Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
42


__ADS_3

Setelah mendengar rencana ibunya Dam. Musnah sudah harapan Aleta, ia tak akan bisa menggapai cinta Dam. Mungkin Aleta akan mengubur dalam-dalam perasaannya pada pria yang telah masuk ke dalam hidupnya, bahkan kedatangannya tanpa permisi padanya.


Dam hadir begitu saja dalam hidupnya. Aleta tahu betul kalau cinta Dam pada kekasihnya teramat besar.


"Kenapa kamu bengong, Al?"


"Gak apa-apa," jawab Aleta tersenyum tipis. "Aku ke kamar dulu," pamit Aleta.


Sedangkan Dania, ia pikir tak begitu susah untuk mematahkan hati Aleta. Dania tidak ada pilihan lain, selain menyingkirkan perasaan Aleta pada anaknya.


Dania juga berharap, Dam tidak memiliki perasaan pada Aleta. Bisa kacau kalau mereka berhubungan, mau di kemanakan Alea nanti.


Karena urusannya di sini sudah selesai, ia pun pamit pada Syiera.


Dania pergi menuju kamar anaknya.


Tok tok tok


Ketika Syiera mendengar pintu kamarnya di ketuk, ia pun beranjak dari posisinya. Attar sedang tertidur di sofa, paha istrinya sebagai bantalnya. Attar pun menjadi terbangun karena Syiera mengangkat kepalanya.


"Aku buka pintu dulu," kata Syiera pada Attar. Attar pun menjadi duduk.


Syiera membuka pintu, dilihatnya ada momy-nya.


"Ada apa, Mom?"


"Momy mau pulang, Dam juga sudah mengantar Alea ke Bandara."


"Bandara?" Syiera mengulangi ucapan Dania.


"Alea pulang? Kenapa tidak pamit dulu padaku!"


"Ya, ampun ... Momy sampai lupa." Dania menepuk keningnya sendiri, tadi ia terlalu fokus pada perasaan Aleta pada Dam. Sampai ia lupa untuk Alea pamit terlebih dulu pada Syiera. "Apa suamimu sudah mendingan?" tanyanya kemudian, sedikit mengalihkan rasa bersalahnya pada Syiera.


"Sepertinya sudah baikan, tadi sudah minum obat," jelas Syiera.


"Syukurlah, kalau begitu. Momy pulang ya? Bilang pada suamimu, Momy pulang. Lain kali kalian main ke rumah, ya? Sebelum perutmu besar." Kata Dania sambil menyentuh perut Syiera yang masih rata.

__ADS_1


Syiera tersenyum, ia tak menyangka kalau dirinya akan menjadi seorang ibu. Syiera pun mengantar ibunya sampai di luar.


"Mom, hati-hati. Kabari aku jika sudah sampai rumah! Salam sayang untuk Daddy." Syiera melambaikan tangan ke arah mobil yang hendak melaju.


***


Di Bandara.


Alea memeluk Dam sebelum ia benar-benar pergi. Hatinya begitu resah meninggalkan sang kekasih, apa lagi Aleta masih berlibur di sini. Apa mungkin jika ia pulang sementara Dam akan selalu bersama Aleta? Sekuat hati, Alea mencoba untuk percaya pada Dam, bukankah selama ini, Dam cukup setia padanya.


"Selama aku tidak ada, kamu jangan nakal, ya!" ucap Alea yang masih memeluk Dam.


"Mana mungkin aku nakal! Selama ini aku setia pada satu hati. Yaitu, kamu!" Dam mengusap lembut punggung Alea. Tapi kenapa? Dam tidak merasa berat ditinggal Alea? Apa karena ada Aleta? Entahlah ... Hanya Dam yang tahu.


Mereka pun melepaskan pelukannya, ketika sebuah suara sudah menggema. Penerbangan ke London akan segera berangkat.


"Jaga hati dan cintamu untukku! Aku mencintaimu, Dam." Alea menyentuh pipi Dam sebelum ia pergi.


Hey ... Ada apa dengan si Dam, ia malah tak menjawab pernyataan cinta Alea. Alea pun pergi begitu saja. Semoga apa yang diinginkan gadis itu terkabul. Semoga Dam bisa setia padanya. Karena cinta bisa datang dan pergi begitu saja.


Sepertinya, Dania benar-benar akan menjadi dinding Aleta dan Dam. Mungkin pirasat seorang ibu akan selalu benar. Walau Dania bukan ibu kandungnya Dam, Setidaknya ada darah yang mengalir di tubuh anak itu.


Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil. Bayangan wajah Aleta muncul begitu saja di pikiran Dam. Dam menggelengkan kepalanya, ia menepis bayang-bayang itu. Ini tidak boleh terjadi, pikirnya. Semakin melupakan, ia semakin teringat. Bibir Aleta menjadi bayang-bayangnya.


Dam pun menambah laju mobilnya, ia ingin cepat-cepat sampai. Sepertinya ia harus berendam air dingin. Menghilangkan pikiran mesum yang selalu teringat akan Aleta.


Setibanya di rumah, Dam langsung diintrogasi oleh Dania.


"Kamu kenapa bisa sampai nginap, Dam? Tidak biasanya kamu begini?" Dania benar-benar penasaran pada putranya.


Dam pun mendudukkan dirinya terlebih dulu. Dam merasa heran akan pertanyaan ibunya. Datang-datang sudah ditanya-tanya begitu.


"Salah emang kalau aku nginap di rumah Kak Syiera?"


Gak ada yang salah dengan menginapnya, yang salahnya itu, kenapa disaat ada Aleta dia baru nginap. Kemarin kemana aja? Mungkin itu yang ada dalam pikiran ibunya, Dam.


"Jangan bilang kalau ini ada hubungannya dengan gadis itu!" duga Dania. Dania tidak suka kedekatan Dam dan Aleta. Ia harus bisa menjaga hati yang lain, setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan pada Alea.

__ADS_1


Dam mendongakkan wajahnya pada ibunya.


"Ini memang ada hubungannya, Mom. Aku sudah membuat Aleta pingsan. Aleta kesasar, dan itu salahku! Aku pergi dengan Alea, lalu meninggalkan Aleta." Dengan jujur, Dam mengatakan itu pada ibunya.


Mendengar penuturan Dam, Dania menjadi diam. Apa benar kalau anaknya sudah berbuat seperti itu pada Aleta. Apa ia terlalu berlebihan mencurigai anaknya sendiri. Dania cukup tahu dengan anaknya. Dam masih setia pada Alea.


"Kamu tidak bohongkan pada, Momy?" Dania masih belum percaya sepenuhnya. "Tidak ada perasaan pada Aleta!"


"Mom ... Momy kenapa bertanya seperti itu padaku!" Dam merasa dicurigai oleh ibunya sendiri. "Sudahlah, Mom. Aku tidak ingin membahas masalah ini, aku cape. Aku mau istirahat," keluh Dam.


Dam pun berlalu dari pandangan Dania. Apa Dania akan percaya kalau Dam dan Aleta tak memiliki rasa satu sama lain? Dania harus tetap memantau anaknya itu.


***


"Honey ... Tolong, dong!" Attar memohon pada istrinya.


"Apa lagi ...!" Syiera benar-benar kewalahan menghadapi suaminya yang super manja padanya. Bahkan Syiera tak boleh pergi kemana-mana, padahal ia mendapat telepon dari Arin. Kalau Syiera harus ke kantor hari ini, karena Attar selalu merengek seperti anak kecil, Syiera pun memutuskan bekerja di rumah secara online.


Tapi tetap saja, suaminya masih merengek tidak jelas. Syiera harus ekstra sabar menghadapi Attar. Syiera yang hamil, Attar yang manja.


"Aku sudah nurutin keinginanmu. Dan tolong! Untuk kali ini aja. Kamu jangan ganggu aku! Aku lagi kerja." Syiera tak mempedulikan suaminya.


Attar, sedari tadi menyenderkan tubuhnya pada tubuh Syiera di bagian belakang. Dan itu membuat Syiera terganggu, ia tidak bisa fokus pada kerjaannya.


"Kalau kamu begini terus, kapan aku selesai!" omel Syiera.


"Sekarang kamu pilih aku apa kerjaan?" tanya Attar.


Syiera menghela napas berat, kenapa suaminya memberi pilihan akan hal ini? Bukankah ia tahu kalau Syiera memang wanita karier.


"Aku milih kerjaan," jawab Syiera acuh. Syiera hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya. Kalau sudah selesai 'kan, enak. Mau ngapain aja tidak terganggu, pikirnya


Attar langsung cemberut setelah mendengar jawaban dari istrinya, Syiera lebih sayang kerjaan dari pada suaminya, pikir Attar. Dengan rasa dongkol, Attar pun menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


Syiera hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah laku suaminya. Syiera merasa kalau suaminya aneh.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2