
Kini, Syiera sedang bersama bi Ani di kamar. Bi Ani sedang membantu majikannya membereskan baju-bajunya ke dalam koper.
"Apa ada lagi yang harus dibereskan?" tanya bi Ani pada Syiera. Syiera nampak berpikir, sepertinya sudah siap semua.
"Coba Bibi ke kamar Aleta, apa dia sudah siap? Saya mau menghubungi Dam dulu." Ketika Syiera akan menghubungi adiknya. Dam lebih dulu sampai di rumahnya, ia pun meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
"Gercep banget anak itu." Syiera pun menemui adiknya yang sedari tadi memanggil-manggil namanya.
"Apa sih, Dam ... Jangan teriak-teriak, Kakak gak budeg," omelnya pada Dam.
Tak lama, Aleta pun keluar kamar bersama bi Ani, gadis itu menyeret koper. Dam yang melihat langsung membantu Aleta, Aleta mencoba menahan kopernya. Gadis itu tidak ingin merepotkannya.
"Gak apa-apa, Al. Biar Dam yang menyimpannya di mobil," kata Syiera. Syiera tidak tahu saja apa yang dirasakan adik iparnya itu, melihat Dam berdiri di depannya saja sudah membuat jantung Aleta menari-nari. Aleta pun terpaksa memberikan koper itu pada Dam.
Ketika Dam keluar, dan meletakkan koper di bagasi mobil. Attar datang menghampirinya.
"Semua sudah siap, Dam? Tidak ada yang ketinggalan 'kan?" tanya Attar.
"Sepertinya sudah, Kak. Jam berapa kita berangkat?"
Belum Attar menjawab, sang istri sudah keluar. Bumil itu nampak bahagia sekali, kehamilannya cukup baik dan bersahabat. Sudah tidak ada keluhan, hanya saja Attar lebih sering merasakan mual.
"Aleta mana? Kok lama sekali dia," kata Syiera yang sudah menunggunya di luar. Mereka akan segera berangkat berlibur ke Bali, tapi Aleta belum menampakan batang hidungnya.
"Coba, Dam. Kamu temui Aleta di dalam, sedang apa dia? Kakak gak mau ketinggalan pesawat."
Dam pun menemui Aleta sesuai perintah kakaknya. Tidak ada siapa-siapa di dalam, kemana gadis itu? Lalu Dam melihat bi Ani. Dam langsung saja menanyakan keberadaan Aleta. Belum bertanya, Aleta lebih dulu memunculkan wujudnya.
Aleta turun dari tangga, ia melihat Dam bersama bi Ani. Tak lama, Dam pun melihat keberadaan Aleta.
"Al, dari mana saja? Kak Syiera sudah tidak sabar, tuh!"
Mendengar kata itu, Aleta mempercepat langkahnya. Tidak ingin membuat mereka terlalu lama menunggunya. Dam pun menyusul, ia sedikit berlari mensejajari dengan Aleta.
__ADS_1
Dam langsung menarik tangan Aleta, kenapa gadis itu tak menyapanya sedikit pun, ia menghubungi lewat telepon pun tak dijawab. Padahal waktu kemarin ia menginap, gadis itu baik-baik saja.
"Al ... Kamu kenapa? Apa aku punya salah padamu?" tanya Dam setelah berhasil menghentikan langkah Aleta, gadis itu pun membalikkan tubuhnya menghadap Dam. Tatapan mereka saling beradu.
"Kamu kenapa? Jangan seperti ini, tolong!"
Aleta bingung pada Dam, seperti ini apa maksudnya? Dari awal bertemu 'kan mereka memang tidak terlalu dekat. Tapi kenapa sekarang kerenggangan mereka dipertanyakan, Aleta juga bingung harus bagaimana?
Aleta takut semakin mencintai Dam jika terus bersamanya. Ingin menolak ajakan kakaknya dengan mengajak Dam. Tapi Aleta tidak bisa, bukankah Dam adik dari kakak iparnya. Tidak ada alasan yang kuat baginya mengiyakan Dam untuk tidak ikut.
Sementara di luar, Syiera terus melihat ke arah jam yang menempel di pergelangan tangannya. Ia sudah duduk di kursi mobil, menunggu dua orang di dalam sana.
"Lama banget mereka!" Syiera mulai tidak sabar, ia pun turun dari mobil. Ketika hendak turun Attar bertanya.
"Mau kemana? Tunggu saja sebentar lagi. Mungkin Aleta ada yang lupa," jelas Attar. "Penerbangan masih lama, kok."
Syiere melipat kedua tangan di dada, dengan bibir mengerucut, dan itu membuat Attar semakin gemas.
"Bukan begitu, takut di jalan macet. Coba bunyikan klakson, biar mereka tahu kalau kita sudah menunggu."
Attar pun membunyikan klakson mobilnya, tak lama Aleta dan Dam keluar. Dam tersenyum sendiri melihat Aleta yang langsung naik mobil. Apa yang terjadi diantara mereka barusan? Bahkan mood Aleta kembali seperti biasanya.
Mereka pun sudah berada di dalam mobil, karena semua sudah kumpul Attar langsung menancapkan gas dengan kecepatan sedang.
Aleta dan Dam duduk di belakang. Sesekali Dam melirik ke arah Aleta, tapi Aleta sama sekali tidak menoleh ke arahnya, Aleta fokus melihat ke arah jalan dari jendela samping.
Karena Aleta tak kunjung merubahkan posisinya, secara diam, Dam meraih tangan Aleta. Tentu tanpa sepengetahuan dua orang yang ada di depan. Aleta terkejut ketika tangannya ada yang menggenggamnya.
Aleta mencoba menarik tangannya kembali, tapi sayang, Dam terlalu kuat menggenggamnya sehingga Aleta kesulitan. Aleta langsung menajamkan matanya ke arah Dam. Tapi aksi mereka ketahuan oleh Syiera.
"Al, apa kamu mau cem-mi-lan, ini." Syiera menoleh ke belakang, ia sedikit terkejut melihat dua orang itu, Syiera juga melihat kalau Dam menggenggam tangan Aleta.
Aleta menarik paksa tangannya agar terlepas, apa lagi ia ketahuan oleh kakak iparnya.
__ADS_1
"Tidak, Kak. Aku masih kenyang," jawab Aleta, gadis itu menjadi canggung karena sempat terciduk. Akan tetapi Syiera tidak ingin ikut campur antara Dam dan juga adik iparnya.
"Mereka kenapa, ya? Apa mereka memiliki perasaan?" Syiera bergelut dengan pemikirannya, masa Dam bisa berpaling begitu cepat pada Aleta? pikirnya. Syiera pun menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa? Kepalamu pusing?" tanya Attar ketika melihat aksi istrinya.
"Gak, aku gak apa-apa," jawab Syiera cepat.
Sementara penumpang yang di belakang menjadi canggung. Tak ingin terciduk kembali, Dam memilih untuk memejamkan kedua matanya. Harus seperti ini mungkin agar tidak ingin terus menerus memandang wajah Aleta. Dam menjadi tak karuan begini.
Attar sesekali melihat ke arah belakang, ia curiga dengan adik-adiknya, ia mengira sikap Syiera barusan seperti itu, apa melihat sesuatu dari belakang. Tidak ada yang mencurigakan, malah Attar melihat Dam tertidur dengan posisi kepala bersandar ke samping, begitu pun dengan Aleta.
Tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, Attar fokus pada kemudinya. Setelah menempuh perjalanan satu jam, mereka pun sampai. Biasanya hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke Bandara, karena memang libur sekolah, jadi jalanan sedikit padat.
Attar memarkirakan mobilnya di tepi jalan, karena ia menyuruh orang untuk mengambilnya, siapa lagi kalau bukan Malik, orang kepercayaannya. Baru turun dari mobil, Malik sudah muncul.
"Malik, sudah di sini kamu?" tanya Attar. Malik pun mengangguk, lalu ia menoleh ke arah gadis yang ia tolong waktu itu. Malik menundukkan wajahnya sedikit memberi hormat pada adik bosnya tersebut.
"Al, kenalin. Ini Malik, yang menolongmu waktu itu," kata Attar.
Aleta merasa terkejut mendengar penuturan kakaknya. Kapan pemuda itu menolongnya? pikir Aleta, melihatnya saja belum pernah. Tak mau ambil pusing, Aleta pun mengulurkan tangannya.
"Terimakasih atas pertolongannya." Walau sedikit bingung dengan pertolongan yang mana.
"Sama-sama, waktu itu Nona Aleta pingsan. Mungkin Nona pasti tidak mengenal saya," jelas Malik.
"Iya, Al. Waktu kamu pingsan kemarin, 'kan dia yang udah nolongin kamu," timpal Syiera.
Aleta pun langsung menoleh ke arah Dam, jadi bukan dia yang sudah menolongnya? Kenapa Dam tidak bilang kalau bukan dia yang menolongnya!
Jadi, Aleta sudah salah paham. Dam tidak sebaik yang ia kira.
bersambung
__ADS_1