
Aroma bumbu dari nasi goreng begitu menyeruak, wanginya membuat Aleta semakin meronta. Cacing di dalam perut sudah mulai mengajak perang.
Bagai anak kecil, Aleta menghentak-hentakan sendok dan garpu di atas piring.
"Nasi goreng sudah siap ..." Malik meletakan nasi goreng di atas meja, dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Aleta menghirup aroma itu, wanginya bikin ngiler.
Disaat Malik duduk, Aleta malah pindah tempat duduk. Ia duduk di pangkuan Malik. Tentu Malik begitu senang. Istrinya harus bahagia, itu yang dipikirkan Malik sekarang.
"Aaaa ..." Malik menyuapi istrinya. "Makan yang banyak ya?"
Aleta mengangguk, dengan seperti ini, Aleta tidak mengingat masalah tadi. Malik benar-benar membantunya. Ketika sedang asyik makan, ponsel milik Aleta berdering. Awalnya mereka mengcuhkan nada itu.
Namun karena terus bersuara, Malik pun mengambilnya. Tapi sebelumnya, ia menurunkan istrinya yang duduk di pangkuannya.
"Siapa?" tanya Aleta, disaat ponsel sudah ada dalam genggaman Malik
"Dam," jawab Malik.
Malik sedikit cemburu ketika Dam menghubungi istrinya.
"Ngapain dia menelponku?" tanya Aleta.
"Ya mana aku tahu," jawab Malik sedikit jutek.
"Abaikan sajalah, aku gak mau ada yang marah jika aku menerima panggilan darinya." Aleta menyindir Malik.
Jelas saja Malik marah, apa lagi kalau Dam menghubungi Aleta hanya untuk sekedar menanyakan kabar. Namun, Malik memberikan ponselnya pada Aleta.
"Angkat saja, siapa tahu penting!"
Aleta menggeleng, ia tak ingin membuat suaminya marah.
"Kenapa?" tanya Malik
"Biarkan saja." Aleta malas, ia tak ingin menghancurkan keharmonisan yang sudah tercipta di dalam rumah tangganya.
Tak lama, ponsel pun mati. Beberapa menit kemudian, Dam memberi pesan. Malik membuka dan membaca pesan itu.
"Al, Kak Syiera di rumah sakit, dia akan melahirkan." Isi pesan tersebut.
Malik jadi tidak enak ia sudah cemburu buta pada Dam. Padahal Malik tahu kalau Dam mencintai Alea istrinya. Tapi ia juga khawatir, ia takut kalau Aleta masih ada perasaaan pada Dam.
Karena tidak ingin menjadi masalah ke depannya, dengan berani Malik bertanya akan isi hati istrinya.
"Apa kamu masih mencintai, Dam?" Malik harap-harap cemas menunggu jawaban istrinya.
"Apa maksud dari pertanyaanmu?" Aleta tak suka dengan pertanyaan Malik.
"Aku hanya ingin memastikan, apa kamu mencintaiku?"
__ADS_1
"Apa kamu meragukanku?" tanya Aleta.
"Jujur saja! Aku hanya tidak ingin menjadi pelampiasanmu, Aleta!"
"Demi anak yang aku kandung, aku Mencintaimu! Kamu berhak mendapatkan cinta dariku, karena kamu baik dan sabar menghadapiku." Aleta meyakinkan suaminya, tidak ada pelarian di hati Aleta.
"Betul begitu?" Aleta mengangguk cepat. Malik langsung tersenyum dan memeluk istri kesayangannya itu. "Jangan pernah pergi dariku, apa pun yang terjadi," ucap Malik.
Aleta melepaskan pelukkan suaminya, ia menatap mata Malik begitu dalam. Cinta yang terlihat di mata Malik begitu besar padanya.
"Aku mencintaimu, suamiku." Aleta mengecup bibir suaminya sekilas.
Malik sampai mengabaikan pesan dari Dam. karena rasa penasaran akan hatinya Aleta padanya. Dan sekarang sudah terjawab, ia tak ingin lagi ada rasa cemburu buta pada istrinya.
"Nasi gorengnya keburu dingin kalau kita begini terus. Kita lanjutkan nanti di kamar setelah makan." Malik menaik turunkan kedua alisnya.
Bugh
Aleta memukul dada suaminya.
"Mesum!" cibir Aleta.
"Emangnya kenapa? Ada yang salah mesum sama istri sendiri, hmm." Malik menempelkan keningnya di kening istrinya.
"Udah ah becandanya. Aku masih laper," ujar Aleta seraya mendorong tubuh suaminya.
Disaat Malik akan menyuapi istrinya, ia menepuk keningnya sendiri. Malik lupa dengan pesan yang dikirim Dam tadi.
Aleta mengmbil ponsel itu lalu membacanya.
"Kok bisa sih? Kandungan Kak Syiera belum Cukup untuk melahirkan. Apa sesuatu telah terjadi padanya?" Aleta jadi kepikiran akan hal itu. "Kita ke Indonesia ya? Besok!" pinta Aleta.
Malik bingung, ia 'kan baru masuk kerja. Masa udah bolos, bagaimana ini? Malik nampak berpikir.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau ikut?"
"Bukan begitu, sayang. Aku baru dapet kerjaan, kalau aku dipecat bagaimana?"
Aleta juga berpikir ke situ. Nyari kerja di sini susah, kalau menetap kembali di Inonesia ia juga bingung. Ia sendiri sedang menangani beberapa kasus di sini. Aleta pun memutuskan pergi ke Indonesia seorang diri.
"Tidak! Aku tidak mengizinkanmu pergi sendiri. Bilang saja pada mereka kita gak bisa ke sana. Aku yakin Kakakmu mengerti, apa lagi dia tahu kalau kamu juga tengah hamil. Kita doakan saja semoga tidak terjadi sesuatu dengan Kak Syiera."
Akhirnya, Aleta pun nurut. Walau bagaimana pun ia harus menuruti apa kata suaminya.
Karena dari tadi mereka berbincang, Malik sampai tidak menyadari, nasi gorengnya habis dimakan sendiri.
"Aaaa ..." Aleta membuka mulutnya, susah siap akan menerima suapan dari suaminya. Tapi sayang nasi goreng sudah habis.
"Ya ... Maaf, sudah habis," ucap Malik.
"Iiihhh, kamu tuh! Yang laper itu sebenarnya siapa?"
__ADS_1
Namum Malik, pria itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan sedikit senyum merasa bersalah.
"Aku buatkan lagi ya?"
"Keburu hilang lapernya kalau nunggu kamu masak! Bikinin susu saja. Rasa cokelat, selagi kamu buat susu, aku mau mandi."
Aleta beranjak dari ruang makan. Ia pergi menuju kamar.
Sementara Malik, pria itu langsung membuatkan susu sesuai permintaan sang istri.
***
"Al, susunya sudah siap," kata Malik tepat di depan pintu kamar mandi.
Tak lama, Aleta pun keluar, dalam keadaan hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya, rambut yang basah memberikan kesegeran pada wanita itu. Wanginya shampo yang menyeruak di penciuman Malik sampai pria itu menghirupnya dalam-dalam.
"Wanginya istriku."
Melihat istri dalam keadaan seperti itu, Malik menelan ludahnya sendiri.
"Jangan mesum!" kekeh Aleta. Wanita itu berjalan melewati suaminya yang sedari tadi tak mengedipkan matanya sama sekali.
Aleta meraih gelas di atas nakas yang berisikan susu, lalu menyeruputnya.
Setelah itu, ia berlenggok menuju lemari untuk mengambil baju. Sebelum Aleta sampai, Malik lebih dulu mendahuluinya. Membuat Aleta terheran, apa maksudnya suaminya itu?
Malik mengambilkan baju untuk dikenakan istrinya. Sedangkan Aleta, ia hanya geleng-geleng kepala.
Malik bucin akut.
"Cari baju seperti apa sih?" Dari tadi, Malik mengacak-acak isi lemarinya.
"Semalam aku mengambilnya di sini, tapi kenapa sekarang tidak ada! Kamu simpan di mana, sayang?"
"Ish ..." Wanita itu mendesis, pasti yang dicari Malik baju sexsi.
"Aku gak mau pake baju seperti itu!"
"Kenapa? Kamu cantik dengan baju itu," puji Malik.
"Cantik ... Modus!" celetuk ibu hamil itu.
Pasutri itu malah berdebat soal baju. Padahal pakai baju apa saja Malik bisa melakukannya jika ia sedang ingin. Tinggal dibuka saja, gampangkan!
"Tapi aku mau kamu pakai baju seperti semalam sayang ..." Malik kekeh dengan keinginannya.
"Gak usah pake baju saja sekalian!" geram Aleta.
Mendengar itu, mata Malik semakin berbinar. Sedangkan Aleta, ia melihatnya dengan jengah.
Sudah pasti malam ini begadang lagi.
__ADS_1
Bersambung.