
Dam melihat ke arah Khai, begitu pun juga dengan Khai. Tatapan mereka bertemu kala mendengar suara tangisan bayi. Feli melahirkan seorang diri, tanpa ada yang menemani. Khai ingin sekali menemani Feli, tapi dokter tidak mengizinkan karena status Feli belum menikah.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan bersalin. Khai langsung menghampiri, begitu juga dengan Dam pria itu hanya ingin tahu kabar dari perempuan yang pernah ia nodai itu.
"Gimana, Dok? Feli baik-baik sajakan?" tanya Khai.
Dokter tersenyum dan mengatakan persalinan Feli berjalan dengan sempurna. Dokter sangat salut pada wanita itu, bagaimana tidak berpikir demikian Feli tak memiliki suami tapi wanita itu begitu tangguh.
Setelah dokter memberitahukan keadaan Feli, Khai meminta izin masuk untuk menemui gadis yang sangat dicintainya itu. Dam juga ikut masuk ke dalam, tapi hanya di ambang pintu ia tak berani mendekat karena bagaimana pun, pria itu tak kenal dengan wanita yang sudah jelas melahirkan anaknya itu.
Khai mendekat ke arah Feli, pria itu mencium keningnya. Feli menghangat kala mendapat ciuman dari Khai, gadis itu sudah memutuskan untuk masa depannya bersama Khai.
"Khai," lirih Feli, suaranya terdengar dengan sendu. Mungkin ia masih lemas karena Feli melahirkan dengan normal.
"Apa? Ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Khai.
"Aku menerima tawaranmu."
Khai mencerna ucapan Feli, lalu ia pun tersenyum dan langsung memeluknya. Disaat Khai memeluk Feli, Feli melihat seseorang di ambang pintu, wajahnya terlihat tak begitu saing baginya.
"Dia siapa, Khai?" tanya Feli yang masih dalam pelukan Khai. Khai melepaskan pelukkannya, dan melihat ke arah Dam. Awalnya ia ragu untuk mengatakan siapa pria itu, namun Feli mendesak karena ia ingin tahu kenapa pria itu ada di sini.
"Di-dia, dia Dam, ayah dari anak yang kamu lahirkan."
Sedangkan Dam, pria itu ingin sekali menghampirinya, tapi tak ada keberanian. Dam ingin minta maaf pada gadis itu, selama mengandung anaknya Dam tidak tahu sama sekali dengan keadaan Feli. Tapi hatinya cukup kuat mendorong untuk Dam menghampiri Feli.
Dam langsung bersimpuh di hadapan Feli, ia meminta maaf pada gadis itu.
"Maafkan aku, aku tidak tahu dengan kejadian itu membuatmu sampai melahirkannya ke dunia ini." Dam sembari melirik bayi yang begitu mungil tepat di samping Feli.
"Andai aku tahu dan kalian mengatakannya padaku, aku pasti tanggung jawab," lirih Dam dalam penyesalan.
Ini semua memang bukan salah Dam seutuhnya. Dam memang pria beristri, mungkin ia tak bisa menikahi Feli, tapi setidaknya ia bisa menemani Feli selama kehamilannya.
Feli merasa bersalah, ia tak mengatakan akan keadaanya pada Dam. Feli mengira, Dam pria brengs*k karena ia telah memperkosanya. Melihat dengan kepala matanya sendiri dan mendengar pengakuan dari Dam membuat Feli terenyuh.
"Maaf, aku sudah menyembunyikan ini semua darimu. Aku tak bermaksud apa-apa, aku hanya takut rumah tanggamu berantakan akan masalah ini," kata Feli. "Bangunlah, aku tidak ingin masalah ini menjadi panjang. Aku sudah melahirkan anakmu dengan selamat, apa kamu bersedia merawat anak ini?" tanya Feli.
Bukan Feli tak menyayangi anaknya, ia sudah membulatkan hati untuk hidup bersama Khai dan akan pergi meninggalkan Indonesia. Mendengar ucapan Feli, Dam tidak menyangka bahwa Feli akan menyerahkan anak itu padanya.
__ADS_1
"Lihatlah, dia sangat mirip denganmu," kata Feli sembari melirik ke arah bayinya.
Sontak membuat Dam melihat kearah bayi itu, senyum tersimpul di bibir Dam, ia merindukan sosok bayi dalam hidupnya selama ini.
Sedangkan Khai, pria itu hanya mendengarkan perbincangan Feli dan Dam. Ia tak menyangka pada wanita yang ia cintai itu, hatinya ternyata pemaaf. Tahu akan begini, Khai pasti memberithukan kehamilan Feli pada Dam.
Disaat Dam melihat bayinya bahkan menggendongnya, menimang-nimang dengan penuh kasih sayang. Feli menggenggam tangan Khai, Khai pun melihat keraah tangannya lalu berpaling melihat wajah Feli.
"Aku bersedia menikah denganmu, Khai," ucap Feli. Ia serius menerima cinta Khai, perjuangan Khai selama ini membuahkan hasil. Khai mencium kening Feli bertubi-tubi.
"Terimakasih, terimakasih sudah menerima cintaku."
Dari kejauhan, Dam menyaksikan itu. Terharu akan kebesaran hati Feli. Semoga wanita itu bahagia bersama Khai, Dam juga bahagia kini ia memiliki keturunan, walau bukan dari Alea ia sangat mensyukuri akan kehadiran malaikat kecilnya.
"Ehem." Deheman Dam menghentikan aksinya Khai. "Maaf mengganggu, apa jenis kelamin anak ini?" Dam tidak tahu sama sekali.
"Laki-laki," jawab Feli.
"Apa sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Dam.
Feli menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Boleh aku memberi nama untuknya?" Dam meminta izin terlebih dulu pada Feli.
"Apa ya, nama yang bagus untuknya?" Dam memikirkan sebuah nama untuk anaknya. "Bagaimana, Danisia? Panggilannya Danis."
"Nama yang bagus," sahut Khai.
"Iya, aku suka nama itu. Di ujungnya ada namaku," timpal Feli.
Akhirnya nama sudah didapat, Dam meletakan kembali bayi itu di samping Feli.
"Aku akan pulang, dan memberitahukan ini pada Alea," kata Dam. Namun sayang, Khai mencegah itu. Bagaimana pun kabar ini pasti menyakitkan bagi Alea. Khai menyarankan tidak sekarang membertahukan masalah ini pada adiknya.
"Sebaiknya tidak sekarang, Dam. Alea pasti shock," kata Khai.
"Lalu, aku harus bagaimana? Alea pasti bertanya dari mana aku mendapatkan bayi ini?"
"Bilang saja, kamu mengadopsinya. Aku takut istrimu tidak menerima kehadiran Danis," timpal Feli. Walau sedikit sakit, tapi Feli memasrahkannya.
__ADS_1
"Untuk saat ini aku menerima saran darimu, tapi aku tidak akan selamanya merahasiakan ini dari keluargaku," kata Dam.
***
Akhirnya, Dam pulang membawa Danis ke rumahnya, tentu itu menjadi pertanyaan bagi Alea dan semua keluarganya.
"Sayang," panggil Dam pada Alea.
Alea pun datang menghampiri suaminya. "Ada apa? Kenapa teriak-teriak?"
"Lihat, kita sekarang sudah mempunyai anak." Dam begitu antusias memberitahukan akan kehadiran Danis pada Alea.
"Anak siapa yang kamu bawa?" tanya Dania tiba-tiba dari arah belakang.
"Itu anaknya, Dam," jawab Alea. "Iyakan Dam?" tanya Alea langsung.
Glek.
Dam menelan salivanya dengan kasar, dari mana Alea tahu akan hal ini? Pikir Dam.
Alea mendekat ke arah Dam begitu juga dengan Dania, ternyata kedua wanita itu sudah mengetahuinya. Tanpa sepengetahuan Dam, Alea mencari informasi mengenai hal ini, Alea pernah mendengar percakapan Khai dan Dam waktu dulu, di mana Khai menemukan bercak darah di dalam mobil suaminya.
Awalnya Alea begitu sakit ketika mendengrnya, tapi ia sadar, itu berawal dari kepergiannya sampai Dam mabuk dan berbuat seperti itu. Setidaknya, Dam kini memiliki anak kandung yang tak pernah bisa ia berikan pada suaminya.
Alea menerima kehadiran anak itu dengan lapang dada, setidaknya ia tak berpisah dengan suaminya. Akhirnya Dam bernapas lega, istrinya tidak marah dan menerima kehadiran Danis.
Dam Dan Alea bahagia dengan adanya Danis di dalam hidupnya. Dania tersenyum melihat pasutri itu, kebahagian datang tanpa di duga.
***
Pasca melahirkan, Khai langsung mengajak Feli ke LN untuk menemui orang tuanya dan mengenalkan Feli sebagai calon istrinya. Setalah mendapat restu dari kedua orang tua Khai, mereka langsung terbang ke Amerika menemui Jonas dan meminta restu dari ayah Feli. Karena sudah mendapat restu dari kedua belah pihak, Khai tidak menunda acara pernikahannya. Minggu berikutnya, Khai berhasil mempersunting Felisia menjadi istrinya.
Hidup bahagia bersama orang yang kita cintai tentu menjadi impian semua orang.
TAMAT.
...----------------...
Terimakasih sudah membaca kisah mereka dari awal. Maaf kalau masih ada yang kurang. Semua sudah hidup bahagia dengan kebahagianya masing-masing.
__ADS_1
Maaf juga jika ada pembaca yang tidak puas dengan endingnya berakhir seperti ini. Setelah kisah ini selesai, othor akan fokus dengan novel yang baru. Harap berkenan para reader meramaikan novel othor yang baru yang berjudul BUKAN RAHIM PENGGANTI.
Ditunggu kehadiran para reader di sana. Sekali lagi terimakasih 😘😘😘