
Setelah merasa sudah tidak pusing, Dam pun segera pulang. Dalam hatinya masih merutuk, masalah belum kelar dengan istrinya, sekarang malah muncul masalah baru. Bagaimana kalau wanita semalam datang dan memintanya bertanggung jawab?
"Aarrgghh ..." Dam memukul stir mobilnya. "Di mana kamu Alea!" Teriak Dam dalam perjalanan menuju pulang ke rumahnya
Dam takut kalau istrinya tahu dengan apa yang ia lakukan semalam. Apa Dam benar akan kehilangan istrinya setelah kejadian ini? Dam prustrasi berat.
Tak lama, ia pun sampai di rumah. Di sana ia bertemu dengan kedua orang tuanya, Dam mengabaikan Darren dan Dania. Ia langsung ke kamar dan membersihkan diri. Beberapa kali ponselnya berdering, karena sedang berada di kamar mandi, Dam telat menjawabnya. Setelah ia keluar dari kamar mandi, ponsel masih berdering. Dam langsung saja mengangkatnya.
Mata Dam berbinar ketika ia menerima panggilan itu, buru-buru Dam memakai baju, dan lekas pergi.
"Dam, sarapan dulu," kata Dania.
"Nanti saja, Mom. Aku ada urusan dan ini jauh lebih penting," jawab Dam sambil berlalu. Dengan cepat, Dam mengemudikan mobilnya.
Tak lama, ia pun sampai di kantor sahabatnya. Dam bergegas memasuki kantor tersebut dan langsung menuju ruangan Malik. Tanpa permisi, Dam langsung saja menerobos masuk ke dalam.
"Mana istriku?" tanya Dam pada Malik. "Cepat katakan di mana Alea?" Dengan tidak sabarnya, Dam mendesak Malik.
"Di rumah," jawab Malik dengan tenang.
Dam membulatkan matanya. "Kenapa tidak bilang? Tahu gitu aku tidak akan kesini," gerutunya. "Aku ke rumahmu sekarang." Dam segera pergi lagi, hatinya terasa lega kalau ternyata sang istri belum pergi jauh.
Sementara Malik, ia pun menyusul Dam ke rumahnya, karena ia memang akan pergi ke rumah sakit bersama istrinya mengecek kandungan.
Dam sampai di rumah Malik, begitu pun dengan Malik sendiri, mereka hampir bersamaan sampai di sana. Dam segera masuk, hatinya menghangat kala ia melihat istrinya yang sedang tertawa bersama dengan Aleta.
Senyum yang mengembang, kian menghilang di bibir Alea. Ia melihat kedatangan suaminya.
Perlahan, Dam menghampirinya. Aleta memberi ruang pada pasutri itu. Aleta menarik tangan ibu mertuanya, seraya mengajak mertuanya pergi. Setelah kepergian Aleta dam ibunya kini hanya ada Dam dan Alea.
Wajah sumringah begitu nampak di wajah Dam, tanpa aba-aba, Dam berlutut di hadapan istrinya. Wajahnya tersungkur dikedua lutut Alea, karena posisi Alea tengah terduduk.
"Jangan pernah lagi mencoba untuk pergi dariku! Kamu akan menjadi istriku untuk selamanya." Dam sampai menumpahkan air matanya. Justru ia yang malah berdosa pada istrinya, tanpa disengaja Dam sudah mengkhianati perkawainannya dengan kejadian semalam.
Drma mereka di saksikan oleh pasutri lain, yaitu Aleta dan Malik. Mereka begitu terharu melihat pasangan itu, pasangan yang tak mudah dipisahkan.
__ADS_1
Dam membujuk istrinya untuk pulang, ia juga meyakinkan Alea tak ada alasan untuknya, untuk pergi dari hidupnya. Namun, Alea masih ragu, apa iya suaminya tak apa-apa jika ia tak memiliki keturunan?
"Dam ... Aku-," ucap Alea terputus kata tekunjuk suaminya menempel di bibirnya.
"Jangan bilang apa pun, apa lagi sampai menyuruhku menikah dengan wanita lain. Aku tak ingin berpisah darimu, Alea."
"Maafkan aku selalu merepotkanmu, aku hanya ingin kamu bahagia," kata Alea.
"Kebahagianku ada pada dirimu." Dam memeluk istrinya. "Kita pulang ya?" Alea mengangguk pelan. "Jangan seperti ini lagi, kalau kamu mau kita bisa adopsi anak."
"Akan aku pikirkan," jawab Alea.
Karena sudah berhasil membujuk istrinya pulang, Dam pun pamit pada Malik. Dam celingak celinguk mencari keberadaan sang pemilik rumah. Malik pun datang menghampiri karena ia melihat Dam tengah mencarinya, ia menguping pembicaraan Dam dan Alea.
Melihat kedatangan Malik dan juga Aleta, Dam pamit.
"Terimakasih sudah menahan kepergian istriku, tanpa kalian mungkin aku sudah kehilangannya," ucap Dam
Malik menepuk bahu Dam. "Setiap ada masalah pasti ada jalan keluar."
Hanya ada Malik dan Alea sekarang.
"Kita ke Dokter sekarang aja, bagaimana?" ajak Malik tiba-tiba. Diangguki oleh istrinya.
"Ya sudah, aku siap-siap dulu." Aleta bergegas ke kamarnya, beberapa menit kemudian, ia pun kembali menemui suaminya. Malik tersenyum melihat istrinya, semakin hari istrinya itu semakin cantik. Aura kehamilan Aleta begitu bersinar tak hanya cantik, bagi Malik Aleta semakin montok. Ia semakin suka.
Malik menggandeng tangan istrinya, dan segera menuju mobil. Dalam perjalanan, mereka saling berbincang.
"Aku kasian sama Alea, dia pasti ingin sepertiku," ujar Aleta.
"Tapi aku salut pada si Dam, sudah dikasih kesempatan sama Alea untuk menikah lagi, Dam masih bertahan. Mungkin sebagian lelaki jika mendapat izin dari istrinya, pasti laki-laki itu sudah menikah lagi," terang Malik.
Aleta sempat akan menjawab, tapi sayang mereka keburu sampai. "Ayo," ajak Malik. Dan akhirnya Aleta tidak jadi bicara.
Mereka pun turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah sakit. Malik sudah membuat janji dengan dokter langganannya, begitu sampai mereka langsung masuk menuju ruang pemeriksaan. Perkembangan janin Aleta cukup sehat, begitu juga dengan sang ibu. Penjelasan dari dokter membuat Malik merasa puas, setidaknya ia sudah menjadi suami yang baik.
__ADS_1
Selesai memeriksakan kandungan, Aleta meminta izin ke toilet dulu. Sedangkan Malik, pria itu menunggu sambil duduk di kursi yang tersedia di rumah sakit. Ketika sedang menunggu Aleta, Malik melihat Khai masuk ke sebuah ruangan.
Penasaran apa yang dilakukan oleh si Khai, Malik pun menghampiri ruangan itu. Ia melihat dari kaca pintu, Malik terus penasaran karena wajah pasien terhalang oleh tubuh Khai.
"Siapa yang sakit?" Setahu Malik, si Khai sedang tidak dekat dengan siapa pun. Karena terus memperhatikan, Malik pun melihat pasien itu karena Khai menggeserkan tubuhnya.
Mata Malik terbelalak ketika melihat pasien itu, tanpa permisi Malik langsung masuk. Si Khai yang ada di dalam langsung terkejut melihat Malik ada di ruangan ini. Begitu pun dengan Felisia, gadis tak menyangka kalau Malik tahu akan kondisinya sekarang.
Feli hanya takut kalau Malik menghubungi Jonas, dan Feli tidak ingin sampai ayahnya tahu akan hal ini.
"Feli, kamu sakit apa?" tanya Malik
Di sebelah kiri ada Khai yang nampak bingung, ia tak menyangka bahwa Malik dan Feli saling mengenal. Dan Feli tidak menjawab, terlalu malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Karena tak mendapat jawaban dari Feli, Malik menarik tangan si Khai dan mengajaknya keluar ruangan.
Setelah di luar, Malik langsung bertanya mengenai kondisi Feli.
"Feli kenapa, Khai? Dia sakit apa?" tanya Malik.
"Feli kena musibah, semalam dia jadi korban pemerkosaan," jawab Khai apa adanya.
"Kasian sekali, kok bisa? Bagaimana ceritanya?"
Khai pun menjelaskan bagaimana kejadiannya pada Malik. Malik turut iba dengan kejadian ini, tentu kejadian ini sangat berpengaruh bagi hidup Feli ke depan.
Ketika sedang berbincang, Aleta datang.
"Aku kira kamu kemana, nyatanya di sini," ujar Aleta, wanita itu belum menyadari adanya Khai.
"Bagaimana kehamilanmu, Al?" tanya Khai, pria itu sudah menerima kenyataan bahwa ia tak bisa memiliki Aleta.
"Eh Khai, kandunganku baik. Kamu sedang apa di sini?" tanya Aleta.
"Jenguk temen," jawab Khai.
"Ya sudah, Khai. Kami permisi kalau begitu," kata Malik. Khai pun mengangguk, setelah kepergian Aleta dan Malik, Khai kembali masuk menemui Felisia.
__ADS_1
bersambung.