Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
45


__ADS_3

Dam yang merasa dipelototi oleh Aleta, merasa heran. Apa maksud dari tatapan tajam itu? Karena sudah ada Malik, Attar pun langsung memberikan kunci mobilnya pada Malik. Malik pun menerimanya.


"Hati-hati, Pak!" ucapnya pada Attar, namun matanya teralih pada Aleta.


Dam pun melihatnya. "Kenapa orang itu menatap Aleta seperti itu?" Tak ingin kecurigaannya berlanjut, Dam mengacuhkannya.


"Ayo kita segera ke sana," ajak Syiera pada Attar.


"Ok, Malik! Saya berangkat. Oh iya, jika saya tidak ada nanti, tolong jaga Aleta, ya?" pesan Attar pada Malik.


"Maksud Kakak apa bilang begitu? Emang Kakak mau kemana?" tanya Aleta. "Keinginan Kakak itu seperti permintaan terakhir saja." Aleta mengerucutkan bibirnya, ia tak suka apa yang diucapkan kakaknya itu.


"Iya, kamu aneh! Ngapain titip Aleta pada Malik? Aleta 'kan pergi sama kita," jelas Syiera.


"Sekalian aku titip istriku juga," ucap Attar kembali, namun kali ini sambil tersenyum. "Umur gak ada yang tahu." Setelah mengatakan itu, Attar pun pergi bersama keluarganya menuju Bandara.


Sesampainya di sana.


"Aku gak suka sama kata-katamu tadi! Kamu tega ninggalin aku dalam keadaan hamil!"


Attar pun memeluk istrinya. "Aku hanya becanda, jangan ditanggepin."


Entah kenapa pikiran Syiera jadi tidak enak. Tidak ingin memikirkan hal yang buruk, lebih baik ia berdoa. Semoga semua dalam lindungan Tuhan, semoga perjalanan lancar, pikirnya.


Mereka berempat sudah naik ke dalam pesawat. Duduk di kursi masing-masing. Syiera senang, ini pertama kali ia naik pesawat bersama suaminya, begitu pun dengan Attar, keduanya saling bersandar. Syiera melingkarkan tangannya di tangan suaminya. Mereka benar-benar romantis bukan?


Siapa sangka kalau dulu Syiera sangat membenci suaminya, tapi pada kenyataannya, cintanya berlabuh pada dokter tampan. Dokter yang menjadi OB, demi mengejar cintanya Syiera.


Sementara di kursi yang lain, tentunya Aleta dan Dam. Mereka duduk di belakang kursi Attar dan Syiera. Aleta sibuk dengan pemikirannya sendiri, ia masih kepikiran akan ucapan kakaknya tadi. Perasaannya mulai gelisah.


"Kamu kenapa, Al? Gak tenang banget." Dam yang sedari tadi memperhatikan gadis yang ada di sebelahnya. "Apa kamu menginginkan sesuatu?"


Aleta menggeleng sebagai jawaban. Lalu apa yang membuat gadis itu gelisah, pikir Dam. Bukankah ia sudah terbiasa naik pesawat, pasti bukan itu penyebabnya. Apa Aleta melihat tatapan Malik tadi? Pikirnya lagi.


"Apa kamu mikirin Malik?" tebak Dam. Dam penasaran saja apa yang membuat Aleta begini.

__ADS_1


"Kenapa kamu tanya soal, Malik? Ada memang dengannya?" Mendengar nama Malik, Aleta jadi teringat akan kejadian waktu ia pingsan.


"Dam ... Apa kamu bisa jelaskan kenapa bisa Malik yang menolongku? Terus, kenapa kamu yang menemaniku waktu itu?"


"Oh, waktu itu aku mau bilang padamu, tapi kamu keburu memelukku, jadi gak jadi bilangnya. Dan kenapa aku bisa ada bersamamu. Kak Attar menyuruhku menemanimu," jelas Dam panjang lebar.


"Aku kira ..."


"Kira apa?" Dam langsung memotong ucapan Aleta.


"Gak! Gak apa-apa. Itu gak penting." Dengan acuh, Aleta tak mempermasalahkan itu. Ia memang harus mengubur perasaanya dalam-dalam.


Ketika Aleta akan menyiapkan diri untuk patah hati, tiba-tiba ... Dam menautkan jari jemarinya ke tangan Aleta. Sontak, itu membuat Aleta terkejut. Apa maksudnya ini? Apa Dam memberi harapan palsu padanya.


"Kenapa?" tanya Dam ketika Aleta akan melepaskan tangannya. Jangan bilang kalau Aleta tak ingin ia sentuh, selama hidup, Dam belum pernah menerima penolakan. Meski ia sering menolak gadis-gadis yang akan mencoba mendekati dirinya.


Dam rasa, seperti ini. Aleta pasti sering, pikirnya. Apa lagi ia tahu kalau Aleta tinggal di Amerika.


"Lepasin, Dam ... Aku gak mau ketahuan lagi," keluh Aleta. "Aku takut Kakakmu berpikir yang tidak-tidak. Apa lagi kamu sudah memiliki kekasih."


Mendengar kekasih, Dam jadi ingat Alea. Tak lama, Dam pun melepaskan pegangannya. Dam benar-benar lupa pada Alea, jika sedang bersama Aleta. "Kenapa aku selalu lupa pada Alea jika sedang bersamanya?"


Attar langsung menyiapkan semua kebutuhan di sini.


"Kita nginap di hotel mana?" tanya Syiera pada suaminya, yang sedang berjalan menuju mobil yang sudah siap menjemputnya.


"Ngapain tidur di hotel? Kak Attar punya villa di sini, Kak," jelas Aleta.


Syiera langsung melongo tak percaya, bener suaminya mempunyai villa di sini? Kenapa tidak bilang padanya, tahu begitu Syiera minta dari dulu, apa lagi mereka belum bula madu.


"Kok, ga bilang sih!" Syiera sedikit kesal pada suaminya.


"Kamu gak pernah minta diajak sih," ledek Attar.


"Ih ... Nyebelin," ucapnya sambil menyubit pinggang suaminya.

__ADS_1


"Aaww ... Sakit," pekik Attar yang merasa sakit akbitan cubitan dari istrinya.


Aleta terkekeh melihatnya. Ia jadi senyum-senyum sendiri. Apa pun yang terjadi pada Aleta, tak luput dari penglihatan Dam.


"Baper, pengen ya?" ledek Dam ketika Aleta terus tersenyum ke arah kakaknya.


"Apaan, sih! Gak jelas!"


Mereka berempat sudah naik mobil, di jemput oleh supir yang bekerja di villa.


"Apa kabar Tuan, lama tak berjumpa," sapa Tono sang supir.


"Baik, Pak," jawab Attar.


Tak lama dari situ, mereka pun sampai. Villa yang sangat luas, pemandangannya sangat indah. Tempatnya tak begitu jauh dari pantai. Pantai masih bisa terlihat dari Villa, karena posisi villa itu menghadap ke laut.


Syiera merentangkan tangannya ketika sudah ada di taman Villa, ia menghirup udara segar di sana. Karena sudah sore, mereka pun langsung masuk ke kamar masing-masing.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Syiera untuk tidur, karena gadis itu memang sangat mudah tertidur. Di mana pun dan kapan pun. Attar sudah tidak heran lagi dengan istrinya, ia membiarkan Syiera untuk istirahat.


Sementara ia, ia memilih untuk mandi terlebih dulu, niatnya sore ini ia akan mengajak istrinya menikmatai matahari tenggelam. Karena cuaca hari ini sangat mendukung.


Aleta, setelah membereskan baju-bajunya ke dalam lemari, kini ia pergi ke luar balkon kamarnya. Kamarnya ternyata bersebelahan dengan kamar Dam. Aleta melihat, Dam ternyata ada di luar juga. Aleta memperhatikan Dam yang sedang anteng dengan ponselnya, dilihatnya Dam tersenyum sendiri dengan ponselnya.


Aleta berpikir, mungkin Dam sedang menghubungi kekasihnya, udara sore mulai terasa, angin yang sedikit kencang meniup rambut-rambut Aleta.


Ketika Aleta sibuk dengan rambut yang beterbangan karena tertiup angin. Dam melihat pemandangan itu. Gadis itu sangat terlihat cantik jika rambutnya sedikit berantakan.


Aleta merasa dingin, ia pun berniat masuk kembali ke kamar, tapi sayang langkahnya terhenti kala Dam memanggil namanya.


"Al ..." teriak Dam


Aleta pun menoleh. "Apa?"


Dam menunjuk ke arah pantai dengan jarinya, pria itu mengajaknya ke sana. "Lihat sunset," ajaknya kemudian.

__ADS_1


Aleta tersenyum, lalu mengangguk.


bersambung


__ADS_2