Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
9


__ADS_3

"Sial," umpat Attar ketika melihat mobil di belakangnya yang terus membuntuti.


Syiera melihat ke arah belakang ketika Attar menancapkan gasnya lebih cepat.


"Hey ... Bisa pelan sedikit," pinta Syiera yang mulai merasa takut ketika dibawa ngebut oleh Attar.


Attar tak menghiraukan istrinya, ia malah menambah kecepatan mobilnya. "Pekai selbeth mu," bentak Attar. Padahal ia hanya takut kalau Syiera kenapa-kenapa.


Dengan panik, Syiera memakai sabuk pengamannya, ia mulai tak nyaman dengan Attar. Apa Attar akan menunjukkan jati diri Attar yang sebenarnya? Syiera tak boleh meremehkan seorang Attar, lihat belum sampai rumahnya ia sudah berani membantaknya. pikirnya.


Jiuuus


Mobil semakin kencang, Attar mencoba lari dari kejaran mobil yang terus mengikutinya, sesekali ia melihat ke arah belakang lewat kaca yang manggantung di depan.


"Apa kamu mengenal mobil itu?" tanya Attar yang masih fokus dengan kemudinya.


Syiera melirik ke belakang untuk melihat mobil tersebut, ia seperti kenal dengan mobil itu. Itu mobil yang sering ia tumpangi dulu. "Alex, itu mobil Alex." Syiera langsung tersenyum setelah tahu itu mobil siapa.


Attar melihat ke arah istrinya. "Dia malah senyum-senyum. Apa dia tahu mobil siapa itu?" tanyanya dalam hati


Ketika akan melewati lampu merah, yang sebentar lagi akan merubahkan warnanya, Attar menambah kecepatannya. Hingga ia bisa menembus lampu hijau. Lampu berganti menjadi merah, dan itu membuat si penguntit tak lagi berkutik.


"Sial!" geram Alex yang terkena macet lampu merah.


Sementara Attar, ia langsung mengurangi kecepatan mobilnya. Diliriknya ke arah Syiera, terlihat sedang mengatur napasnya. Mungkin Attar terlalu ngebut membuat Syiera ketakutan.


"Maaf ya, sudah membuatmu takut," sesal Attar. Ia terpaksa menghindari mobil yang terus mengejarnya, ia curiga akan mobil itu. Ditambah lagi, mobil itu sejak pagi tadi sudah nangkring di depan rumah mertuanya. Mending kalau tak berbuat jahat.


Kalau tak hati-hati, bisa saja barusan terjadi kecelakaan akibat saling salip dengan mobil yang lain. Dan akhirnya, mobil yang dikendarai Attar mendarat sempurna, di halaman rumah yang nampak luas.


Rumah megah nan asri membuat Syiera terpukau akan keindahan di sana. Rumah itu keren mengalahkan rumah yang di tempati Syiera selama 23 tahun.


"Ayo turun," ajak Attar.

__ADS_1


Namun, Syiera malah terdiam ketika melihat rumah itu. Tidak mungkin rumah semegah ini hasil pemberian orang tuanya. Syiera selalu meremehkan Attar, makanya Attar mengajaknya untuk tinggal di rumah utama, rumah warisan dari orang tuanya.


"Ayo," ajaknya lagi.


Akhirnya Syiera pun turun dari mobil. Salah satu asisten datang menghampiri si pemilik rumah.


"Selamat datang, Tuan," sapa asisten bernama Ani.


"Bi, tolong kopernya dibawa ke dalam," suruh Attar.


Ani mengangguk, lalu menuju mobil untuk mengambil koper yang akan dibawa olehnya.


Attar berjalan menuju masuk. Sedangkan Syiera terus mengekor dari belakang, tak disangka, ia akan diajak tinggal di rumah besar ini. Siapa sebenarnya Attar ini? Syiera semakin dibuat penasaran olehnya. Dia 'kan hanya seorang OB, masa iya rumah sebesar ini miliknya.


"Apa kamu kerja di sini?" tanya Syiera, ia tak percaya kalau ini rumahnya, bisa saja ia hanya seorang pembantu di rumah ini bukan. Pikirnya.


Attar menghentikan langkahnya setelah Syiera menanyakan ia bekerja di sini atau tidak.


"Ke kamar saya saja, Bi," jawab Attar. "Oh ya, Bi. Kenalkan, ini Syiera istri saya," sambungnya memperkenalkan Syiera pada Ani asisten di rumah ini.


Ani membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada majikannya. Dan Syiera membalas dengan senyuman. Syiera tak percaya akan yang dialaminya sekarang. Tentang rumah ini, ternyata Attar membuktikan ucapannya.


"Siapa sebenarnya kamu ini? Kenapa OB seperti mu memiliki rumah sebesar ini?" tanya Syiera. Kalau ia orang kaya kenapa harus bekerja sebagai OB di perusahaannya? Itu yang jadi pertanyaan Syiera.


"Oh, itu. Aku iseng saja mencoba pengalaman baru," elak Attar. Ia tak mungkin mengatakan tujuannya menjadi OB di sana. Apa lagi demi mengejar cintanya. Ah ... Ini sangat memalukan bukan jika ia berkata jujur.


"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu." Attar melihat Ani yang menuruni anak tangga lalu menyuruhnya untuk mengantar istrinya ke kamar.


Sementara Attar, ia pergi menuju ruangan kerjanya, ruangannya sudah terlihat seperti apotek obat saja. Banyak jenis obat-obatan di dalam sana. Attar mendudukkan tubuhnya di kursi meja kerjanya. Attar malah melamun.


Ia teringat akan kejadian barusan, masih penasaran dengan si pemilik mobil yang mengejarnya, apa ini ada hubungannya dengan keberadaan istrinya. Apa jangan-jangan itu kekasih Syiera yang pergi meninggalkannya disaat hari pernikahannya. Pikiran Attar mulai resah, ia tak bisa membiarkan ada orang yang mengusik keluarganya, apa lagi dengan istrinya. Syiera sudah jadi miliknya, tak boleh ada yang mengambilnya darinya.


***

__ADS_1


"Ini kamarnya, Nyonya," tunjuk Ani ke arah pintu. "Kalau butuh sesuatu, panggil saja saya," ujar Ani lagi.


Syiera hanya mengangguk, lalu membuka pintu kamarnya, sebelum ia masuk, ia kembali memanggil Ani.


"Bi, sini sebentar."


Ani pun kembali menghampiri. "Iya, Nyonya."


"Bener, Bi. Kalau rumah ini milik suami saya?" tanya Syiera, akhirnya, Syiera mengakui juga kalau Attar adalah suaminya, entah Syiera sadar atau tidak dengan pengakuannya barusan.


"Iya, Nonya," jawab Ani.


"Sudah lama Bibi kerja di sini?" Syiera mulai mengintrogasi mencari tahu siapa sosok suaminya.


"Iya, semenjak Tuan Attar masih kecil. Kurang lebih, Bibi sudah 20 tahun kerja di sini," jelas Ani.


Dirasa sudah cukup, Syiera membiarkan asisten itu kembali pada kerjaannya. Ia akan menguliknya lagi nanti, karena ia merasa lelah dengan perjalanan yang sedikit lumayan jauh, ditambah lagi dengan aksi ugal-ugalan suaminya.


Syiera merebahkan tubuhnya di kasur berukuran king size itu. Dilihatnya atap kamar berwarna putih itu. Sekelebat bayanganya menangkap wajah Alex, ia jadi teringat dengan mobil Alex yang mengikutinya. Jika benar itu Alex, apa ia akan kembali merajut cinta dengannya, dengan statusnya yang sudah menjadi istri orang.


Lama dengan lamunan itu, membuat ia tertidur dengan cepat. Emang sudah dasarnya tukang tidur.


Attar masuk ke dalam kamar yang di mana ada istrinya di sana. "Pasti tidur," duga Attar ketika melihat istrinya meringkuk. Dan ternyata benar saja, Syiera tidur dengan pulas sampai terdengar dengkuran halus.


Attar merapihkan rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. Masih berasa mimpi saja, ia menikahi gadis impiannya. Jodoh emang tak kemana?


Di selipkan rambut itu ke belakang daun telinganya, ia kembali mencium kening istrinya untuk yang kedua kalinya. Attar bisa melakukan itu jika Syiera sedang tertidur, toh Syiera tidak akan tahu apa yang dilakukannya padanya. Pikir Attar.


Kini, Attar menatap bibir mungil istrinya, entah dorongan setan dari mana membuat Attar berani menciumnya. Belum mendarat di bibir itu, sebuah ketukkan pintu terdengar dan menggagalkan aksinya.


Attar pun beranjak dari posisinya, menghampiri pintu, siapakah yang sudah mengganggunya. Sementara Syiera, ia bernapas lega. Ternyata ia sudah terbangun sejak Attar merapihkan rambutnya, tak disangka kalau Attar akan berani menciumnya. Untung bibirnya belum tersentuh oleh Attar.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2