Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
23


__ADS_3

Pesawat lepas landas dengan sempurna. Kini Attar sudah berada di dalam mobil, ia dijemput oleh supir dari rumah sakit. Rencananya ia akan ke rumah sakit terlebih dulu.


Disaat dalam perjalanan dirinya lupa akan berkas yang ada di rumahnya. Mau tak mau, ia harus kesana. Waktu menunjukkan pukul lima pagi, jadi ia bisa kesana tanpa istrinya tahu. Pikirnya, Syiera masih tertidur.


Attar pun sampai di mansionnya, ia masuk menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Padahal, itu rumahnya sendiri. Namun ia seperti maling yang takut ketahuan, mengendap-ngedap.


Hingga akhirnya ia pun sampai di depan pintu kamar, ia pikir bahwa istrinya pasti di dalam. Perlahan, ia memtutar gagang pintu. Untung pintunya tak dikunci. Attar bernapas lega.


Attar menyapu seisi ruangan itu dengan kedua matanya, tak ada siapa-siapa. Lalu, kemana istrinya? Akhirnya ia pun teringat akan tujuannya, ia ke sini hanya akan mengambil berkas, untuk apa juga ia memikirkan perempuan itu. Pikirnya.


Disaat ia menuruni anak tangga, bi Ani melihatnya.


"Tuan, kapan pulang?" Bi Ani sedikit terkejut akan detangan majikannya.


Tak bisa dipungkiri, hatinya ingin tahu kemana istrinya pergi. Barang kali bi Ani tahu.


"Bi, Syiera kemana? Apa selama saya tidak ada, dia sering tak pulang?"


Bi Ani mengernyitkan keningnya.


"Emang, Non Syiera gak ada di kamar, Tuan? Maaf, Bibi tidak tahu kalau si Non gak pulang."


"Apa dia sering seperti ini?" tanya Attar kembali. Jawaban bi Ani tak sesuai apa yang diinginkannya.


Bi Ani menggeleng. "Non Syiera tidak pernah seperti ini sebelumnya, Tuan. Bahkan si Non selalu tepat waktu, tidak pernah kemana-mana?" jelas bi Ani


"Masa, sih!"


"Ya udah, Bi. Saya pergi dulu."


***


Dalam kamar hotel, seorang gadis masih terlelap akan tidurnya. Tak lama, ia mengerjapkan kedua matanya, kala ia mendengar dering ponsel yang begitu nyaring dipendengarannya.


"Iya, hallo."


"Bu, ada Tuan Juan di kantor. Dia ingin bertemu." kata Arin


Syiera mendesis. "Ish ... Ngapain pagi-pagi sudah di kantor? Apa ada jadwal pertemuan dengannya?"


"Tidak ada, Bu. Saya juga sudah jelaskan pada Tuan Juan, kalau Ibu belum ke sini. Tapi dia tetep menunggu."

__ADS_1


"Tapi, saya tidak ke kantor hari ini. Kepala saya pusing. Suruh saja dia ke hotel Rosa."


"Iya, Bu."


Sambungan pun berakhir.


Syiera segera bangkit dari tidurnya, ia bergegas ke kamar mandi. Selesai mandi, ia lupa kalau ia tak membawa baju. Alhasil ia hanya menggunakan jubah handuk yang tersedia di sana. Ia akan meminta pada Arin untuk mengantarkan baju untuknya.


Di tempat lain.


Attar begitu kepikiran di mana istrinya sekarang, pekerjaan di rumah sakit membuatnya tambah pusing. Akhirnya ia menghubungi seseorang.


"Temukan dia! Saya tunggu kabarnya sekarang juga." Itulah yang diinginkannya saat ini. Mungkin, jika ia tahu di mana keberadaan istrinya pasti lebih sedikit tenang. Pikirnya.


Tak lama, ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Tak sia-sia membayar seorang Malik, berapa pun yang ia minta asal cara kerjanya memuaskan pasti Attar akan membayarnya.


"Hotel Rosa." Sepertinya ia tahu di mana tempatnya. "Dia pasti bersama laki-laki itu." Attar pun berangkat menuju hotel Rosa, ia ingin menangkap basah istrinya.


***


Syiera mengalihkan pandangannya, yang tadinya sedang asyik dengan ponselnya, kini ia menatap pintu.


Nampak seorang pria berpenampilan rapi dengan jas yang sangat pas di tubuhnya, pria itu tersenyum manis padanya.


"Tuan Juan ... Silahkan masuk." Syiera lebih dulu masuk ke dalam.


Tuan Juan tak mengalihkan tatapannya dari gadis itu. Syiera begitu terlihat menggoda, rambut yang masih basah ditambah masih menggunakan jubah handuk. Membuat kejantanan lelaki itu bangkit.


"Maaf, pakaian yang saya kenakan tidak sopan, saya lagi menunggu Arin datang," jelas Syiera setelah mereka duduk di sofa. "Ada apa ya, Tuan ingin menemui saya? Bukankah Minggu depan jadwal kita bertemu." Syiera sedikit risih dengan tatapan laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Tuan Juan malah fokus pada bibir ranum Syiera, sepertinya ia tak meresponse perkatan lawan jenisnya itu.


"Anda cantik sekali, Nona Syiera." Dengan senyum yang sangat sulit diartikan.


Syiera beringsut mundur, ia takut dengan tatapan dan senyumannya.


"Tuan mau apa?" Ketika Tuan Juan lebih merapatkan duduknya dengan dirinya. "Jangan macam-macam!" Syiera terus mencoba menjahui Tuan Juan, tapi sayang. Sudah tidak ada lagi jarak diantara mereka, punggung Syiera sudah terpentok di sudut sofa.


***


"Nomor berapa kamarnya?" tanya Attar pada Malik yang sudah stand bay di tempat.

__ADS_1


"Nomor 214." Mereka berdua langsung menuju kamar yang disebutkan Malik.


"Kamu yakin di dalam ada seseorang?" tanya Attar ketika sudah ada di depan pintu nomor 214. Malik mengangguk, karena ia tadi sempat melihat ada yang masuk ke dalam.


"Dobrak pintunya."


"Tapi, Bos," protes Malik.


"Cepat!" titahnya tidak sabar.


Malik mengambil ancang-ancang, ketika sudah siap. Ia langsung akan mendobrak pintunya.


"Cepat!" titahnya lagi.


Malik mengangguk mantap, Dan ... Brakk, pintu langsung terbuka.


yang berada di dalam sana, mereka nampak terkejut dengan pintu yang tiba-tiba terbuka.


"Siapa kalian? Berani sekali mengusikku!" kata Tuan Juan ketika melihat dua orang asing itu datang.


Ketika Tuan Juan lengah, Syiera langsung melepaskan diri dari lelaki yang mencoba melecehkan dirinya. Ia langsung mengikat kembali jubah handuknya yang sempat terlepas oleh Tuan Juan.


"Syiera ...," pekik Attar, ia mengepalkan kedua tangannya, ia begitu marah ketika melihat istrinya berada dalam kungkungan pria asing itu. "Siapa dia? Kenapa bukan Alex?"


"Malik! Kamu urus dia," titahnya sambil menunjuk pria yang bersama istrinya.


Sementara Attar, ia langsung menghampiri istrinya dan menarik tangannya secara paksa. Tak peduli pada orang sekitar yang melihatnya terus menyeret istrinya.


Syiera mencoba menghentikan langkah suaminya dengan terus menepiskan tangannya, tapi sepertinya cengkraman suaminya cukup kuat, sehingga ia tak bisa melepaskan tangannya.


Attar langsung membuka pintu mobil, dan mendorong tubuh Syiera untuk masuk. Di dalam mobil, Attar maupun Syiera tak ada yang mengeluarkan suara, mereka sama-sama menahan sesak di dada.


Attar menambah kecepatannya, ia kira istrinya akan protes, tapi nyatanya tidak. Syiera benci pada laki-laki yang kini sedang bersamanya, apa pun yang dilakukannya Syiera tak akan bercakap.


Hingga mereka sampai di rumah. Attar lebih dulu turun, ia langsung membukakan pintu untuk istrinya. Syiera malah diam saja, Attar kembali menarik tangannya.


Bi Ani yang melihat pun terheran-heran. Ada apa dengan majikannya?


Setibanya di dalam, tapatnya di kamar. Attar langsung menghempaskan tangan istrinya, ia begitu geram. Segitu murahannya istrinya itu, apa lagi setelah ia tahu ternyata dengan lelaki yang berbeda.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2