Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
65


__ADS_3

"Jangan menangis, tangisanmu terlalu berharga. Dam tidak pantas mendapatkan cinta darimu."


Deg


"Dia tahu perasaanku pada, Dam," batin Aleta. Gadis itu tak percaya kalau Malik tahu akan perasaannya. "Apa dia juga tahu kalau hubunganku dengan Dam masih berlanjut?" Pikirnya.


"Berusahalan menerima kenyataan. Kadang harapan tak sesuai dengan keinginan." Malik berusaha menghibur hati Aleta. Pria itu pun sebenarnya rapuh.


Bahkan Malik tidak bisa menyatakan cintanya pada Aleta. Ia belum siap tercampakan. Lebih baik seperti ini, pikirnya. Lagi pula kalau ia menyatakan cintanya, justru ia takut Aleta tak ingin lagi berteman dengannya.


Cukup dekat dan seperti ini, Malik sudah merasa bahagia. Bisa saling menyatakan perasaannya yang sedang kecewa. Andai Aleta tahu perasaannya, belum tentu Aleta bisa membalas cintanya, bukan?


Tak terasa hari sudah mulai gelap, hujan pun mulai turun membasahi bumi. Malik langsung menarik lengan Aleta untuk masuk, karena gadis itu terlalu asyik dengan pemikirannya sendiri.


"Maaf, Al. Aku terpaksa menyeretmu, abisnya kamu melamun terus," kata Malik.


Melihat rambut Aleta basah, cepat-cepat Malik mengambilkan handuk untuk mengeringkan rambut Aleta. Tak ada pemikiran bagi Aleta akan sikap peduli Malik padanya. Ia pun mengambil handuk yang diberikan oleh Malik.


"Terimakasih," ucap Aleta.


"Tidak perlu berterimakasih, bukankah kita sudah menjadi teman?" Malik menyodorkan jari kelingkingnya sebagai tanda persahabatan mereka.


Awalnya Aleta diam saja. Lalu, Malik meraih tangan gadis itu dan meyatukan jari kelingkingnya.


"Sekarang kita teman," kata Malik dengan sebuah senyuman yang tulus. Pria itu tak menuntut lebih dari Aleta, cukup berteman saja sudah membuatnya bahagia.


"Aku minta jangan menangisi Dam lagi. Kamu cantik, Al. Banyak pemuda di luar sana yang mungkin bisa membuatmu bahagia." Malik begitu semangat mengatakan itu. "Termasuk aku, Al. Aku juga mencintaimu," batin Malik.


Mereka pun masuk ke dalam, Aleta melihat bi Ani yang sedang di dapur. Ia pun menghampirinya.


"Bi?" panggil Aleta.


Bi Ani langsung menoleh. Dan senyum tersimpul di bibir ibu paruh baya itu.


"Bibi dari mana saja? Rumah ini begitu sepi." Aleta mengerucutkan bibirnya.


"Maaf, Non. Mungkin tadi bibi lagi di taman belakang. Kenapa tak memberi kabar pada Bibi?"


Saat Aleta cemberut, Malik terkekeh melihatnya. Dari kejauhan, pria itu semakin gemas melihat tingkah manja Aleta pada bi Ani. Bi Ani langsung menangkap basah Malik yang terus memperhatikan Aleta.

__ADS_1


Mungkin bi Ani tahu perasaan Malik, sejak di rumah sakit waktu Syiera akan melahirkan Malik terus mencuri pandang pada Aleta.


Dari gelagat Malik, bi Ani menyimpulkan seperti itu. Malik langsung berpaling dari tatapannya, lalu melipir pergi. Karena Malik pun melihat bi Ani yang menatap ke arahny.


"Bibi lihat siapa?" tanya Aleta, gadis itu pun mencoba melihat ke arah yang bi Ani lihat. Tak ada siapa-siapa, pikir Aleta.


"Tidak, Non. Bibi tidak melihat siapa-siapa," jawab bi Ani bohong.


"Mau dimasakin apa?" tanya bi Ani.


"Spagety boleh juga, Bi. Kalau sudah siap kasih tahu aku ya, Bi." Aleta pun pergi setelah mengatakan masakan apa yang diinginkan gadis itu.


Aleta menuju ruang tamu, ia menyalakan televisi. Banyak berita yang muncul di TV Aleta menjadi bosan. Alhasil ia mematikan TV itu kembali. Menunggu makanannya yang sedang dimasak oleh bi Ani.


Tak lama dari situ, ia mendengar suara deruman mobil. Aleta dengan semangat langsung keluar, karena ia kira itu adalah Attar. Setibanya di luar. yang awalnya bibirnya tersimpul sebuah senyuman. Kini senyum itu hilang ketika seseorang turun dari mobil. Dan iti bukan Attat, melainkan Dam.


Dam datang ke rumah itu, ia pun tak tahu kalau ada Aleta di sana. Dam menghentikan langkahnya ketika melihat siluet yang selama ini ia coba melupakannya. Mereka berdua mematung.


Tak lama, bi Ani berteriak memanggil Aleta. Memberitahukan kalau masakannya sudah selesai.


"Non, makanannya sudah jadi," kata bi Ani. Bi Ani belum melihat ke arah Dam. Tak lama, bi Ani pun melihat adik dari majikannya.


Bi Ani menghampiri Dam, dan menyuruhnya untuk masuk. Bi Ani tahu akan kedatangan Dam, ia disuruh Syiera mengambilkan baju Axel.


"Ayo masuk, Tuan. Bajunya sudah saya siapkan," kata bi Ani.


Dam pun masuk, pria itu melewati tubuh Aleta begitu saja. Bahkan tak menyapanya sama sekali. Aleta melihat ke arah Dam dengan nanar. Inikah pria yang dulu bilang kalau ia akan menunggunya kembali?


Setetes cairan bening keluar dari pelupuk mata Aleta. Ingat pesan Malik, buru-buru ia mengusap sudut matanya. Menghapus pipinya yang mulai basah.


"Apa kamu sudah benar-benar melupakanku, Dam?" batin Aleta.


Ketika Dam kembali pun Aleta masih diam di tempat semula, gadis itu masih berdiri diambang pintu. Ketika melihat Dam, Aleta mulai pergi dari sana. Gadis itu acuh, seakan tak ada hubungan diantara mereka.


Dam bisa berpikir dengan sikap Aleta seperti ini. Aleta pasti membenci dirinya, ia pasti kecewa pada. "Maafkan aku, Aleta?" lirih Dam.


Aleta menghentikan langkahnya sejenak, ia mendengar Dam meminta maaf padanya. Namun dari situ ia benar-benar pergi, menuju ruang makan. Ia langsung duduk di kursi meja makan. melahap spagety itu dengan rakus.


Aleta melampiaskan kekesalannya pada spagety itu. Dan Dam pun benar-benar sudah menghilang. Bi ani langsung menghampiri Aleta.

__ADS_1


"Pelan-pelan, Non. Gak ada yang minta kok," ledek bi Ani.


Aleta pun langsung menghentikan aksinya. Dan tiba-tiba, Malik datang. Pria itu melihat Aleta yang begitu belepotan. Malik langsung menertawakannya.


"Kenapa ketawa?" Aleta melihat tidak suka pada Malik. Kesal pada Dam, ia melampiaskannya pada Malik. Nasib-nasib.


Malik tidak menjawab, ia malah menghampiri bi Ani.


"Dia kenapa, Bi?" bisik Malik pada bi Ani. Malik takut Aleta mendengar dan tambah marah padanya.


Bi Ani mengangkat kedua bahu sebagai jawaban.


Lalu bi Ani pun pergi, takut kena marah Aleta.


Malik mengambil selembar tisu, lalu memberikannya pada gadis itu. Aleta menarik dengan kasar tisu itu. Malik pun ikut duduk di samping Aleta.


"Kamu kenapa?" tanya Malik. Kenapa gadis igu berubah kembali jutek padanya, apa ada yang mengilangkan moodnya hari ini? Tapi apa? Karena Malik tidak tahu kedatangan Dam barusan.


Bukannya menjawab, Aleta malah menangis sampai sesegukkan. Malik semakin panik melihat Aleta menangis. Apa ia sudah melakukan kesalahan padanya? Pikir Malik.


Malik mendekat, berniat menenangkan gadis itu. Tak disangka Aleta bakal menghentikan tangisnnya.


Malik mengusap lembut pipi Aleta, baru kali ini Aleta mendapat perlakuan manis dari seorang laki-laki.


Disaat Malik sedang mengusap pipi Aleta.


Tiba-tiba ada seseorang yang melihatnya, dan itu Attar. Attar baru saja pulang, ia melihat Malik begitu dekat dengan Aleta.


bersambung.


Akankah Attar menjodohkan Malik dengan adiknya?


Ikutin terus kisah mereka.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya?


Bila perlu kasih othor dukungan dengan like komen dan vote.


Terimakasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca karyaku.

__ADS_1


__ADS_2