
"Istirahatlah, aku akan membuatkan sesuatu untukmu?" Belum Malik melangkah, Aleta, mencekal lengan tangan Malik. Malik pun menoleh.
"Ada apa?"
"Aku tidak lapar, kamu tidak perlu membuatkan apa pun untukku."
Malik berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan perut Aleta, Malik menyentuhnya.
"Anak Daddy mau apa? Jangan rewel ya? Mommy harus banyak makan biar anak Daddy tumbuh dengan sehat." Malik mengajak calon anaknya bicara.
Replek, Aleta menyentuh kepala suaminya. Malik pun mendongakkan wajahnya dan melihat wajah istrinya.
"Tumben sekali dia menyentuhku." Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Malik pun langsung berdiri. Mereka saling menatap wajah satu sama lain.
Setelah Aleta hamil, ia selalu ingin bersama Malik.
Mungkin anak yang dikandungnya ingin selalu berasama ayahnya. Malik menyentuh pipi Aleta, tak ada penolakan. Dan itu membuat Malik semakin berani menyentuh tubuh yang lain.
Malik meraih pinggang istrinya dan mengeratkan tubuhnya dengan tubuh sang istri. Sudah tidak ada jarak diantara mereka. Malik sudah siap mendaratkan bibirnya di bibir istrinya, belum bibir itu terpaut tiba-tiba, ponsel milik Malik berbunyi. Keduanya pun langsung menjauh, sementara Aleta, ia langsung memalingkan wajahnya. Canggung melanda di dirinya.
Malik mengambil ponselnya yang ada di dalam saku, melihat ID pemanggil di layar dan memperlihatkannya pada Aleta. Attar yang menghubunginya.
Malik langsung saja menggesere tombol warna hijau.
"Hallo, Kak. Ada apa?"
"Kalian apa kabar? Kapan kembali ke sini?"
Malik menoleh ke arah Aleta. Lalu ia hubungkan dengan loadspeker agar Aleta ikut mendengarnya.
"Kak, ini aku," sahut Aleta.
"Kapan balik?"
Aleta dan Malik saling pandang.
"Sepertinya aku di sini dulu, Kak. Lagi banyak kerjaan."
"Ada kabar gembira, Kak," sahut Malik.
"Apa? Apa kabar gembiranya?" Attar begitu antusias, ia jadi penasaran kabar bahagia apa yang akan disampaikan adik-adiknya itu.
"Aleta hamil, sebentar lagi aku akan jadi ayah," kata Malik tak kalah bahagianya.
__ADS_1
"Waaahh ... Selamat ya?" Syiera pun ikut menimpali percakapan mereka.
Saking bahagianya Malik dan Aleta kembali mendekat. Malik memeluk istrinya dari samping, mereka sampai mengabaikan suara yang masih terdengar disambungan itu.
"Hallo, Hallo ... Apa kalian masih di situ?" suara Attar.
Malik dan Aleta terkesiap.
"Iya, Kak. Kami masih di sini," ucap Malik dan Aleta secara bersamaan.
"Ya sudah, kalau kalian masih ingin di sana tidak apa-apa. Untuk kamu, Malik. Kakak tetap akan menggajimu."
"Mana bisa begitu? Aku 'kan sudah tidak bekerja lagi denganmu," kata Malik. Malik tidak menerima uang cuma-cuma dari iparnya itu.
"Kamu masih menjaga Aleta. Kamu masih berhak mendapatkannya."
"Aleta sudah menjadi tanggung jawabku, Kak. Kakak tidak perlu khawatir, aku sudah dapat kerjaan di sini," tolak Malik secara halus mengenai uang yang akan diberikan padanya.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Berbahagialah kalian di sana."
Panggilan itu pun berakhir, Malik menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Dan posisi Malik masih dalam keadaan memeluk istrinya. Aleta tak melepaskan tatapanya dari Malik.
Jantung Aleta bahkan berdegup tak karuan, entah kenapa ia bisa seperti itu. Perlahan, Malik pun melepaskan tangannya dari pinggang Aleta. Ia takut Aleta marah, karena Aleta terus menatapnya.
"Kamu bilang tadi sudah mendapat kerjaan, kerja apa?" Aleta penasaran, karena tak mudah mencari pekerjaan di sini.
"Ada, deh ..." Tidak mungkin 'kan kalau ia bilang dirinya punya kenalan di sini. Ia rasa, ini belum saatnya istrinya tahu siapa ia sebenarnya.
"Oh ... Jadi mau mean rahasia rahasiaan denganku!" Aleta mengerecutkan bibirnya, ia nampak kesal suaminya tak jujur padanya. Malah, Aleta sudah membelakangi suaminya dengan tangan bersedekap di dada.
"Jangan marah, ini hanya serabutan. Aku malu, Aleta. Aku belum bisa menafkahimu," lirih Malik.
Mendengar penjelasan Malik, Aleta pun membalikkan tubuhnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud_," ucapnya tergantung kala Malik memeluknya.
"Aku yang harusnya minta maaf, selama kita menikah aku belum bisa membahagiakanmu."
"Bahkan aku belum bisa membuatmu mencintaiku."
Mendapat pelukan tiba-tiba, Aleta tak merespons. Bumil itu malah berkaca-kaca, ternyata suaminya itu berniat ingin membahagiakan. Tapi dengan dirinya, ia malah membenci ayah dari calon anaknya.
Malik melepaskan kembali tubuh Aleta dari pelukannya. Dan sekarang Malik malah membopong tubuh mungil itu, membawanya ke ranjang. Meletakan tubuh itu dengan pelan di atas kasur.
__ADS_1
"Tidur dan istirahatlah." Setelah menurunkan istrinya, Malik menarik tubuhnya. Ia beranjak dari kasur.
"Mau kemana?" tanya Aleta.
"Aku mau mandi. Tidur saja duluan." Malik pun berlalu, ia segera bergegas ke kamar mandi untuk memberiskan diri. Ia harus dalam keadaan bersih jika sedang berada didekat istrinya. Kehamilan Aleta benar-benar harus terjaga, ia harus steril.
Agar janin yang tumbuh di rahim istrinya terjaga kesehatannya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Malik. Hanya beberapa menit, ia sudah selesai mandi.
Ia mandi memakai kamar mandi yang ada di kamar istrinya, biasanya ia mandi di kamar mandi yang lain. Ia berani begini karena sikap Aleta yang sedikit mulai berubah padanya. Semoga akan lebih dekat dari ini. Harapan Malik hidup bahagia bersama Aleta cukup besar. Malik benar-benar mencintai istrinya itu.
Selesai mandi, ia langsung memakai baju. Setelah itu, ia melihat istrinya sudah tidur. Hanya ingin memastikan sudah tidur apa belum, Malik pun mendekati istrinya. Ia menyibak rambut yang menghalangi wajah cantik Aleta. Dengan berani, Malik mencium keningnya. Masih merasa ada yang kurang, Malik pun mencium bibir istrinya. Tapi sayang, si pemilik tubuh malah terbangun.
"Belum tidur?" tanya Malik. Padahal hatinya sudah dag dig dug tak karuan. Takut kena marah istrinya karena sudah terciduk. Aleta tak marah, Malik semakin senang. Ia pun kembali menciumnya, awalnya ciuman itu hanya ciuman biasa. Tapi lama-lama ciuman itu membangkitkan sesuatu dalam diri Malik, karena Aleta pun membalas ciuman itu.
Tangan Malik mulai berani kesana kemari. Tangannya mulai menelusuri di balik pakaian yang dikenakan Aleta. Aleta meresapi setiap sentuhan suaminya.
Malik semakin tak bisa menahan diri. Aleta semakin terbuai, perlakuan lembut Malik membuat Aleta menginginkan lebih dari ini. Satu persatu, Malik melapaskan kancing baju istrinya.
Dan kini mereka sudah sama polosnya, Malik terlalu bersemangat sampai Aleta sedikit mengaduh.
"Apa ini sakit?" Malik tidak ingin menyakiti istrinya sedikit pun.
Aleta menggelang.
Malik pun kembali melanjutkan aksinya, sangat pelan sekali. ia menggesek-gesekan sesuatu di bawah sana.
Kita akan mencapai puncaknya, Malik sedikit memepercepat gerakannya.
"Bilang padaku jika aku menyakitmu?"
Aleta mengangguk pelan, ia sendiri tak menyangka bahwa ia menerima perlakuan suaminya. Kenikmatan itu sepertinya tak ingin berakhir begitu saja.
Hingga Malik mencapai puncaknya, tubuh Malik bergetar. Tapi Aleta masih menuntut, wanita itu ingin kembali menyebrangi lautan. Menerjang ombak dan menghantam batu karang.
Malik kembali on ketika Aleta mulai memimpin permainan. Malik terperanga, ia tak percaya istrinya begitu menggairahkan.
"Pelan-pelan, aku tidak ingin menyakiti calon anak kita," bisik Malik di telinga Aleta. Karena posisi Aleta berada di atas tubuhnya.
Sedikit malu mendengar ucapan suaminya, masa sih ia begitu cepat menggerakan pinggulnya? Perasaan biasa saja. Pikir Aleta.
Lihat, wanita itu mengerang. Dan tubuhnya langsung ambruk di atas suaminya.
Bersambung.
__ADS_1