Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
70


__ADS_3

lMalik terus mengikuti kemana pun Attar pergi, ia harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara ia dengan Aleta. Hingga Attar berada di ruang kerja.


"Tuan ... Saya dan Aleta tidak melakukannya, saya hanya membantu Aleta melepaskannya," kata Malik.


Attar melihat ke arah Malik, tatapan seolah meminta penjelasan yang lebih. Kenapa sampai tidak terjadi? Harusnya Malik melakukannya bukan? Pria mana yang akan menolak wanita secantik Aleta? Bahkan Aleta sudah dalam kondisi seperti itu. Attar tak percaya pada Malik begitu saja.


"Dengan cara apa saya harus percaya? Apa kamu bisa membuktikannya kalau kamu dan Aleta benar tidak melakukannya?"


Malik juga bingung, harus membuktikan dengan cara apa? Sebisa mungkin ia mengakatan soal semalam pada Attar.


Attar menahan tawa ketika Malik menjelaskannya soal semalam padanya. Bisa-bisanya Malik seperti itu? Pikir Attar. Tapi patut diacungi jempol, ternyata Malik bukan pria yang memanfaatkan keadaan. Attar semakin yakin kalau Malik bisa menjaga adiknya dan Malik bisa membahagiakan Aleta suatu hari nanti.


"Tapi saya akan tetap menikahkanmu dengan Aleta," ucap Attar.


"Bukan saya menolak, Tuan. Tapi Aleta tidak menyukai saya, saya tidak mau membuat Aleta tersiksa dengan pernikahan ini," kata Malik.


"Saya percaya padamu, kamu bisa membuat Aleta bahagia. Tugasmu sekarang, buat Aleta jatuh cinta padamu." Ucap Attar seraya menepuk punggung Malik.


Malik terdiam sejenak, kenapa sang majikan begitu mempercayakan hidup Aleta akan bahagia jika bersamanya?


Sepertinya Attar memang mendukungnya, jadi ia tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan dari sang majikan untuknya.


Kini ia harus yakin pada diri sendiri, bahwa cinta akan tumbuh seiringnya waktu.


***


Seperti berada dalam sidang yang sedang menunggu keputusan hakim. Dua sejoli itu tengah berada di dalam gereja. Ya, mereka akan melaksanakan pernikahan hari ini.


Pengantin wanita nampak cantik, akan tetapi wajahnya tak ceria seperti pengantin biasanya. Aleta tak menginginkan pernikahan itu. Namun pada akhirnya, ia tetap harus menerima kenyataan.


Akhirnya, setelah pengucapan janji suci terucap dari bibir Malik, mereka pun resmi menjadi suami istri. Senyum kecut terlihat di bibir Aleta ketika Malik menyematkan cincin di jari istrinya. Disaat Aleta akan memakai cincin di jari Malik, dengan sengaja Aleta menjatuhkan cincin tersebut. Hingga pada akhirnya, cincin itu terjatuh entah ke arah mana.


Aleta tak ingin memakaikan cincin di jari suaminya. Padahal, sebelum terjadi sesuatu diantara mereka, hubungan mereka sudah terjalin cukup baik, mulai dari pertemanan. Namun sekarang, Aleta kembali membenci Malik.


Ini hanya akal-akalan Malik, Malik begitu licik. Dengan keadaan seperti ini, ia jadikan alasan untuk menikahinya. Itulah pikiran Aleta.


Attar yang tadi semula tersenyum menyaksikan pernikahan adiknya, kini berubah menjadi masam. Ia tahu kalau adiknya pasti membenci Malik.

__ADS_1


"Sudah, tidak apa-apa jika cincinnya hilang. Yang penting Aleta sudah memakai cincin," ucap Attar. "Nanti saya akan menggantinya," sambungnya lagi.


Selesai dengan acara pernikahan yang diadakan secara mendadak, mereka pun langsung kembali pulang. Tadinya Attar akan langsung menggelar resepsi. Namun Aleta menolaknya, ia tak ingin ada pesta. Sudah mau menikah saja sudah syukur.


Yang tahu akan pernikahan Aleta dan Malik, hanya keluarga inti. Dam dan Alea serta Khai pun ikut menyaksikan.


Khai kecewa ternyata Aleta menikah dengan Malik. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Aleta dan Malik sampai mereka menikah.


Mereka beranggapan kalau Attar menjodohkan Aleta dengan Malik, hanya itu.


Hingga Khai berpikir, berarti tak ada cinta dari Aleta untuk Malik.


Khai tersenyum penuh dengan arti, entah senyum apa itu.


Seusai pernikahan itu, mereka kembali ke rumah Attar. Mereka makan bersama di sana.


menyambut hari bahagia Aleta dan Malik.


Tapi sayang, pengantin wanita tak ikut hadir di meja makan.


"Ra, kemana Aleta?" tanya Dania. Wanita paruh baya itu bahagia Aleta sudah menikah, pikirnya, Aleta tidak akan menganggu hubungan Dam dengan istrinya. Karena Dania tahu akan perasaan Aleta terhadap anaknya.


Sementara Malik, pria itu ikut bergabung di meja makan. Ia mencoba menegarkan hati dengan sikap istrinya.


Attar menepuk bahu Malik. "Jangan terlalu memikirkan sikap Aleta, dia masih belum terbiasa saja menjadi istrimu." Attar memberikan senyumnya sebagai semangat.


Malik pun mengangguk, tak apa dengan sikap Aleta. Karena ia tahu perasaan istrinya, tidak ada cinta dari Aleta untuknya.


Khai yang duduk di sebelah Malik, pria itu pun membisikan sesuatu di telinga Malik. Sampai Malik menatap tajam ke arah Khai, entah apa yang dibisikan pria itu kepada Malik. Hanya Malik yang tahu.


Akankah Khai menjadi penganggu rumah tangga Malik? Lihat saja nanti, apa yang akan dilakukan pria itu.


Di kamar.


Setibanya di kamar, Aleta langsung melepas baju pengantinnya. Wanita itu menangis, harus hidup bersama orang yang tidak ia cintai. Tak pernah terpikirkan, bahwa ia akan menikah secepat ini.


Selesai membuka baju, ia pun pergi ke kamar mandi. Menghilangkan rasa stresnya di sana, mungkin dengan ia berendam di bathup, sedikit bisa lebih fres. Karena hidup harus tetap ia lanjutkan, walau terkadang terasa pahit.

__ADS_1


Seusai berendam selama beberapa menit, Aleta pun menyudahi ritual mandinya. Ia beranjak dari bathup, dan membersihkan dengan air bersih. Selesai itu, ia makai jubah handuk. Dan mulai keluar dari kamar mandi.


Aleta terkejut melihat sosok yang dibencinya berada di kamarnya.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Aleta dengan sinis. Ia tak suka melihat Malik berada di kamarnya.


"Kenapa? Bukankah ini sudah menjadi kamarku juga, apa kamu lupa kalau aku sudah menjadi suamimu?"


Aleta terbahak mendengar ucapan Malik.


"Mimpimu jangan terlalu tinggi, Malik! Kamu pikir, aku sudi menjadi istrimu, hah?"


Merasa terejek akan ucapan Aleta, Malik mendekati istrinya. Aleta beringsut mundur ketika Malik mendekat ke arahnya.


"Jangan macam-macam kamu, Malik!" cetus Aleta. Gadis itu takut akan melihat mata Malik, sebelumnya ia tak pernah melihat Malik seperti ini. Biasanya Malik terlihat kalem nan lembah lembut jika di hadapannya. Tapi sekarang ...


Sejak tadi di meja makan, Malik sudah menahan emosinya karena ucapan Khai. Dan sekarang, ia kembali emosi dengan perkataan Aleta. Tidak ingin sesuatu terjadi pada Aleta, lebih baik ia menjadikan Aleta miliknya sepenuhnya. Sehingga tak ada orang yang merebutnya dari dirinya, termasuk Khai.


Malik terus mendekat, dan Aleta terus mundur. Hingga pada akhirnya, Aleta terjerembab di atas kasur. Wanita itu sungguh ketakutan.


Malik mulai menindih Aleta, Aleta memejamkan kedua matanya karena takut.


"Kamu istriku, dan aku berhak melakukannya."


Mendengar kata itu, Aleta membuka matanya. Matanya melotot ke arah Malik.


"Keluar kamu, Malik! Awas kalau kamu berani!"


Tapi sayang, Malik sudah tidak peduli akan Aleta yang tak mencintainya, yang penting sekarang, bagaimana caranya istrinya itu menjadi miliknya.


Ketika Aleta akan berteriak, dengat cepat Malik membungkam mulut Aleta dengan bibirnya. Malik benar-benar tak melepaskan Aleta.


Bahkan ia mulai membuka jubah handuk istrinya. Dan ....


Malik menyatukan tubuhnya dengan Aleta. Gadis itu menangis, Aleta benar-benar kehilangan kesuciannya.


Malik berhasil menyemburkan sesuatu di dalam sana. Semoga semburannya membuahkan hasil.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2