Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
49


__ADS_3

Dokter langsung menangani pasien. Apa lagi mereka tahu, siapa pasien yang kini menajdi pasiennya. Dokter mana yang tak mengenal dokter Autin Attar. Pemilik dari rumah sakit terbersar di ibu kota. Mereka yang menangani sangat hati-hati, tak ingin melakukan kesalahan.


Malik yang sedari tadi mondar-mandir di depan ruangan, yang di mana ada bos-nya yang tengah berjuang untuk hidup.


Sementara di tempat lain.


Dam pun merasa gelisah, bagaimana kondisi kedua wanita itu? Ditambah ia juga tengah memikirkan kakak iparnya, ia sampai lupa tak mengabari kedua orang tuanya.


Tak lama dari situ. Dania dan Darren datang ke rumah sakit. Mereka mendapat kabar dari berita. Dokter Attar yang terkenal langsung diliput dalam berita, mungkin hampir semua berita di televisi berita tentang kecelakaan yang menerpanya.


Dam melihat kedua orang tuanya yang baru tiba di sana.


"Momy." Dam langsung memeluk tubuh ibunya, pria itu menangis dalam pelukkan sang ibu. Dam mendadak menjadi melo.


"Bagaimana kondisi Attar?" tanya Darren pada Dam. Dam menggelengkan kepalanya, ia tak tahu akan kondisi kakak iparnya. "Syiera mana?" tanya Darren lagi.


"Di dalam, Kakak pingsan. Dia masih belum sadar," jelas Dam.


"Ya ampun ... Syiera pasti shyock." Darren tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya dan juga calon cucunya.


"Adiknya Attar, di mana gadis itu?" tanya Dania.


"Dia juga pingsan, Mom. Aku menunggu mereka. Untuk Kak Attar, di sana ada Malik."


"Siapa Malik?" tanya kedua orang tua Dam bersamaan.


"Orang kepercayaan Kak Attar."


Mereka bertiga terdiam sejenak, lalu dokter keluar dari ruangan Syiera dan Aleta. Melihat dokter keluar. Darren langsung menghampiri, dan menanyakan kondisi anaknya.


"Dokter, bagaimana kondisi mereka?"


"mereka sangat shyock. Untuk yang lagi hamil, pasien belum sadar. Untuk yang satunya lagi, wanita itu baru saja membuka matanya," jelas dokter panjang lebar.


"Boleh kami masuk, Dok?" tanya Dania.

__ADS_1


"Boleh, tapi jangan sampai menganggu. Tunggu mereka terbangun sendiri." Setelah mengatakan itu, dokter pun berlalu.


Darren, Dania, juga Dam. Mereka langsung masuk, mereka sangat prihatin melihat dua wanitu terbaring lemas di atas branker.


Aleta langsung mendudukkan tubuhnya, gadis itu kembali menangis. Ingin keluar, tapi tubuhnya terlalu lemas. Yang ia bisa lakukan hanya berdoa, semoga kakaknya selamat.


Aleta menoleh ke arah samping, ia melihat kakak iparnya masih belum sadar. Dam pun langsung menghampiri gadis itu. Replek, Dam memeluk Aleta memberi ketenangan padanya.


Dania yang melihat hampir menegur aksi anaknya itu. Tapi keburu dicegah oleh suaminya.


"Biarkan saja. Dam hanya menghibur Aleta." Darren tahu betul akan kekhawatiran istrinya terhadap Dam. Dania takut Dam tidak bisa melepaskan perasaannya nanti pada Aleta. Yang ada dalam pikiran Dania hanya Alea. Gadis itu tak boleh merasakan sakit hati atas sikap anaknya.


Aleta terus menangis hingga matanya sembab, tangisan Aleta membangunkan Syiera. Syiera pun mengerjapkan matanya sambil menyentuh kepalanya yang masih terasa pusing.


Ketika sudah membuka matanya lebar-lebar, Syiera baru tersadar akan kejadian yang menimpa suaminya. Syiera pun langsung turun dari branker, dan mencabut selang inpus secara asal. Hingga darah segar mengalir keluar dari tangannya, ia tak mempedulikan itu.


Syiera hanya ingin tahu akan kondisi suaminya. Melihat aksi Syiera, Darren langsung menghentikan Syiera yang hendak keluar dari ruangannya.


"Biarkan aku keluar, Dad! Aku ingin melihat suamiku," ucapnya dalam tangisan.


"Tenang! Tenangkan dirimu. Kamu tidak boleh egois! Ingat anak yang ada dalam kandunganmu, Syiera!"


Aleta pun turun dari branker, gadis itu memeluk kakak iparnya, jika sesuatu terjadi pada Attar. Tidak ada lagi tempat mengadu untuknya. Aleta menangis dalam kondisi memeluk Syiera.


Dua wanita itu menangis bersamaan. Orang tersayangnya tengah berjuang.


"Semoga Kak Attar baik-baik saja, Kak," kata Aleta. Gadis itu menyemangati diri dan Syiera.


Syiera pun mengangguk, semoga saja suaminya selamat.


"Dad, aku ingin keluar," pinta Syiera.


Dam mengambil kursi roda untuk menopang tubuh kakaknya. Syiera pun langsung duduk di kursi roda, Darren mendorongnya keluar. Sementara Aleta, Dam yang membantu memapahnya.


Hingga mereka sampai di depan ruangan, di mana ada Attar di dalam sana sedang berjuang. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangan itu satu persatu. Karena tak hanya satu dokter yang menangani Attar.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi pasien?" tanya Darren, ia mewakilkan Syiera, karena Syiera tak ada tenaga sama sekali. Wanita itu mendadak serasa tak bertenanga dan tak bertulang.


Syiera hanya bisa menangis.


"Kondisi pasien sangat kritis, Tuan. Sebaiknya kita berdoa, semoga pasien cepat melalui kritisnya."


Mendengar itu, tangis Syiera pecah. Tak ada lagi semangat untuknya jika suaminya seperti ini. Apa lagi dengan Aleta, gadis itu hampir jatuh pingsan kembali. Mungkin jika Malik tidak cepat menangkapnya, sudah dipastikan Aleta terjatuh ke lantai.


Dam yang melihat, langsung mengambil alih tubuh Aleta dari dekapan Malik. Ada apa dengan Dam, apa pria itu cemburu pada Malik?


Malik hanya menjaga amanah yang diperintahkan bosnya. Ia harus menjaga Aleta juga istrinya, tak ada niat apa-apa.


"Dam ... Apa yang kamu lakukan?" tanya Dania. Dania kurang suka akan kepeduliaan Dam yang menirutnya terlalu berlebihan pada Aleta.


"Sudah-sudah ... Jangan ribut," seru Darren. Ia mencoba mendamaikan keadaan. Malu jika dilihat orang.


"Syiera, sebaiknya kamu pulang. Tidak baik dengan kesehatan janinmu, biarkan kami yang menunggu Attar," kata Darren.


"Tidak! Aku tidak mau meninggalkan suamiku!" Syiera kembali menangis. Ia menolak dengan permintaan ayahnya yang menyuruhnya untuk pulang.


"Jangan seperti ini, suamimu pasti sedih jika melihatmu begini, sayang," timpal Dania.


"Iya, Kak. Kakak pulang saja, Aleta juga pulang, ya?" pinta Dam pada mereka berdua. "Kakak harus menjaga calon anak Kakak," sambungnya lagi.


Pada akhirnya, Syiera pun menurut. Ia pulang berama Aleta, diantar oleh Malik. Tadinya, Dam yang akan mengantar mereka. Tapi dicegah oleh orang tuanya.


Dam juga butuh istirahat, kerana mungkin ia juga lelah sehabis perjalanan. Dam putuskan untuk pulang ke rumah.


Kini hanya ada Dania dan Darren yang menunggu Attar. Darren menemui dokter, ia ingin tahu kondisi Attar yang sebenarnya.


Setelah mendengar penuturuan dokter, Darren pun mulai memikirkan nasib anaknya. Kemungkinan untuk sembuh bagi Attar sangat tipis. Benturan di kepalanya cukup keras. Dokter pun sudah tidak bisa apa-apa. Hanya menunggu mukjizat dari Tuhan, semoga Attar kembali sehat sedia kala.


Dania pun menitikkan air matanya, ia merasa prihatin pada anak sambungnya itu. Ternyata hidup Syiera tak seindah yang di bayangkan kedua orang tuanya. Disaat sedang hamil harus menerima kenyataan pahit.


bersambung

__ADS_1


Selamat pagi.


Maaf ya para pembacaku, karena hidup tak selamanya mulus. Sedikit melo sedikit ya?


__ADS_2