
Malik dan Dewa menemui Aleta di kamar, ia melihat istrinya tengah menidurkan Saga. Harusnya Saga yang tertidur, ini malah istrinya yang tertidur. Malik menepuk keningnya sendiri, lalu menghampiri Aleta.
Saga sedang bermain, duduk di dekat Aleta sambil memainkan mainan yang dibawa Saga tadi. Malik kasian pada istrinya, mungkin wanita itu lelah sampai tertidur begitu pulas. Akhirnya, ia membawa Saga dari sana dan membiarkan istrinya beristirahat.
Malik membawa kedua ankanya bermain mengelilingi komplek sambil mendorong kereta bayi yang berisi Saga dan Dewa. Sepanjang jalan ia menelusuri perjalanan. Lalu, pandangannya terarah pada seorang wanita yang sedang menangis sambil menggendong bayi, dan membawa tas besar.
Malik merasa kasian pada wanita itu, ia pun menghmapirinya dan bertanya kenapa ia menangis? Bukannya menjawab, wanita itu malah semakin terisak. Bisa diperkirakan umurnya hampir 40 tahun, dan anaknya masih bayi.
"Bu, Ibu kenapa?" tanya Malik sekali lagi.
Ibu itu menghapus air matanya yang masih terjatuh, ia hanya merasa sedih dengan pertanyaan Malik. Ia mencoba membuka mulutnya untuk menjawab.
"Saya diusir, Tuan. Diusir sama suami saya," jawab ibu itu.
Malik merasa kasian, ditambah lagi ia melihat bayi yang tertidur pulas di pangkuan ibu itu. Disaat sedang berbincang, Aleta datang menyusul. Ia terkejut karena tadi pas bangun dari tidurnya Saga tidak ada bersamanya. Dan sekarang, ia melihat suaminya sedang bersama seorang wanita, dan ia pun menghampirinya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Aleta, Aleta melirik ke arah wanita itu. Dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu menghembuskan napas dan kembali melihat ke arah suaminya. Seakan bertanya siapa wanita ini? Dan kenapa bisa wanita ini bersama suaminya?
"Gak sengaja melihat Ibu ini." Malik melihat ke arah ibu itu. "Ibu ini tadi menangis, lalu aku menemuinya. Katanya diusir oleh suaminya dari rumah," jelas Malik.
"Diusir? Kok, bisa?" kata Aleta.
"Lalu, Ibu mau kemana sekarang?" tanya Aleta, Aleta melihat ke arah langit, langit sudah mendung dan hari semakin sore. Ia melihat bayi yang di gendong ibu itu, entah kenapa hatinya merasa iba dan ingin menolongnya. Padahal, ia tak mudah percaya kepada orang asing. Tapi hatinya begitu tersentuh melihat bayi cantik yang memakai baju pink, ditambah lagi bandana melingkar di kepala bayi itu.
Aleta menarik tangan suaminya sambil berbisik.
"Ajak ke rumah, bagaiman? Aku kasian melihatnya," bisik Aleta.
"Tapi-." Ucapan Malik terhenti kala mendapat sorotan tajam dari istrinya. "Terserah kamu saja 'lah." Malik pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ini sudah sore, ditambah lagi langit sudah mendung. Ibu ikut bersama kami saja," ajak Aleta kemudian. Bukan tanpa alasan Aleta mengajak orang asing itu, ia kasian melihat bayi mungil itu, sungguh malang nasibnya.
"Apa tidak merepotkan?" tanya ibu itu pada Aleta.
__ADS_1
Sekilas, Aleta dan Malik saling pandang.
"Ikut saja, Bu. Kasian bayi Ibu," timpal Malik.
Akhirnya, mereka semua pergi menuju kediaman Malik yang berada di kawasan elit itu.
Di sepanjang perjalanan, Aleta banyak bertanya mengenai ibu itu.
"Oh iya, Bu. Nama Ibu siapa?" tanya Aleta.
"Mira, Nyonya," jawab Mira.
"Saya Aleta, dan ini suami saya. Namanya Malik, dan ini kedua anak saya," jelas Aleta.
Mira tersenyum, ia bersyukur dipertemukan dengan orang baik seperti mereka. Padahal ini pertama kali bertemu dengannya. Dan akhirnya, mereka pun sampai. Mira melihat rumah itu dengan takjub, bukan hanya baik. Ternyata Malik dan Aleta orang kaya.
"Ayok, Bu. Masuk," ajak Aleta.
"Ibu duduk saja, saya mau buatkan minum untuk Ibu." Aleta segera pergi ke dapur membuatkan minuman untuk Mira.
Sedangkan Malik, ia berada bersama Mira di ruang tamu. Saga dan Dewa tertidur di keretanya, kedua anaknya begitu pulas karena merasa nyaman berada di dalam sana.
"Tuan, anaknya tidur. Apa tidak sebaiknya dipindahkan, kasian mereka," kata Mira.
Malik hanya tersenyum menanggapi, ia menunggu Aleta kembali. Karena ia tidak mungkin meninggalkan orang asing sendirian di rumahnya. Bagaimana kalau ibu itu sedang bersandiwara, ia takut wanita itu sedang modus. Tak lama, Aleta datang sambil membawa nampan di tangan. Ia meletakkan gelas yang berisi minuman di atas meja.
"Silahkan diminum, Bu," ucap Aleta.
"Terimakasih, Nyonya." Mira meminum minuman itu sampai tandas, betapa hausnya ia. Dari siang sampai sore begini ia baru menemukan air untuk ia minum. Karena ia tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli minum dan makan.
"Sama-sama, Bu."
"Al, aku tidurkan Saga dan Dewa dulu kalau begitu." Malik mendorong kereta bayinya ke arah kamar dan menidurkan kedua anaknya. Lantas setelah itu, Malik kembali menemui istrinya.
__ADS_1
Aleta merasa sudah dekat dengan Mira. Mira asyik diajak mengobrol, sampai ia tak menyadari akan kedatangan suaminya.
"Ngobrol apa sih?" Tanya Malik sambil mendudukkan tubuhnya di samping Aleta.
"Hanya seputar kehiduoan mengasuh anak," jawab Aleta.
Tak lama dari situ, anak Mira terbangun dan merengek. Mungkin karena haus, dari situ, Mira permisi kepada sang pemilik rumah untuk memberikan asi pada anaknya. Karena ada Malik ia menjadi malu.
Tahu akan kode itu, Aleta menyuruh suaminya untuk tidak berada di sana bersamanya. Malik pun segera pergi, ia memilih untuk membersihkan tubuhnya karena hari sudah menjelang sore.
Aleta melihat bagaimana cara Mira memberikan asi pada anaknya, sepertinya Mira sudah begitu berpengalaman. Lalu ia bertanya mengenai anaknya yang lain kepada Mira.
"Apa, Ibu memeliki anak yang lain selain bayi ini?"
"Ada, dia sudah menikah dan tinggal di luar kota. Dan ini anak saya yang kedua, tapi sayang, anak ini tidak mendapat pengakuan dari ayahnya. Saya dituduh selingkuh, padahal ini anak suami saya," jawab Mira.
"Kasian sekali." Aleta menyentuh bayi itu dengan lembut. "Namanya siapa, Bu?"
"Namanya, Dinda," jawab Mira.
"Ibu mau tidak, mengasuh anak saya?" tawar Aleta memberi pekerjaan kepada Mira.
"Saya orang asing, kenapa Nyonya menawarkan pekerjaan kepada saya? Apa Nyonya tidak takut?" tanya Mira.
" Iya, Bu. Biasanya saya tidak mudah percaya sama orang asing. Tapi, entah kenapa saya percaya pada, Ibu. Terlebih lagi, saya kasian melihat Dinda. Ibu bisa tinggal di sini bersama kami," tawar Aleta.
"Kebetulan, saya memang sedang mencari pengasuh untuk anak saya," sambungnya lagi.
"Tapi saya juga punya bayi, saya takut tidak bisa mengasuh anak, Nyonya." Bukannya menolak pekerjaan, Mira takut mengecewakan orang sebaik Aleta.
"Saya yakin Ibu bisa, Hanya satu yang saya asuhkan. Ibu tidak perlu khawatir." Aleta mencoba membujuk Mira.
Tak lama kemudian, Mira pun setuju akan tawaran itu. Ia tidak meminta bayaran, cukup mendapatkan tempat tinggal dan makan sehari-hari saja ia merasa sudah cukup.
__ADS_1