Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
63


__ADS_3

Selesai dengan olah raga pagi di kamar mandi. Dam langsung membopong tubuh istrinya. Alea sudah gemetar, gadis itu sudah kedinginan.


"Maafkan aku ya? Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," sesal Dam. Dam endaratkan tubuh istrinya di kasur.


Setalah itu, ia langsung memilihkan baju yang akan dikenakan istrinya, bajunya sedikit tertutup agar Alea tidak kedinginan. Tadinya ia memilih baju sedikit tebal, tapi Alea menolaknya. Karena akan pergi jauh, ia takut kegerahan nantinya.


Alea bagaikan bayi baru lahir, Dam memakaikan baju sampai lengkap. Alea tersenyum ketika Dam memberikan perhatiannya padanya. Tapi sayang, senyum Alea terciduk oleh Dam.


Pria itu semakin gemas pada Alea. Alea begitu sangat manis, ia menyesal sempat berpaling darinya. Dam sekarang berpikir. bagaimana caranya mengatakan semua ini pada Aleta? Gadis itu pasti membencinya, karena Dam memberikan harapan palsu padanya.


Selesai memakaikan baju pada Alea, ia pun dengan cepat memakai bajunya sendiri. Takut keburu ada yang mengetuk pintu seperti kemarin. Dan benar saja, mereka mendengar ada yang mengetuk pintu sambil memanggil namanya.


Dengan cepat, Dam membuka pintu. Lisa yang menemui mereka.


"Alea mana? Apa dia sudah siap?" tanya Lisa pada menantunya.


Belum Dam menjawab, Alea sudah muncul dari arah belakang Dam.


"Apa, Mammy? Aku sudah siap?" jawab Alea.


Lisa sedikit panik melihat anaknya yang terlihat sangat pucat. Lisa langsung menerobos masuk menghamipiri Alea. Ibu paruh baya itu langsung mengecek suhu tubuh anaknya.


"Tidak panas. Tapi kenapa wajahnya pucat sekali?" Lisa menempelkan punggung tangannya di kening Alea.


"Aku tidak sakit, Mammy!" protes Alea saat ibunya mengecek keadaanya.


Lisa mengkerutkan keningnya, lalu melihat ke arah Dam. Menantunya itu hanya tersenyum tipis. Pada akhirnya Lisa pun mengerti.


"Ayo cepat turun, kita sarapan?" ajak Lisa.


Dam dan Alea pun mengekor dari arah belakang Lisa. Alea begitu lamban dengan langkahnya, Dam menjadi menyesal. Mungkin Alea begitu kesakitan karena ulahnya.


"Kamu gak apa-apakan?" tanya Dam dengan bisikan, Dam takut ibu mertuanya mendengar.


Alea menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Walau pun begitu, tetap saja Dam merasa bersalah. Kalau tidak ada orang di sana, mungkin Dam sudah menggendong istrinya.


Alea dan Dam tertinggal jauh oleh Lisa. Hingga Lisa sudah sampai lebih dulu.

__ADS_1


"Mana, Dam dan Alea?" tanya Dania.


"Di belakang, sebentar lagi juga ke sini," jawab Lisa.


Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Mereka langsung ikut bergabung. Dam menarik kursi terlebih dulu untuk Alea duduk. Ia benar-benar memastikan Alea duduk dengan nyaman.


Dania dan Lisa terus memperhatikan gelagat Alea. Mereka pun memastikan bahwa sudah terjadi sesuatu semalam.


"Lisa, sepertinya kita tidak akan lama-lama mendapat cucu dari mereka," ucap Dania sambil melihat ke arah Dam dan Alea.


Tentu, itu membuat wajah Alea jadi merona. Seperti maling yang terciduk, Alea hanya senyum-senyum. Tapi tidak dengan Dam, pria itu menatap tajam ibunya. Kenapa ibunya itu selalu menuntut cucu? Pikir Dam.


"Sudah-sudah, kita sarapan," kata Darren. "Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan kantor," sambungnya lagi.


"Ah, si Daddy ni, kerjaan mulu," protes Dania.


Dan mereka pun sarapan bersama. Lisa lebih dulu menyudahi sarapannya, karena ia harus mengurus Leo, memberinya makan juga.


"Dania, aku duluan," kata Lisa.


Dania pun mengerti apa maksud Lisa.


Setelah ada derama sedikit dengan Lisa dan Leo, Alea pun berpisah.


"Dam, Mammy titip Alea, ya? Jaga dia, karena dia sudah tanggung jawabmu sekarang," kata Lisa. Dam mengangguk dan meyakinkan mertuanya, kalau ia bisa menjaga istrinya dengan baik.


Kini, mereka terbang le Indonesia dengan jet pribadi. Menempuh beberapa jam, hingga kini mereka mendarat dengan sempurna. Tiba di Indonesia, membuat Alea langsung teringat kenangan manis bersama suaminya.


Sampai di rumah. Mereka di sambut oleh para asisten di sana. Dan ternyata, ada Attar dan Syiera di sana. Suara celotehan dari Axel membuat ruangan menjadi ramai.


Alea langsung di peluk hangat oleh Syiera. Axel menjadi pusat perhatian Alea. Gadis itu langsung mengambil alih Axel dari pangkuan Syiera.


"Al, kamu masih cape. Istirahatlah dulu," kata Syiera.


"Iya, Al. Cuci tangan dulu sebelum nyentuh Axel," sahut Attar. Attar pun langsung mengambil Axel dari pangkuan Alea.


"Ah, maaf, Kak." Gadis itu pun pergi ke kamar mandi, mencuci tangan serta wajahnya.

__ADS_1


Sejenak, Darren serta yang lain beristirahat. Begitu pun dengan Khai. Pria itu selalu di goda oleh Lila, asisten genit yang ada di sana.


"Lila ... Kamu itu kebiasaan," kata Dam.


"Iya maaf, Tuan." Lila pun mengantar Khai ke kamarnya.


Setelah itu, Lila menyiapkan makanan untuk mereka. Hanya menyisakan Alea yang masih ingin bersama Axel. Padahal, Dam sudah menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dulu. Tapi Alea tidak menggubrisnya, ia tetap ingin bersama Axel.


"Aku di sini saja. Axel lucu, Dam. Menggemaskan." kekeh Alea.


"Iya kita ajak Axel ke kamar saja, bolehkan, Kak?" injinnya pada Syiera.


"Kamu pasti capek, Al. Sebaiknya istirahat dulu saja. Kakak di sini masih lama, kok." Bukannya tidak boleh Syiera hanya tidak ingin mengganggu pasangan baru itu dengan Axel.


Akhirnya, Alea pun pasrah. Ia membiarkan Axel dengan kedua orang tuanya.


"Nanti kita main lagi, ya? Aunty istirahat dulu," ucap Alea dengan gemas. Axel belum mengerti apa yang diucapkan Alea, balita itu hanya merengek tak ingin lepas dari Alea. Sepertinya Axel nyaman dengan Alea.


"Ayo?" ajak Dam pada Alea. Dam menuntun istrinya ke kamar.


Setibanya di kamar, Alea melihat kesekeliling kamar. Tidak ada yang berubah di sana. poto dirinya masing terpajang di sana, Alea langsung tersenyum pada Dam.


Alea pun masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Dam pun menyusul, ia tidur di samping Alea sambil memeluknya dari samping.


"Jangan macem-macem ya, Dam! Aku cape," kata Alea.


Ah si Dam malah menelusupkan wajahnya di leher Alea. Mengendus aroma tubuh istrinya.


"Dam ...," protes Alea.


"Gak akan terjadi sesuatu, Al. Kita istirahat, aku juga cape," ucapnya dengan manja.


Alea membelai rambut suaminya, hingga Dam merasa nyaman dengan sentuhan itu. Dam mulai tak lagi mengingat Aleta, kebersamaanya dengan Alea membuatnya tak lagi ada wanita lain.


Dam harus setia dengan satu wanita saja. Ia tak akan lagi egois. Apa dengan keputusan Dam sudah tepat? Walau bagaimana pun Aleta pasti terluka dulu sebelum ia benar-benar bisa mengikhlaskan si Dam.


Tapi cuma ini yang bisa Dam lakukan, agar tak lagi menyakiti hati Alea dan juga Aleta. Pria itu kadang tak berpikir jernih dengan keputusan yang diambilnya. Seenak jidat saja. Tapi, ya begitulah pria.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2