
Setelah selesai makan. Mereka bersantai di depan villa, menikmati keindahan malam. Deru ombak yang terdengar di pendengaran mereka, membuat Syiera ingin kesana.
"Ke pantai, yuk? Aku ingin jalan-jalan," ajak Syiera pada suaminya.
Attar pun mengangguk mengiyakan. Mereka berdua beranjak dari tempatnya, sebelumnya Attar pamit terlebih dulu pada Aleta.
"Al ... Kakak ke pantai dulu. Apa kamu mau ikut?"
Aleta menggeleng. "Aku gak mau jadi obat nyamuk, Kak." Aleta lebih memilih untuk tidak ikut. Mending di sini dari pada harus menyaksikan orang yang tengah di mabuk cinta.
Ketika Syiera dan Attar sudah benar-benar pergi. Dam mendekat ke arah Aleta. Aleta langsung menatap ke arah Dam.
"Tolong! Jangan beri aku harapan, Dam. Karena aku tahu, mungkin perasaanmu hanya sesaat untukku."
Dam semakin merapatkan diri dengan Aleta. Entah apa tujuan Dam seperti ini, apa Dam akan menyatakan cintanya pada gadis itu?
"Al, apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Dam ketika ia sudah duduk bersampingan dengan Aleta.
Aleta menggeleng. "Aku tak percaya cinta, Dam." Kenapa tak percaya cinta, tapi ia sendiri cinta pada Dam, dan itu Aleta bingung sendiri. Ketika ia mulai mencintai seseorang tapi malah cinta sama yang sudah jelas memiliki kekasih.
"Kenapa? Apa cinta bagimu terlalu menyakitkan?"
"Hmm, aku takut perasaanku terkhianati kembali," jawab gadis itu sambil menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
Dam merasa, sepertinya gadis itu pernah patah hati, Dam jadi ragu untuk mendekatinya, takut ia juga menyakiti perasaan gadis itu. Dam juga sadar kalau ia sudah memiliki Alea. Tapi perasaannya tidak bisa berbohong, kalau ia sedikit ada rasa pada Aleta.
"Kamu sendiri bagaimana hubunganmu dengan Alea? Apa kalian sudah lama menjalin hubungan? Sepertinya kalian sudah dekat ya dengan keluarga masing-masing?"
"Hmm, dia teman masa kecilku. Alea anak dari sahabat Momy," jelasnya pada gadis yang mulai kepo akan kehidupannya.
"Alea gadis beruntung, ya? Sepertinya kamu sangat mencintai Alea?" Sedikit cemburu didiri Aleta ketika menanyakan perihal itu.
"Dia gadis baik, Al. Justru aku takut menyakitinya." Sudah jelas dengan sikap Dam pada Aleta yang seperti ini, mungkin jika Alea tahu, gadis itu pasti kecewa pada dirinya.
__ADS_1
"Aku rasa, kamu sudah menyakitinya, Dam."
"Hmm, iya. Aku memang sudah menyakitinya," jawab Dam. Apa lagi ia sadar kalau setengah hatinya terbagi pada Aleta.
"Kamu sendiri juga sudah menyakiti Alea," kata Dam. Ia melihat cinta di mata Aleta untuknya.
"Iya, aku sudah jahat padanya." Aleta memalingkan wajahnya dari Dam. Rasa bersalah Aleta begitu besar pada kekasih Dam.
Mereka ternyata memang benar saling mencintai, tapi mereka sadar kalau mereka tak bisa bersatu. Dam bukan tipe orang yang suka menyakiti hati seseorang, apa lagi seseorang itu adalah kekasihnya sendiri.
Lalu bagaimana dengan Aleta? Gadis itu pasti sudah lebih dulu sakit hatinya, sebelum ia tahu kalau Dam tidak akan pernah menjadi miliknya.
"Lalu, apa rencanamu ke depan?" tanya Dam.
"Menajalani hidup seperti air mengalir," jawab gadis itu sambil menatap wajah Dam.
Dam tersenyum menanggapi jawaban Aleta, gadis yang unik. Kebanyakan, jika orang ingin mendapatkan sesuatu, maka orang itu akan menghalalkan segala cara untuk keinginannya tercapai. Tapi gadis ini, Aleta cukup tahu diri. Dan itu membuat Dam menyukainya. Apa mereka akan selamanya mencinta dalam seperti ini?
Udara malam ini cukup dingin. Sesekali, Aleta mengosok-gosokan kedua tangannya. Menghangatkan tubuhnya dengan cara seperti itu. Sebagai lelaki, tentu Dam tidak tinggal diam jika melihat seorang gadis kedinginan.
Tapi sayang, ponsel Dam berbunyi. Dan mereka berdua langsung tersadar, mereka berdua langsung menjauh. Rasa canggung melanda dikeduanya. Aleta menjadi salah tingkah, begitu pun Dam.
Dam beranjak dari tempatnya, ia menjawab panggilan itu. Ternyata Alea yang menghubunginya, kekasihnya Dam seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu.
"Iya, Al. Ada apa?" tanya Dam.
Aleta langsung mengarahkan pandangannya pada Dam, ketika mendengar Dam menyebut nama kekasihnya. Dam yang merasa diperhatikan oleh Aleta, ia langsung pergi. Menjauh dari Aleta, agar Aleta tak mendengar pembicaraan mereka. Dam tidak ingin membuat Aleta cemburu. Walau tidak ada alasan untuk Aleta cemburu.
Siapa Aleta? Bahkan mereka tak ada hubungan apa-apa. Mau marah? Apa alasan Aleta marah? Gadis itu hanya terdiam ketika Dam mulai menjauh dan menghilang dari pandangannya.
Aleta melepas jaket yang ia kenakan, mencium aroma dari jaket itu. Lalu, gadis itu pun pergi dan meninggalkan jaketnya di sana. Gadis itu kembali ke kamarnya. Mengunci diri merenungi kisah hidup yang tak semestinya mencintai kekasih orang.
Setelah menerima telepon dari Alea. Dam kembali, niatnya ingin menemui Aleta. Tapi sayang, si gadis sudah menghilang. Hanya menyisakan jaket Dam yang tergeletak di kursi. Dam pun mengambilnya.
__ADS_1
Dam masih terdiam di sana, menikmati hembusan angin menerpa tubuhnya. Ia sendiri tersenyum seperti orang gila. Kenapa bisa ada dua gadis yang tersimpan di hatinya. Ini sangat konyol, membayangkannya saja Dam tidak pernah.
Sementara di tempat lain.
Syiera sangat menikmati liburannya di sini. Bersama orang yang ia cintai, bersama ayah dari anak yang ia kandung saat ini.
Mereka berdua menelusuri tepi pantai. Berjalan bersama saling menggengam tangan, sesekali Syiera menyenderkan kepalanya di pundak suaminya. Karena lelah, Syiera pun minta berhenti di pondok kelapa yang condong ke arah pantai.
"Pegel, ya?" tanya Attar pada Syiera. Ia melihat istrinya mengusap-usap kakinya sendiri.
Syiera mengangguk. Lalu, Attar pun berjongkok tepat di depan istrinya.
Pria itu meraih kaki istrinya, memijatnya dengan lembut. Syiera sangat bersyukur atas pernikahannya. Darren sang ayah, pria itu tak salah menjadikan Attar menantunya.
Attar memang pantas untuk Syiera. Mungkin Syiera menjadi wanita yang paling bahagia saat ini. Ketika Attar masih memijat kakinya, Syiera langsung mengalungkan kedua tangannya di pundak suaminya. Mereka saling berhadapan.
"*I love you my husband."
"Love you to my wife*."
Kini mereka saling mendekatkan wajahnya, menyesap benda kenyal yang kini membuatnya menjadi candu. Pertautan itu pertamanya lembut sangat lembut. Lama-lama sedikit liar, ada yang menjalar di seluruh tubuhnya. Untung tempat ini sepi, jadi mereka sangat menikmati momen ini.
Merasa sudah tidak kuat, Attar langsung membopong tubuh istrinya. Membawanya ke villa. Pertautan itu tak terlepas sama sekali. Indahnya bercinta membuatnya ingin selalu menagihnya. Setibanya di villa, Attar langsung menuju kamar. Melanjutkan sesi panasnya di sana.
Desahan, lelungan Syiera dan Attar terdengar ke kamar sebelah. Aleta, gadis itu menutup telinganya rapat-rapat. Tak tahan mendengar itu, ia pun keluar.
Mencari ketenangan agar otaknya tak ikut traveling. Lagi-lagi, ia bertemu dengan Dam.
"Kamu mau kemana, Al? Ini sudah malam." Dam menduga, pasti gadis itu mendengar sesuatu di kamar sebelahnya. Karena Dam melihat adegan kakaknya barusan.
Aleta jadi kikuk sendiri. Masa iya Aleta harus menjawab apa yang ia dengar di kamar sebelah. Malu rasanya.
"Aku hanya cari angin segar, Dam." Setelah mengatakan itu, Aleta pun berlalu.
__ADS_1
bersambung