Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
98


__ADS_3

"Apa ini?" Khai sedikit mencium aromanya. "Amis." Seketika Khai teringat di mana tragedi Feli di perkosa. Khai buru-buru keluar dari mobil dan melihat mobil itu. "Kenapa mobil ini sama persis yang dicertikan sama Feli." Khai menepis isi dalam otaknya. "Tidak! Ini tidak mungkin."


Kha mienoleh kearah belakang, ia melihat Dam berdiri di belakangnya. Sedikit curiga akan keberadaan Dam, tapi masa Dam yang melakukannya. Pikir Khai.


"A-apa su-sudah ketemu?" tanya Dam dengan terbata.


Khai menatap tajam adik iparnya itu dari jauh.


"Bisa kesini sebentar," pinta Khai. Dam pun berjalan menghampirinya. Setibanya Dam di hadapan Khai, tanpa jeda Khai memberikan pertanyaan yang mungkin sulit di jawab oleh si Dam. "Apa semalam di mobil ini terjadi sesuatu?"


Glek


Dam menelan salivanya. Dam terdiam, haruskan ia jujur agar tak ada kesalahpahaman untuk ke depannya.


"K-khai ...," lirih Dam.


"Iya, katakanlah, Dam. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi!" Khai begitu penasaran, apa bener mobil ini yang dimaksud Feli? Kalau benar berarti, Dam yang telah memperkosa Feli.


"A-aku." Dam semakin dilanda ketakutan dan merasa bersalah pada istrinya jika teringat akan kejadian itu.


"Jawab, Dam!"


"Tapi aku minta jangan beritahukan ini pada Alea, aku takut dia marah padaku! Aku tak sengaja melakukannya."


"Berarti bener kamu yang telah memperkosa, Feli?"


"Feli? Kamu tahu gadis itu?" Dam bingung, dari mana Khai tahu dengan wanita itu? Sedangkan dia saja tak mengenalnya. "Aku tidak mengenalnya, aku melakukannya disaat mabuk. Setelah itu terjadi gadis itu sudah pergi."


"Dia temanku, Dam. Aku yang menolongnya waktu itu, dia pingsan di pinggir jalan dan keadannya sangat memprihatinkan," jelas Khai.


"Boleh aku bertemu dengannya? Aku hanya ingin minta maaf."


"Kata maafmu tidak akan mengembalikan semuanya, yang ada nanti Feli semakin terluka. Kalau kamu merasa bersalah padanya, sebaiknya kamu jangan temui dia. Aku rasa dia pasti membencimu."


Perbincangan mereka terhenti adanya Alea yang datang menghampiri mereka.


"Khai lama sekali, ada tidak barangnya?" tanya Alea.


"Ada, ini." Khai memberikannya pada Alea.

__ADS_1


"Kamu ngapain di sini?" tanya Alea pada suaminya.


"Aku hanya menemani, Khai." Dalam hati, Dam sudah dag dig dug tak karuan.


"Oh ..." Alea hanya membulatkan kata O. Tanpa bertanya lagi Alea kembali ke dalam.


Sementara Khai dan Dam, mereka bernapas lega, setidaknya Alea tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Masuklah, aku tidak mau Alea tahu akan hal ini," kata Khai.


Dam pun masuk ke dalam menyusul istrinya. Sedangkan Khai, pria itu sedang memikirkan masa depan kedua wanita yang disayangi oleh Khai. Bagaimana kalau Feli sampai hamil? Lalu, apa Alea bisa menerimanya kalau Feli meminta pertanggung jawaban dari Dam? Khai menggelengkan kepalanya. Ini tidak boleh terjadi, tapi ia sendiri bingung apa yang harus ia lakukan untuk menolong kedua wanita yang sama-sama berarti dalam hidupnya.


Lelah dengan pemikiran itu, Khai memilih untuk pulang. Ia akan memikirkannya nanti, semoga saja Feli tidak hamil. Pikir si Khai.


***


Hingga waktu begitu cepat berlalu.


Sekarang di mana Aleta akan melahirkan. Malik mondar-mandik bak setrikaan, pria itu sangat panik.


"Malik, duduklah. Mama pusing melihatnya," kata Frita.


"Iya, Papi juga pusing," timpal Moreno.


Tak lama dari situ, Syiera datang. Sementara Attar pria itu sudah berada di ruangan operasi sejak tadi menemani adiknya.


"Apa operasinya masih berjalan?" tanya Syiera setibanya di hadapan Malik. Malik menggelengkan kepalanya. Ia sudah sejak tadi menunggu sudah hampir tiga jam operasi belum juga selesai. Hingga beberapa menik kemudian, Attar lebih dulu keluar dari ruangan operasi.


Malik langsung saja menghampiri kala ia melihat Attar keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana, Kak? Apa operasinya berjalan dengan lancar?" tanya Malik, ia sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Attar. "Bagaiman, Kak?"


"Tenanglah, operasinya berjalan dengan lancar. Si kembar selamat, sekarang hanya tinggal menunggu Aleta sadar dari obat bius." Karena Aleta dibius total.


Malik bernapas lega, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua putranya. Ya, anak yang dilahirkan Aleta berjenis kelamin laki-laki. Tak lama dari situ, si kembar yang sudah terlihat tampan dipindahkan ke ruang bayi. Malik melihat itu.


"Anak-anakku," sahut Malik ketika bayi kembarnya melintas di hadapannya. Suster mendorong kereta bayi itu diikuti oleh Moreno dan Frita. Sedangkan Malik, ia masih berada di depan ruang operasi. Ia masih menunggu istrinya hingga sadar.


Beberapa jam kemudian, Aleta sudah sadar. Bahkan sudah dipindahkan ke ruangan VIP. Malik setia menemani istriny, hingga bayi itu datang bersama suster. Suster meletakkan bayi itu di samping Aleta. Aleta menangis terharu, ia sudah menjadi seorang ibu.

__ADS_1


"Lihat, lucu sekali anak kita," kata Malik, dan Aleta tersenyum melihat kedua anaknya yang tertidur pulas. "Mereka mirip denganku ya?"


"Mirip, Papi," sahut Moreno. "Lihat saja, mereka bule sepertiku." Seketika ruangan itu menjadi ramai.


***


Di tempat lain.


Sudah beberapa minggu, Feli mengurung diri. Gadis itu terlihat sangat prustrasi. Khai hampir setiap hari datang ke rumahnya, pria itu sangat khawatir. Apa lagi setelah Khai tahu bahwa Feli tengah mengandung.


Sudah beberapa kali, Feli mencoba menggugurkan kandungannya. Namun Khai selalu datang disaat yang tepat. Seperti sekarang ketika Feli mengurung diri, gadis itu sudah dua hari tidak keluar, bahkan tidak minum dan makan.


"Feli, ayo buka pintunya. Jangan sampai aku mendobrak pintunya." Khai tidak patah arang, pria itu selalu membujuk Felisia. Hingga menit berikutnya, Khai tidak bisa lagi membiarkan Feli terus di dalam sana tanpa makanan.


Brak.


Pintu berhasil di dobrak oleh Khai. Khai melihat Feli meringkuk di atas kasur.


"Feli, bangu! Ini aku, Khai." Khai mengguncang tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Tak tinggal diam, Khai langsung menghubungi dokter.


Selagi menunggu dokter datang, Khai membuatkan bubur untuk Feli. Tak lama kemudian, dokter datang. Dokter langsung menangani pasien, alat inpus sudah dipasang. Hanya tinggal menunggu tersadarnya gadis itu.


Selesai dengan pekerjaannya, dokter pun pergi. Kini hanya ada Khai yang menemani Felisia. Khai menggenggam tangan gadis itu.


"Feli, aku mencintaimu," lirih Khai. Ucapan Khai membuat Feli tersadar, ia mengerjapkan kedua matanya. "Feli, jangan buat aku khawatir." Khai mengeratkan genggaman tangannya.


"Kenapa selalu menolongku?" tanya Feli dengan suara bergetar, gadis itu masih terlihat sangat lemah.


"Karena aku mencintaimu."


"Aku wanita kotor, aku tidak pantas mendapatkan cinta darimu. Aku benci hidupku! Aku juga benci bayi ini." Feli seperti orang kesurupan, gadis itu memukul-mukul perutnya sendiri.


Tidak ingin terjadi sesuatu pada Feli, Khai menghentikan aksi Feli dengan cara memeluknya. "Jangan sakiti anak yang tidak berdosa." kata Khai yang masih memeluk Feli.


"Jika kamu tidak menginginkan anak itu, biar ayah kandungnya yang merawatnya."


Mendengar kata-kata itu, Feli melepaskan pelukkan Khai.


"Apa maksudmu? Kamu tahu keberadaan ayah anak ini?"

__ADS_1


Sedikit sulit bagi Khai menjawab pertanyaan itu, tapi Khai harus memberitahukan bahwa anak yang dikandung Feli memiliki ayah. Ayah dari janin Feli sangat menunggu kelahirannya. Karena Dam sudah tahu akan hal itu, tidak ada rahasia antara Khai dan juga Dam.


Bersambung.


__ADS_2