Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
55


__ADS_3

Setibanya di ruang tamu, Attar melihat Axel tengah berada di pangkuan ibu mertuanya. Ada Dam di sana, serta Darren ayah mertuanya. Tapi, di mana Aleta? Attar tak nampak adiknya ada di sana.


Akhirnya, Attar mengurunkan niatnya menemui Axel. Attar kembali ke atas, ke kamar Aleta tentunya.


Tok tok tok


Attar mengetuk pintu kamar adiknya. Aleta pun langsung membuka pintunya.


"Ada apa, Kak?" tanya Aleta setelah membuka pintu, Aleta masih berada di ambang pintu. Wanita itu tak mengajak kakaknya untuk masuk. Pasalnya, Aleta sedang mengemas barang-barangnya.


"Boleh Kakak masuk, Al?" Attar sedikit memajukan tubuhnya, tapi keburu Aleta mencegatnya.


"Kakak mau apa? Kamar ku lagi berantakan, Kak!" Aleta menahan Attar masuk dengan alasan itu.


"Tumben berantakan? Bukankah kamu orangnya rapih." Attar tak percaya dengan alasan Aleta. Sepertinya ada yang disembunyikan darinya. Attar pun langsung masuk ke dalam disaat Aleta lengah.


Attar terkejut melihat koper yang ada di atas kasur.


"Kamu mau kemana, Al? Kenapa bajumu sudah di kemas?" tanya Attar dengan wajah bingung dan keningnya mengekerut.


"Mmm, itu, Kak." Aleta gak tahu harus jawab apa, wanita itu menjadi gugup. Masa iya, gara-gara Dam dia kembali ke Amerika secepat ini. Aleta takut jika di sini terus malah gak bisa melupakan Dam. Lebih baik ia kembali ke Amerika, pikirnya.


"Apa? 'A-mm? Jawab yang bener!" desak Attar. "Kakak baru juga sembuh, masa kamu sudah mau pergi ninggalin Kakak." Attar sedikit kecewa.


"Kak, aku terlalu lama di sini. Kuliahku terbengkalai, Kak. Aku mau kembali ke Amerika karena kuliahku." Padahal itu hanya akal-akalan Aleta saja.


Attar menghela napas panjang, ia tak bisa mencegah kepergian adiknya jika mengenai pendidikan. Attar ingin Aleta mencapai cita-citanya yang ingin menjadi pengacara handal, dan terkenal.


"Baiklah, Al. Jika itu memang sudah keputusanmu." Attar memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang.


***


"Mom, Attar mana?" tanya Syiera yang baru saja tiba d ruang tamu.


"Momy gak lihat Attar, sayang," jawab Dania. "Dari tadi kita hanya bertiga, iyakan, Dad," ucapnya pada sang suami.


Darren hanya mengangguk, lalu pria itu fokus kembali pada benda pipihnya. Semenjak Syiera cuti, Darren sangat sibuk dalam pekerjaannya.


"Iya, Kak. Dari tadi gak ada Kak Attar," timpal Dam.


Syiera pun kembali ke atas, mungkin ada bersama Aleta, pikirnya. Karena Syiera tak melihat Aleta di ruang tamu, kemungkinan ada di kamarnya.

__ADS_1


Syiera sekarang ada di depan pintu kamar Aleta, ia melihat suaminya ada di sana. Karena pintu itu tidak tertutup. Syiera langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Ia melihat sang suami tengah memeluk adiknya.


"Aku cari ternyata kalian di sini," kata Syiera. Lalu ia melihat ada koper yang masih belum rapi ada di atas kasur. "Kamu mau kemana, Al? Kok ada koper di situ?" Sembari menunjuk ke arah koper menggunakan wajahnya. Belum Aleta menjawab, ia lebih mendekatkan diri ke arah mereka, dan duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh koper itu, sedikit melihat-lihat baju yang ada di dalam koper tersebut. Apa adiknya akan pergi ke Amerika? Pikirnya. Tapi mendadak sekali.


Lalu, Aleta ikut duduk bersama Syiera. "Aku mau kembali ke Amerika, Kak. Kuliahku terbengkalai terlalu lama," ucap Aleta


"Kapan berangkat?" tanya Syiera.


"Mungkin besok."


"Mendadak sekali kamu berangkat," timpal Attar.


"Lebih cepat lebih baik, Kak." Wanita itu ingin segera pergi karena ingin menjauh dari Dam.


***


Hari sudah berganti menjadi malam.


Sebelum pulang, Dania dan suami serta sang anak tengah makan malam bersama keluarga kecil Attar. Mereka sangat bahagia bisa makan malam bersama setelah sekian lamanya.


Disaat yang lain tengah fokus dengan makanannya. Aleta selalu mencuri pandang pada Dam. Mungkin ia tidak akan melihat Dam dalam waktu dekat ini. Sayang, aksinya diketahui oleh Dam.


"Kenapa dia malah senyum?" Aleta langsung memalingkan wajahnya. Dan, si Dam malah menendang kaki Aleta dengan pelan. Aleta terkejut ada yang menendangnya.


Gadis itu menatap tajam ke arah Dam. Kenapa pria itu begitu? Sepertinya ada yang ingin dibicarakan oleh Dam pada Aleta.


"Aku sudah selesai," kata Aleta. Selesai makan gadis itu langsung beranjak dari tempatnya.


"Aku juga," kata Dam. Pria itu menyusul Aleta.


Yang lain tidak ada yang curiga pada mereka termasuk Dania.


Setelah Aleta menjauh dari meja makan, gadis itu menuju ke taman belakang, entah apa yang akan dilakukan gadis itu di sana. Dalam perjalanan, Aleta menoleh ke belakang. Ia tahu bahwa Dam tengah mengikutinya.


Dikira sudah cukup aman, Aleta langsung berbalik ke belakang. Hampir saja, Dam menabraknya. Karena Aleta secara mendadak berhenti.


"Ngapain mengikutiku?" tanya Aleta.


Dam menjadi kikuk karena ketahuan. Dam malah menarik Aleta ke tempat yang lebih sepi. Mereka ada di pojokan taman belakang, jika tidak diperhatikan dengan seksama. Mereka tak terlihat, karena di sana cukup gelap.


Dam merapatkan tubuhnya pada Aleta, sampai wanita itu beringsut mundur. Tapi sayang, di sana terdapat dinding, sampai Aleta sudah tidak bisa lagi menghindar.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Aleta semakin dibuat tak bisa bergerak. Karena Dam tidak memberi jarak sama sekali. Tubuhnya sudah menempel pada Aleta.


Wajah Dam semakin mendekat. Dekat, dekat. Dan ...


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibir Aleta. Aleta membelalakkan kedua matanya, gadis itu malah terdiam seperti terhipnotis oleh Dam.


Malah, Dam tidak melepaskan tautan bibirnya pada Aleta. Ciuman kedua diantara mereka terjadi begitu cepat. Aleta tidak menyangka apa yang dilakukan Dam padanya.


Aleta tetap diam, ia tak membalas ciuman Dam. Hingga Dam menggigit bibir Aleta. Karena Dam menggigitnya, baru Aleta membuka mulutnya. Dam tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Pria itu meneroboskan lidahnya, mengeksplor ruang mulut Aleta. Karena tautan itu terjadi cukup lama, Aleta dan Dam kehabisan oksigen. Mereka menghentikan tautan itu. Napas keduanya tersengal.


Setelah berhasil menetralkan napasnya. Dam kembali mencium Aleta, tapi sayang aksinya di cegah oleh wanita itu.


"Dam ... Ini tidak boleh terjadi," kata Aleta. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.


Dam langsung meraih dagu Aleta.


"Lihat aku!" Pinta pria itu.


Aleta pun melihat ke arah wajah Dam.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Dam.


Aleta membulatkan matanya, kenapa pria itu bertanya akan perasaannya. Aleta harus jawab apa? Ia tak ingin dengan pengakuannya menjadi bumerang.


"Sudah ada Alea di sini." Kata Aleta sambil menyentuh dada pria itu. Mengakui perasaannya pun percuma, itu tidak akan merubah keadaan.


Dam bukannya menjawab, pria itu malah akan menciumnya lagi.


Belum bibirnya menyentuh, mereka malah beringsut mundur.


Mereka mendengar suara deheman yang membuat mereka menjadi menjauh.


Bersambung.


Maaf kalo banyak typo. Aku ngebut nulis, mumpung lagi istirahat. Ini demi pembaca setiaku.


Terimakasih pada readers yang selalu setia di sini. Love u sekebon cabe😘😘

__ADS_1


__ADS_2