Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
48


__ADS_3

Dam mengejar Aleta, ia takut gadis itu pergi jauh-jauh. Tapi ternyata, Aleta hanya duduk di balkon. Memandangi bintang-bintang yang bertaburan di atas langit sana.


Dam pun ikut duduk bersama gadis itu tepat di sampingnya. Aleta langsung bersandar di pundak Dam. Dam mengelus rambut Aleta secara asal, berduan dengan Aleta membuatnya nyaman.


Selama ini, Dam tak seperti ini bersama Alea. Karena mereka pacaran dengan jarak jauh, sekalinya bertemu langsung ditinggal lagi.


"Kamu kenapa, Al?" tanya Dam ketika melihat Aleta terus memandangi bintang.


"Apa benar, kalau orang sudah meninggal ada diantara bintang-bintang itu?" tanya Aleta sambil menoleh ke arah Dam.


"Bisa jadi," jawabnya. "Tapi aku lebih suka bintang yang nyata," bisiknya di telinga Aleta.


"Bintang nyata." Aleta mengulangi kata Dam. "Bintang seperti apa yang kamu maksud?" tanyanya kemudian.


Dam merubahkan posisinya, begitu pun dengan Aleta. Gadis itu sudah tidak bersandar lagi, karena Dam sekarang tengah memandangi wajah Aleta.


"Kamu, bintangnya kamu, Al."


Seketika wajah Aleta memerah, ia merasa Dam tengah menggombal.


"Gak lucu! Aku gak mau jadi bintang!" cetus Aleta. Gadis itu membelakangi pria yang tengah menggombali dirinya.


"Kenapa? Bukankah bintang itu sangat cantik. Lihat! Sinarnya pas." Kata Dam sambil menunjuk bintang di atas langit.


"Bintang hanya muncul di malam hari, itu pun ketika cuaca lagi cerah. Kehadiran bintang hanya sesaat, Dam." lirih Aleta.


Berarti kalau Aleta berpikir seperti itu, tandanya Dam benar-benar hanya sesaat untuknya. Aleta pun tersenyum getir menanggapi perkataan Dam yang menganggapnya seperti bintang.


"Kamu mau kemana, Al?" Dam melihat Aleta beranjak.


"Sudah terlalu malam, aku ngantuk. Aku ke kamar dulu, ya? Aku rasa mereka sepertinya sudah tidur." Mereka yang dimaksud Aleta mungkin Attar dan Syiera yang sedang berlayar menyebrangi lautan.


Dam pun ikut berdiri, tak ada gunanya sendirian di sini.


"Aku juga ke kamar 'lah." Dam berjalan mendahului Aleta.


Sementara Aleta, gadis itu memandangi punggung Dam, perlahan tapi pasti. Dam semakin menghilang dari pandangannya.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Matahari mulai menampakkan diri, sedikit-sedikit cahayanya mulai menerangi bumi.


Seorang gadis tengah berlari-lari di tepi pantai, menikmati suasana pagi. Gadis itu pun berhenti, menghirup udara segar di sana. Sambil memandangi sunrise.


Hanya Aleta seorang diri di sana. Sepertinya yang lain masih terlelap, pikirnya. Namun, siapa sangka. Dibalik kesendiriannya ada seorang pria tengah mengamati dirinya, siapa lagi kalau bukan Dam. Dam benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama gadis itu.


Mungkin jika ia sudah menikah nanti, Dam benar-benar akan kehilangan sosok Aleta. Dam sudah tahu dengan rencana Dania, sang ibu. Dam mendapat ijin ke Bali bersama sang kakak, karena Dania memberikan syarat padanya. Jangan mengecewakan Alea, apa pun yang terjadi. Dania tahu, kalau Dam memiliki perasaan pada Aleta. Dania pernah melihat Dam memandangi poto Aleta melalui ponselnya, sampai Dam tertidur waktu malam-malam.


Ketika Dam sedang asyik memandangi Aleta, Syiera datang menghampiri. Syiera melihat ke arah di mana Dam memandang.


"Kamu suka pada Aleta?" tanya Syiera.


Dam mengangguk tanpa melihat ke arah siapa yang sudah bertanya padanya. Ketika Dam menyadari akan hal itu, Dam langsung membantah.


"Gak! Aku hanya menganggap teman," elak Dam.


"Mungkin lidahmu bisa berbohong, Dam. Tapi itu, itu tidak bisa berbohong." Syiera menunjuk ke arah mata adiknya itu.


Hingga Dam hanya bisa memalingkan wajahnya. Pria itu tak bisa mengelak lagi, akhirnya ia mengakui perasaannya pada sang kakak.


"Ini rahasia ya, Kak. Aku gak mau kalau sampai Alea tahu," pesan Dam.


"Kamu gila, Dam. Aleta tahu perasaanmu?"


"Tidak, Dam! Kamu hanya akan menyakiti Aleta, Kakak gak mau kalau suami Kakak tahu akan hal ini." Syiera tak bisa mengijinkan itu. Bagaimana pun Aleta adik dari suaminya. Suaminya bisa marah, mungkin akan berakibat pada rumah tangganya.


"Sebaiknya kamu fokus saja pada Alea. Apa kamu juga ingin menghancurkan persahabatan Momy dengan Aunty Lisa? Akan ada banyak orang yang terluka dengan perasaanmu pada Aleta, Dam. Sebelum semuanya terlambat!" ucap Syiera sambil menepuk bahu adiknya. Setelah itu Syiera pun pergi meninggalkan Dam seorang diri.


Awalnya Syiera tak melarang kedekatan Dam dengan Aleta, karena ia kira. Perasaan adiknya itu hanya sekedar teman biasa. Tapi setelah tahu yang sebenarnya, Syiera tak bisa membiarkan itu.


***


Kini mereka berempat sudah berkumpul untuk sarapan. Syiera sesekali melihat ka arah Dam, apa pria itu mematuhi perkataannya. Dilihatnya, Dam begitu fokus dengan sarapannya. Begitu pun dengan Aleta, karena Aleta tak ingin menjadi bintang seperti apa kata Dam semalam.


Sarapan pun begitu hening, hanya suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.


Sarapan pun selesai. Mereka menikmati liburannya masing-masing, entah mereka akan pergi kemana hari ini. Syiera dan Attar menikmati baby moon berdua.


Waktu begitu cepat berlalu, liburan telah usai. Kini saatnya mereka kembali ke ibu kota.

__ADS_1


Mereka pun tengah berada di awak pesawat, Syiera tertidur pulas, bersandar di pundak suaminya.


Sementara Aleta dan Dam, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Pesawat mendarat dengan sempurna, setibanya di Bandara. Malik, orang kepercayaan Attar sudah setia menunggu.


Malik menjemput bos berserta kleuarganya yang lain.


"Mana, Malik?" tanya Syiera pada suaminya.


Attar pun celingak-celinguk mencari keberadaan Malik, hingga matanya tertuju ke arah jalan, ia melihat Malik ada di sebrang jalan.


"Kenapa Malik ada di sana?" ucap Attar sendiri. "Aku kesana dulu, kalian tunggu sebentar di sini."


Syiera langsung menarik tangan suaminya, menghentikan langkahnya, Attar pun menoleh.


"Biarkan dia yang ke sini," cegah Syiera.


"Gak apa-apa, tunggu saja, ya?" Attar melepaskan tangan istrinya perlahan tapi pasti, Attar meninggalkan istrinya, dan menghampiri Malik yang ada di sebrang jalan.


Ketika sedang menyebrang. Tiba-tiba, dari arah berlawanan. Sebuah mobil besar tengah oleng, lalu ....


Brakk


Terdengar benturan keras, membuat Syiera dan yang lain menoleh ke arah sumber suara. Syiera tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tubuhnya langsung ambruk di tempat, apa ini yang di maksud perkataan suaminya yang kala itu berpesan pada Malik.


Sementara Aleta, gadis itu langsung menangis histeris. Kecelakaan itu membuatnya teringat akan kedua orang tuanya yang telah tiada. Tubuh Aleta lemas tak bertenaga, kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Matanya mulai berkunang-kunang, tak lama Aleta pun pingsan.


Dam yang bingung harus menolong yang mana, karena wanita itu pingsan bersamaan dengan Syiera sang kakak. Dam pun berteriak meminta bantuan pada orang sekitar.


Di tempat lain, Malik yang melihat kejadian. Pria itu langsung berlari menghampiri orang yang terkapar di tengah jalan. Darah yang mengalir lewat kepala Attar membasahi jalan aspal.


Seketika, orang-orang mulai berkerumun.


"Cepat bantu, telepon ambulans," seru orang yang ada di sana, hingga semua menjadi panik.


Ambulans pun datang.


Suara sirine pun bergema di sepanjang jalan. Tak lama, ambulans pun tiba di rumah sakit terdekat. Pasien langsung di bawa ke ruang darurat.

__ADS_1


Semetara pasien yang lain, yakni Syiera dan Aleta yang masih pingsan langsung di bawa ke ruang rawat.


bersambung.


__ADS_2