
Syiera langsung menutup sambungan itu. Tak bisa dipungkiri kalau Alex pasti akan terus mengejarnya, Syiera mulai berpikir lebih cepat lebih baik dia akan menemuinya.
Dilihatnya jam yang menempel di dinding, ah ... masih sore, pikirnya. Padahal sudah jam sepuluh malam. "Sekarang apa besok, ya?" Syiera kembali mengurungkan niatnya.
"Besok sajalah." Syiera pun bergegas naik ranjang, ia lebih memilih tidur dan mematikan ponselnya. Takut-takut, nanti Alex kembali menghubunginya.
Pagi pun tiba.
Syiera bangun dengan wajah segar, ia bersemangat untuk kembali bekerja. Dirasa sudah siap, ia pun keluar dari kamarnya. Bi Ani yang sudah menyiapkan sarapan untuk majikannya itu, langsung memanggilnya kala ia sudah melihatnya yang sedang menuruni tangga.
"Pagi, Non," sapa bi Ani.
Syiera hanya tersenyum sambil mengagguk. Lalu ia duduk di kursi meja makan untuk sarapan.
"Non, dah mulai ngantor lagi?" tanya bi Ani
"Iya, Bi. Kerjaan sudah menunggu," jawab Syiera
Setelah sarapan selesai, ia langsung saja berangkat. Dalam perjalanannya sebuah alunan lagu yang menemaninya pagi ini. Ia juga berpikir, kenapa suaminya tak menghubunginya?
"Ya ampun ... Aku lupa," ucapnya sambil menepuk jidatnya sendiri. Dilihatnya, ponselnya ternyata mati, pantas saja handphone-nya sepi sedari tadi.
Ia pun menyalakan ponselnya sambil menyetir, banyak pesan masuk ternyata. Tak lama ponselnya kembali berdering, ia pun memakai handspree di telinganya.
"Iya sayang ... Ada apa?" Syiera mulai menunjukkan rasanya dimulai dengan panggilan ke suaminya.
"Lagi di mana?" Padahal Attar tahu sedang apa istrinya itu, karena orang suruhannya mulai mengikuti kemana istrinya pergi. Ia hanya ingin tahu apa istrinya itu jujur padanya.
"Aku lagi di jalan, mau ke kantor. Kenapa memangnya?" Syiera tak tahu kalau dirinya sedang diikuti oleh seseorang.
"Ah, tidak ada apa-apa. Hanya memastikan saja."
"Udah dulu, ya? Aku lagi nyetir soalnya." Sambungan pun terputus.
Syiera kembali fokus pada kendaraannya. Masih banyak chat yang belum ia buka. Pikirnya, nanti saja jika sudah sampai di kantor.
Semua karyawan tertunduk padanya, Syiera pun memberikan senyumannya sebagi jawaban.
__ADS_1
"Pagi, Bu?" sapa Arin sekretaris Syiera.
"Apa jadwalku padat hari ini?" tanya Syiera.
"Gak terlalu. Tapi, kita ada meeting penting hari ini. Tidak bisa ditunda," jelas Arin. Arin hanya tidak ingin meeting kali ini ia yang menggantikannya. Takut-takut, kalau atasannya itu menyuruhnya seperti kemarin-kemarin.
"Atur saja jadwalnya."
Arin pun mulai mengabasen deretan apa saja yang akan dilakukan atasannya itu, dimulai pagi ini. Sepertinya mood atasannya itu sedang baik. Jadi Arin bisa bernapas lega.
Syiera mulai mengerjakan apa yang jadwalkan Arin. Pagi ini dia akan bertemu dengan clain penting. Syiera dan sekretarisnya mulai menaiki mobil yang akan membawanya pergi hari ini.
Dan itu tak luput dari orang suruhan Attar. Orang suruhan Attar yang bernama Malik, terus memberikan informasi mengenai istri bosnya tersebut. Beberapa potret ia berikan melalui chat yang berwarna hijau muda itu.
Di sebrang sana, Attar tersenyum, ternyata istrinya memang sedang bekerja. Ia percaya karena ada Arin yang bersamanya. Attar pun bernapas lega.
"Kenapa, Kak? Senyum-senyum sendiri?" Aleta bergidik, apa kakaknya itu sedang tidak waras? Aleta jarang melihat kakaknya itu tersenyum apa lagi dengan ponsel miliknya. Karena penasaran, Aleta meraih benda pipih itu dari tangan sang kakak.
"Aleta," pekik Attar. Ia hanya terkejut dengan aksi adiknya yang tiba-tiba.
Aleta melihat gambar seorang perempuan yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Ada yang salah menguntit istri sendiri." Attar langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia merasa sudah keceplosan. Padahal ia belum siap untuk mengatakannya pada Aleta.
"Istri. Sejak kapan Kakak punya istri? Kenapa tidak bilang padaku kalau Kakak sudah menikah, hah!" Sepertinya, adiknya itu sangat marah. Ia begitu kecewa pada sang kakak. Kenapa momen seperti ini ia tidak diberi tahu.
Attar pun mulai mengatakan semuanya, kenapa ia bisa menikah dengan Syiera, ia juga bilang kenapa ia bisa terlihat kurus.
Mata Aleta menyalak, ia begitu marah ketika kakaknya bilang bahwa kakak iparnya seperti itu. Bukannya berterimakasih karena secara tidak langsung Attar sudah membantunya terlepas dari orang seperti orang tuannya Alex.
Aleta mulai tenang setelah mendengar penuturan kakaknya, mengenai Syiera yang sudah mulai berubah. Kenapa ia menguntit isyrinya? Itu pun sudab di jelaskan pada Aleta. Kini Aleta mengerti. Ia juga turut bahagia jika kakaknya bahagia.
Aleta tidak akan bisa menerima orang yang telah menyia-nyiakan akan kebaikan sang kakak, termasuk pada kakak iparnya.
"Maafkan Kakak, ya? Kakak gak bermaksud membohongimu," jelas Attar
"Iya aku maafkan, tapi lain kali jangan begini, ya? Aku tidak suka!" sahut Aleta.
__ADS_1
Attar pun memeluk adiknya, betapa sayangnya Aleta padanya. Sampai Aleta begitu marah ketika mendengar akan sikap Syiera terhadapnya.
"Kapan rencana Kakak pulang? Apa aku tidak akan dikenalkan pada Kakak ipar?"
"Nanti, akan ada saatnya. Fokuslah pada kuliahmu dulu, buat Kakak bangga!"
"Ah ... Kakak ini, seperti tidak tahu kemampuanku saja. Kapan aku buatmu kecewa? Nilai-nilaiku selalu baik, Kakak tahu itu 'kan?"
"Iya-iya ... Kakak percaya!" ucapnya sembari mengacak rambut adiknya.
"Kakak!" protes Aleta, ia tak terima rambutnya diacak. "Ah, Kakak ni. Rambutku 'kan jadi berantakan," jelas Aleta sambil merapihkan rambutnya kembali menggunakan kedua tangannya.
"Sudahlah, berangkat sana! Nanti terlamabat," titah Attar pada Aleta.
"Iya, ini semua gara-gara Kakak! Kalau aku terlambat dan dimarahi Dosen. Kakak harus tanggung jawab," pinta Aleta pada sang kakak.
"Iya, Kakak yang jawab, kamu yang nanggung." Attar langsung tertawa, puas rasanya sudah membuat adiknya itu BT.
"Ih ... Kakak. Nyebelin banget, sih!" cetusnya.
Tak ingin dibuat BT lagi, Aleta langsung saja pergi meninggalkan kakaknya itu. Setelah kepergian Aleta, Attar kembali fokus pada layar yang ada di genggamannya.
Ia terus memandangi wajah cantik istrinya yang ada di ponselnya. Tak sabar rasanya ingin segera berjumpa. Padahal kerjaannya di sini masih banyak. Akhirnya ia akan menunggu waktunya tiba, toh nanti juga akan bertemu tiap hari. Attar menghibur diri dengan pikirannya sendiri.
Ia belum tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Ia hanya fokus menata hidupnya kelak bersama sang istri. Syiera sudah memberikan signal kuat padanya, sehingga ia bisa menerawang kebahgiaan sudah di depan mata. Pikirnya.
Dengan menyuruh penguntit ia kira akan aman. Attar jadi bisa tahu apa istrinya itu benar-benar tulus padanya. Semoga saja itu benar, dan dugaannya tidak meleset.
***
"Bu? Sepertinya ada yang tidak beres." Arin membisikan sesuatu pada atasannya itu. Ketika Syiera akan menoleh ke belakang, buru-buru Arin mencegahnya.
"Jangan menoleh kebelakang! Nanti orang itu curiga," jelas Arin.
Syiera berpikir kalau itu adalah Alex. Alex yang mengikutinya, padahal bukan.
Itu malah suruhan suaminya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.