Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
73


__ADS_3

Pintu kamar terkunci dari dalam, membuat Malik tak bisa masuk. Malik terus mengetuk pintu hingga beberapa kali, tapi sayang, sang istri tetap tak membuka pintunya.


Kalau sudah begini, Malik tidak bisa memaksa Aleta untuk membuka pintunya. Ia juga tak ingin mengganggu penghuni kamar yang lain, apa lagi kamarnya bersebelahan dengan kamar kakak iparnya.


Akhirnya, Malik pun pergi. Pria itu kini tengah merenung di taman belakang, memikirkan nasib pernikahannya. Cukup lama ia berada di taman belakang, rasa kantuk mulai menyerang, ia pergi ke kamarnya. Harusnya ini malam pertama bagi Malik, tidur berdua dengan sang istri tercinta. Sayang seribu sayang, Malik tak seberuntung pengantin pada umumnya.


Sementara Aleta, wanita itu memilih untuk tidur. Ia belum bisa menerima Malik, tak ingin kejadian tadi terulang, Aleta tidak mengizinkan suaminya bermalam di kamarnya.


Hari esok pun tiba.


Tepat di jam tujuh pagi. Attar bersama Syiera sudah berada di meja makan.


Attar sedang sarapan, sedangkan Syiera, ia menikamati proses tumbuh kembang anaknya. Wanita itu tengah menyuapi Axel, Syiera akan meminta bantuan baby siter nanti, ketika anak keduanya lahir.


Selesai sarapan, Attar menggantikan istrinya yang sedang menyuapi Axel.


"Sini," kata Attar, ia mengambil tempat makan Axel yang sedang dipegang oleh istrinya, dan Syiera pun memberikannya. Attar mulai menyuapi anaknya, Axel terlihat sangat lahap sekali. Syiera pun mulai sarapan, setiap kali sarapan mereka selalu seperti ini, bergantian mengurus Axel.


"Kenapa Aleta dan Malik belum keluar dari kamar?" ucap Syiera di sela-sela kunyahannya.


"Biarkan saja, mungkin mereka lagi menikmati masa pengantin baru," sahut Attar.


Sayang sekali, dugaan Attar meleset jauh. Pangantin baru itu malah pisah kamar.


Tak lama kemudian, Malik datang dari arah kamar yang biasa ia tempati. Dan Syiera melihatnya.


"Itu Malik, tapi kenapa ia datang dari sana?" Syiera berucap sambil mengarah pada Malik.


Attar pun menoleh, dan benar saja adik iparnya itu muncul dari arah belakang.


"Apa jangan-jangan mereka tidak tidur sekamar?" tanya Attar pada istrinya.


Syiera mengangkat kedua bahu sebagai jawaban. Malik pun mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, ia ikut sarapan bersama kakak iparnya. Sudah terbiasa seperti itu setiap harinya.


"Kenapa Aleta belum bangun? Apa kalian tidur terpisah?" tanya Attar.

__ADS_1


Malik bingung harus jawab apa. Masa iya harus jawab karena Aleta tidak mengizinkannya masuk dan mengunci pintunya dari dalam. Sebisa mungkin Malik mengelak.


"Iya, Aleta belum bangun. Semalam ia tidur begitu nyenyak, dan aku lebih dulu terbangun. Pagi-pagi kembali ke kamar karena mengambil baju," jawab Malik berbohong.


Dan Attar percaya begitu saja.


Disaat sedang aysik sarapan, mereka langsung menghentikan sarapannya. Semua mata tertuju pada seseorang yang sedang menuruni anak tangga. Suara dari gesekan koper dengan lantai terdengar di pendengaran mereka. Karena posisi meja makan tepat berhadapan dengan anak tangga.


Attar langsung bangkit dari duduknya, ia menghampiri Aleta. Ya, Aleta yang turun dari tangga sambil menyeret koper. Rencananya ia akan kembali ke Amerika hari ini juga, tanpa mendiskusikan ini dengan Malik.


"Kamu mau kemana, Aleta?" tanya Attar. Attar begitu bingung, ia melihat ke arah Malik lalu ke arah Aleta. Bukankah semalam mereka baik-baik saja? Apa ada masalah? Attar sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Pasalnya, Malik tidak bilang apa-apa pada Attar.


"Aku akan ke Amerika, hanya satu minggu, Kak. Setelah itu, aku akan kembali ke sini. Aku ada klien penting, dan ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Aku sudah terlanjur tanda tangan untuk membantu klienku," jelas Aleta.


Attar tidak bisa mencegah kepergian Aleta, karena ini menyangkut masalah pekerjaannya.


"Kamu pergi bersama Malik 'kan?"


"Malik harus ikut, dia suamimu sekarang!"


"Iya, Kak. Dia ikut," jawab Aleta. Padahal tadinya ia akan pergi sendiri. Tapi sekarang, ia pun harus pergi bersama Malik suaminya.


Malik tidak tahu akan keberangkatan istrinya. Ia hanya melihat ke arah koper dengan nanar.


Aleta pun menghampiri suaminya, ia berlaga baik di depan kakaknya.


"Dia ikut, Kak. Semalam aku sudah membicarakan masalah ini dengannya, iyakan?" kata Aleta sambil menatap ke arah Malik. Dan Malik hanya mengangguk, ia tak protes akan keberangkatannya ke Amerika. Ia tak ingin membuat mood istrinya berantakan dan sikapnya jadi semakin lebih buruk padanya.


Karena Aleta sudah memberikan kejelasan, Attar pun merasa lega. Setidaknya adiknya itu akan pergi bersama suaminya.


Karena Aleta sudah duduk di sampingnya, dengan sigap Malik mengambilkan sarapan untuk Aleta, ia tak mengapa dengan sikap istrinya yang sedang bersandiwara di depan kakaknya. Namun, Malik begitu tulus pada Aleta. Aleta menikmati sarapannya, kepedulian Malik tak dilirik sedikt pun.


Selesai sarapan, Malik langsung bergegas ke kamarnya. Ia mengemas baju-bajunya ke dalam koper. Tak lama kemudian, ia pun kembali sambil menyeret koper.

__ADS_1


Sebelum pergi, Aleta menciumi Axel terlebih dulu. "Aunty pergi dulu ya, sayang?"


Malik tersenyum melihat Aleta yang menyukai Axel. Mungkin jika mereka sudah memiliki anak, Aleta pasti menyayangi anaknya seperti menyayangi Axel. Pikir Malik.


Setelah berpamitan, Aleta dan Malik pun pergi. Aleta benar-benar menyiapkan kepergiannya, sudah ada taxi online yang sudah menunggu di luar rumah. Dan mereka pun masuk ke dalam mobil tersebut.


Jiuusss, mobil pun melaju.


Kini, mereka sudah sampai di Bandara. Tak ada percakapan diantara mereka, dari mulai di dalam mobil dan sampai tiba di Bandara pun tetap tak ada suara.


Malik bukan seperti seorang suami jika terlihat seperti ini. Malik begitu kerepotan dengan bebawaanya, Malik malah terlihat seperti kacung.


***


"Bawa semuanya masuk," kata Aleta pada Malik.


Mereka sudah sampai di apartemen Aleta yang berada di Amerika. Aleta lebih dulu masuk ke dalam, sementara Malik ia masih berada di ambang pintu. Harus berapa lama ia bersabar dengan sikap istrinya?


Walau pun begitu, Malik menuruti apa yang diperintahkan istrinya. Ia bukan lemah, atau takut pada istri. Malik hanya tidak ingin memperkeruh keadaan, mungkin dengan bersabar, hati Aleta akan terbuka untuknya.


Cukup sekali, Malik merasakan kehilangan orang yang dicintainya. Ingat betul di mana Malik hampir kehilangan nyawanya karena seorang wanita, dan itu sebabnya, ia tak pernah berhubungan dengan wanita mana pun.


Dan sekarang, Malik kembali membuka hatinya. Ia mencintai istrinya sekarang, sebisa mungkin ia akan menjaga wanitanya. Apa pun hambatannya, ia harus bisa bertahan. Walau begitu menyakitkan.


"Kenapa masih diam di situ?" Aleta begitu nampak kesal pada Malik. Sedikit saja Malik salah, ia akan memperbesar masalah. Itulah Aleta, wanita yang dulunya lemah lembut berubah menjadi sangar. Dan itu terjadi karena patah hati.


Malik langsung terkesiap dari lamunanya. Ia pun buru-buru masuk ke dalam, dan meletakan koper di kamar Aleta. Hanya ada satu kamar di sana, Malik pun membawa kopernya ke dalam kamar. Namun keburu dicegah oleh Aleta.


"Kopermu taruh saja di sini, jangan dibawa ke kamarku!"


Aleta tak mengizinkan Malik membawa kopernya. Lagi-lagi, Malik pasrah. Terserah Aleta sajalah, Malik tidak ingin berdebat.


Bingun, Malik hanya celingak celinguk. Lalu, ia pun mengistirahatkan tubunya di sofa.


Sementara Aleta, wanita itu sudah masuk ke dalam kamarnya. Mereka pun tidur dengan tempat terpisah. Aleta benar-benar tak mengizin Malik berada di dekatnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2