnya, tetap dompet itu tidak ada. "Pasti dompetku ketinggalan."
Tiba-tiba, ada seseorang yang menyodorkan uang padanya.
"Aku harap kali ini kamu mau menerimanya," ucap orang itu.
Malik langsung menoleh ke arah orang itu. Dan orang itu, orang yang pernah ia tolong waktu tadi. Mau tak mau, Malik mengambil uang tersebut.
"Aku pinjam," kata Malik.
Felisia menggelengkan kepala. "Jika kamu meminjamnya berarti kita akan bertemu kembali," ujar Feli.
Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal seolah bingung dengan perkataan Feli.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Malik.
"Ini hari terakhirku di sini. Kalau kamu meminjamnya bagaimana cara mengembalikannya?" Itu maksud Feli.
Pada akhirnya, Malik menerima uang itu tanpa meminjam. Feli mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Namaku Felisia."
"Aku Malik. Terima kasih sudah menolongku."
"Harusnya aku yang berterima kasih, kalau bukan kamu yang menolongku tadi, aku sudah kehilangan isi dalam tasku."
Sedikit berbincang diantara mereka. Setelah dirasa sudah cukup, Felisia pamit lebih dulu pada Malik. Dan Malik pun mulai meninggalkan cafe tersebut.
Sudah terlalu lama ia meninggalkan rumah, ia putuskan pulang sekarang. Tiba di apartemen, Malik langsung masuk. Rumah masih terlihat berantakan.
"Tumben sekali rumah ini berantakan." Malik pun membereskannya hingga rapi.
Ia melihat pintu kamar Aleta sedikit terbuka. Malik pun melongokan wajahnya melihat ke dalam. Ia melihat Aleta terbaring di sana.
"Apa dia tidak bekerja? Bukankah kemarin ia bilang akan pulang telat." Walau hubungan mereka terbilang tidak baik, tapi Aleta selalu bilang jika ia akan bepergian.
Dengan berani, Malik masuk ke kamar.
Aleta tak menjawab, ia merasakan kepalanya pusing, sangat pusing.
Tak ada respons, Malik lebih mendekatkan diri. Mengecek keadaan istrinya.
"Kamu demam, Al." Malik menyentuh kening Aleta, dan itu sedikit panas. "Kenapa tidak bilang padaku kalau kamu tidak enak badan." Malik tidak bisa diam saja setelah tahu istrinya sakit.
Ia pun bergegas ke dapur. Niat akan mengambil alat untuk mengompres Aleta. Malik begitu cekatan, dan ia mulai mengompresnya. Aleta tak menolak dengan aksi Malik.
Ia malah terlihat tak berdaya. Dan Malik merasa sangat kasihan.
"Kita ke rumah sakit, ya?" Namun Aleta menggeleng. Ia rasa sakitnya tak terlalu parah. Selesai mengompresnya, Malik kembali ke dapur. Ia akan membuatkan makanan untuk istrinya.
Selesai memasak, Malik kembali ke kamar. Aroma masakan sangat menyeruak, dan itu membuat Aleta tambah pusing dengan aromanya. Ia juga mual.
Aleta langsung beranjak dari tempat tidur, ia menuju ke kamar mandi. Ia muntah muntah di sana. Malik panik ketika mendengar Aleta, dengan cepat ia menemuinya. Malik memijat tengkuk istrinya, agar Aleta lebih rileks.
"Kita ke Dokter sekarang," ajak Malik.
Namun Aleta tetap kekeh, ia tak ingin ke dokter. Ia hanya ingin rebahan di kamar. Merasa sudah baikan dan tidak muntah lagi, Aleta kembali ke kamar.
__ADS_1
"Kamu masak apa?" tanya Aleta setibanya di kamar.
"Masak makanan kesukaanmu, seperti biasa," jawab Malik.
Kenapa baunya tidak sedap? Padahal Aleta suka dengan masakan suaminya. Malik yang selama ini mengurus rumah tangganya, karena Aleta sibuk dengan pekerjaannya.
"Jauhkan itu dariku." Aleta menunjuk piring yang berisikan hasil masakan Malik.
"Tapi kamu belum makan, Al."
"Aku tidak mau makan makanan yang digoreng."
Malik pun bergegas kembali ke dapur, dan tak lupa membawa piringnya. Malik bingung harus membuat makanan apa?
Ia melihat ke dalam kulkas, tak ada makanan lain selain buah-buahan.
Ia pun berpikir, mau diapakan buah itu? Buat sajalah, terserah Aleta mau dimakan atau tidak. Ia pun membuat salad buah. Setelah selesai, ia memberikannya pada Aleta.
"Apa itu?"
"Salad, hanya ini yang ada di kulkas."
Aleta sudah dua hari ini tak belanja. Ia juga merasa aneh dengan penciumannya, tak suka dengan bau-bau yang menyengat.
Mendengar isi kulkas kosong, Aleta mengambil dompet, dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Malik.
"Kamu saja yang belanja, aku malas."
Malik sebenarnya tidak enak, karena selama tinggal di Amerika, Aleta yang menghidupinya. Malik bukan tak ingin bekerja, hanya ia bingung harus bekerja apa di sini. Tempatnya bukan di sini, ia kesusahan mencari pekerjaan.
Selama di Indonesia, Malik bekerja dengan Attar. Menjadi orang kepercayaannya tentu Malik dibayar mahal oleh Attar. Dan sekarang tinggal di Amerika, uang hasil bekerja dengan Attar mulai menipis. Malik harus lebih ekstra mencari pekerjaan, apa saja pekerjaannya yang penting menghasilkan uang.
Setelah menerima uang dari Aleta, Malik pergi membeli bahan pokok. Dan meninggalkan Aleta di apartemen.
Ketika Malik sedang berjalan, ia melihat seseorang hendak menyebrang. Namun orang itu berjalan begitu saja, tanpa melihat ke arah kiri dan kanan. Dari kejauhan ada kendaraan yang melaju dengan cepat, buru-buru Malik menyelamatkan orang itu.
Setelah berhasil Malik menyelamatkannya, orang itu baru tersadar, bahwa ia tengah melamun. Orang itu adalah perempuan, ibu paruh baya.
"Terima kasih," ucap ibu paruh baya itu.
"Lain kali hati-hati," kata Malik. Dan Malik pun langsung pergi.
Hari ini cukup melelah baginya, hari sudah mulai gelap. Cepat-cepat ia ke super market. Selesai berbelanja, Malik langsung pulang.
__ADS_1
Bersambung.