Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
86


__ADS_3

"Aku serius, Pi. Aku bohong." Malik meyakin Moreno.


"Kenapa gak pulang? Apa kamu sudah tidak menganggap kami lagi sebagai orang tuamu?"


"Maafkan aku, Pi. Aku hanya tidak ingin kajadian dulu terulang lagi." Malik ingat betul ketika Moreno menentang hubungannya dengan kekasihnya dulu. Dan ia juga tak ingin itu terjadi padanya lagi.


"Kamu masih marah pada Papi? Apa kamu tidak ingin memaafkan, Papi?"


Malik menggeleng, tentu ia tak mungkin tak memaafkan orang tuanya. Pergi dari rumah, ia hanya ingin melupakan semua yang terjadi di hidupnya. Dan sekarang ia sudah melupakannya, ia akan memulai hidup baru dengan Aleta.


"Aku sudah kembali, Pi. Niatnya aku memang akan mengenalkan Papi dan Mama pada istriku," jelas Malik.


Sedangkan Aleta, ia terus memperhatikan keduanya. Ia baru menyadari akan suaminya. Pantas wajahnya ke bule-bulean, padahal Malik blasteran. Papinya Malik orang bule, terus ia tadi melihat ibunya yang berwajah ayu.


"Kamu kenapa, sayang? Sini!" Malik mengayunkan tangannya, menyuruh istrinya supaya lebih dekat.


"Kenalin, Pi. Ini Aleta, istriku!"


Aleta tersenyum ke arah Moreno. Sedangkan Moreno, pria paruh baya itu langsung menyambut menantunya dengan sebuah rangkulan, memeluk tubuh Aleta.


"Pi, jangan erat-erat, Papi bisa menyakiti calon anakku," kata Malik.


Moreno langsung melepaskan pelukannya, ia melihat ke arah Aleta lalu berganti pada Malik.


" Sebentar lagi Papi akan memiliki cucu."


Ketika sedang asyik mengobrol, dokter keluar dari ruangan di mana Frita berada.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Moreno.


"Istri Anda sudah sadar, tapi masih harua banyak istirahat. Kalau perlu jangan sampai istri Anda tertekan," jelas dokter.


"Apa saya boleh masuk, Dok?" tanya Malik. Dokter pun menangguk, setelah itu dokter pun pergi.


"Ayo, sayang. Kita masuk." Malik dan istrinya masuk lebih dulu, sedangkan Moreno, ia mengekor dari belakang.


"Ma," panggil Malik setibanya di sana.


Frita nampak berkaca-kaca. Apa yang dilihatnya itu nyata? Frita sering melihat wajah Malik di dalam mimpinya, wanita itu sangat merindukan anaknya.


"Ma, ini aku, Malik." Malik mendekat dan duduk di branker. Ia mencium kening ibunya.


"Mama tidak sedang bermimpikan?" Frita menepuk pipinya sendiri hanya ingin memastikan apa yang dilihatnya itu benar?


"Ini nyata, Ma. Mama tidak sedang bermimpi." Frita menangis, dan Malik pun ikut menangis. "Maafkan aku, Ma. Maafkan anakmu ini." Malik menangis sesegukkan.

__ADS_1


Aleta yang melihat pun terharu, ia ikut menangis. Wanita itu juga merindukan orang tuanya yang sudah tiada.


"Mama harus cepat sembuh. Biar nanti bisa bermain dengan cucu Mama." Malik melihat ke arah istrinya, begitu pun dengan Frita, ia melihat ke arah di mana Malik mengarahkan pandangannya.


"Dia istriku, Ma. Aku sudah menikah beberapa bulan yang lalu, dan sekarang istriku tengah mengandung anakku, darah dagingku."


Frita langsung tersenyum ketika mendengar itu. Malik tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak, seperti apa yang diucapkan Jonas tadi sebelum ia pingsan.


"Kemarilah, nak." Frita menyuruh Aleta mendekat. "Menantu Mama cantik sekali. Kamu pintar memilih istri," ucap Frita seraya melihat ke arah Malik.


"Tentu! Karena aku anak Papi. Papi juga pintar memilih istri. Mama tak kalah cantik dari istriku," puji Malik pada ibunya.


Di ruangan itu nampak hangat. Malik terpisah beberapa tahun dengan orang tuanya, pas bertemu kembali, ia sudah memiliki istri. betapa bahagianya Moreno dan Frita, pasalnya ia memang menyuruh Malik menikah waktu dulu. Tapi sayang, waktu itu Malik di jodohkan. Dan kejadian itu membuat orang tua Malik sangat menyesal.


Aleta teringat akan sesuatu, ia kesini 'kan untuk bertemu dengan kakaknya.


"Aku permisi sebentar, aku mau menjenguk kakak ku dulu," ujar Aleta.


Malik langsung menepuk keningnya sendiri, ia sampai lupa akan tujuannya. Akhirnya mereka pun pamit, setelah itu, ia akan kembali.


"Ma, aku antar istriku dulu." Frita tersenyum sebagai jawaban.


***


"Mereka tadi kesini, kok," jawab Dam. "Kemana mereka? Merepotkan saja." Niat Dam kembali menyusul Malik dan Aleta. Tapi tidak jadi, orangnya keburi datang.


"Nah, tuh mereka," kata Alea istrinya Dam.


"Kalian kemana saja?" Dam benar-benar dibuatnya repot.


"Kamu tuh kenapa? Dari tadi sewot terus! lagi PMS ya?" ledek Malik.


Dam memutar matanya jengah.


"Kak," panggil Aleta pada Attar. Aleta memeluk kakaknya dengan hangat. "Gimana, Kak Syiera sudah sadar 'kan?"


"Sudah, tapi masih belum stabil," jawab Attar.


"Syukurlah." Aleta bernapas lega. "Aku boleh masuk?


"Tentu." Attar pun mengantar Aleta masuk untuk bertemu dengan Syiera.


"Kakak ... Aku datang." Aleta selalu ceria ketika bertemu dengan kakak iparnya itu. "Bagaiman keadaanmu? Sudah baik-baik saja 'kan?" Aleta langsung mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia di sisi branker.


"Sudah," jawab Syiera. "Bagaimana kehamilanmu?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Kehamilanku baik, dia sangat sehat, Kak. Apa lagi, suamiku sangat siaga."


"Lah, dulu saja sampai nangis-nangis gak mau dinikahin," cibir Attar.


"Ah, Kakak ... Tapi aku terimakasih banget sama kamu, Kak. Malik sangat perhatian dan dia ternyata anak orang kaya loh, Kak." Aleta begitu antusias menceritakan suaminya pada kakaknya.


"Tahu dari mana kamu?" tanya Attar.


"Aku baru saja mengetahuinya. Mereka ada di sini, Mamanya sakit." Aleta jadi sedih jika ingat kesitu.


"Kakak jadi penasaran," sahut Attar.


"Nanti aku kenalin deh. Ngomong-ngomong, bayinya di mana? Aku ingin melihat keponakanku."


"Bayinya di ruangan khusus. Dia 'kan lahir prematur," timpal Syiera.


"Yang sabar ya, Kak." Aleta mengusap lembut tangan kakak iparnya itu. "Kak, aku pulang dulu ya? Besok aku ke sini lagi."


"Kamu harus banyak istirahat, Al. Jaga kondisimu dan bayimu," ujar Attar. Dan Aleta pun mengangguk.


Setelah pamit Aleta pergi meninggalkan kakak-kakaknya di dalam. Ia pun menghampiri suaminya dan mengajaknya pulang, tapi sebelum pulang, ia berpamitan dulu dengan orang tuanya Malik. Setelah itu, baru mereka pergi.


***


"Langsung istirahat ya?" kata Malik setelah mereka tiba dikediaman Attar. Malik belum mengajak ke rumahnya, niatnya nanti sepulang ibunya dari rumah sakit.


"Kamu mau kemana?" tanya Aleta, karena ia melihat suaminya melangkahkan kakinya.


"Ke dapur, bikin susu untukmu."


Malik benar-benar suami idaman. Aleta semakin jatuh hatinya saja padanya, tanpa diminta, Malik selalu menyediakan kebutuhan istrinya.


Karena sudah tahu tujuan suaminya, Aleta langsung menuju kamar. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, rasa pegal menerpa tubuhnya.


Tak lama dari situ, Malik datang dengan segelas susu di tangan. Ia pun memebrikan susu itu pada istrinya, Aleta langsung meminumnya hingga tandas. Malik mengusap bibir istrinya, mengelap sisa air susu yang menempel di bibirnya.


"Tidurlah, karena ini sudah mulai larut. Kamu harus istirahat."


Namun Aleta malah beranjak.


"Mau kemana? Aku 'kan sudah menyuruhmu untuk istirahat," kata Malik.


"Aku mau ganti baju. Kamu lupa, kalau seharian ini aku juga belum mandi."


Sedangkan Malik, ia hanya tersenyum tanpa dosa.

__ADS_1


__ADS_2