Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
85


__ADS_3

Mendengar pertanyaan absurd dari Dam membuat mata Malik mendilik. Harusnya dia yang lebih jago darinya bukan? Bahkan yang lebih dulu menikah juga, Dam.


"Bukan masalah caranya, punyamu saja tidak berpungsi," ledek Malik.


Medengar kebisingan membuat Aleta terhenti.


"Kalian kenapa sih? berisik banget!" cetus bumil yang merasa terganggu.


"Al ... Tolongin aku dong, aku terzolimi." Dam seolah minta perlindungan dari Aleta, pria itu bersembunyi di balik tubuh yang mulai subur itu.


"Derama! Awas! ... Jangan menyentuh istriku." Malik menarik tangan istrinya, agar menyingkir dari pria itu. Ia tak suka dengan sikap Dam yang seperti itu.


"Lihat, Al ... Suamimu cemburu," ucapnya pada Aleta. "Aku juga punya istri, Malik. Mana mungkin aku menyentuh istrimu."


"Sudah sudah! Malu tuh dilihat orang." Tunjuk Aleta pada orang sekitar.


Tak lama, mereka bertiga berjalan berbarengan menuju mobil. Setibanya di sana, Malik dan Aleta masuk dan duduk di kursi belakang.


"Hey hey hey ... Memangnya aku supir. Duduk di depan!" cetus Dam pada Malik. Namun Malik tak menggubris, ia malah masuk menyusul istrinya yang lebih dulu masuk ke dalam.


Dam menghela napas sejenak. Lalu, ia pun masuk di kursi kemudi, ia harus menerima nasib menjadi supir mereka hari ini.


Mobil melaju sesuai arahan. Aleta ingin ke rumah sakit langsung, bumil itu tetep kekeh pada pendiriannya. Malik menyarankan istrinya untuk istirahat dulu di rumah, namun ia tak mau.


Hampir setengah jam mereka di perjalanan, dan akhirnya mereka pun sampai. Dam lebih dulu turun, sedari tadi dirinya menggerutu tidak jelas.


"Kenapa dia?" tanya Aleta pada suaminya. Malik hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Dan mereka pun keluar dari mobil.


Setelah keluar, Malik melihat seseorang yang tak asing lagi baginya. Seorang pria tengah tergopoh mencari bantuan.


"Sus, suster," panggil orang itu.


"Iya, Tuan sebentar." Suster mendorong branker menuju mobil orang itu.


Sedangkan Malik terdiam di tempat. Sudah lama ia tak melihat sosok itu.


"Pappy," lirih Malik.


"Pappy." Aleta mengulangi ucapan suaminya, ia sangat terheran-heran.


Ya, yang dilihat Malik adalah pappy-nya. Malik lebih terkejut ketika ia melihat orang yang terbaring di branker. Sontak membuat Malik langsung menghampiri orang itu.


"Ma, Mama ...." Malik menangis sambil memeluknya.

__ADS_1


Ayahnya Malik belum menyadari kalau itu anaknya, pria itu malah diam sejenak. Malik langsung berdiri kembali, ia melihat ke arah ayahnya.


"Pi, apa yang terjadi pada Mama?" Malik menyentuh kedua pundak ayahnya sedikit menggucangnya. Sedangkan ayahnya Malik, pria itu senang sekaligus bahagia. Anak yang selama ini ia rindukan ada di depan mata.


"Tuan, pasien harus segera dibawa," ucap suster.


Ayah Malik yang bernama Moreno itu terkesiap, ia malah melupakan istrinya. "Iya, Sus." Moreno membantu suster mendorong branker tersebut.


Sedangkan Malik, ia kembali menghampiri istrinya yang sedang mematung.


"Ayo, sayang," ajak Malik.


"I-itu siapa?" tanya Aleta penasaran. "Apa mereka orang tuamu?" tanyanya kembali.


Malik mengangguk sebagai jawaban. "Nanti aku kenalkan kamu pada mereka, sekarang ayo kita masuk." Malik menarik tangan istrinya.


"Ternyata suamiku anak orang kaya." Aleta tak percaya dengan apa yang ia ketahui sekarang. Kenapa suaminya tidak pernah menceritakan akan keluarganya. Aleta sampai menyesal bahwa dulu ia pernah menyepelekan dan menghina suaminya.


Setibanya di dalam, Malik langsung bertanya pada ayahnya, apa yang sudah terjadi pada sang ibu.


Ketika ayahnya sedang gusar dan terus mondar-mandir di depan pintu ICU, tiba-tiba Malik bertanya. "Mama sakit apa, Pi? Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?" Malik pun jadi ikut panik ketika Moreno tak menjawab pertanyaannya. Moreno diam sejenak lalu mulai menjelaskan


Sebelum kejadian Mamanya Malik masuk rumah sakit.


Jonas dan Felisia sudah tiba di Indonesia. Mereka langsung menuju rumah Tuan Moreno yang tak lain adalah ayah dari Malik.


"Ke rumah Tuan Moreno."


"Untuk apa kita kesana? Feli cape, Dad," keluh Feli.


"Kamu cukup ikut saja, Feli. Daddy mau mencoba meminta Malik menjadi suamimu."


Feli membulatkan matanya, kenapa ayahnya itu sering menjodohkannya dengan anak-anak sahabatnya? Bahkan perjodohan itu sering kali gagal. Karena Feli selalu menolaknya.


"Daddy! Aku gak mau di jodohkan! Aku masih bisa mencari pasangan sendiri," protes Felisia.


"Harusnya kamu senang bukan dengan niat, Daddy? Kamu menyukai Malik 'kan?"


"Malik sudah punya pasangan, Daddy! Aku gak mau disebut sebagai orang ketiga." Feli cukup tahu dengan hal itu, karena ia pernah merasakannya. Sesama perempuan tentu ia tak ingin menyakiti kekasih Malik. Feli tahunya Malik belum menikah, jadi ia berkesimpulan bahwa orang yang bersama Malik waktu itu adalah kekasihnya.


"Mereka 'kan belum menikah, kamu masih ada kesempatan memiliki Malik!"


Feli sudah tak tahu lagi harus bagaimana menyikapi ayahnya itu.

__ADS_1


"Terserah Daddy sajalah!" Feli akhirnya diam. Membiarkan apa yang akan dilakukan ayahnya itu. Karena tetap ia bakal menolak perjodohan itu.


Perdebatan mereka berakhir di depan rumah tuan Moreno. Jonas dan Feli turun dari mobil. Moreno menyambut kedatangan sahabatnya itu. Karena Moreno sudah tahu akan kedatangan Jonas.


"Apa kabar Tuan Jonas?" tanya Moreno.


"Kabarku baik." Mereka pun berpelukan.


"Waah ... Ini pasti Felisia?" tebak Moreno


Feli mangangguk tersenyum malu-malu.


"Ayo ayo, masuk," ajak si pemilik rumah.


"Ma, Mama ... Ada tamu nih." Moreno memanggil istrinya.


Istri Moreno pun datang. Dan langsung menyapa tamu sekaligus sahabat suaminya. Setelah itu, ia menuju dapur niat membuatkan minuman. Karena asistennya sedang ke pasar, ia pun membuatnya sendiri.


"Bagaimana, Malik?" tanya Moreno kemudian.


"Dia baik, Ren. Kedatanganku kesini ingin meyampaikan sesuatu, aku tak ingin Malik mencoreng nama baik keluargamu," kata Jonas.


"Maksudmu?"


Jonas menceritakan apa yang ia ketahui, sampai sedikit mengada-ngada tentang Malik. Itu semua ia lakukan untuk memperlancar rencananya.


Namun disaat Jonas sedang bercakap tiba-tiba ...


Prraang


Sebuah gelas terjatuh dari nampan.


"Tidak! Malik tidak mungkin seperti itu!" Mama Malik yang bernama Frita itu begitu shock mendengar kabar tentang anaknya. Frita menyentuh dadanya yang terasa sesak. "Anakku tidak mungkin mempermalukan keluarga." Karena sudah tidak bisa lagi menahan beban tubuhnya, Frita jatuh pingsan, dan langsung dilarikan ke rumah sakit.


"Jadi semua ini karena Uncle Jonas? Di mana dia sekarang?" Malik nampak emosi dengan pernyataan Jonas yang mengada-ngada.


"Apa Pappy percaya dengan omonganny?"


Moreno tidak bisa menjawab. Setengah hati ia ragu akan kata Jonas, tapi di sisi lain, ia juga melihat dengan kepala matanya sendiri bahwa anaknya tengah bersama wanita sekarang. Apa wanita itu yang dimaksud Jonas? Moreno melirik ke arah Aleta.


Sedangkan Aleta belum berani mendekat, wanita itu malah menundukkan wajahnya. Ia baru kali ini melihat suaminya sangat emosi, ia pun jadi takut sendiri.


Karena Moreno menatap Aleta. Malik pun menghampiri istrinya.

__ADS_1


"Pi, dia istriku! Jadi Pappy jangan percaya sama omongan Uncle Jonas."


Moreno tertegun mendengar ucapan Malik.


__ADS_2