
Karena matahari mulai turun, Aleta bergegas keluar kamar. Di sana, ternyata sudah ada si Dam yang sudah menunggunya.
"Ayo, Al. Nanti ke buru sore," ajak Dam sambil menarik tangan Aleta dengan lembut. Mereka berdua mendahului pasutri yang sedang asyik bergelut di kamar.
"Honey ... Ayo bangun ...," seru Attar pada istrinya. Namun sayang, sudah beberapa kali Syiera dibangunkan tetap saja susah. Sebenarnya gadis itu tidak benar-benar tidur. Gadis itu sedikit malas, masih ada hari esok, pikirnya.
Attar tak bisa meninggalkan istrinya sendirian, akhirnya ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Ia pun menarik selimut, sampai batas dada, karena sedikit dingin baru selesai mandi.
Tiba-tiba, Syiera langsung memeluk tubuh suaminya. Wanginya ia suka, Syiera mengendus-endus tubuh suaminya melalui leher. Attar merasa geli.
"Kamu bohong, ya? Kamu gak tidur 'kan?" tuduh Attar.
"Hmm, besok saja ke pantainya. Aku lelah," keluh Syiera.
Karena tidak ingin kenapa-kenapa pada sang istri, Attar tak memaksa istrinya. Mendapat pelukan hangat dari Syiera membuat hasrat lelaki itu meronta-ronta.
Ke pantai tidak jadi, lebih baik ia pergi ke pantai yang lain yang ada hutan rimbanya. Sepertinya itu lebih seru, pikir Attar.
Tangan Attar mulai berkeliling, mengabsen setiap lekuk tubuh istrinya. Syiera menggeliat merasakan sensasi yang luar biasa. Bumil itu sangat menikmati ketika jari jemari suaminya memainkan sesuatu di dalam sana.
"Honey ... Kamu sudah basah." Sudah tau begitu, Attar melucuti pakainnya sendiri. Ia pun membuka semua pakaian istrinya, ia lempar ke sembarang arah. "Syiera ... Kenapa kamu nikmat sekali." Attar terus memompa tanpa cela. Syiera mengiringi irama gerakan suaminya.
Sesekali ia mendesah, Attar melakukannya dengan lembut. Karena lelah, Syiera tak bisa membalas. Ia hanya menerima apa yang suaminya lakukan. Ia mencengkeram seprai ketika akan mencapai puncaknya.
Attar terus bermain di atas sana, karena ia belum mencapai puncaknya. Tak lama dari situ, Attar mengerang hebat. Suhu tubuh mulai memanas, sangat-sangat melelahkan baginya. Ia pun ambruk di samping istrinya yang lebih dulu terpejam. Attar mencium kening istrinya.
"Terimakasih, sayang. Kamu selalu memberi kenikmatan padaku," kata Attar.
__ADS_1
Syiera langsung memeluk tubuh itu erat-erat. Dan mereka berdua pun akhirnya tertidur bersamaan. Tak peduli pada adik-adiknya, mereka membiarkan dua sejoli itu bersama. Akibat itu, mereka menjadi lebih dekat.
Gadis cantik dengan rambut pirang, mata berwarna cokelat menambahkan kecantikannya. Ciptaan Tuhan yang sangat sempurna, tubuh semampai menambah keunggulan pada gadis itu.
Aleta sudah berdiri di tepi pantai, ia memandangi matahari yang mulai membenam diri ke ujung laut. Indah mana lagi yang mereka dusta 'kan.
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Aleta terperanjat kaget, ia benar-benar tak menyangka dengan aksi pria itu, ya, dia seorang pria. Siapa lagi kalau bukan Dam yang memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan, Dam?" Dam sudah membuat jantung Aleta bedegub kencang.
Aleta membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan pelukkan itu. Kini mereka saling menatap satu sama lain. Entah terbawa suasana atau memang keduanya saling memiliki rasa. Aleta membalas pelukan pria itu
Apa gadis itu mulai egois? Dengan sikapnya yang seperti ini, tentu akan ada hati yang terluka. Aleta sadar akan hal itu, tapi ia juga tidak bisa menyangkal kalau ia memang sudah mencintai Dam. Lalu bagaimana dengan perasaan Dam sendiri? Apa pria itu akan berkhianat.
Aleta tak bertanya akan perasaan Dam padanya, cukup mendapat perlakuan manis dari pria itu, Aleta cukup mengerti. Aleta hanya mengikuti alur yang diberikan oleh Dam.
Dam, sepertinya ia juga memiliki rasa pada gadis itu. Dam tidak akan menyatakan cintanya pada Aleta, ia pikir tak perlu pengakuan darinya. Karena response gadis itu cukup sebagai jawaban.
Mereka pun kembali ke villa dengan tangan yang saling menggenggam. Apa mereka pacaran? Tak ada pernyataan cinta dari Dam atau pun Aleta. Mereka hanya menikmati liburan bersama, entah sepulang ini mereka akan lanjut atau tidak.
Yang pasti, Aleta masih dalam kesadarnnya. Ada Alea di samping Dam, ia tak akan merebut Dam dari Alea. Gadis itu hanya tak menyia-nyiakan kebersamaannya dengan pria yang telah mengusik relung jiwanya. Bisa dibilang, mungkin mereka TTM.
Mereka pun akhirnya sampai di villa. Melihat villa itu masih nampak sepi, kemana penghuniny? Bahkan makanan sudah tertata rapi di atas meja makan. Makan malam sudah disiapkan oleh pekerja yang ada di villa.
Dam dan Aleta pun berniat menghampiri kamar kakaknya. Setibanya di depan pintu kamar yang di tempati oleh Syiera dan Attar. Kini keduanya malah saling merintah.
"Kamu aja deh yang bangunin mereka," kata Dam. Dam menyangka kalau kakaknya pasti ketiduran, atau apalah yang membuat mereka tak keluar kamar.
__ADS_1
Akhirnya, Aleta yang mengalah. Belum Aleta mengetuk pintu. Syiera sudah membuka pintu lebih dulu, Syiera terkejut mendapati adik-adiknya yang sudah berada di depannya.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Syiera.
"Mmm, itu Kak. Kami mau mengajak Kakak makan malam," jawab Aleta. Gadis itu masih canggung akan kejadian di mobil tadi yang ketangkep basah karena ulah Dam.
Syiera semakin curiga pada Aleta dan Dam, apa lagi sekarang mereka berdua ada di tempat yang sama. Apa jangan-jangan mereka sudah pergi bersama? Pikir Syiera.
Tak mau ambil pusing, Syiera membiarkan masa muda mereka. Toh masih pada lajang, pikirnya. Tidak mungkin juga kalau mereka ada hubungan serius, karena ia tahu rencana ibunya yang akan menikahkan Dam dengan Alea. Kalau begitu Aleta harus siap dengan kenyataan yang ada, pikirnya lagi.
Tak lama dari situ, Attar keluar dari kamar. Ia melihat semua kumpul di depan pintu.
"Ada apa? Kenapa pada kumpul di sini?" tanya Attar.
"Mereka mengajak kita makan malam," jawab Syiera. Syiera pun melangkah meninggalkan mereka lebih dulu, ia langsung menuju ruang makan. Karena bumil itu sudah sangat kelaparan. Tanpa menunggu yang lain datang, Syiera langsung mengambil nasi serta lauk pauknya ke dalam piring yang ia pegang.
Tak lama dari situ, yang lain menyusul.
"Ya elah, Kak. Kenapa gak nunggu kita dulu sih!" celetuk Dam yang baru saja tiba.
Syiera tak ingin berdebat dengan adiknya itu. Ia langsung melahap makanannya. Attar terkekeh melihatnya.
"Makan yang banyak, agar bayi kita mendapat nutrisi dan gizi yang cukup," kata Attar.
Aleta dan Dam langsung mendudukkan tubuhnya di kursi. Tapi tidak dengan Attar, pria itu menuju dapur. Ia membuat susu untuk Syiera terlebih dulu. Selesai membuat susu, ia baru ikut bergabung dengan yang lain.
"Makasih ya, sayang," ujar Syiera ketika Attar meletakkan susu di atas meja, tepat di sampingnya.
__ADS_1
Attar pun duduk, lalu makan bersama mereka.
bersambung