Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
28


__ADS_3

Di rumah sakit.


Attar tidak tenang jika teringat akan istrinya yang sedang bersama Alex, apa saja yang mereka bicarakan? Dan itu membuat hatinya gelisah. Dari pada sibuk dengan pemikirannya yang tidak-tidak, lebih baik ia menghubungi istrinya agar tahu yang kebenarannya.


Sambungan itu pun tersambung, tapi tak dijawab oleh si pemilik ponsel. Gak dijawab, ia pun menghubungi nomor kantor istrinya, ketika ada yang mengangkatnya ia langsung saja bertanya di mana dan sedang apa istrinya? Attar menghubungi Arin, sekretaris sang istri.


"Arin, ini saya suami Syiera. Apa Syiera ada?" tanyanya to the point.


"Lagi meeting, Pak!"


Attar bernapas lega, ternyata istrinya lagi meeting, apa saja yang mereka bicarakan? Menurutnya kalau dilihat dari waktu, mereka tak begitu lama.


Karena sudah tahu dengan istrinya, Attar kembali bekerja. Membantu para dokter yang sedang menjalankan tugasnya, ia melihat seorang wanita yang tengah hamil besar. Ia jadi teringat mungkin akan seperti itu jika istrinya hamil.


Waktu begitu terasa cepat berlalu, hingga saatnya tiba, ia akan menjemput istrinya pulang. Tapi kenapa sudah jam segini istrinya masih belum menghubunginya? Attar berinisiatif langsung ke kantor tanpa menunggu kabar dari istrinya.


Setibanya di sana, ia melihat Arin sedang beberes. Sepertinya sekretaris istrinya itu sudah siap akan pulang. Attar pun menghampirinya, ia bertanya akan keberadaan Syiera.


"Sore, Pak," sapa Arin.


Attar hanya tersenyum sekilas. "Syiera di mana?" tanyanya kemudian.


"Di dalam, Pak. Sejak tadi sesudah makan siang, Ibu Syiera tidak keluar," jelas Arin.


Setelah Arin memberitahukan keberadaan istrinya, Attar langsung saja masuk ke dalam ruangan di mana istrinya bekerja. Attar masih ingat akan ruangan ini, menjadi saksi bisu di mana ia selalu dimarahi oleh atasannya yang kini sekarang sudah sah menjadi istrinya.


Di mana istrinya? Tidak ada tanda-tanda kehidupan di ruangan itu. Ketika melihat ke arah sofa, ia mendapati istrinya yang tertidur pulas. Bahkan dengkuran halus terdengar di telinganya.


Perlahan, Attar menghampirinya. Ditatapnya dengan intens si pemilik raga itu, diusap dengan lembut. Tak ingin mengganggu dari tidurnya, Attar pun beranjak. Ia lebih memilih ke luar, yang terdapat balkon di ruangan istrinya itu.


Bahagia sekali rasanya, menjadi suami Syiera yang di mana dulu ia hanya mengaguminya secara diam. Menjadi suaminya hanya angan-angan. Ia sangat bersyukur berterimakasih pada Tuhan yang telah menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan.


Sedari tadi Syiera tidur cukup lama, ia pun mulai mengerajapkan matanya. Begitu terasa hawa dingin yang menjalar tubuhnya dari arah balkon yang terbuka.


Syiera pun akhirnya beranjak, tadinya ia akan menutup pintu arah dari balkon. Tapi, ia malah melihat suaminya sudah ada di sana. Dengan seulas senyum ia menghampirinya dengan pelan, sangat pelan. Sampai Attar tak menyadari akan kehadiran seseorang di belakangnya.


Syiera langsung melingkarkan tangannya di perut suaminya dari arah belakang. Dan itu membuat Attar langsung menoleh.


"Kamu sudah bangun?"

__ADS_1


Syiera mengangguk.


"Kenapa tidak membangunkanku? Apa kamu dari tadi?" tanyanya tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh suaminya.


Attar langsung membalikkan tubuhnya hingga posisi mereka kini saling berhadapan. Sepertinya sore ini cukup mendukung, dibalik teduhnya langit membuat pasutri itu saling melepas rindu. Baru juga beberapa jam tidak bertemu, kini mereka seakan tak ingin terlepas.


"Pulang, yuk?" ajak Attar.


"Jalan-jalan?" Bukannya mengiyakan, Syiera malah mengajaknya keluar, mungkin ia merasa dirinya segar bugar karena tidurnya cukup pulas, dan itu memulihkan tenaganya yang terkuras habis tadi malam.


"Mau kemana?"


"Kemana saja, asal bersamamu."


"Nonton, bagaimana?"


"Boleh juga."


Akhirnya mereka putuskan untuk nonton bioskop. Sudah lama juga mereka tidak nonton. Apa lagi Attar, mungkin ia sudah lupa akan suasana di dalam bioskop. Terakhir kali ia menontonya sewaktu masih sekolah, itu pun ramai-ramai. Tapi sekarang, ia bersama istri tercintanya. Perdana nonton bareng istri.


Mereka pun berangkat.


"Honey, mmm ... Gimana soal Alex?" tanyanya dengan nada sangat pelan.


Syiera langsung menoleh ke arahnya.


"Soal, apanya?"


"Hubungan kalian, bukan 'kah kalian masih pacaran." Attar tak ingin mereka masih ada hubungan.


"Aku ga ada hubungan apa-apa lagi. Semenjak, waktu kamu ke Amerika, aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya," jelas Syiera.


Attar mencoba mengingat akan kepergiannya. "Ya, Tuhan ... Berarti waktu itu ..." Attar jadi merasa bersalah pada istrinya, bahkan ia sempat membencinya. Dan itu ternyata hanya salah paham, karena Malik tak mengatakan sesuatu padanya.


"Awas ..."


Ketika larut dalam pemikirannya Attar jadi bengong, hampir saja ia menabrak trotoar.


"Hati-hati ... Kamu kenapa? Kok, malah melamun sih. Kalau nabrak bagaimana?" Syiera juga merasa kesal pada suaminya, kerana ia juga teringat akan kelakuan Attar waktu di Amerika. "Apa kamu tidak ingin jujur padaku? Sepertinya masih ada yang kamu tutupi dariku?" Syiera sengaja tak mengatakan apa yang ingin diketahuinya, ia hanya ingin suaminya jujur dari lubuk hatinya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari istrinya, Attar menepikan mobilnya. Sepertinya Syiera butuh penjelasan, tapi penjelasan apa? Apa yang mesti dijelaskan pada istrinya? Karena ia merasa tak membohongi istrinya.


Setelah menepi, Attar langsung menarik tangan istrinya, lalu mengecupnya terlebih dulu.


"Honey ... Apa yang ingin kamu ketahui dari suamimu, ini?" Hanya satu yang masih belum Syiera ketahui akan kehidupannya yang memiliki adik, Syiera tak pernah ingin tahu akan hidupnya. Sedikit, Attar melupakan akan keberadaan adiknya.


"Ayo jujur padaku tentang wanita itu?" Kesal, Syiera menarik tangannya kembali. Dan bersedakap.


"Gak mau jujur! Ya sudah, kita pulang saja gak jadi nonton."


Karena emang merasa gak membohonginya, tanpa bertanya kenapa gak jadi nonton. Ia pun menyalakan mesin mobilnya kembali, dan memutar balik menuju rumah.


Syiera tambah kesal, disaat ia tau arah kemana ia akan pergi. Dan kini mereka sudah sampai di rumah, Syiera lansung turun, tanpa menunggu suaminya membukakan pintu untuknya.


Bugh


Suara pintu mobil yang cukup keras ia menutupnya. Attar yang masih ada di dalam mobil pun merasa sangat terkejut. Lalu ia pun turun dari mobil, ia berlari kecil menyusul dan menyetarakan jalannya dengan istrinya.


"Kamu kenapa?"


Syiera tak menjawab, ia terus saja melangkah. Langkahnya terhenti kala sebuah tangan menariknya. Attar menariknya ke dalam pelukannya.


Mereka masih berada di halaman, Attar mengeratkan pelukkannya.


"Kamu kenapa? Coba jelaskan! Aku benar-benar tidak mengerti, di mana letak kesalahanku."


Masih tidak jujur, Syiera melepaskan pelukan suaminya. Setelah terlepas ia langsung masuk ke dalam, dan berlari menuju kamarnya.


Melihat akan hal itu, Attar menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. 'Apa semua wanita marah memang seperti ini? Uring-uringan gak jelas.'


bersambung


...****************...


Mampir di karyaku yang lain yuk? Judulnya, TERPAKSA MENIKAHI PELACUR.


Terimakasih pada readers yang sudah mengikuti cerita ku sampai sini.


Love sekebun cabe😘😘

__ADS_1


__ADS_2