Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
69


__ADS_3

"Aleta sadar Aleta ..." Semakin menyadarkan Aleta, ia semakin tak bisa menahan diri. Harus bagaimana ini? Ingin menolak, tapi sesuatu di bawah sana sudah tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya, Malik menggulingkan tubuh Aleta.


Aleta berada di dalam kungkungan Malik. Aleta terus meronta, meminta lebih dari Malik. Yang ada di dalam benak gadis itu hanya Dam, hanya Dam seorang. Tak bisa seperti ini, Malik terus berusaha menyadarkan Aleta. Karena Malik tahu kalau Aleta menganggapnya hanya sebagai Dam.


Sayang seribu sayang, Aleta mulai tak bisa mengontrol diri, sehingga ia terus bergelayut di tubuh Malik. Dengan terpaksa, Malik membalas apa yang dilakukan oleh Aleta.


Malik mencumbu Aleta penuh perasaan. Setiap inci di wajah Aleta tak ia lewatkan. Hingga Malik terus menjelajah ke bagian tubuh gadis itu. Aleta menikmati sentuhan Malik.


Akibat dosis yang terlalu tinggi dari obat perangsang yang diberikan kakaknya sendiri.


Attar sudah yakin kalau Malik akan bertanggung jawab. Attar sudah percaya sepenuhnya pada Malik.


Di kamar Aleta, ruangan itu nampak penuh dengan gelora yang membuncah.


Malik sudah mendaratkan bibirnya di bibir Aleta. Bahkan jari jemari Malik mulai menyentuh sesuatu di balik bra. Mer*ba, sedikit m*r*masnya. Malik memberikan apa yang diinginkan gadis itu.


Tak cukup di situ, Malik mulai menelusuri tubuh Aleta. Leher, perut, sampai pada akhirnya, ia berhenti di titik di mana Aleta menginginkannya. Lidah Malik sudah bermain di bawah sana. Lihat, gadis itu mulai meremas seprai dan menjambak-jambak rambut Malik. Tah hanya rambut yang di jambak Aleta. Gadis itu mencakar bagian pundak Malik, sampai meninggalkan cakaran di sana.


"Aaahhh ..." Desah Aleta ketika mendekati akan puncaknya. Setelah itu, tubuh Aleta bergeyar hebat setelah sesuatu sudah keluar di bagian bawahnya.


Malik menarik tubuhnya, ia beranjak dari kasur. Pria itu masih sadar akan kelakuannya. Malik hanya membantu Aleta sampai gadis itu melepaskan hasratnya. Malik tidak akan melakukan itu pada Aleta.


Setelah berhasil, Malik langsung pergi meninggalkan Aleta yang tengah tergeletak di atas kasur. Dengan keadaan tanpa pakaian. Hanya selimut yang membungkus tubuh Aleta.


Kenapa Malik meninggalkan Aleta? Pria itu takut tak bisa mengontrol hasratnya sendiri. Pria itu pergi menuju kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya sendiri menghilangkan rasa inginnya. Namun sayang, sepertinya Malik harus mengeluarkannya. Bisa sakit kepala sampai keubun-ubun jika tidak di keluarkan. Akhirnya, ia bermain sendiri di kamar mandi.


***


Malik kembali ke kamar Aleta, dilihatnya gadis itu masih terlelap. Malik tersenyum teringat akan kejadian barusan, terasa mimpi memang. Tapi itulah kenyataannya.


Malik mendekat, menatap wajah Aleta dengan intens. Menyibak rambut yang hampir menutupi wajah cantiknya. Dengan berani, Malik mencium kening gadis itu.

__ADS_1


Pria itu teringat, siapa yang sudah memberikan obat perangsang pada Aleta. Tidak mungkin kalau Attar yang melakukannya bukan? Pikir Malik. Hingga pada akhirnya, Malik curiga pada Khai. Pria itu begitu agresif pada Aleta. Untung, ia masih bisa menyelamatkan kesucian Aleta.


Kantuk menyerang pada diri Malik, sampai Malik ikut tertidur di sana. Posisi Malik berada di tepi ranjang, ia hanya mendaratkan bagian kepalanya di kasur itu. Tubuhnya terduduk di lantai.


Keesokan harinya.


Aleta mengerejapkan matanya, kepalanya begitu terasa pusing. Ia sedikit mengingatnya, kalau semalam ia mabuk. Lalu, selanjutnya ia teringat akan kejadian semalam. Tidak semua yang diingat Aleta.


Aleta mulai menyadari akan keadaanya yang tak memakai baju. Ia kira itu hanya mimpi, Aleta langsung terbangun. Dan benar saja, tubuhnya polos. Aleta menjerit ketika melihat pria ada di tepi ranjang.


Malik yang mendengar langsung terbangun.


"Sudah bangun," ucap Malik.


"Kau ..." Mata Aleta menyalak marah pada Malik. Apa yang dilakukan pria itu di sini? Benarkah ia sudah melakukannya dengan pria itu? Pikir Aleta.


"Apa yang kamu lakukan padaku?" Hidung yang sudah kembang kempis menunggu jawaban dari Malik. "JAWAB!" Bertanya dengan penuh penekanan.


"A-aku ha-hanya."


"Hanya apa?" pungkas Aleta. Lalu gadis itu menangis histeris, karena ia pikir kesuciannya sudah terenggut.


Ingin mengelak, tapi Malik tidak bisa menjelaskan jika keadaan Aleta masih seperti itu, namun ia akan terus meyakinkan Aleta. Kalau ia tak merenggut mahkotanya.


"Al, aku hanya membantumu. Selebihnya, aku tak melakukan apa pun terhadapmu. Percayalah!" jelas Malik.


Tahu akan keadaannya yang seperti ini, haruskah Aleta percara akan omongan pria itu? Bahwa pria itu tidak melakukan apa pun terhadapnya. Setahu Aleta, tidak ada pria yang tak tergoda jika melihat wanita seperti dirinya sekarang, bahkan tanpa pakaian.


"Jangan bohong kamu, Malik!" Karena pikir Aleta, pria itu hanya akan lari dari tanggung jawab. Dengan mengatakan tidak terjadi apa-apa. Lalu, kalau tidak terjadi apa-apa, kenapa ia bisa tidak memakai baju?


Ketika mereka sedang adu mulut, tiba-tiba Atar datang dan menyaksikan perdebatan itu. Ia sengaja pulang pagi-pagi, niat ingin menangkap basah adiknya. Walau tidak sesuai ekspektasi, tapi ia yakin kalau mereka akan menikah.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Attar.


Malik dan Aleta sangat terkejut melihat Attar. Kedua orang itu tak menjawab. Mau menjawab apa? Mau bilang kalau mereka tidak melakukannya? Mana mungkin Attar percaya akan penjelasan mereka. Melihat Aleta yang polos begitu saja, sudah pasti Attar berpikir kalau sesuatu sudah terjadi diantara mereka.


"Kenapa diam? Ini tidak bisa dibiarkan, kalian harus menikah!"


Aleta membulatkan matanya. "Menikah." Aleta mengulangi ucapan Attar.


"Iya menikah, kamu pikir Kakak akan diam saja setelah tahu kalian_," ucapnya terputus, kala Malik ikut menimpali pembicaraan antar adik kakak itu.


"Kami tidak melakukannya," elak Malik.


Attar tersenyum miris ke arah Malik.


"Apa kamu bilang? Tidak melakukannya! Kamu pikir saya akan percaya dengan omong kosongmu! Sejak kapan kamu menjadi lelaki berengsek, hah?" Attar benar-benar berakting dengan sempurna. Padahal inikan rencananya, tapi ia tetap harus fokus pada rencananya, ia tidak ingin mengacaukannya.


Tidak terima dengan perkataan berengsek, Malik pun langsung berkata bahwa ia akan menikahi Aleta. Walau tidak terjadi sesuatu diantara mereka, sebagai lelaki gantle ia harus bertanggung jawab.


"Iya, saya akan menikahi Aleta," ucap Malik.


"Tidak! Aku tidak mau menikah dengannya," tolak Aleta.


"Apa kamu mau hamil tanpa suami! Apa kamu akan mencemarkan nama baik keluarga?" tukas Attar.


Tidak mau itu terjadi, akhirnya Aleta pasrah. Walau hatinya tetap menolak, tapi ia bisa apa?


"Diammu Kakak anggap setuju." Setelah mengatakan itu Attar pun pergi, pria itu tersenyum bahwa rencananya berjalan sempurna.


Malik pun mengikuti Attar.


Sementara Aleta, gadis itu menangis sekencang-kencangnya. Bahkan ia melempar semua bantal ke lantai.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2