
Jadi bimbang sendiri, Syiera malah bungkam, tak bisa menjawab bahwa Attar merelakan dirinya untuk Alex. Syiera malah terisak, sontak membuat Attar menoleh padanya.
"Kenapa menangis? Apa ada yang salah dengan bicaraku?"
Syiera menggeleng, tak ada yang salah dalam ucapan pria itu. Ia kesal pada dirinya sendiri, kenapa tak bisa menetapkan hati. Ok! Syiera akan menjauhi keduanya. Siapa nanti yang akan ia rindukan.
"Maaf sudah merepotkanmu," kata Syiera, lalu ia menggeserkan tubuhnya untuk bersandar di sandaran ranjang. Rasa menyesal ada pada dirinya, apa yang telah ia perbuat akan ada konskuesi yang harus ia tanggung.
Suami yang ia kira bakal menjadi temannya ternyata lebih memilih untuk mundur. Attar pun kini pergi meninggalkan istrinya sendiri.
Attar duduk di depan teras rumahnya. Apa keputusannya sudah bulat mengenai ia akan pergi dan membiarkan Syiera bersama Alex. Lama berada di sana, karena kantuk mulai menyerang, ia pun memilih untuk tidur, ia tidur di kamar tamu.
Mulai saat ini, ia tidak akan mencampuri urusan istrinya. Terlalu sakit jika cinta sendirian, diperjuangkan pun percuma, Syiera pasti lebih memilih Alex yang sudah jelas Syiera cintai. Akhirnya Attar tertidur dengan sendirinya.
Pagi hari tepatnya pukul enam. Syiera sudah terjaga dari tidurnya, ia memang sulit tidur malam tadi, beberapa kali ia terbangun. Sekarang ia terbangun kembali dan langsung saja beranjak, dengan kaki tertatih ia mencoba berjalan, ia melihat ke arah sofa, dikiranya Attar tidur di sana, tapi nyatanya. Suaminya tidak tidur sekamar bersamanya.
Ia pun kembali melanjutkan niatnya untuk membersihkan diri. Setelah mandi dan berpakain, ia pergi menuju dapur, tak ada asisten di rumah ini. Jadi ia berniat untuk membuat sarapan, ini kali pertama ia membuat sarapan. Bisa atau tidak ia harus mencobanya.
Namun pada saat di dapur, dilihatnya Attar sudah berperang dengan wajan. Walau pun Syiera tak menganggapnya sebagai suami, Attar tetap menjadi suami yang baik apa lagi ia tahu kalau Syiera tengah cidera dengan kakinya. Tak ada yang bisa Attar lakukan selain jadi suami yang baik.
Ia hanya menjalankan apa yang dititipkan oleh mertuanya, menjaga istrinya. Syiera menghampiri Attar, Attar menoleh padanya. Tapi Attar cuek saja, seperti tak melihat dirinya di sana.
Syiera mengambil minum di kulkas, ia tak sadar meminumnya, ia lupa akan alergi yang ia derita, Attar yang tak tahu istrinya mempunyai alergi terhadap es, ia santai saja. Malah tak menegurnya sama sekali.
Dengan tertatih, Syiera meninggalkan dapur. Ia menoleh ke arah suaminya, tapi tetap, Attar sibuk dengan kerjaannya. Akhirnya, Syiera memutuskan untuk pergi ke kantor dalam keadaan perut yang masih kosong. Padahal suaminya sedang membuat sarapan untuknya.
Tanpa sepengetahuan Attar, ia pergi. Mendengar suara mobil yang menyala, Attar baru tersadar bahwa istrinya sudah berangkat. Keduanya sama-sama memendam ego masing-masing. Alhasil jadi seperti ini. Rumah tangga seperti apa yang mereka jalani?
Tahu istrinya pergi dalam keadaan perut kosong, Attar berinisiatif membawakan makanan untuknya. Attar pun pergi untuk bekerja. Ia mampir sebentar di kantor istrinya, tak sengaja malah bertemu dengan mertuanya.
"Attar?" panggil Darren. Ia melihat menantunya di meja reseptionis, ia melihat Attar membawa sesuatu. Darren pun menghampiri menantunya itu.
"Daddy," sapa Attar.
"Sedang apa kamu di sini? Kalau masih kangen temui saja ke ruangannya," Darren menduga kedatangan Attar ke sini, Attar tengah rindu pada istrinya, ia ma'lum namanya juga pengantin baru.
"Oh, ini Dad, aku mau memberikan ini pada Syiera, aku lagi buru-buru jadi gak sempat ke ruangannya." Attar sembari memperlihatkan bawaan yang ada di tangannya.
"Ya sudah, sini. Biar Daddy yang antarkan, kamu berangkat saja," saran Darren
Attar pun pergi setelah menitipkan makanan untuk istrinya pada mertuanya.
***
"Nih." Darren meletakan parper bag di atas meja kerja anaknya.
__ADS_1
"Apa ini, Dad?" tanya Syiera.
"Titipan dari suamimu. Daddy ga salah 'kan menjadikan dia sebagai suamimu, dia sangat perhatian padamu. Jangan kecewakan Daddy, ya? Jaga suamimu, jangan sampai kamu kehilangan orang seperti dia!" jelas Darren yang menasehati putrinya.
"maafkan aku, Dad. Sepertinya aku sudah mengecewakanmu."
"Katanya belum sarapan, ayo dimakan. Jangan sampai kamu sakit terus merepotkan suamimu, jangan mentang-mentang punya suami seorang Dokter lantas bisa sakit seenaknya."
Syiera mencerna apa yang dikatakan Darren.
"Jadi dia Dokter, pantas saja dia bisa mengobati kakiku," gumamnya.
Darren pun pergi setelah mengatakan itu. Tiba-tiba, ponsel Syiera berbunyi. Ada pesan masuk, dilihatnya.
"Pulang nanti aku jemput."
Setelah membaca itu Syiera langsung membalasnya.
"Maaf, aku tidak bisa. Banyak kerjaan."
Syiera pun meletakkan ponselnya ke tempat semula. Sepertinya ia harus menjauhi Alex, apa lagi setelah mendengar pesan dari Darren, ia jadi kepikiran akan Attar, ia tak ingin menyesal kemudian.
Syiera merasa ada yang aneh pada tubuhnya. "Mungkin belum sarapan," batinnya. Ia pun meraih paper bag yang berisi makanan itu, ia tersenyum ketika melihat isinya. Makanan kesukaannya.
"Tahu dari mana kalau aku suka makanan ini?" tanyanya pada diri sendiri. Tanpa ragu, ia pun langsung memakannya hingga habis.
Lantas ia memakai jasnya, karena merasa dingin. Padahal cuaca di luar sangat panas, apa karena AC yang terlalu tinggi suhunya. Ia pun mematikan AC.
Tok tok tok
"Masuk."
Arin sekretaris Syiera datang menemui atasannya. Sebelum makan siang, Arin memberikan beberapa file padanya.
"Bu, apa AC di sini mati?" Arin merasa di ruangan itu nampak panas.
"Tidak, saya sengaja mematikannya. Saya merasa kedinginan," jawab Syiera.
"Ibu sakit?" tebak Arin
Belum menjawab, Syiera sudah mulai bersin-bersin.
"Sepertinya Ibu demam, apa kita perlu ke Dokter?" tawar Arin.
Syiera menggelang. "Minum obat nanti juga sembuh," jawabnya.
__ADS_1
"Apa Ibu butuh sesuatu untuk dibawakan, sekalian saya akan keluar untuk makan siang." Arin menawari atasannya itu, siapa tahu ada yang mau ia titip.
"Tolong belikan obat demam saja, sayq merasa tak enak badan," ucapnya sembari memijit tengguk lehernya.
Arin pun mengangguk lalu pergi dari ruangan itu.
Setelah kepergian Arin, beberapa menit kemudian. Syiera semakin mengigil disertai flu dan bersin-bersin yang semakin berkepanjangan.
Tak lama dari situ, Arin kembali ke ruangan atasannya, dilihatnya. Syiera tengah menggigil. Lalu Arin menghubungi seseorang untuk membawa atasannya itu ke rumah sakit.
"Demamnya tinggi sekali," kata Arin sembari menyentuh dahi atasannya. Tibalah mereka di rumah sakit, Arin tadi mencoba menghubungi Darren tapi ponselnya tak aktif. Jadi hanya Arin yang menemani Syiera.
Syiera sudah ditangani dokter, setelah merasa sudah aman. Arin kembali ke kantor, sambil memberitahukan Darren mengenai putrinya.
Hari semakin sore. Attar sudah pulang ke rumah, ia sampai lebih dulu dari pada istrinya. Hingga pukul menunjukkan pukul delapan malam.
"Kemana dia jam segini belum pulang? Apa dia pergi lagi dengan Alex?" duganya.
Semakin kesal saja rasanya, Attar pun merebahkan tubuhnya di kamar tamu.
Sementara Syiera, ia sudah lebih baik. Ada Darren dan Dania yang menemaninya.
"Sebaiknya, Daddy hubungi suamimu, ya?"
"Jangan, Dad. Aku tak ingin merepotkannya, lagian hanya demam biasa. Bahkan aku sudah merasa baikkan, ko," jelas Syiera.
"Apa kalian bertengkar?" tuduh Dania
Syiera malah diam tak menjawab.
"Ah ... Syiera. Daddy sudah bilang padamu, bukan?" Sepertinya susah sekali menasehati putrinya itu.
"Tapi aku sudah minta maaf padanya. Aku menyesal," sesalnya.
Darren menarik napas dalam-dalam. "Jadilah istri yang baik. Daddy tahu kamu tidak mencintainya, cinta akan tumbuh seiringnya waktu."
"Aku sudah baikan, aku pulang saja. Aku tidak ingin Attar khawatir." Syiera turun dari branker.
Tapi Dania mencegahnya, disaat Dania mencegahnya Darren pun ikut melarang tindakan istrinya itu.
"Biar, biar dia mempertanggung jawabkan semuanya." Tak ada pilihan lain mereka pun membiarkan Syiera pergi pulang sendiri.
Sebenarnya, Syiera masih merasa tak enak dengan tubuhnya, tapi ia paksakan pulang. Ia masih ingat betul dengan kesalahannya kemarin pada suaminya.
Syiera pun akhirnya sampai di rumah. Attar yang mendengar pintu gerbang terbuka, ia langsung melihat dari kamar atas lewat jendela. Dilihatnya, Syiera turun dari mobil, Attar menduga bahwa yang mengantar Syiera pasti Alex.
__ADS_1
bersambung