
"Ehem ..."
Suara itu terdengar seperti sedang menangkap basah Aleta juga Malik.
Malik langsung menoleh ke arah sumber suara. Malik menjadi kikuk, tapi tidak dengan Aleta. Gadis itu langsung beranjak dan menghamburkan tubuhnya di pelukan sang kakak.
"Lama sekali pulangnya," kata Aleta yang masih memeluk Attar.
Attar mengacak gemas rambut adiknya, hampir setahun ia tak bertemu dengannya.
"Ah, Kakak," protes Aleta, gadis itu tak terima rambutnya diacak. Attar pun merapihkan kembali rambutnya.
Attar menoleh ke arah Malik, ingin menanyakan sesuatu padanya. Tapi ia mengurungkan niatnya, Attar tak pernah melihat Malik atau pun tahu pria itu berkencan dengan seorang wanita. Sempat berpikir kalau Malik tidak normal.
Tetapi, barusan ia melihat dengan kepala matanya sendiri kalau ia begitu dekat dengan Aleta. Semoga saja dugaannya benar, pikir Attar.
"Kak, aku kangen sama Axel. Kapan dia pulang?" tanya Aleta.
"Kalau kangen temuilah dia di rumah Dam," jawab Attar. "Kamu bisa pergi bersama Malik," imbuhnya lagi.
Mendengar nama Dam, Aleta sudah malas. Apa lagi bertemu, rindu memang. Tapi ia kecewa, karena Dam menggantungkan perasaannya. Setidaknya ada penjelasan untuknya, Aleta bisa menerima dengan ikhlas.
"Suruh Kak Syiera pulang saja, Kak. Besok suruh pulang, ya?" Aleta membujuk sang kakak. "Bilang padanya, adik yang cantik jelita ini sudah pulang." Aleta mengedip-ngedipkan kedua matanya.
Malik yang memperhatikan semakin menyukainya, betapa manjanya ia pada kakaknya.
"Ya sudah, besok Kakak coba. Tapi kalau Syiera masih ingin di sana, terpaksa kamu yang ke sana. Soalnya di sana lagi sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk resepsi pernikahannya, Dam," jelas Attar.
"Ya sudah, Kakak masuk dulu." Attar pun pergi meninggalkan Aleta dan Malik.
Kini hanya ada Malik dan Aleta di sana.
Setelah kepergian Attar, Aleta pun pergi. Tapi sebelum Aleta pergi, Malik menghentikannya.
Pria itu minta penjelasan kenapa tadi Aleta sempat marah padanya.
"Kenapa tadi menangis? Aku sudah bilang bukan, jangan mengeluarkan air matamu. Jika aku ada salah, maafkan aku."
"Tidak! Kamu tidak salah. Maaf, tadi sempat marah padamu," sesal Aleta.
***
Keesokan harinya
__ADS_1
Pagi-pagi, Malik sudah bersenandung. Ia sedang memanaskan mobil, pria itu akan mengantar Aleta ke rumah Dam. Karena Attar sudah menyuruhnya untuk mengantar Aleta. Syiera tak ingin pulang, banyak sanak saudaranya di sana, karena akan menyambut hari resepsinya, Dam.
Bahkan, Attar sudah berangkat ke rumah sakit. Ketika Malik sedang asyik, tiba-tiba, Aleta datang menghampiri.
Gadis itu terlihat cantik pagi ini. Rambut yang digelung secara asal, hingga terlihat leher jenjangnya dan wajah yang khas baru bangun tidur, serta wajah yang polos tanpa make up, menambah kecantikan Aleta pagi ini.
"Sepertinya kamu lagi senang?" tanya Aleta tiba-tiba.
Malik terparanjat, pria itu sedikit terkejut. Mendengar suara yang sudah tidak asing lagi membuatnya langsung menoleh. Pria itu tersenyum manis, mungkin senyum yang paling manis ia tunjukkan pada Aleta.
"Iya, Al. Hari ini membuatku bersemangat," jawab Malik.
"Mau kemana pagi-pagi sudah memanaskan mobil? Bukankah Kak Attar sudah berangkat?" Aleta mengira kalau Malik akan mengantarkan Attar.
"Iya aku sudah tahu kalau Tuan sudah berangkat. Aku akan mengantarmu menemui Axel, Nyonya Syiera tak bisa pulang."
Aleta menghembuskan napasnya, mau tak mau ia yang menemui Axel. Rasa rindu pada bocah itu tak dapat ia tahan. Akhirnya ia pun pergi ke sana bersama Malik.
***
Aleta sudah sampai di rumah Dam. Gadis itu sedikit ragu ketika akan masuk ke dalam rumah itu. Ia melihat cukup ramai di sana.
"Aleta?" panggil Alea. Alea langsung menghampiri Aleta. Gadis itu memeluk dan menyambut Aleta dengan hangat.
"Kak Syiera di mana?"
"Di atas, sedang menidurkan Axel. Axel sedikit rewel, mungkin merasa risih di sini banyak orang," jelas Alea.
Aleta pun pergi ke atas, niat ingin menemui kakaknya. Ketika sedang menaiki anak tangga, ia berpapasan dengan Dam. Namun Aleta bersikap seperti biasa, seolah tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka. Tapi Dam tidak bisa seperti ini, ia pun menarik tangan Aleta. Dam membawa Aleta ke tempat yang lebih sepi, yakni ke ruangan yang tak pernah di kunjungi orang lain. Ruang kerjanya, Dam.
"Apa yang kamu lakukan, Dam?" tanya Aleta. "Aku takut ada yang melihat."
"Tidak akan." Dam memastikan. "Hanya sebentar, Aleta. Aku hanya ingin minta maaf padamu."
"Tidak perlu minta maaf, Dam. Aku yang salah di sini, sudah masuk ke dalam hidupmu. Harusnya aku sadar dari awal, kalau aku tidak mungkin memilikimu."
Mendengar pernyataan Aleta, Dam merasa lega, ternyata wanita itu cukup kuat menghadapi hidupnya. Pikir Dam.
Dam tidak tahu saja, kalau ternyata Aleta sangat kecewa, Aleta berbohong agar rumah tangga Dam baik-baik saja. Agar Dam tidak dihantui rasa bersalah padanya.
Aleta pun keluar dari ruangan itu, ia tak ingin lama-lama berada dengan Dam. Disaat Aleta menutup pintu, gadis itu tak sengaja menyenggol seseorang.
"Maaf, aku tak sengaja," kata Aleta pada orang itu.
__ADS_1
Namun orang itu hanya terdiam seperti kena sihir.
"Cantik, gak nyangka ada Bidadari di sini," batin orang itu.
"Anda tidak apa-apa 'kan? Apa ada yang rusak?" tanya Aleta. Karena orang itu sedang membawa kue di tangan. Aleta takut kue itu rusak karena ia sempat menyenggolnya.
Orang itu hanya menggeleng, ia terus memperhtikan Aleta.
"Kalau begitu, aku permisi." Aleta pun langsung pergi, Aleta merasa risih dengan tatapan orang itu.
Kepergian Aleta membuat orang itu tersadar.
Ia baru menyadari kalau Aleta keluar dari ruang kerja Dam. Ketika orang itu masih berada di tempat, di mana tepat di depan pintu ruang kerjanya Dam. Dam pun keluar dari ruangan itu.
Semakin penasaran saja orang itu pada Aleta. "Ada hubungan apa antara Dam dengan gadis itu?" batin orang itu yang tak lain adalah Khai.
"Khai, sedang apa kamu di sini?" tanya Dam.
Bukannya menjawab, Khai malah menanyakan gadis tadi, Khai begitu penasaran kenapa gadis itu keluar dari ruang kerja adik iparnya?
"Siapa gadis tadi?"
Dam mengerutkan kedua alisnya bingung. Apa Khai melihat Aleta? Pikir Dam. Namun sebisa mungkin Dam mencoba tenang.
"Oh, dia adiknya Kak Attar, adik iparnya Kak Syiera."
Khai hanya manggut-manggut. Khai kira masih keterikatan saudara, tidak mungkin kalau mereka ada hubungan.
"Boleh kenalkan aku padanya?" pinta Khai. Sepertinya Khai tertarik pada gadis yang baru saja menabraknya.
Dam malah diam, apa iya Dam harus mengenalkan Khai pada Aleta? Setelah dipikir-pikir, apa salahnya Dam mendekatkan Aleta dengan Khai? Semoga saja misinya berhasil dan tidak menyinggung Aleta.
"Ok, nanti aku kenalkan kamu dengan Aleta," ucap Dam.
"Oh nama gadis itu, Aleta." Khai jadi senyum-senyum sendiri.
Melihat Khai seperti itu, Dam jadi berpikir kalau Khai menyukai Aleta.
bersambung.
Kalau penasaran dengan visual tokoh SUAMI PILIHAN DADDY follow IG penulisnya.
Febianty01, kita kenalan di sana.
__ADS_1
Terimakasih.