
"Tapi setelah ini langsung tidur ya?" kata Malik.
Aleta pun melihat ke arahnya, ia tak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya
Pasalnya, mereka selalu menghabiskan malam-malamnya dengan mandi keringat.
Akhirnya, Aleta sudah ganti baju. Bahkan sudah mencuci wajahnya, sampai bumil itu terlihat lebih segar. Malik, sang suami langsung mengayunkan tangannya, menyuruh istrinya untuk segera menyusulnya. Aleta pun menghampirinya dan langsung merebahkan tubuhnya di samping suaminya. Malik langsung mendekapnya.
"Ingat apa katamu tadi!" Aleta mewanti-wanti suaminya. Ia hari ini begitu lelah, bahkan tubuhnya terasa remuk redam.
"Memangnya aku ngomong apa?" tanya Malik pura-pura lupa. Malik mengusap-ngusap lembut perut istrinya. "Sayang, kamu makan yang banyak coba, biar dia lebih cepat besar." Karena Malik merasa perut istrinya itu begitu kecil. Malah tubuh istrinya yang malah semakin lebar.
Aleta mencubit perut suaminya, sampai suaminya mengaduh. " Dia tumbuh sesuai umurnya, kamu mau aku semakin gemuk?" Karena Aleta merasa beban tubuhnya sedikit meningkat.
"Sakit, yang." Malik menyentuh bagian perut yang sempat dicubit oleh istrinya barusan.
"Abisnya kamu nyebelin. Udah ah, aku cape. Aku mau tidur. Badanku juga pegel-pegel ini." Aleta mulai memejamkan matanya.
Namun, Malik langsung beranjak.
"Kamu mau kemana?" Aleta jadi membuka matanya kembali. "Apa kamu tidak lelah?"
"Sebentar, aku ambil sesuatu dulu." Malik langsung turun dari kasur dan keluar kamar. Beberapa menit kemudian, ia sudah kembali sambil meneteng krim di tangan. Krim buat mengurut tubuh istrinya.
Aleta memekik. "Itu geli, kamu sedang apa?" Aleta terkejut ketika mendapati suaminya menyentuh bagian kakinya.
"Katanya tadi bilang pegel, aku pijat kakimu biar gak pegel lagi." Malik kembali mengurut bagian betis Aleta. Kalau tadi terasa geli karena Malik menyentuhnya tiba-tiba, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
Berikutnya, Aleta merasa pijatan suaminya sangat enak. Aleta sampai merem melek dibuatnya. Tak terasa ia tertidur dengan sendirinya saking enaknya.
"Gimana? Enak gak pijatanku?" tanya Malik. Namun karena tak ada jawaban, Malik menghentikan pijatannya. "Lah ... Sudah tidur saja." Malik pun menyudahi aktivitasnya. Ia menyimpan krim terlebih dulu di atas nakas. Lalu mulai menyelimuti tubuh istrinya, dan ia pun menyusul ke dalam mimpi Aleta. Ia pun terlelap begitu saja, hari ini hari yang sangat melelahkan bagi mereka.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Mentari mulai menyinari seisi bumi. Malik mulai mengerjapkan matanya, dan ia pun terbangun lebih dulu dari pada istrinya. Malik melihat ke arah Aleta, wajah nan sejuk itu menjadi sarapannya tiap pagi. Malik selalu bersemangat jika melihat wajah cantik istrinya, bagai ponsel yang di charger, selalu aktif.
Malik mencium kening istrinya, dan Aleta membuka matanya karena merasa suaminya mengganggu tidurnya.
"Ini sudah pagi, sayang," bisik Malik, sampai Aleta mendesir karena geli merasakan hembusan napas suaminya.
__ADS_1
Aleta menggeliat, ia tak inging beranjak. Ia malah kembali menarik selimutnya, niat melanjutkan tidurnya kembali. Malik membiarkan istrinya, biar saja dia malas-malasan pagi ini. "Kasian juga melihatnya," ucap Malik melihat istrinya.
Malik pun turun dari kasur, ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mandi pun selesai, kini ia turun ke lantai bawah. Di sana ia melihat bi Ani yang sedang memasak.
"Pagi, Bi?" Bi Ani langsung terlonjak kaget, karena mendengar suara tiba-tiba. Pasalnya ia tak tahu kedatangan Malik ke sini.
"Malik." Bi Ani menyentuh dadanya yang masih bergemuruh. " Kapan ke sini? Kok, Bibi gak tahu."
"Semalem, Bi. Mungkin Bibi sudah tidur."
Ketika Malik dan bi Ani sedang mengobrol, suara Axel menjadi pusat perhatian Malik. Bocah itu baru bangun tidur.
"Acel, Acel." Axel memanggil Malik, anak kecil itu masih ingat padanya. Malik pun mendekat dan langsung menggendong Axel yang umurnya hampir dua tahun.
Malik mencium gemas anak itu. "Axel belum mandi,mau acem."
Bi Ani yang melihatnya pun tersenyum, Malik sangat menyukai anak kecil. Tiba-tiba, bi Ani bersuara pada Malik.
"Kapan punya boneka hidup?"
Malik terdiam sejenak, ia mencerna pertanyaan dari bi Ani. "Boneka." Malik mengulang kata dari bi Ani.
"Oh ... Itu. Aleta sedang hamil, Bi. Sebentar lagi aku jadi ayah." Malik terlihat sangat bahagia.
"Waahh, Bibi bakal punya cucu lagi, dong?" Malik mengangguk sambil tersenyum.
"Axel sama Bibi dulu ya?" Malik menurunkan anak itu, Axel langsung berjalan menghampiri bi Ani. Dan Malik langsung menuju pantri, ia membuat sarapan untuk istrinya.
Bi Ani membiarkan Malik dengan aktivitasnya, ibu paruh baya itu pergi sambil menggendong Axel. Berniat untuk memandinkannya.
***
"Sayang, bangun." Malik sudah ada di kamar, pria itu dengan jahil menarik selimut yang di kenakan istrinya.
"Iihh ... Usil banget sih." Aleta sudah terbangun, hanya saja ia memilih untuk rebahan.
"Aku kira belum bangun," ucapnya sambil nyengir tidak jelas. "Mandi dulu sana," titahnya pada Aleta. "Kita ke rumah sakit, jemput Mama."
__ADS_1
Bukannya segera bergegas ke kamar mandi, bumil itu malah duduk di tepi ranjang dengan kaki menjutai ke bawah. Aleta menelan salivanya ketika ia melihat nampan yang berisikan susu dengan roti, yang ia pastikan itu buatan suaminya.
"Sebelum mandi aku sarapan dulu ya?" Tanpa menunggu jawaban, wanita itu langsung melahap sandwichnya. "Buatan suamiku memang selalu enak," puji Aleta.
Malik pun mendekat, ia langsung menggigit roti yang sedang di pegang istrinya. Akhirnya mereka sarapan bersama. Aleta meminum susu yang tersedia di atas nampan.
"Mau lebih nikmat tidak susunya?" tanya Malik.
Aleta menukik alisnya, rasa susu tidak akan berubah. Rasanya pasti sama saja.
Malik meraih gelas itu, lalu meminumnya.
"Eh, itukan susu hamil. Sejak kapan kamu hamil?"
Malik tidak bisa menjawab, karena ia menahan air susu itu di dalam mulutnya. Tanpa aba-aba, Malik mendaratkan bibirnya di bibir istrinya. Aleta membulatkan matanya. Apa-apaan suaminya itu? Aleta baru tahu minum susu bisa lewat perantara.
"Gimana?" tanya Malik tentang rasa susu itu.
"Pahit! Gak enak." jawab Aleta seraya memeperagakan seperti orang yang ingin muntah.
"Bohong!" Malik tidak percaya. "Kalau pahit, kamu sudah pasti memuntahkannya."
Aleta pun terkekeh, semakin hari suaminya itu ada-ada saja.
"Sudahlah kalau begitu, aku mau mandi dulu." Aleta bergegas ke kamar mandi. Selesai mandi, Malik masih setia berada di sana. Aleta menghampiri lemarinya.
"Kamu cari apa, sayang?" Malik melihat istrinya mengacak-acak seisi lemarinya.
"Bra punyaku kok pada kecil ya? Gak ada yang muat," keluh Aleta.
"Masa sih?" Malik mendekat ke arah istrinya, mencoba mencarikan bra yang mungkin cukup untuknya.
"Tuh lihat! Ini bra tidak pernah aku pakai karena kebesaran, tapi sekarang malah gak muat." Aleta bingung sendiri, apa perkembangan tubuhnya begitu drastis.
"Coba sini aku lihat." Dengan bermodalkan modus Malik mencoba mengeceknya.
"Ish ..." Aleta mendesis ketika suaminya malah menggerayangi tubuhnya yang ada di balik bra. Sontak, Aleta langsung memukul suaminya. Tidak tahu kalau ia sedang serius. 'Kan gak lucu kalau gak pake bra!
__ADS_1
Bersambung.